Sabtu, 05 Februari 2022

 

Mengoptimalkan Sinergi Intergenerasional GPIB dengan Mengembangkan Kepemimpinan Misioner dalam Konteks Budaya Digital (Efesus 4:11-16)

 

Oleh: Pendeta Rommi Matheos

 

Pendahuluan

Agenda yang menjadi fokus perhatian kita selaku warga GPIB setiap tahun adalah penyusunan Program Kerja dan Anggaran (PKA), baik di tingkat jemaat maupun secara sinodal. Di tahun 2022 ini, selain perhatian kita diarahkan pada penyusunan PKA, ada hal lain yang mendesak untuk digumuli, yaitu pemilihan presbiter. Dalam kaitan dengan penyusunan PKA, sebagai warga GPIB kita perlu memperhatikan tema tahun pelayanan 2022. Adapun tema tahun pelayanan 2022-2023 berdasarkan KUPPG ke-IV adalah: “Mengoptimalkan Sinergi Intergenerasional GPIB dengan Mengembangkan Kepemimpinan Misioner dalam Konteks Budaya Digital”. Tema ini didasarkan pada teks Alkitab dari Efesus 4:11-16.

Pada kesempatan ini izinkan saya untuk memaparkan kajian teologis terhadap tema tahun pelayanan ini. Semoga kajian ini dapat membuka wawasan warga GPIB sehingga mampu memahami arah pelayanan GPIB di tahun kerja 2022-2023 dan menolong kita untuk berperan secara aktif dalam upaya pertumbuhan dan pembangunan jemaat.

Tafsir Efesus 4:11-16

Karena tema tahunan ini menyinggung tentang kepemimpinan misioner, maka kita perlu bertanya: apakah corak kepemimpinan ini juga disinggung oleh Paulus dalam perikop Efesus 4:11-16? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita perlu memperhatikan tafsiran dari Efesus 4:1-16. Perikop ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: Ayat 1-6 berbicara tentang pentingnya kesatuan Roh; Ayat 7-12 berbicara tentang para pelayan yang dihadirkan dalam jemaat; Ayat 13-16 berbicara tentang pertumbuhan jemaat/tubuh Kristus.[1]

Efesus 4:1-16 merupakan perikop yang berisi nasihat, dan hal ini sudah terlihat di ayat 1: “Sebab itu aku menasihatkan kamu,…” Jika dalam pasal 1-3 Paulus banyak berbicara tentang karya Allah di dalam Kristus yang menciptakan masyarakat baru, maka sekarang ia beralih dari penuturan tentang masyarakat baru kepada penuturan tentang patokan-patokan baru, dengan harapan warga jemaat akan setia mengindahkannya. Jadi ia beralih dari apa yang dilakukan Allah (indikatif-waktu sekarang) ke “bagaimana” kita seharusnya dan apa yang seharusnya kita lakukan (imperatif-perintah, tidak boleh tidak), dari doktrin[2] ke kewajiban, dari teologi yang melulu hanya menantang akal, ke penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Stott 2003, 139).

Nasihat Paulus ini ditujukan kepada jemaat Efesus, yaitu anggota-anggota jemaat yang pada permulaan surat ini ia sebut “orang-orang kudus dan orang-orang percaya” (1:1), yang Tuhan Allah berkati dengan berkat rohani di dalam sorga (1:3), yang dalam Kristus Ia pilih menjadi anak-anak-Nya (1:4-5). Anggota-anggota jemaat itu telah dipersatukan meskipun mereka berbeda-beda. Paulus berkata bahwa oleh darah Kristus orang Kristen bukan Yahudi telah dipersatukan dengan orang Kristen Yahudi dengan jalan merobohkan tembok yang memisahkan mereka (2:13-14), sehingga mereka beroleh jalan masuk kepada Bapa dan menjadi sewarga dengan orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (2:18-19) (Abineno 2012, 113-114).

Pada bagian awal dari Efesus 4:1-16 ini hal kesatuan sangat ditekankan oleh Paulus sebelum ia menjelaskan tentang tugas pelayanan dan pertumbuhan jemaat. Tanpa kesatuan mustahil jemaat dapat mengembangkan pelayanannya dan bertumbuh dengan sehat. Paulus mengemukakan empat kebenaran tentang kesatuan yang Allah inginkan. Keempat kebenaran itu adalah:

1.      Kesatuan kristiani tergantung pada kemurahan kasih yang tampak dalam tabiat dan kelakuan kita (ayat 2).

2.      Kesatuan kristiani timbul dari Allah yang adalah satu (ayat 3-6).

3.      Kesatuan kristiani diperkaya oleh kepelbagian karunia yang kita peroleh (ayat 7-12).

4.      Kesatuan kristiani menantang kita untuk bertumbuh menjadi dewasa (ayat 13-16) (Stott 2003, 141-142).

Secara khusus Efesus 4:11-16 memperlihatkan maksud/tujuan pemberian karunia Allah, khususnya bagi kehidupan dan pertumbuhan jemaat. Ayat 11 menjelaskan pemberian yang sudah disebutkan di ayat 8 (“…Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia). Pemberian yang dimaksud adalah para pelayan yang meliputi rasul-rasul (τοὺς ἀποστόλους), nabi-nabi (τοὺς προφήτας), pemberita-pemberita injil, (τοὺς εὐαγγελιστάς), gembala-gembala (τοὺς ποιμένας), dan pengajar-pengajar (διδασκάλους).

Di urutan pertama dicantumkan para rasul, dan hal ini mengingatkan kita pada 12 murid Yesus. Mereka adalah orang-orang yang pertama dipanggil untuk mengikut Yesus, namun istilah rasul tidak hanya menunjuk pada 12 murid. Dalam Kisah Para Rasul 14:4,13 Paulus dan Barnabas juga disebut rasul. Mereka disebut rasul-rasul karena telah melihat Kristus dan menjadi saksi kebangkitan-Nya (Abbott 1956, 117). Baik rasul-rasul maupun nabi-nabi adalah jabatan pelayanan yang menjadi dasar, yang di atasnya rumah Allah (jemaat) dibangun (2:20). Para nabi adalah orang-orang yang menerima penyataan dari Allah (Roh Kudus) dan yang meneruskannya kepada jemaat, sedangkan pemberita Injil berkaitan erat dengan rasul-rasul. Rasul-rasul itulah yang memberikan tugas pemberitaan Injil kepada beberapa orang yang disebut penginjil, misalnya Filipus (Kis. 8:12) dan Timotius (2Tim. 4:5).

Sedangkan gembala-gembala dan pengajar-pengajar diberi tugas untuk mengatur, memimpin dan melayani jemaat. Menurut Kisah Para Rasul 13:1 dyb, tugas para pengajar ialah menerangkan wahyu yang diterima oleh nabi-nabi kepada jemaat dengan bahasa yang biasa (maksudnya: bahasa yang terang, bukan “bahasa-nubuat”), menguji apakah “ilham nabi-nabi itu benar, sesuai dengan Injil dan kesaksian Perjanjian Lama” (Abineno 2012, 131-133).

Seluruh pelayan ini adalah hamba Kristus yang dihadirkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan (ἔργον διακονίας), bagi pembangunan tubuh Kristus (οἰκοδομὴν τοῦ σώματος τοῦ Χριστοῦ) (ayat 12). Istilah “tubuh” Kristus dipakai Paulus sebagai gambaran tentang jemaat dengan maksud untuk memberi pemahaman bahwa “tubuh” bukanlah sesuatu yang tidak bergerak atau tak berubah. Dalam kerangka pengertian tubuh inilah muncul gagasan “membangun” (dalam pengertian mekanis) dan “bertumbuh” (dalam pengertian organis) yang diharapkan terjadi dalam hidup jemaat.

Jadi orang-orang kudus diperlengkapi untuk melaksanakan pekerjaan pelayanan sehingga tercapai tujuan Allah, yaitu “pembangunan tubuh Kristus”. Kata “pelayanan” (diakonia) yang terdapat pada ayat 12 memiliki arti pekerjaan pelayanan awam, yaitu pekerjaan yang melibatkan segenap umat Allah tanpa kecuali. Ayat ini membuktikkan pandangan bahwa menurut Perjanjian Baru, tugas pelayanan dalam jemaat bukan hanya tugas para penatua, diaken atau pendeta, tapi adalah juga “tugas-wajib” segenap anggota umat Allah. Para pendeta atau gembala jemaat, dalam hal ini, bertugas untuk mendorong setiap anggota jemaat dalam menemukan, mengembangkan dan menerapkan karunia-karunianya. Pendeta tidak mungkin mampu menangani segala sesuatu dalam jemaat. Karena itu, ia wajib mendorong umatnya setia aktif melayani dengan rendah hati dalam dunia ini, yang penuh dengan alienasi dan derita (Stott 2003, 161).

