Rabu, 28 Oktober 2026

“Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)

 

Tema Tahun Pelayanan GPIB 2026-2027

 

“Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)

 

 

 

“Sama seperti bayi yang baru lahir, hendaklah kamu selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” (TB 2)

 

 

 

 

Pdt. Rommi Matheos

 

 

 

 

 

 

 

Maksud dan Tujuan:

1.       Jemaat-jemaat GPIB memahami kandungan teologis dari tema 2026-2027, yaitu: “Bertumbuh dalam Keselamatan” (1Pet. 2:2).

2.       Jemaat-jemaat GPIB dapat merumuskan pemahaman dari tema 2025-2026 yang pada akhirnya menjadi pedoman dalam penyusunan Program Kerja dan Anggaran (PKA) 2026-2027.

Pendahuluan

Dalam PKUPPG Jangka Panjang III (2026-2046), tema tahun pelayanan 2026-2027 masuk ke dalam Program Jangka Pendek I (2026-2031) yang diarahkan pada upaya meletakkan landasan dalam menghadapi perubahan, khususnya membangun aspek kepemimpinan. Tujuan utamanya adalah membangun kepemimpinan yang dapat membawa jemaat GPIB melewati proses transisisi dan beradaptasi dengan hal-hal baru.[1] Adapun Tema Jangka Pendek I GPIB (KUPPG 2026-2031) adalah “Tuhan Ada Terlebih Dahulu dari Segala Sesuatu, dan Segala Sesuatu Ada di dalam Dia” (Kolose 1:17). Dari Tema Jangka Pendek ini dijabarkan tema tahunan untuk lima tahun ke depan, dan untuk tahun 2026-2027 temanya adalah “Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2). Tulisan ini berupaya menjelaskan tema tahunan ini dari perspektif biblika.

Latar Belakang 1 Petrus

Surat ini[2] dituliskan kepada orang-orang Kristen yang hidup sebagai pendatang dan perantau (1:1), yang menghadapi penderitaan dan tekanan karena iman mereka. Secara khusus penulis menyebutkan beberapa jemaat di daerah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia, dan Bitinia. Daerah-daerah ini berada di wilayah Asia Kecil (Anatolia). Penyebutan daerah ini menunjukkan bahwa kekristenan telah menyebar secara meluas. Istilah “orang-orang pendatang” dalam surat ini merujuk pada orang-orang yang dianggap “asing” dalam masyarakat. Pada waktu itu, orang yang menjadi Kristen dianggap “asing” karena mereka tidak mau bergabung dalam penyembahan-penyembahan berhala, sehingga mereka dikucilkan dari masyarakat.[3] Di tengah-tengah tantangan yang harus dihadapi, penulis mendorong jemaat untuk hidup kudus, berpengharapan, dan terus bertumbuh secara rohani. Penulis mengajak dan meyakinkan jemaat untuk tabah karena ia yakin bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat (1:7, 13; 2:12; 4:5, 7, 13-15). Walaupun jemaat mesti menghadapi kesulitan, mereka diminta untuk tunduk kepada pemerintah (2:13-17). Para suami dan istri diingatkan untuk bertanggung jawab membina hidup rumah tangga (3:1-7) dan bagi seluruh jemaat diminta agar hidup dengan penuh keramahtamahan.[4] Secara umum jemaat-jemaat yang menjadi penerima surat ini berasal dari berbagai macam tingkatan dalam masyarakat: keluarga, majikan, pemimpin dalam masyarakat, dan budak.[5]

 

Pokok-pokok Teologis Surat 1 Petrus

Penulis menekankan beberapa pokok teologis. Salah satunya adalah pemahaman tentang umat Allah. Penulis berusaha meyakinkan jemaat bahwa mereka adalah bagian dari umat Allah (Israel) yang telah Ia pilih. Keberadaan mereka laksana bayi yang baru lahir (2:2; bnd. 1:3, 23), yang memberi gambaran proses panggilan dan keterpilihan mereka sebagai umat Allah. Sama seperti Allah memilih dan memanggil Israel menjadi umat-Nya, demikian juga dengan jemaat Kristen (1:1; 2:9; 5:13). Dahulu, ketika mereka masih kafir, mereka hidup menurut hawa nafsu kebodohan mereka (1:14). Dengan kata lain mereka hidup dalam kesia-siaan karena belum mengenal keselamatan di dalam Kristus. Hidup lama mereka digambarkan sebagai hidup yang diwarisi dari nenek moyang (1:18), suatu hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora dan penyembahan berhala (4:3). Tetapi melalui “percikan darah” Yesus Kristus (1:2) sekarang mereka telah dikuduskan dan masuk ke dalam perjanjian keselamatan dengan Allah.[6]