Jadi segenap anggota umat Allah diperlengkapi untuk melayani dan membangun tubuh Kristus. Ada tiga hal yang terjadi sebagai dampak dari pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus, yaitu: (i) tubuh Kristus tetap hidup dalam kesatuan (ayat 3-6), (ii) umat semakin bertumbuh dalam kasih (ayat 16), (iii) umat semakin bertumbuh menyerupai Kristus (ayat 13). Itulah tujuan dan sekaligus pengharapan yang pada suatu hari akan dicapai. Dengan perkataan lain, tujuan jemaat ialah mencapai kedewasaan penuh dalam kesatuan iman sebagai dampak dari pengetahuan yang benar tentang Kristus, percaya dan bertumbuh dalam Kristus (Stott 2003, 161).

Ungkapan Paulus bahwa jemaat harus terus bertumbuh mengingatkan kita bahwa jemaat masih dalam proses atau belum sampai kepada tujuan (1Kor.13:12). Karena itu, seluruh jemaat harus bersinergi (bekerja bersama-sama) dan erat bersatu untuk mencapai tujuan bersama (ayat 13). Seluruh jemaat dipanggil untuk memelihara kesatuan iman dan tetap setia berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, sehingga tidak mudah terombang-ambing (ayat 14). Kasih dan kebenaran adalah dua hal yang menjadi ciri kehidupan umat Tuhan. Dan tidak ada jalan untuk mencapai kedewasaan dalam Kristus kecuali panggilan untuk berjalan atau hidup di dalam kasih dan kebenaran.

Kasih dan kebenaran itu pertama-tama harus terlihat dalam kehidupan umat sebab umat adalah entitas baru yang telah diciptakan dalam Kristus. Borg menyebut bahwa hidup dalam Kristus mempunyai implikasi-implikasi sosial yang bersifat konkrit sebab kemanusian baru dalam Kristus menumbangkan dan meniadakan batasan/sekat sosial, sehingga mereka yang ada “dalam Kristus” telah menjadi satu tubuh (Borg 2002 , 250).

Dalam satu tubuh seluruh umat dipanggil untuk melaksanakan misi Allah, dan hal inilah yang sangat ditekankan oleh Paulus dalam perikop ini, khususnya terkait dengan tugas kepemimpinan (oleh rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar). Mereka ditugaskan untuk memperlengkapi seluruh umat dalam melaksanakan misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Kepemimpinan misioner adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan dan memberdayakan seluruh warga jemaat sebagai ujung tombak terdepan dalam melaksanakan misi Allah.

Tantangan Gereja: Sinergi dan Kepemimpinan serta Dunia Digital

Berdasarkan tema tahun pelayanan yang sudah disebutkan di atas, maka kita bisa membedakan dua tantangan yang senantiasa dihadapi oleh gereja, yaitu tantangan dari dalam (internal) dan tantangan yang berasal dari luar (eksternal). Tantangan dari dalam terkait dengan tugas kepemimpinan dan upaya untuk men-sinergikan seluruh anggota jemaat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, terutama menyangkut perbedaan generasi (setiap generasi memiliki perbedaan dalam beberapa hal, misalnya: pola pikir, kebiasaan, persepsi, ekspektasi dll; yang seringkali sulit untuk dipersatukan).

Sedangkan tantangan dari luar adalah perkembangan dunia yang semakin modern dan maju, khususnya di bidang teknologi. Kedua tantangan ini tidak bisa diabaikan, melainkan harus diperhatikan agar gereja sebagai pelaksana misi Allah tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman karena gereja hadir untuk menjadi garam dan terang dunia. Namun demikian gereja harus tetap setia berpegang pada kebenaran Injil sebagaimana yang ditradisikan oleh para rasul dalam kitab suci. Dalam Efesus 4:15 Paulus menasihatkan agar seluruh jemaat “…teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Dalam upaya menyikapi tantangan yang berasal dari dunia ini, maka dalam Efesus 4:11-16 Paulus sangat menekankan kesatuan umat. Kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan yang tidak mungkin dapat mengabaikan perbedaan.[3] Justru kesatuan itu membuka ruang bagi perbedaan, dan bukan untuk meniadakannya. Sinergi tidak akan mungkin terwujud selama tidak ada kesediaan untuk menerima perbedaan dan membuka ruang bagi yang lain. Di tengah perbedaan yang ada kita ditantang untuk mengupayakan kesatuan sehingga diharapkan seluruh umat mampu bertumbuh bersama dalam kedewasaan iman. Jadi upaya sinergi di antara warga jemaat yang berbeda harus dimulai dari sikap saling menerima dan mengasihi sebagai anggota tubuh Kristus.

Dalam tubuh yang satu itu Tuhan mengaruniakan berbagai karunia kepada setiap orang, untuk memperlengkapi mereka dalam upaya untuk membangun tubuh Kristus. Tubuh Kristus itu benar-benar dapat berfungsi apabila setiap anggota mau menjalankan perannya, namun bukan dalam keterasingan (isolasi), melainkan dalam kesatuan yang saling menopang dan meneguhkan. Seluruh anggota tubuh Kristus dipanggil untuk bersinergi, sehingga mereka “rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota…” (ayat 16). Dalam mewujudkan sinergi di antara anggota tubuh Kristus dan untuk kepentingan pertumbuhan sebagai tubuh Kristus, maka tidak ada tempat bagi sifat pementingan diri sendiri, sebab yang Ia kehendaki adalah sifat rendah hati, lemah lembut dan sabar (4:2).

Jadi upaya penguatan ke dalam gereja harus menjadi fokus utama sebelum gereja mampu menjawab tantangan zaman, khususnya dalam konteks dunia digital. Gereja harus mampu membaca tanda-tanda zaman sebab ia hadir di tengah-tengah dunia yang terus berubah, khususnya dalam hubungannya dengan perkembangan teknologi yang sangat berdampak pada diri manusia dengan segala aspek kehidupannya. Pada era digital seperti ini, manusia secara umum memiliki gaya hidup yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik. Teknologi menjadi alat yang dapat membantu sebagian besar kebutuhan manusia. Teknologi telah digunakan oleh manusia untuk mempermudah dalam melakukan tugas dan pekerjaannya. Peran penting teknologi inilah yang membawa peradaban manusia memasuki era digital (Setiawan 2017, 1).

Era digital telah membawa berbagai perubahan yang baik sebagai dampak positif, namun dalam waktu yang bersamaan, era digital juga membawa banyak dampak negatif, sehingga menjadi tantangan baru dalam kehidupan umat manusia, termasuk bagi persekutuan umat Tuhan. Segala dampak negatif harus mampu dihadapi dan diatasi oleh gereja, sebab gereja ditugaskan untuk menggarami dunia, bukan justru digarami oleh dunia ini. Jadi gereja ditantang untuk bersikap terbuka terhadap segala perubahan dan perkembangan zaman, namun tetap kritis. Gereja tidak boleh menutup diri dengan perkembangan dunia, melainkan harus mampu memanfaatkan segala kemajuan yang ada demi mewujudkan misi Allah, sebab dunia digital dengan semua perangkatnya merupakan sarana penunjang yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Pemanfaatan dunia digital tentu tidak dapat dilepaskan juga dari sumber daya manusia. Karena itu, dalam konteks GPIB perlu diperhatikan juga pembinaan terhadap sumber daya manusia, khususnya terhadap generasi muda yang lebih ‘smart’ dalam penguasaan teknologi. Perlu diingat bahwa merekalah yang akan melanjutkan tugas pelayanan dan kepemimpinan dalam gereja. Pembinaan yang terkait dengan soal etika pemanfaatan perangkat elektronik juga harus diperhatikan demi mengurangi dampak negatif dari budaya digital.

Penutup

Mengoptimalkan sinergi intergenarasional merupakan tantangan yang perlu dicermati sebelum gereja dapat menjawab tantangan eksternal. Sebab itu, peran kepemimpinan misioner, sebagaimana yang diungkapkan dalam Efesus 4:11-16, perlu mendapat perhatian. Kepemimpinan misioner bukan merupakan kepemimpinan tunggal, melainkan kepemimpinan bersama. Model kepemimpinan ini memberi ruang bagi seluruh warga jemaat untuk memberdayakan seluruh potensi yang ada dalam rangka memperlengkapi mereka bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus.

Dengan adanya pembinaan berkelanjutan, diharapkan seluruh elemen jemaat dapat bersinergi dalam melaksanakan misi Allah yang membebaskan, khususnya di tengah konteks dunia digital yang telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam kaitan dengan penyusunan PKA diharapkan upaya “Mengoptimalkan Sinergi” ini dapat diaplikasikan dalam setiap program kerja yang, tentunya dijiwai dengan semangat kepemimpinan misioner, sehingga sebagai umat Tuhan kita mampu menjawab pergumulan, khususnya di dalam konteks dunia digital.

 

 

 

Daftar Acuan

 

 

Abineno, J. L. Ch. 2012. Tafsiran Alkitab Surat Efesus. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Borg, Marcus J. 2002. Reading The Bible Again for The First Time. San Fransisco: HarperCollins.

Brown, Raymond E. 1998. Gereja yang Apostolik. Yogyakarta: Kanisius.

Stott, John R. W. 2003. Efesus. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF.

Abbott, T. K. 1956. The International Critical Commentary. A Critical and Exegetical Commentary on The Epistles to The Ephesians and to The Colossians. Edinburgh: T. & T. Clark.

Wawan Setiawan. Era Digital dan Tantangannya. eprints.ummi.ac.id/151/2/1. Era Digital dan Tantangannya.pdf · PDF file (diakses 20 Januari 2022).



[1] Gambaran gereja sebagai tubuh Kristus adalah gambaran yang populer dalam pemikiran sebagian besar orang Kristen. Gambaran tubuh Kristus mau mempribadikan gereja dan meneguhkan kasih kita kepadanya (gereja) seperti diteladankan oleh Kristus yang mengasihi mempelai-Nya (Brown 1998, 56).

[2] Sebagaimana yang biasa dibuat dalam surat-suratnya, di sini Paulus beralih dari penjelasan tentang doktrin (doctrinal exposition) kepada nasihat praktis (practical exhortation) (Abbott 1956, 104).

[3] Kesatuan dalam perbedaan ini juga diungkapkan dalam pemahaman kita tentang doktrin Allah Tritunggal. Allah itu satu, namun terdiri atas tiga Pribadi yang tidak terpisahkan dan terbagi. Dalam doktrin Allah Tritunggal kesatuan dan perbedaan tetap dipertahankan dan menjadi model bagi hubungan antar manusia.

Selasa, 30 Juni 2020

Kebun Teh Sidamanik

Saya dan keluarga jalan2 ke kebun teh Sidamanik. Kebun teh ini terletak di kabupaten Simalungun, dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Di tempat ini kita bisa menikmati indahnya pemandangan dan menghirup udaranya yang masih fresh
(Jumat sore, 26 Juni 2020).