Penulis mengingatkan mereka sebagai umat Allah bahwa mereka akan menghadapi penderitaan/kesukaran, tetapi itu adalah bukti kemurnian iman mereka. Penderitaan itu menjamin bahwa mereka akan memperoleh kemuliaan di surga (1:6-7; 4:1; 4:14). Dalam surat ini penulis juga menekankan panggilan orang Kristen untuk meneladani Tuhan Yesus yang telah terlebih dahulu menderita (2:21-23). Menurut penulis, Kristus telah meninggalkan teladan (ὑπογραμμός 2:21) bagi setiap orang percaya untuk mengikuti jejak-Nya.[7] Sama seperti Kristus menderita untuk membawa keselamatan bagi umat manusia, maka dalam penderitaan, orang Kristen juga diharapkan dapat membawa orang lain kepada Kristus. Hanya saja, Kristus menderita tanpa dosa (1:19).[8] Selain membahas tentang penderitaan, penulis juga menekankan panggilan bagi para penatua (πρεσβύτερος) untuk melayani, yaitu menggembalakan kawanan domba Allah[9] yang telah dipercayakan kepada mereka (5:3).

Penekanan pada gereja sebagai umat Allah yang berakar dalam sejarah keterpilihan Israel diperteguh melalui penggunaan bahasa dan metafora yang diambil dari narasi Paskah Perjanjian Lama, yang kini ditafsirkan ulang dalam terang karya Kristus. Misalnya, Petrus menulis bahwa Kristus adalah “anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1:19), yang menunjuk pada anak-anak domba Paskah (Kel. 12:5). Orang Kristen diperintahkan, “siapkanlah akal budimu (harafiah: ikatkanlah pinggang akal budimu)” (1:13), dan hal ini mengingatkan kita pada orang Israel yang disuruh menyiapkan diri pada malam Paskah dengan mengikat pinggang (Kel. 12:11).[10] Ingatan akan keluaran Israel dalam PL membentuk horizon teologis gereja untuk memahami penderitaan Kristus sebagai karya keselamatan Allah yang menghadirkan eksodus baru, yakni pembebasan umat manusia dari kuasa dosa dan maut.

 

Makna 1 Petrus 2:2

1 Petrus 2:2 muncul setelah ajakan untuk meninggalkan kejahatan, tipu daya, kemunafikan, iri hati, dan fitnah (2:1). Apa artinya? Artinya, pertumbuhan iman tidak terlepas dari proses pembaruan hidup dan pertobatan yang berlangsung secara terus menerus. Pertobatan yang dimaksud oleh penulis adalah keputusan untuk meninggalkan kehidupan lama. Dahulu mereka adalah kaum kafir yang hidup dalam kesia-siaan. Dan keputusan untuk menerima keselamatan di dalam Kristus sering kali membuat mereka terasing dari sanak keluarga dan komunitas sosialnya (itulah sebabnya status mereka digambarkan sebagai pendatang, perantau, atau orang asing). Namun, keterasingan tersebut diimbangi oleh anugerah Allah yang menghadirkan sebuah keluarga baru. Karena itu, pertobatan mereka dipahami dan dipuji sebagai suatu kelahiran ke dalam keluarga yang baru.[11] Menurut Raymond E. Brown, mereka yang bertobat (ke dalam kekeristenan itu) tidak hanya menemukan keluarga baru, tapi juga rumah baru, martabat baru yang membuat mereka menjadi umat khusus dengan warisan yang tidak akan musnah.[12] Keadaan baru itu menuntut mereka untuk menjalani cara hidup yang baru pula.