Sabtu, 29 Juni 2019

Pandangan Yahudi dan Yunani tentang Kebangkitan Yesus dan Orang Mati


Pendahuluan
            Isu kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati terkait erat dengan pandangan orang Yahudi dan Yunani pada zaman Perjanjian Baru. Bagaimana orang Yahudi dan Yunani memahami ajaran kebangkitan orang mati secara umum dan kebangkitan Yesus secara khusus? Tulisan ini berusaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggali dan menganalisis sumber-sumber yang tersedia.
Pandangan Yahudi
            Pandangan tentang kebangkitan orang mati sudah ada dalam kehidupan orang Yahudi jauh sebelum kekristenan muncul. Bagaimana pandangan seperti ini bisa muncul dalam pemikiran dan keyakinan orang-orang Yahudi pada masa itu?  Dan sejauh mana pandangan ini berpengaruh terhadap iman dan pemberitaan gereja mula-mula yang sungguh-sungguh meyakini bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dari kematian?                                                       
Diperkirakan pandangan Yahudi tentang kebangkitan orang mati muncul dalam era dan konteks sejarah tertentu, yaitu tepatnya pada periode akhir dari Yudaisme bait Allah kedua. Pandangan ini lahir dari suatu keadaan tertentu, yaitu ketika bangsa Yahudi mengalami penjajahan atau penindasan oleh kekuatan bangsa-bangsa asing (Yunani, Roma) selama berabad-abad. Sebagian rakyat mengharapkan bahwa Allah akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi dan memulihkan keadaan Israel. Berada di bawah himpitan penjajahan bangsa asing mendorong orang Yahudi untuk mengembangkan suatu bentuk kesalehan yang disebut “eskatologi pemulihan.” Eskatologi ini lahir dan berkembang selama masa pembuangan di Babel pada abad ke-6 sM maupun sesudah masa pembuangan. Dari pengalaman buruk itu, bangsa Yahudi belajar untuk percaya bahwa Allah tidak tinggal diam, melainkan akan memulihkan keadaan mereka. Pada akhirnya semua musuh Israel akan dikalahkan, pemerintahan Allah akan ditegakkan, bahkan orang-orang mati akan dibangkitkan dan diadili oleh Allah (bdk. Yes. 26:19 dan Dan. 12:2-3) (Madigan dan Levenson 2008, 4-6).                                   
            Ide tentang kebangkitan orang mati ini sangat berkaitan erat dengan kepercayaan orang-orang Yahudi sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci mereka, khususnya kepercayaan tentang Allah sebagai pencipta kehidupan dan sebagai pemenang atas kematian. Allah adalah pemilik kehidupan dan kematian merupakan musuh Allah (Setzer 2004, 10-11).  Claudia Setzer mengungkapkan lebih lanjut bahwa pada periode Helenisme berkembang ide tentang upah yang akan diberikan Allah kepada orang benar di masa yang akan datang. Ide ini tertanam secara kuat dalam kesadaran orang-orang Yahudi yang sedang mengalami penderitaan akibat penindasan bangsa asing pada masa itu. Yang dimaksudkan dengan upah di sini adalah suatu gambaran tentang kebangkitan secara fisik dan rohani. Gambaran ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab non kanonik (1 Henokh, Perjanjian Musa, 2 Barukh dll). Sebagai contoh adalah kitab 2 Makabe yang berasal dari abad ke-2 sM. Kitab ini hadir di tengah-tengah konteks penindasan bangsa Yahudi pada masa kekuasaan Antiokhus Epifanes. 2 Makabe 7:9 berbunyi sbb: “Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: "Memang benar kau, bangsat, dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya!" Dalam kitab ini, ide tentang kebangkitan fisik menjadi sangat jelas. Allahlah yang akan membangkitkan kembali tubuh orang benar yang telah binasa dengan kuat kuasa-Nya (Setzer 2004, 11-12).                                          
            Di samping membicarakan kebangkitan orang mati, kitab-kitab ini juga menggambarkan penghukuman Allah. Dalam konteks penghukuman di akhir zaman, Allah akan memisahkan orang baik dan orang jahat menurut perbuatan mereka masing-masing. Orang baik akan dibangkitkan dari kematian dan menikmati kehidupan abadi bersama Allah, sedangkan orang jahat/fasik akan dibangkitkan untuk menerima hukuman kekal dari Allah (Setzer 2004, 13). Tema kebangkitan sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Yahudi pada masa itu karena hal tersebut sangat berkaitan erat dengan fondasi iman/keyakinan mereka. Jantung iman Yahudi terletak pada keyakinan utama akan kebaikan, keadilan dan kekuasaan Allah Israel. Di sepanjang sejarah suci Israel, diceritakan bahwa Allah Israel adalah Allah yang turut campur tangan dan turut menentukan arah kehidupan umat-Nya. Ia senantiasa datang untuk menghadirkan zaman baru dan memberikan pemulihan kepada umat-Nya.  (Madigan dan Levenson 2008, 7).                                                                     
            Jadi berdasarkan pengharapan eskatologis tersebut, orang-orang Yahudi mengembangkan suatu ide bahwa orang-orang yang telah mati karena mempertahankan imannya (martir) akan dihidupkan kembali oleh Allah di akhir zaman. Sedangkan bangsa-bangsa lain yang telah menindas bangsa Yahudi dianggap sebagai orang-orang fasik yang akan mengalami kebinasaan oleh hukuman Allah yang dahsyat. John Drane menjelaskan lebih lanjut bahwa pengharapan apokaliptik ini menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Yahudi menjelang kedatangan Yesus. Pengharapan apokaliptik ini sangat nyata dan dapat dijumpai dalam berbagai tulisan pada masa itu. Pada intinya tulisan-tulisan yang mengandung semangat apokaliptik ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan krusial, seperti: mengapa kesetiaan terhadap agama tidak membawa kemakmuran? Mengapa orang baik dan setia harus menderita, bahkan mati? Mengapa Allah tidak menghentikan kuasa-kuasa kejahatan di dunia ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit ini, para penulis apokaliptik mengatakan bahwa kesulitan-kesulitan masa kini hanya bersifat sementara saja. Dalam terang kebaikan Allah, mereka meyakini bahwa pada akhirnya bukan kejahatan yang berjaya tetapi kebaikan dan keadilanlah yang akan menang (Drane 2011, 47-48). Dan karena itu, kebangkitan orang mati merupakan bukti yang nyata dari kebaikan dan keadilan Allah kepada manusia.                                                                    
            Ide tentang kebangkitan orang mati memang telah ada dalam kehidupan orang-orang Yahudi sebelum kelahiran Yesus. Namun dalam kenyataannya kita tahu bahwa tidak semua orang Yahudi menerima ide tersebut. Pada zaman Yesus kelompok Farisi menerima ide ini, tetapi kelompok Saduki menolaknya sama sekali (Mrk. 12:18; lihat juga Kis. 4:1-2). Alasan penolakan kelompok Saduki ini adalah karena doktrin kebangkitan tidak pernah diajarkan dalam kitab-kitab Taurat/Pentateukh. Para murid Yesus sendiri sempat ragu terhadap persoalan ini (lihat Mrk. 9:10) (Jansen 1980, 19-20). Drane mengatakan bahwa secara politik kelompok Saduki lebih konservatif, namun dalam soal agama mereka lebih reaksioner. Mereka menganggap bahwa kelima kitab Taurat Musa merupakan satu-satunya sumber pengajaran agama yang berwibawa dan menolak kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Pada intinya mereka tidak percaya bahwa Allah mempunyai tujuan di balik peristiwa-peristiwa sejarah, dan hal-hal seperti hidup kekal, kebangkitan orang mati, dan penghakiman terakhir menjadi tidak relevan bagi mereka (Drane 2011, 41-42).                                                        
            Penolakan kaum Saduki terhadap ide kebangkitan memang sangat beralasan, sebab dalam seluruh pentateukh tidak disebutkan sama sekali secara khusus tentang pengharapan akan kehidupan sesudah mati. Yang ada dalam pentateukh hanyalah ide tentang Syeol (dunia orang mati). Dalam Kejadian 37:35 Yakub mengungkapkan harapannya bahwa ia akan melihat Yusuf di Syeol, dan kelihatannya itulah tujuan akhir dari kehidupan sesudah mati seperti yang diharapkannya. Ide tentang kebangkitan orang mati baru muncul dan berkembang luas dalam pemikiran Israel bukan sebelum masa pembuangan tetapi pada masa pembuangan dan sesudahnya (Guthrie 1996, 427).                           Bagaimana dengan kaum Zelot dan Eseni? Karena kaum Zelot memiliki kepercayaan agama yang agak mirip dengan kaum Farisi (Drane 2011, 44), maka mungkin saja mereka juga percaya akan kebangkitan orang mati. Sikap mereka yang berani dan tidak takut mati dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Yahudi memberi petunjuk ke arah tersebut. Kaum Eseni yang berpusat di Qumran kemungkinan meyakini akan kebangkitan orang mati. Namun berdasarkan telaah atas Naskah-naskah Laut Mati para ahli menyimpulkan bahwa kaum Eseni berpegang hanya pada gagasan ketidakfanaan dan bukan pada gagasan kebangkitan tubuh. Beberapa pihak berasumsi bahwa pandangan persekutuan di Qumran tidak jelas, sebab beberapa perikop mengungkapkan tentang kepercayaan akan keberadaan yang akan datang, namun tidak dikaitkan dengan kepercayaan akan kebangkitan tubuh. Bisa saja pandangan kelompok Qumran ini masih dekat dengan pandangan Yahudi kuno tentang Syeol (dunia orang mati) (Guthrie 1996, 428-429).                    
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ide tentang kebangkitan orang mati baru muncul pada masa pembuangan dan sesudahnya dalam masyarakat Yahudi. Namun tidak semua golongan dalam masyarakat Yahudi meyakini dan menerima ide tersebut. Lalu bagaimana hubungan antara kebangkitan Yesus dengan pandangan umum orang Yahudi tentang kebangkitan orang mati? Apakah kebangkitan Yesus memiliki keunikan dibandingkan dengan pandangan umum orang Yahudi ataukah tidak ada sama sekali? Penjelasan C. Groenen di bawah ini mungkin sedikit membantu kita untuk melihat persamaan dan perbedaan di antara keduanya.                                                        
            Gagasan tentang kebangkitan orang mati pada zaman Yesus sudah cukup lazim di kalangan orang Yahudi (Dan. 12:1; 2Mak. 7:7-9). Gagasan ini dianut terutama oleh kalangan apokaliptis. Namun demikian ajaran ini belum juga menjadi ajaran yang umum dan sebuah dogma yang resmi. Misalnya: kaum Saduki tidak menerimanya (Mat. 22:23; Kis. 4:2). Kepercayaan Yahudi ini kemudian diambil alih baik oleh Yesus sendiri maupun umat Kristen (Mrk. 12:25; Luk. 14:14; Kis. 23:6; 24:25). Dengan demikian gagasan kebangkitan merupakan sebuah kategori pemikiran yang dipinjam oleh umat Kristen dari alam pemikiran Yahudi untuk menerangkan pengalaman yang umat alami bersama Yesus yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup. Jadi pengalaman unik ini ditangkap dan diungkapkan oleh umat dengan memakai suatu gagasan yang sudah sudah cukup tradisional pada masa itu. Meskipun demikian orang Kristen mula-mula tetap meyakini bahwa kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang unik yang tidak mungkin disamakan begitu saja dengan gagasan-gagasan apokaliptik Yahudi. Orang Yahudi memang percaya akan kebangkitan orang mati pada hari kiamat, tetapi kategori eskatologis ini tidak dapat diterapkan pada diri Yesus, sebab Ia sudah bangkit sebelum hari kiamat. Ada juga beberapa tokoh yang menurut keyakinan orang Yahudi hidup terus (Henokh, Elia dll), tetapi tokoh-tokoh ini tidak bangkit dari alam maut, melainkan diangkat ke sorga sebelum menemui ajalnya. Jadi agaknya kebangkitan Yesus harus dilihat sebagai sesuatu yang unik dan lain sama sekali. Kebangkitan Yesus dikatakan unik, sebab ia merupakan karya Allah semata-mata yang tidak dapat disamakan dengan unsur-unsur alam atau dunia (Groenen 1973, 17-18,25).   
            Oleh karena sebagian besar orang Kristen mula-mula adalah orang-orang Yahudi maka wajar saja apabila mereka memakai tradisi kitab suci PL, khususnya tradisi apokaliptik, untuk menggambarkan dan menerangkan iman mereka kepada Kristus yang bangkit. Dalam peristiwa kebangkitan tersebut, gereja mula-mula melihat bahwa tujuan dan penyempurnaan iman Israel kepada Allah telah digenapi di dalam diri Yesus. Allah yang diberitakan dalam PL adalah Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian (1Sam. 2:6), sebab itulah Yesus dibangkitan dan menjadi pemenang atas maut (Jansen 1980, 21-22).
Pandangan Yunani
            Pandangan Yunani tentang kebangkitan orang mati tidak dapat dipisahkan dari pandangan filsafat Yunani yang bersifat dualistik. Filsafat Yunani ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Yahudi tentang manusia. Ajaran Yahudi melihat manusia terdiri dari daging dan darah, tubuh dan jiwa. Namun kedua unsur ini tidak untuk dipisahkan dalam arti bahwa jiwa itu abadi dan tubuh itu tidak penting. Jiwa (nafas) adalah unsur yang memberi kehidupan pada tubuh. Allahlah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam tubuh yang mati (Kej. 2:7) (Marxsen 1979, 133). Sebaliknya pandangan Yunani sangat mempertentangkan secara tajam antara tubuh dan jiwa. Jiwa dianggap mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada tubuh. Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang jahat, tidak baik dan tidak bernilai, bahkan dilihat sebagai penjara bagi jiwa yang bersifat murni. Dalam beberapa hal filsafat Yunani yang bersifat dualistik ini sangat bertentangan dengan keyakinan Kristen, misalnya saja para penulis PB justru sangat menekankan sifat kemanusiaan Yesus Kristus. Injil Yohanes menekankan bahwa Firman Allah yang bersifat kekal itu telah menjelma/menjadi manusia (Yoh. 1:14). Dalam menceritakan kebangkitan Yesus pun, para penulis PB berupaya memperlihatkan sifat ragawi/fisik dari kebangkitan Yesus. Sebab itu terdapat cerita tentang kubur yang kosong, penampakan Yesus di hadapan para murid di mana mereka dapat menyentuh tubuh Yesus, dan Yesus yang makan bersama dengan murid-murid-Nya. Menurut Marxsen penggambaran kebangkitan Yesus yang bersifat fisik ini lebih condong pada ajaran Yahudi (Marxsen 1979, 135). Ide tentang kebangkitan tubuh/fisik tidak dikenal (asing) bagi pemikiran orang-orang Yunani. Yang justru diakui oleh mereka bukanlah  kebangkitan tubuh tetapi kekekalan/keabadian jiwa (Guthrie 1996, 429). Berita kebangkitan Yesus adalah inti dari iman dan kehidupan Kristen. Justru karena berita kebangkitan ini begitu penitng, sehingga para pemberita Kristen mula-mula tanpa rasa takut pergi untuk mewartakannya. Inti pewartaan mereka berpusat pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Bahwa Dia yang telah disalibkan oleh orang-orang Yahudi telah dibangkitkan dari antara orang mati (Kis. 2:24) dan bahwa Allah telah menjadikan Dia menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36) (Guthrie 1996, 430). Berita kebangkitan ini tidak  ditujukan kepada orang-orang Yahudi saja, tetapi juga kepada orang-orang non Yahudi (Yunani). Namun tidaklah mudah bagi orang-orang Yunani untuk mempercayai fakta kebangkitan Yesus karena adanya ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan tubuh. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa orang-orang Yunani hanya mempercayai keabadian jiwa, dan bukan kebangkitan tubuh. Kisah Para Rasul 17: 16 dst menceritakan bagaimana orang-orang Yunani menolak berita kebangkitan Yesus seperti yang disampaikan Rasul Paulus ketika ia berada di Athena. Kisah Para Rasul 17: 31-32 menceritakan sbb: “...Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.”             
            Walaupun Paulus merupakan seorang Yahudi Helenis, akan tetapi ia memahami makna kebangkitan Yesus bukan dari filsafat Yunani, tetapi dari sudut pandang agama Yahudi. Bagi Paulus kebangkitan Yesus menghasilkan keselamatan bagi manusia. Dalam perspektif yang holistik, ia melihat bahwa realitas keselamatan bukan suatu realitas asing yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, bukan suatu realitas yang hanya ada dalam diri seseorang (the inner life of a person). Keselamatan itu merangkul dan mencakup seluruh eksistensi (keberadaan) manusia. Prinsip inilah yang juga diterapkan Paulus ketika ia berbicara tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang mati. Bagi Paulus, kehidupan harus dilihat secara utuh dan melibatkan tidak hanya sebagian dari eksistensi manusia, tidak hanya roh atau jiwa, tetapi seluruh dirinya yang utuh, termasuk eksistensi tubuhnya. Berdasarkan alasan inilah, ia kemudian berbicara tentang kebangkitan tubuh (1Kor. 15) dan bukan keabadian jiwa/roh (Lampe 2002, 105).                                   
            Apa konsekuensi dari ajaran Paulus ini? Konsekuensi yang paling nyata adalah bahwa manusia perlu juga menghargai tubuh/hal-hal jasmani dan bukan hanya hal-hal yang rohani belaka. Berdasarkan argumentasi dalam surat-suratnya kita bisa melihat bahwa Paulus sangat menentang perlakuan yang buruk terhadap tubuh. Tubuh adalah bagian dari eksistensi manusia yang utuh, yang telah diciptakan Allah dengan baik. Umat dipanggil untuk mempersembahkan tubuhnya kepada Allah sebagai korban persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Dalam hal ini pandangan Kristen sangat menghargai tubuh, dan sangat bertolak belakang dengan pandangan filsafat Yunani yang justru menghina/melecehkan tubuh. Sikap amoral muncul dalam kehidupan orang-orang Yunani disebabkan karena mereka menganggap tubuh itu tidak penting, sehingga dapat diperlakukan dengan sesuka hati. Praktek percabulan dan perzinahan yang melibatkan tubuh dianggap sebagai hal yang biasa saja karena yang terpenting bagi mereka bukan tubuh melainkan roh/jiwa. Tubuh akan binasa sedangkan roh/jiwa akan selamat, demikianlah anggapan mereka. 1 Korintus 15 memperlihatkan pemikiran Paulus yang matang tentang arti kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati. Di situ Paulus membuat perbedaan yang jelas antara tubuh manusia saat ini dengan tubuh rohani di masa depan. Tubuh rohani itu akan dikenakan manusia melalui proses kebangkitan di akhir zaman. Kebangkitan itu tidak sama dengan peristiwa penghidupan kembali Lazarus oleh Yesus seperti yang diceritakan dalam Injil Yohanes (11:17-44). Lazarus dibangkitkan dari kematian tetapi ia akan meninggal lagi. Eksistensi tubuh rohani yang disampaikan Paulus ini sangat jauh berbeda dengan eksistensi tubuh kita yang sekarang. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “...daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.” (1Kor. 15:50). Jadi tubuh rohani di masa depan itu merupakan sesuatu yang amat berbeda, tidak alamiah, ia merupakan sesuatu yang melampaui ciptaan sekarang, dan ia akan menjadi bagian dari suatu ciptaan baru dengan kemungkinan-kemungkinan yang baru (Lampe 2002, 106).                  
            Dari pemaparan di atas, ada beberapa butir pemikiran yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati. Sebagian orang Yahudi mempercayai kebangkitan orang mati, terkecuali kaum Saduki. Walaupun demikian orang-orang Yahudi tidak dengan sendirinya mempercayai kebangkitan Yesus. Kaum Saduki menolak kebangkitan Yesus terutama didasarkan pada keyakinan mereka (Kis. 4:1-2), tetapi kaum Farisi mempunyai alasan yang lain dalam menolak kebangkitan Yesus. Jikalau penolakan orang Yahudi didasarkan pada berbagai alasan, tidak demikian halnya dengan orang Yunani. Penolakan orang Yunani terhadap kebangkitan Yesus (dan juga kebangkitan orang mati) didasarkan semata-mata pada faktor ajaran dalam filsafat Yunani yang bersifat dualistik.
Kesimpulan
            Gagasan tentang kebangkitan orang mati berasal dari hasil pemikiran keagamaan orang Yahudi. Gagasan ini muncul dan berkembang pada masa pembuangan dan sesudah pembuangan, khususnya dalam tradisi apokaliptik. Dalam gagasan ini terletak inti keyakinan orang Yahudi bahwa Allah Israel adalah penguasa/Tuhan atas kehidupan dan kematian. Kendati gagasan ini sangat penting dalam perkembangan tradisi Yudaisme, namun tidak seluruh orang Yahudi menerimanya. Kaum Saduki dengan tegas menolak gagasan ini, sedangkan para murid Yesus sempat meragukan arti/makna kebangkitan. Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Yesus, di mana para murid merasa takut dan ragu ketika mereka menyaksikan Yesus yang telah bangkit dari kematian.   Memang pada masa Yesus gagasan kebangkitan sudah cukup populer di kalangan masyarakat Yahudi. Namun demikian peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian jelas memiliki keunikan tersendiri. Kebangkitan Yesus tidak dapat disejajarkan dengan peristiwa kebangkitan Lazarus karena kebangkitan Yesus memiliki dimensi kekekalan. Lazarus memang dibangkitkan, namun ia akan meninggal kembali. Sebaliknya Yesus bangkit dalam suatu kehidupan/eksistensi yang baru, yaitu kehidupan kekal. Roma 6:9 menyatakan: “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.”                
            Pandangan Yunani justru menolak sama sekali ide tentang kebangkitan orang mati. Bagi orang Yunani tubuh yang akan binasa ini tidak memiliki nilai sama sekali, hanya roh/jiwa yang memiliki nilai utama dalam diri manusia. Sebab itu yang diperjuangkan adalah bagaimana agar roh/jiwa manusia dapat dilepaskan dari kungkungan tubuh. Yang terpenting bukanlah tubuh tetapi jiwa, karena jiwa bersifat abadi/kekal.                  