Cara hidup baru tersebut terkait dengan peran sosial mereka yang, meskipun tinggal di seluruh kekaisaran sebagai para pendatang dan perantau (2:11), dan sedang menantikan penghakiman akhir, tetap didesak untuk menghormati kaisar dan semua orang serta menunjukkan kehidupan sebagai anak-anak yang taat dan “hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia ini” (1:14, 17; 2:12, 17; 4:2).[13] Menurut Leon Morris, orang Kristen mesti “hidup dalam ketakutan” karena harga yang telah dibayar oleh Kristus itu begitu tinggi, sehingga mereka tidak boleh memikirkan keselamatan itu dengan santai, seakan-akan hal itu suatu hal yang biasa. Allah telah membebaskan kita supaya kita menyibukkan diri, bukan dengan hal yang sia-sia, melainkan dengan pelayanan yang penuh makna.[14] Dalam surat 1 Petrus ini, penderitaan orang Kristen di dunia dipahami sebagai masa pembuangan dan keberadaan sementara, yang dijalani dalam pengharapan untuk memperoleh tanah pusaka yang masih menanti penggenapannya (1Ptr. 1:4, 17). Keadaan orang Kristen itu dapat disejajarkan dengan pengalaman Israel dalam PL, di mana mereka harus menempuh perjalanan di padang gurun sebelum mencapai tanah pusaka, yaitu tanah terjanji.[15]

Dengan menggunakan gambaran bayi, Petrus menegaskan kondisi eksistensial orang-orang Kristen yang baru percaya, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang kekafiran, yang dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman agar semakin mengenal dan menghayati keselamatan di dalam Kristus Yesus. Petrus menegaskan bahwa pusat keselamatan adalah Yesus Kristus dan karya penebusan-Nya; oleh sebab itu, pertumbuhan iman harus berakar pada pusat keselamatan itu sendiri. Untuk menjelaskan karya keselamatan tersebut, Petrus menggunakan istilah “ditebus” (λυτρόω)[16] (1:18), yang menunjuk pada pembebasan dari perbudakan melalui pembayaran suatu harga tebusan (ransom). Dalam PL kata kerja ini sering dipakai untuk menggambarkan pembebasan Allah atas Israel dari perbuadakan di Mesir. Harga penebusan itu sendiri dikontraskan dengan harga penebusan duniawi yang dapat rusak (Itu sebabnya kita membaca: “kamu telah ditebus…bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal…”).[17] Darah Yesus yang tertumpah berarti kehidupan-Nya yang dicurahkan di salib sebagai harga untuk penebusan orang-orang Kristen (1:19).[18]

Beberapa ahli berpandangan bahwa 1 Petrus 2:2 adalah bagian dari liturgi baptisan dalam jemaat mula-mula. Bukti dari tradisi Apostolik yang dianggap ditulis oleh Hippolytus, melukiskan bagaimana menjelang akhir abad kedua sebuah cangkir susu dan madu diberikan kepada orang Kristen yang baru dibaptis, untuk mengingatkan mereka akan tanah yang dijanjikan kepada Israel (“suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”, Kel. 3:8).[19]

Kiasan tentang susu dan madu dalam Kitab Suci tidak boleh diartikan semata-mata secara harafiah, melainkan mengandung makna simbolik yang kaya. Susu dan madu dipahami sebagai makanan rohani bagi umat yang telah diselamatkan, sebab kondisi umat yang baru itu masih sangat rentan, laksana bayi yang baru lahir. Selain berfungsi sebagai gambaran kerentanan, metafora bayi yang baru lahir juga digunakan dalam Kitab Suci untuk menjelaskan realitas pertobatan, baik dalam 1 Petrus maupun dalam teks-teks Alkitab lainnya, sebagaimana tampak dalam pernyataan-pernyataan berikut ini:

 

The image of new birth and regeneration appears elsewhere in the NT as a metaphor for conversion in contexts suggesting its role in the baptismal catechesis of the early Church (John 3:3–8; Rom 6:4; 2 Cor 5:17; Titus 3:5–6; Jas 1:18; 1 John 3:9–10; 5:1–5; cf. the related image of adoption as God’s children in Rom 8:9–30; Gal 4:4–7; Eph 1:5)…The source of this transformation was God as a merciful Father (1:3) and His word (1:23; cf. 2:2a, 8), the good news about the Lord Jesus Christ (1:25; cf. 1:12) and his resurrection (1:3, 21). For their further growth toward salvation, it is imperative, on the one hand, that as newborns they continue to draw sustenance from this milk of the word (2:2–3). On the other hand, their rebirth also requires a decisive break with their former life and its ungodly desires (1:17; 2:11; 4:2), loyalties (1:18; 4:3). and behavior (2:1; 4:15). For they are now the holy children of God (1:14–17), redeemed by the holy Christ (1:18–19), and children whose trust and hope are now in God (1:21)[20].