Daftar Pustaka:
Claudia, Setzer. The Resurrection of The Body in Early Judaism and Early Christianity. Doctrine, Community, and Self-Definition. Boston: Brill Academic Publishers, 2004.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Pengantar Historis Kritis. Terj. P.G. Katoppo. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Groenen, C. Kebangkitan. Ulasan-ulasan mengenai Pembangkitan Yesus Kristus dari Alam Maut serta Maknanya bagi Umat Manusia Seluruhnya. Ende: Nusa Indah, 1973.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 1. Allah, Manusia, Kristus. Terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Jansen, John Frederick. The Resurrection of Jesus Christ in New Testament Theology. Philadelphia: The Westminster Press, 1980.
Lampe, Peter. “Paul’s Concept of a Spiritual Body.” Dalam Resurrection. Theological and Scientific Assessments, peny. Ted Peters, Robert John Russell, Michael Welker, 103-114. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2002.         
Madigan, Kevin J, dan Jon D. Levenson. Resurrection. The Power of God for Christians and Jews. New Haven: Yale University Press, 2008.
Marxsen, Willi. The Resurrection of Jesus of Nazareth. Philadelphia: Fortress Press, 1979.

Sabtu, 11 Mei 2019

Khotbah Minggu/12 Mei 2019

Matius 6:19-24

Banyak pengajaran Yesus yang dapat kita baca dan renungkan dalam kotbah di bukit ini. Salah satu pengajaran itu adalah hal mengumpulkan harta. Dalam bacaan ini sebenarnya ada dua macam harta yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus, yaitu harta duniawi dan harta sorgawi. Dan Yesus memerintahkan kita untuk tidak mengumpulkan harta di dunia ini. Karena itu, pada ayat 19 kita membaca: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi: di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” Agaknya tidak sulit untuk menentukan harta mana yang dimaksudkan Yesus, yang harus kita utamakan, yaitu harta di sorga dan bukan harta di bumi. Harta yang kita kumpulkan di bumi ini tidaklah kekal dan abadi. Harta itu bisa rusak dan binasa. Misalnya: hilang atau lenyap karena bencana alam.
Kalau Yesus berkata: jangan kamu mengumpulkan harta di bumi ini, maka perkataan itu jangan disalahartikan, seakan-akan kita tidak boleh menyimpan uang atau menabung untuk hari esok (misal: ikut asuransi dlsb) atau seolah-olah Yesus mengharamkan kita untuk memiliki sesuatu. Kita juga perlu mempersiapkan masa depan kita dengan baik, merencanakan keuangan kita dengan baik (misalnya: kita perlu mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak kita). Karena itu, jangan hidup boros atau hidup bermewah-mewah. Firman Tuhan mengingatkan kita: cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
Jadi menyimpan uang atau kebutuhan hidup untuk hari esok bukanlah tindakan yang salah. Alkitab sendiri mengajarkan kita supaya belajar dari semut yang pada musim panas menyimpan makanannya untuk musim dingin (Amsal 6:6-8).
Jadi sebenarnya apa yang Yesus larang?
Yang Yesus larang di sini adalah sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Orang yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, sehingga tidak mau berbagi dengan orang lain. Yang hatinya telah membatu sehingga tidak punya kepekaan terhadap penderitaan/kesusahan orang lain (bnd. 1 Yohanes 3:17). Orang seperti ini biasanya mengandalkan harta/kekayaannya. Yesus pernah menceritakan orang kaya yang bodoh dalam Injil Lukas 12:13-dyb. Terhadap sifat tamak akan harta/kekayaan, Tuhan Yesus berkata agar kita berjaga-jaga dan waspada. Dalam Lukas 12: 15 Yesus bersabda: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Hidup kita hanya bergantung pada Tuhan, bukan pada kekayaan kita. Karena itu, hati kita harus senantiasa terarah kepada Tuhan (harta sorgawi itu), bukan terpikat pada harta duniawi (ay. 21). Jangan arahkan dan pertaruhkan hidup kita pada harta duniawi yang kita miliki (walaupun banyak dan berlimpah-limpah sampai cukup untuk 7 turunan), tetapi kepada Tuhan. Harta kita tidaklah abadi. Walaupun semua orang tahu bahwa harta itu tidak abadi, namun banyak org yang tetap saja bertengkar karena harta dan menjadikan harta itu segala-galanya. Misal: karena persoalan pembagian harta warisan orang tua, hubungan keluarga bisa menjadi retak. Jika harta dijadikan tujuan hidup, maka pandangan hidup manusia bisa jadi gelap, tidak ada terang lagi. Itu sebabnya ada istilah gelap mata. Kalau sudah gelap mata terhadap sesuatu yang kita kejar atau inginkan dalam hidup ini (ambisi terhadap kekuasaan, jabatan, termasuk harta kekayaan), orang tidak takut lagi untuk berbuat kejahatan. Gelap mata membuat kita buta (dibutakan oleh banyak hal, bukan hanya harta, tetapi juga ambisi, cinta terlarang dlsb) sehingga akan menjerumuskan kita kepada kehancuran dan penyesalan. Itu sebabnya di ayat 22-23 Yesus ingatkan agar mata kita harus terang/sehat, bukan gelap. Mata sebenarnya adalah kiasan untuk hati.
Firman Tuhan yang kita baca ini mengingatkan kita bahwa harta yang kita kumpulkan di dunia ini tidak abadi, harta itu akan dirusakkan oleh ngengat (sejenis binatang kecil) dan karat serta pencuri akan membongkar dan mengambilnya. Kalaupun kita mampu menjaga harta kita sampai di akhir hayat hidup kita, tokh kita tidak akan memasukannya ke dalam peti mati kita. Ayub pernah berkata: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku kembali ke dalamnya” (Ayub 1:21; bnd. 1 Timotius 6:7).
Untuk hidup yang sementara di dunia ini, kita seharusnya mengumpulkan harta di sorga, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perikop ini (ay. 20-21). Apa yang dimaksud dengan mengumpulkan harta di sorga? John Stott mengatakan: “...mengumpulkan harta di sorga, berarti ‘berbuat sesuatu’ di dunia yang fana ini, tetapi memiliki dampak yang abadi.”
Misalnya:
1) Dengan harta, kita dapat menolong orang yang berkesusahan. Namun, perbuatan menolong orang lain bukan sebagai jaminan/garansi agar bisa masuk sorga atau memperoleh hidup kekal, sebab perkara masuk sorga adalah anugerah Allah, bukan usaha manusia.
2) Kita dapat memakai harta kita untuk membantu dan memajukan pekerjaan Tuhan (Amsal 3:9-10). Karena itu, jangan pernah takut dan kuatir untuk memberi kepada Tuhan, sebab Ia yang menjamin dan memelihara hidup kita, bukan mamon. Itu sebabnya Yesus berkata agar kita hanya menyembah Allah dalam hidup ini, bukan mamon (mamon adalah kata Aram untuk uang/kepunyaan). Mari kita berikan yang terbaik kepada Tuhan sebab kita sudah terlebih dahulu menerima yang terbaik dari Dia. Apa hal terbaik yang sudah kita terima dari Tuhan? Banyak hal yang sudah kita terima dari Tuhan, misalnya: napas hidup, kesehatan dan waktu. Karena itu, waktu yang ada jangan hanya dihabiskan untuk mencari kekayaan yang sementara, lalu melupakan Tuhan. Pergunakanlah waktu yang ada untuk melayani Tuhan dan sesama. Itulah makna terdalam dari perintah Yesus untuk mengumpulkan harta di sorga. Yesus berfirman: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Kamis, 25 April 2019