 

Makna “Air Susu yang Murni dan Rohani”

Ungkapan “air susu yang murni dan rohani” menggambarkan firman Allah yang sejati dan tidak tercemar (ajaran yang murni). Seperti bayi yang sangat bergantung pada air susu untuk hidup dan bertumbuh, demikian pula orang Kristen/para petobat dipanggil untuk memiliki kerinduan yang mendalam akan firman Allah sebagai sumber kehidupan rohani. Pertumbuhan dalam keselamatan di sini tidak berarti menambah atau menyempurnakan karya keselamatan Kristus, melainkan menghidupi/menghayati keselamatan itu secara nyata melalui “proses kehidupan” yang mampu membentuk karakter, kedewasaan iman, dan kesetiaan dalam mengikut Kristus. Jadi, untuk bertumbuh dalam iman, maka orang Kristen membutuhkan makanan rohani, yaitu firman Allah. Tanpa firman, kehidupan rohani akan menjadi lemah dan tidak berkembang. Kerinduan akan firman mencerminkan kerinduan akan Allah sendiri.

Jadi, susu yang murni dan rohani mengacu pada firman Allah, yaitu Injil yang diberitakan kepada mereka (1:25), bahkan lebih mendasar lagi pada pengalaman mereka tentang Kristus yang bangkit, karena mereka telah “merasakan bahwa Tuhan (kyrios) itu baik” atau telah mengecap kebaikan Tuhan itu (2:3).[21] Orang Kristen yang baru ini digambarkan seperti bayi untuk menunjukkan fakta bahwa para pembaca adalah orang yang baru saja masuk ke iman Kristen tersebut.[22] Dan sama seperti bayi yang lahir memerlukan susu untuk pertumbuhannya, demikian dengan orang Kristen memerlukan firman sebagai makanan rohani untuk pertumbuhan imannya.

 

Keselamatan Sebagai Realitas yang Sudah dan Sedang Terwujud

Dalam teologi penulis 1 Petrus, keselamatan memiliki dua dimensi:

§  Sudah: Jemaat telah “dilahirkan kembali” oleh firman Allah yang hidup dan kekal (1:23). Penulis juga menegaskan “…kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1:9).

§  Sedang dan akan: Keselamatan itu masih akan “dinyatakan pada zaman akhir” (1:5).

Maka, “bertumbuh dalam keselamatan” menunjuk pada proses pendewasaan hidup baru menuju kepenuhan keselamatan Allah. Dalam ketegangan eskatologis (yaitu ketegangan antara sudah dan belum terwujud sepenuhnya keselamatan tersebut), maka metafora “bayi yang baru lahir” mau menekankan:

§  Ketergantungan total kepada sumber hidup.

§  Kerinduan yang terus-menerus, bukan konsumsi sesekali.

“Air susu yang murni dan rohani” (τὸ λογικὸν ἄδολον γάλα). λογικός berkaitan dengan firman/Logos, menunjuk pada firman Allah yang menyelamatkan (bnd. 1Pet. 1:24–25). ἄδολος berarti tanpa campuran, tanpa tipu daya, kontras dengan kehidupan lama yang diwarnai kemunafikan, iri hati, dan fitnah (1Pet. 2:1).

Dengan demikian, pertumbuhan keselamatan terjadi ketika orang percaya terus-menerus memberi diri dibentuk oleh firman Allah yang murni. Kata murni (adolos) atau “otentik”, menunjuk pada pesan firman Tuhan yang telah diberitakan kepada mereka.

Jadi, penulis memakai gambaran “bayi” dan “air susu” karena hal itu menunjuk pada sikap ketergantungan yang total, kerinduan yang kuat dan kebutuhan yang esensial.

Bottom of Form

 

Bertumbuh dalam Keselamatan sebagai Proses Iman

Keselamatan mencakup tiga dimensi: telah diselamatkan (justifikasi/pembenaran), sedang diselamatkan (pengudusan), dan akan diselamatkan (pemuliaan). 1 Petrus 2:2 menekankan aspek pengudusan, yakni proses pertumbuhan iman orang percaya menuju keserupaan dengan Kristus.