RENUNGAN MATIUS 11:25-30


            Ciri-ciri Injil Matius
Keunikan Injil Matius dibandingkan dengan Injil-injil yang lain terletak pada tiga hal. Yang pertama, Injil ini adalah Injil yang paling banyak digunakan dalam tulisan-tulisan Kristen awal, khususnya sejak akhir abad pertama. Yang kedua, jumlah pasal dalam Injil ini merupakan yang terbanyak dari semua Injil yang lain, yakni 28 pasal. Yang ketiga, Injil ini memiliki keteraturan dalam susunan bahannya (Suharyo 1993, 75). Keteraturan ini bisa dilihat, misalnya dalam pasal 5-7 (yang berisi Kotbah di Bukit), pasal 8-9 menceritakan penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus, pasal 13 menyajikan tujuh perumpamaan yang disampaikan Yesus, pasal 18 memuat bahan-bahan tentang “peraturan Gereja” (a.l. disiplin Gereja) dll (Heer 1999, 1).
 Pemakaian yang cukup populer terhadap Injil ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa Injil ini telah dianggap sebagai “Injil Gereja”[1], dan oleh sebab itulah maka Injil ini telah diletakkan pada tempat yang pertama dalam kanon Perjanjian Baru (Mack 1995, 162). Penempatan pada posisi yang pertama dalam kanon Perjanjian Baru memang cukup beralasan juga jika dilihat dari keteraturan isi, dan banyaknya pasal dalam Injil ini. Jika dibandingkan dengan Injil yang lain (Markus - Lukas) maka jelas terlihat adanya perbedaan. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh adanya kegiatan penyuntingan yang dilakukan dengan sengaja oleh pengarang, yang bergerak dari suatu titik tolak teologis tertentu. Menurut Marxsen, pengarang Injil Matius menggunakan Injil Markus, Q dan sebuah bahan khusus sebagai sumber acuan dalam penyusunan karya tulisnya (Marxsen 1996, 175). Bahan Q yang dipergunakan Matius ini mengandung pengajaran-pengajaran Yesus, sedangkan yang dimaksud dengan bahan khusus adalah bahan yang berasal dari pengarang Injil Matius sendiri; di antara bahan khusus itu terdapat cerita mengenai kelahiran Yesus, beberapa bagian dari Kotbah di Bukit (Mat 5 - 7), beberapa perumpamaan dan kisah-kisah penampakan Yesus yang bangkit (Mack 1995, 162).
Penyuntingan yang dilakukan pengarang Injil Matius ini telah mengakibatkan perubahan pada gambaran mengenai sosok Yesus. Yesus dalam Injil Matius digambarkan sebagai seorang guru dalam tradisi Musa dan Taurat, dan seorang public figure yang mengajarkan etika kesalehan pribadi kepada orang banyak (Mack 1995, 163). Dengan demikian, pengarang Injil Matius sangat mengutamakan pengajaran Yesus dalam karangannya. Yesus ditampilkan sebagai seorang guru/pengajar yang memiliki wibawa di antara orang banyak. Orang banyak terkesan bukan pertama-tama pada mujizat yang dibuat Yesus, melainkan pada pengajaran-Nya (Mat. 7:28-29).                                                                
Penulis, Waktu Penulisan dan Keadaan Jemaat Penerima
Drewes mengungkapkan bahwa kemungkinan besar kitab ini ditulis oleh seorang Kristen Yahudi[2] dari Siria dan dialamatkan kepada jemaat yang sebagian besar terdiri atas orang Kristen Yahudi pula.[3] Dalam Injil ini Yesus digambarkan sebagai sosok yang menggenapi nas-nas yang tertulis dalam Perjanjian Lama (Mat. 1:23; 4:15,16). Karena kitab ini sebagian besar ditujukan kepada orang Kristen Yahudi, maka pengarang tetap memakai istilah-istilah Yahudi (yang artinya tidak diterangkan lebih jauh karena menganggap pembaca sudah mengerti), seperti misalnya istilah raka (5:22, terj. LAI “kafir”),  Beelzebul (10: 25), korbanas (27:6; LAI “peti persembahan”).  Dalam kitab ini terdapat kesan yang kuat bahwa jemaat Kristen telah terlepas atau memisahkan diri dari sinagoge Yahudi. Misalnya dalam Matius 7:29; 9:35; 23:34 kita membaca tentang “ahli-ahli Taurat mereka”; “rumah-rumah ibadat mereka.” Walaupun sudah terlepas, namun masih ada upaya untuk menerangkan melalui Injil ini bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi seluruh rencana Allah Israel. Yesus ialah Mesias bagi Israel (Mat. 15:24) tetapi juga bagi seluruh umat manusia (Mat. 28: 18-20; 26:13) (Drewes 1999, 175).
Diperkirakan Injil Matius ditulis pada periode sesudah kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 M. Peristiwa kehancuran ini ditafsirkan Matius sebagai bentuk hukuman Allah kepada Israel, sebab undangan bagi perjamuan Kerajaan Allah yang ditawarkan Yesus tidak diterima dengan baik oleh para pemimpin Yahudi  (bdk. Mat. 22:7). Kemungkinan besar Injil ini disusun dalam periode antara Tahun 75-90 M (Drewes 1999, 176).
Menurut Suharyo, perkembangan gereja mula-mula sangatlah ditentukan oleh dua peristiwa penting. Dua peristiwa penting itu adalah kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M dan masuknya orang-orang non Yahudi (“kafir”) ke dalam Gereja. Pada tahun 70 M pasukan Roma menghancurkan Yerusalem dan bait sucinya. Dengan demikian pusat hidup religius, sosial dan ekonomi orang-orang Yahudi hancur. Para pemimpin yang dapat menyelamatkan diri dari bencana tersebut kemudian berhasil mendirikan pusat kehidupan nasional yang baru di Yamnia, yang ternyata sangat menentukan kelangsungan hidup mereka selanjutnya. Di sanalah berkembang Yudaisme yang sangat kental, kuat dan fanatik dengan cap Farisi, sementara kelompok Saduki yang terikat pada bait suci sudah hilang seiring dengan hancurnya bait suci (bdk. Mat. 23). Bersamaan dengan perkembangan ini hubungan antara jemaat Kristen dengan Yudaisme semakin renggang. Kekristenan semakin menampakkan coraknya sendiri. Jemaat Kristen memahami dirinya sebagai Israel sejati, umat yang diikat oleh Allah melalui perjanjian. Mereka membaca misteri Yesus Kristus dalam terang Perjanjian Lama, sehingga sampailah mereka pada keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah puncak dan pusat dari sejarah penyelamatan Allah. Selain itu, pada periode ini kekristenan juga sudah membuka diri terhadap dunia bangsa-bangsa. Meskipun Injil Matius masih memuat beberapa perkataan yang memberi kesan partikularistik (bdk. Mat. 10:5 dst; 15:24), namun secara keseluruhan Gereja sudah meninggalkan sikap itu (bdk. Mat. 28:16-20). Injil Matius adalah saksi dari sebuah proses di mana tradisi Yahudi-Kristen meninggalkan ciri partikularismenya. Semakin jelas disadari bahwa kabar keselamatan Yesus Kristus ditujukan juga bagi semua orang dan dengan itu Gereja mempunyai ciri universalnya (Suharyo 1993, 79).
Keterbukaan Gereja dalam menyambut kehadiran bangsa lain dalam persekutuan mereka dan semakin renggangnya hubungan mereka dengan komunitas Yahudi telah memunculkan gesekan dan ketegangan antara Gereja dengan komunitas Yahudi. Sebenarnya polemik dan ketegangan yang terlihat dalam beberapa bagian dalam Injil Matius (Mat. 12:1-13; 12:22-24) merupakan cerminan situasi konflik yang tengah terjadi antara komunitas Kristen dengan komunitas Yahudi pada masa Matius. Saldarini mengatakan bahwa kisah Yesus dalam Injil Matius mencerminkan pengalaman konkret komunitas Matius dan situasi sosialnya. Gambaran konflik antara para pemimpin komunitas Yahudi dengan Yesus dalam Injil Matius secara tidak langsung mencerminkan ketegangan hubungan antara komunitas Matius dengan komunitas Yahudi setempat di mana penulis tersebut hadir. Komunitas Matius merupakan sebuah kelompok Kristen Yahudi yang tetap memelihara seluruh hukum (Taurat), tetapi menafsirkannya melalui tradisi Yesus. Matius menganggap dirinya sebagai seorang Yahudi yang memiliki penafsiran yang benar atas Taurat dan  tetap setia pada kehendak Allah sebagaimana yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, yang diberitakannya sebagai Mesias dan Anak Allah (Saldarini 1991, 39-41).
Dengan melihat semua penjelasan di atas, sekarang kita dapat mengerti mengapa ada gambaran negatif  yang diberikan penulis Injil ini kepada para pemimpin Yahudi, khususnya terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi. Dalam Injil Matius, mereka dilukiskan sebagai anak-anak (keturunan) dari nenek moyang yang selalu menolak para nabi dan sekarang mereka sendiri menolak Yesus (Mat. 21:38). Puncak dari seluruh polemik antara komunitas Matius dengan Yudaisme digambarkan dengan jelas dalam Matius 23, di mana seluruh borok ahli-ahli Taurat dan orang Farisi didaftarkan secara lengkap dan daftar kejelekan ini segera dapat dipergunakan untuk menghadapi setiap serangan mereka  (Suharyo 1993, 80). Dalam berpolemik dengan Yudaisme, penulis Injil Matius sangat menekankan keunggulan Yesus sebagai Mesias-Anak Daud (Mat. 1:1) yang datang untuk mengadakan pembaruan dalam kehidupan orang-orang Yahudi pada masa itu. Dengan menekankan keunggulan Yesus sebagai Mesias-Anak Daud, penulis Injil Matius juga bermaksud ingin memberikan pegangan kepada umat Kristen, sehingga mereka mampu untuk mempertanggungjawabkan keyakinan imannya di depan orang-orang Yahudi yang telah menyangkal dan menolak Yesus.