Pertumbuhan ini bersifat:

§  Personal, karena setiap orang percaya dipanggil untuk membangun relasi yang hidup dengan Tuhan.

§  Komunal, karena pertumbuhan iman terjadi dalam persekutuan jemaat dan melalui pelayanan.

§  Transformatif, karena keselamatan yang dihidupi harus membawa perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan kesaksian hidup sehari-hari.

Dalam konteks gereja kontemporer, ayat ini menegur kecenderungan:

§  menganggap keselamatan sebagai status statis,

§  atau mereduksinya hanya pada pengakuan iman awal.

Sebaliknya, 1 Petrus menegaskan bahwa keselamatan adalah jalan hidup, di mana orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh, menjadi matang, dan setia, bahkan di tengah tekanan dan penderitaan hidup.

 

Relevansi Bagi GPIB

Pembinaan Warga Gereja

GPIB dipanggil untuk menjadi gereja yang menumbuhkan iman warganya. Prinsip “air susu yang murni dan rohani” relevan bagi program penguatan bidang pelayanan kategorial, pembinaan iman, dan pendalaman Alkitab. Gereja tidak hanya berfokus pada aktivitas ibadah/liturgis, selebrasi seremonial, tetapi juga pada pembinaan/pembentukan iman yang berkesinambungan.

 

Pelayanan yang Kontekstual

Di tengah perubahan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang cepat, GPIB menghadapi tantangan pluralisme, sekularisme, dan individualisme. Bertumbuh dalam keselamatan berarti gereja diharapkan mampu mendorong warganya untuk menghidupi iman secara kontekstual, tanpa kehilangan dasar teologis yang kokoh.

 

Kesaksian dan Diakonia Transformatif

Pertumbuhan iman tidak berhenti pada aspek spiritual personal, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kasih dan keadilan (menjadi garam dan terang). GPIB dipanggil untuk menghadirkan keselamatan Allah secara nyata melalui pelayanan diakonia, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap ciptaan.

 

Pembentukan Karakter Pelayan dan Pemimpin Gereja

Pelayan dan pemimpin gereja dipanggil untuk terlebih dahulu bertumbuh dalam keselamatan sebelum melayani orang lain. Spiritualitas yang dewasa, kerendahan hati, dan ketergantungan pada firman Tuhan menjadi fondasi pelayanan yang sehat dan berintegritas.

 

1 Petrus 2:2 menegaskan pentingnya kerinduan akan “air susu yang murni dan rohani”, yaitu firman Allah yang menjadi dasar pertumbuhan iman umat. Di tengah zaman post-truth, ketika kebenaran semakin relatif dan orang mudah terjebak pada informasi palsu/hoaks yang viral,[23] firman Allah menjadi tolok ukur yang menolong warga gereja membedakan kebenaran dari kepalsuan. Pertumbuhan iman yang berakar pada firman membuat gereja dan umat tidak reaktif terhadap arus informasi, tetapi memiliki daya uji, kedewasaan rohani, dan keteguhan iman dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

 

Lebih jauh, pertumbuhan iman menurut 1 Petrus 2:2 memampukan gereja menjawab krisis sosial yang melanda dunia, seperti ketidakadilan, pelanggaran HAM, krisis ekonomi global, dan kerusakan ciptaan. Dengan pemahaman iman yang benar, warga gereja mampu mengambil keputusan etis dan menjalankan aksi nyata sebagai rekan kerja Allah, menghadirkan damai sejahtera, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama serta seluruh ciptaan di tengah situasi global dan nasional yang semakin kompleks.

 

Kesimpulan

1 Petrus 2:2 menegaskan bahwa keselamatan yang diterima oleh orang percaya harus dihidupi dalam proses pertumbuhan yang berkelanjutan. Kerinduan akan firman Allah menjadi kunci utama bagi pertumbuhan iman yang sehat dan dewasa. Belajar dari konteks penerima surat 1 Petrus yang adalah orang-orang Kristen baru yang bertobat dari kekafiran, jelas bahwa pertobatan mereka membawa konsekuensi sosial yang tidak ringan, terutama keterputusan dari jaringan keluarga serta sikap permusuhan dan kecurigaan dari lingkungan sekitar. Bertolak dari realitas inilah penulis 1 Petrus mengajak para pembacanya untuk terus bertumbuh dalam iman. Melalui kiasan “bayi yang baru lahir yang merindukan susu rohani yang murni”, Petrus menegaskan bahwa orang-orang Kristen yang baru bertobat, khususnya mereka yang telah kehilangan penopang sosial lama, tidak mungkin bertahan secara rohani tanpa pemeliharaan iman yang berkelanjutan. Karena itu, mereka dipanggil untuk terus bertumbuh dalam keselamatan.

Bagi GPIB di masa kini, panggilan untuk bertumbuh dalam keselamatan merupakan panggilan untuk membangun kehidupan warga gereja yang matang dalam iman, relevan dalam pelayanan, dan setia dalam kesaksian. Dengan demikian, gereja tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi komunitas yang bertumbuh, yang mampu menghadirkan karya keselamatan Allah secara nyata di tengah-tengah dunia. Karya keselamatan itu diwujudkan melalui program-program pelayanan yang memperlihatkan aksi nyata gereja dalam menghadirkan damai sejahtera Allah bagi seluruh ciptaan.

 

 

 

 

Referensi

 

Achtemeier, Paul J. 1 Peter: A Commentary on First Peter. Edited by Eldon Jay Epp. 1517 Media, 2016. https://doi.org/10.2307/j.ctvb9364z.

Bergant, Dianne, and Robert J. Karris. Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Terjemahan A. S. Hadiwiyata. Kanisius, 2002.

Brown, Raymond Edward. The Churches the Apostles Left Behind. Paulist Press, 1984.

Drane, John William. Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis. Translated by P. G. Katoppo. Pt. PBK Gunung Mulia, 1996.

Elliott, John H. 1 Peter: A New Translation with Introduction and Commentary. 1st ed. Doubleday, 2000. https://doi.org/10.5040/9780300261769.

Hakh, Samuel B. Perjanjian Baru. Sejarah, Pengantar, Dan Pokok-Pokok Teologisnya. BPK Gunung Mulia, 2024.

Mack, Burton L. Who Wrote the New Testament? The Making of the Christian Myth. 1st ed. HarperSan Francisco, 1995.

Morris, Leon. Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan H. Pidyarto. Gandum Mas, 2014.

Panitia Materi PSR 2025, “Rancangan Ketetapan (Rantap) PKUPPG Jangka Panjang III (2026-2045). KUPPG Jangka Panjang I,” 2025, 155

 

Selwyn, Edward G. The First Epistle of St. Peter. London: Macmillan, 1958

 

Senior, Donald P., and Daniel J. Harrington. Sacra Pagina: 1 Peter, Jude and 2 Peter. Liturgical Press, 2008.

Zuck, Roy B, and Darrell L. Bock. A Biblical Theology of The New Testament. Terjemahan Paulus Adiwijaya. Gandum Mas, 2020.

 

 

 

 

 

 



[1] Panitia Materi PSR 2025, “Rancangan Ketetapan (Rantap) PKUPPG Jangka Panjang III (2026-2045). KUPPG Jangka Panjang I,” 2025, 155.

[2] Surat ini ditulis di Roma, sekitar tahun 80-90 oleh seorang murid Petrus (surat ini sezaman dengan surat-surat post-Paulinis). Lihat Raymod E. Brown.  The Churches the Apostles Left Behind.  New York: Paulist Press, 1984 (hlm. 75). Pandangan tradisional tetap mempertahankan keyakinan bahwa Petruslah penulisnya. Dalam 1 Petrus 5:12 penulis menyebut Silwanus yang ditafsirkan oleh sebagian pakar sebagai jurutulis penulis. Siapa Silwanus? Silwanus hampir pasti adalah Silas, rekan pelayanan Paulus. Ia dikenal fasih berbahasa Yunani, terbiasa dengan dunia Helenistik, dan salah satu pemimpin gereja mula-mula di Yerusalem (Kis. 15:22). 1 Petrus mencerminkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di seluruh Asia Kecil utara. Kondisi ini berlaku setelah Nero menyalahkan orang-orang Kristen karena membakar Roma pada bulan Juli tahun 64 M. Meskipun penganiayaan tampaknya telah meluas, hal itu belum menjadi penganiayaan yang resmi dan terorganisir. Lihat Edward G. Selwyn. The First Epistle of St. Peter. London: Macmillan, 1958, hlm. 52-56.