MATIUS 11:25-30
            Dalam perikop bacaan ini, kita mendengar bagaimana Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya di sorga (ay. 25).  Kata Aku “bersyukur” pada ayat 25 dalam bahasa Yunaninya adalah eksomologoumai yang dapat juga berarti “Aku mengakui (memuji).”
Jadi Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya. Siapakah Bapa ini? Dia adalah Allah yang Mahakuasa, Tuhan langit dan bumi. Artinya Dia adalah Tuhan atau Penguasa (Pemilik) langit dan bumi. Allah yang Mahakuasa itu menyatakan kehendak-Nya di dalam Yesus bukan kepada orang pandai atau orang bijak/berhikmat, tetapi kepada orang kecil. Yang dimaksud dengan orang pandai dan bijak/berhikmat pada zaman itu adalah para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka adalah kaum cerdik pandai (cendekiawan) yang setiap saat menyelidiki/menelaah dan mendiskusikan isi kitab suci. Karena merasa lebih pandai (tahu segala sesuatu dan punya pengetahuan yang luas tentang isi Alkitab), maka ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi ini tidak mau mendengarkan dan menerima segala pengajaran Yesus. Mengapa? Sebab Yesus dianggap lebih rendah oleh mereka atau tidak selevel dgn mereka.
Walaupun pengajaran Yesus ditolak oleh org Farisi dan ahli Taurat, namun tidak demikian dengan orang kecil. Orang kecil (Yun: nepios) yang dimaksudkan Injil Matius ini adalah rakyat biasa. Mereka dianggap tidak terpelajar atau orang yang bodoh oleh para ahli Taurat. Tetapi justru merekalah yang mau menerima ajaran Yesus (kata nepios sendiri dapat diterjemahkan “anak”. Jadi mereka seperti “anak kecil” yang bersedia untuk diajar). Kepada orang-orang seperti inilah Allah berkenan menyatakan kehendak-Nya. Dengan jelas Injil Matius menyatakan bahwa Allah menyembunyikan kehendak-Nya kepada orang-orang bijak, tetapi menyatakannya kepada orang kecil (artinya orang-orang yang dianggap bodoh atau tidak tahu apa-apa tentang firman Tuhan).
            Kehendak Allah yang Yesus ajarkan/nyatakan itu ditolak oleh orang Farisi. Pertanyaannya: mengapa ajaran Yesus ditolak oleh orang Farisi? Sebab mereka menganggap diri lebih pintar/pandai dari Yesus. Itulah kesombongan yang ada pada mereka. Karena merasa lebih pintar, makanya timbul rasa sombong. Kita sering menyombongkan diri dengan kepintaran, kepandaian, kemampuan dan kekayaan yang kita miliki. Kesombongan menjadi PENGHALANG untuk datang kepada Tuhan dan mengenal kehendak-Nya.
            Mereka seharusnya jangan menolak Yesus, tetapi hendaknya mau menerima-Nya. Mengapa? Sebab Yesus adalah Anak Allah yang telah datang ke dalam dunia ini untuk menyatakan kebenaran Allah bagi manusia. Ia bahkan bukan hanya menyatakan kehendak Allah, tapi juga memperkenalkan Allah itu kepada manusia. Yesus adalah kebenaran tertinggi itu. Yesus adalah Pengantara yang mutlak dalam hal penyataan Allah. Jika ingin mengenal Allah yang sesungguhnya, maka datanglah dan percayalah kepada Yesus, sebab Yesus dan Bapa adalah satu (jelas terdapat relasi/persekutuan yang erat antara Yesus dan Bapa di sorga, lihat ayat 27; bnd. Yoh. 14:9...Yesus berkata: “...Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”). Penyataan Yesus tentang Allah sudah lengkap dan sempurna. Hanya di dalam Yesus kita dapat mengenal Allah yang sejati itu, yaitu Bapa yang baik dan pengasih.
            Yesus bukan hanya datang untuk menyatakan Bapa kepada kita, tetapi Ia memanggil kita agar mengalami sukacita, damai dan kelegaan dalam hidup ini (sesungguhnya ketika kita menerima Yesus, kita akan mengalami semua itu). Itu sebabnya pada ayat 28 Ia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Dalam PL Yesus adalah penjelmaan Hikmat Allah yang berseru-seru memanggil manusia (Amsal 8:1; 9:5).
            Siapakah mereka yang letih lesu dan berbeban berat ini? Mereka adalah orang kecil atau rakyat biasa yang telah dibebani oleh berbagai peraturan hukum Taurat. Ahli-ahli Taurat pada zaman Yesus membuat peraturan-peraturan agama yang begitu banyak (sekitar 613 aturan), aturan-aturan agama itu telah menjadi beban bagi rakyat kecil. Beban yang membuat mereka bukan semakin dekat kepada Tuhan, tetapi justru semakin menjauh. Karena itu, Yesus datang untuk menawarkan sesuatu yang lain, yaitu kuk (sejenis beban juga). Kuk adalah alat (terbuat dari kayu) yang terpasang pada leher sapi, yaitu hewan yang biasa menarik bajak di sawah.
Istilah kuk (seperti salib) dipakai sebagai simbol penyerahan diri, penaklukkan diri dan ketaatan kepada Tuhan. Orang Yahudi pada zaman Yesus sering memakai istilah kuk ini sebagai lambang kesetiaan mereka kepada Tuhan (“menerima kuk Tuhan”). Namun kuk yang ditawarkan Yesus ini bukanlah beban yang akan melemahkan iman kita. Sebaliknya kuk yang dipasang itu merupakan “beban” yang akan membuat kita nyaman. Kita akan merasa enak dan ringan. Itu sebabnya di ayat 30 Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Itu artinya ketika kita memutuskan untuk mengikuti Yesus, hal itu jangan menjadi suatu beban yang memberatkan, melainkan “meringankan” kehidupan kita.
            Bagaimana kuk itu bisa menjadi ringan dan enak? Hal itu tergantung pada hati kita masing-masing. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati, maka kita tidak akan menganggap segala perintah/tuntutan Yesus itu sebagai beban yang berat. Kita akan melakukan segala yang diperintahkan-Nya dengan senang hati, dan bukan dengan berat hati atau terpaksa. Sebab kita tahu bahwa segala perintah-Nya itu indah, baik dan berguna bagi dunia ini, makanya kita tidak ragu-ragu untuk melakukannya. Sebuah pepatah mengatakan: “Kasih membuat setiap beban menjadi ringan.” Kasih adalah inti dari hukum atau perintah Tuhan Yesus.
Mari kita nyatakan kasih Yesus itu juga kepada orang lain. Karena itu, kita perlu belajar dari Yesus, yaitu belajar bagaimana mengasihi orang lain. Yesus adalah Pribadi yang baik hati, lemah lembut dan rendah hati/tidak sombong. Ia lembut dan baik hati kepada setiap orang, khususnya orang-orang yang hina dan berdosa, dan Ia adalah Pribadi yang rendah hati di hadapan Allah Bapa-Nya. Arti rendah hati adalah mau tunduk di hadapan Allah dan mau menaati-Nya. Kalau kita mau belajar dari Yesus dan mau melakukan segala perintah-Nya, maka kita akan menerima ketenangan, kelegaan dan penghiburan yang sejati dalam hidup ini.






[1] Sudah sejak lama Injil Matius dikenal sebagai Injil Gereja, dan hanya Injil ini yang menggunakan kata Gereja (ekklesia) untuk menggambarkan komunitas orang-orang percaya (Mat. 16:18; 18:17). Lihat M. Eugene Boring, “Dalam Matthew-Mark,” dalam The New Interpreter’s Bible.Vol. VIII, peny.. Leander E. Keck dkk (Nashville: Abingdon, 1995), 97.  Raymond E. Brown lebih lanjut mengatakan bahwa Injil Matius dianggap cocok untuk memenuhi aneka macam kebutuhan Gereja. Injil ini paling banyak digunakan dalam  liturgi dan paling sering digunakan untuk katekese. Lihat Raymond E. Brown, Gereja yang Apostolik (Yogyakarta: Kanisius, 1998), 138.
[2] Identitas penulis kitab ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Pencantuman nama Matius, pemungut cukai yang menjadi pengikut Yesus (Mat.  9:9-13; 10:6) sebagai penulis kitab ini sebenarnya berasal dari tradisi gereja.  Papias, seorang pujangga Gereja,  menulis sekitar tahun 110/120 M bahwa  Matius menyusun perkataan-perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani (ialah bahasa Aram). Tradisi yang menyebutkan bahwa penulis Injil ini adalah Matius murid Yesus telah diragukan keabsahannya oleh sebagian besar ahli PB. Alasannya adalah Injil Matius yang ada sekarang tidak ditulis dalam bahasa Ibrani/Aram, tapi dalam bahasa Yunani  yang cukup baik. Selain itu kalau benar dugaan bahwa  Matius adalah saksi mata kehidupan dan pekerjaan Yesus, mengapa ia masih sangat bergantung pada bahan lain (yaitu Markus dan Q) untuk menyusun Injilnya. Lihat     C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1989), 86-87.
[3] Marxsen mengajukan sebuah kemungkinan bahwa kitab ini berasal dari Pela, yang terletak di sebelah timur Yordan. Pela menjadi tempat pertemuan yang baru bagi komunitas Kristen Yahudi setelah mereka melarikan diri dari Yerusalem tak lama sebelum kehancuran kota itu pada tahun 70 M. Lihat Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru (Jakarta: BPK GM, 1996), 184.

  Mengoptimalkan Sinergi Intergenerasional GPIB dengan Mengembangkan Kepemimpinan Misioner dalam Konteks Budaya Digital (Efesus 4:11-16)   O...