[3] Samuel B. Hakh, Perjanjian Baru. Sejarah, Pengantar, Dan Pokok-Pokok Teologisnya (BPK Gunung Mulia, 2024), 330–31.

[4] Hakh, Perjanjian Baru. Sejarah, Pengantar, Dan Pokok-Pokok Teologisnya, 331–32. Masalah pokok yang dihadapi jemaat penerima surat 1 Petrus ini adalah pengucilan dan pengasingan. Di mata masyarakat yang masih kafir, kekristenan dianggap sebagai sekte rahasia yang aneh. Mereka juga dituduh ateis karena menolak menyembah dewa-dewa dan bersikap anti-sosial karena mengadakan pesta atau pertemuan tertutup (Brown 1984, 78-79).

[5] Dianne Bergant and Robert J. Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Terjemahan A. S. Hadiwiyata (Kanisius, 2002), 445.

[6] Hakh, Perjanjian Baru. Sejarah, Pengantar, Dan Pokok-Pokok Teologisnya, 333.

[7] Frasa “mengikuti jejak-Nya” (ἐπακολουθήσητε τοῖς ἴχνεσιν αὐτοῦ) menegaskan: seperti jejak kaki di pasir, langkah Yesus sudah ada dan para murid tinggal melangkah tepat di jejak itu.

[8] Hakh, Perjanjian Baru. Sejarah, Pengantar, Dan Pokok-Pokok Teologisnya, 336.

[9] Istilah kawanan domba merujuk pada umat Allah (2Sam. 5:2; Yeh. 34:12; Yes. 40:11; Yer. 31:10).

[10] John William Drane, Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis, trans. P. G. Katoppo (Pt. PBK Gunung Mulia, 1996), 496.

[11] Bergant and Robert J. Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Terjemahan A. S. Hadiwiyata, 448. Penulis menekankan bahwa kelahiran kembali orang-orang percaya berasal dari benih yang tidak fana, yaitu melalui firman Allah yang hidup dan berkuasa (1:23-25).

[12] Raymond Edward Brown, The Churches the Apostles Left Behind (Paulist Press, 1984), 79.

[13] Burton L. Mack, Who Wrote the New Testament? The Making of the Christian Myth, 1st ed (HarperSan Francisco, 1995), 209.

[14] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan H. Pidyarto (Gandum Mas, 2014), 442.

[15] Brown, The Churches the Apostles Left Behind, 77.

[16] ἐλυτρώθητε verb indicative aorist passive 2nd person plural from λυτρόω : free by paying a ransom, redeem fig. 1 Pt 1:18. Set free, redeem, rescue Lk 24:21; Tit 2:14; Ac 28:19 v.l.* [pg 120].

[17] Ungkapan perak dan emas dalam surat 1 Petrus mengingatkan pembaca pada peristiwa pembuatan anak lembu tuangan oleh orang Israel. Mereka menyembahnya sebagai allah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir (Kel. 32:1-1-4). Anak lembu itu dibuat dari perak dan emas yang diperoleh wanita-wanita Yahudi dari orang Mesir pada saat tulah ke-10 datang (Kel. 11:2) (Brown 1984, 77).

[18] Roy B Zuck and Darrell L. Bock, A Biblical Theology of The New Testament, Terjemahan Paulus Adiwijaya (Gandum Mas, 2020), 505–6.

[19] Drane, Memahami Perjanjian Baru, 406.

[20] John H. Elliott, 1 Peter: A New Translation with Introduction and Commentary, 1st ed. (Doubleday, 2000), 333, https://doi.org/10.5040/9780300261769.

[21] Donald P. Senior and Daniel J. Harrington, Sacra Pagina: 1 Peter, Jude and 2 Peter (Liturgical Press, 2008), 49.

[22] Paul J. Achtemeier, 1 Peter: A Commentary on First Peter, ed. Eldon Jay Epp (1517 Media, 2016), 145, https://doi.org/10.2307/j.ctvb9364z.

[23] “Rancangan Ketetapan (Rantap) PKUPPG Jangka Panjang III (2026-2045). KUPPG Jangka Panjang I,” 156.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)

  Tema Tahun Pelayanan GPIB 2026-2027   “Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)       “Sama seperti bayi yang baru lahir, h...