Rabu, 28 Oktober 2026

Pengampunan Dosa dalam Perjanjian Baru

 

Pengampunan Dosa dalam Perjanjian Baru

 

 

 Oleh: Rommi Matheos

Pendahuluan

Orang Kristen meyakini bahwa Allah, dalam kasih-Nya yang tak terbatas, senantiasa memberikan pengampunan bagi para pendosa yang ingin bertobat. Dalam liturgi ibadah hari minggu, misalnya di GPIB, terdapat doa pengakuan dosa yang disertai dengan berita pengampunan, bahkan dalam Pengakuan Iman Rasuli kita mendengar pernyataan tentang pengampunan dosa di bagian pengakuan tentang Roh Kudus (Aku percaya kepada Roh Kudus, gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan daging, dan hidup yang kekal). Ajaran tentang pengampunan dosa yang dihidupi oleh gereja tentunya dirumuskan dengan berpedoman pada kesaksian Kitab Suci, khususnya kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (PB).

Doktrin pengampunan dosa dalam kitab-kitab PB dapat dilihat sebagai hasil permenungan terhadap peristiwa kematian Yesus di kayu salib yang menebus. Baik kitab-kitab Injil, Kisah para Rasul maupun surat-surat (baik dari Paulus maupun yang lainnya) dan kitab Wahyu, memberitakan pengampunan dosa berdasarkan karya penebusan Kristus. Dalam sejarah penafsiran, para teolog mengusung pandangan tradisional yang mengartikan kematian Kristus sebagai sebuah penebusan. David Brondos, misalnya, mengutip pandangan Gregorius dari Nyssa tentang Galatia 3:13 yang menunjuk pada doktrin penebusan fisik: Anak Allah yang kekal menanggung kejatuhan manusia dan menghancurkan kuasa dosa dan maut yang melekat dalam kodrat manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Mereka yang berpartisipasi dalam kematian dan kebangkitan Kristus akan ditebus dari kondisi mereka yang terkutuk. Brondos juga mengutip pandangan Yohanes Calvin yang menyatakan bahwa Kristus sendiri memikul dan menderita hukuman yang, berdasarkan penghakiman Allah yang adil, mengancam semua orang berdosa; ketika Kristus tergantung di kayu salib, Ia menjadikan diri-Nya sasaran dari kutukan itu (Brondos 2021, 3–4).

Makalah ini adalah sebuah kajian reflektif untuk memahami pengertian tentang pengampunan dosa yang diajarkan dan diberitakan dalam PB, baik dalam ke-4 kitab Injil, Kisah para Rasul, maupun surat-surat (dari Paulus dan yang lainnya) dan kitab Wahyu. Hal pengampunan dosa tidak berdiri sendiri karena ia terkait dengan rencana dan karya keselamatan Allah di dalam Kristus serta dinamika pelayanan dan persekutuan umat Allah (Israel dan Gereja) yang diutus untuk menyatakan pembaruan dalam kehidupan masyarakat dan seluruh ciptaan.

 

Pengampunan Dosa dalam Kitab-kitab Injil

Kitab-kitab Injil memberitakan pengampunan dosa bertitik tolak dari karya keselamatan Allah yang paripurna di dalam Yesus Kristus. Menurut Jav G. van der Watt, pesan tentang keselamatan menjadi hal yang pokok dari hampir semua kitab Perjanjian Baru, yang membentuk dasar bagi definisi diri dan identitas orang Kristen mula-mula. Mereka meninggalkan lingkungan mereka yang aman untuk melakukan perjalanan ke dunia baru sebagai anak-anak dari Allah yang tak terlihat, yang menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus. Sebagai anggota umat Allah yang baru, mereka harus mendefinisikan kembali identitas mereka sendiri dalam terang peristiwa salib, tetapi harus mampu mengintegrasikan implikasi dari pesan keselamatan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari mereka (Van der Watt 2005, 1). Di dalam pesan keselamatan tersebut terdapat pengakuan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah datang untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri melalui pengampunan yang Ia berikan.[1]

Pengertian terhadap pengampunan dosa dari setiap kitab Injil berkorelasi dengan pandangan teologis masing-masing kitab Injil yang bersifat unik. Injil Matius, misalnya, dipahami sebagai produk dari kegiatan penulisan dalam konteks revitalisasi desa-desa sesudah penghancuran bait suci di Yerusalem. Orang-orang Yahudi (termasuk komunitas para pengikut Yesus) berjuang untuk berdamai dengan hilangnya bait suci dan Yerusalem. Ada konflik di antara dua kelompok ahli Taurat: para pengikut Yesus, yang mengakui Dia sebagai Mesias dan orang-orang Israel lainnya, yang mempertahankan pandangan tradisional tentang Mesias. Konflik berpusat pada penafsiran atas Taurat: para pengikut Yesus melihat Dia sebagai “Musa kedua” yang menggenapi Taurat atau pandangan Musa tradisional sebagaimana diatur dalam kultus bait suci. Para ahli Taurat dengan pandangan tradisionalnya menolak Yesus yang dianggap sebagai Anak Daud yang menyembuhkan. Mereka tidak mau mengakui bahwa Dia adalah Musa “baru” Israel. Mereka tidak memahami bahwa Yesus dapat “menggantikan bait suci” lama yang menekankan peraturan kemurnian[2], seperti yang ditunjukkan, misalnya, oleh tindakan penyembuhan yang dilakukan-Nya pada hari Sabat (Mat. 12: l-32) (Van der Watt 2005, 8–9).

Pesan pengampunan dosa dalam Injil Matius muncul melalui alur narasi yang memperlihatkan Yesus sebagai God-with-us (Mat. 1:23), di mana Ia memulai misi keselamatan-Nya bagi Israel. Misi Yesus sebagai Allah beserta kita memiliki tujuan “pengampunan dosa” bagi orang Israel dan orang non-Israel (Mat. 1:21; 2:1-12; 4:12-17). Misi ini digenapi sesuai dengan kehendak Bapa di surga, karena dalam tipologi Musa (Mat. 2:13-23) Yesus diperkenalkan sebagai Anak Allah yang taat (Mat. 3:13-4:11) yang datang
“untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Ia ditentang oleh Iblis (Mat. 4:1-11) dan penguasa Israel yang menghendaki kematian-Nya (Mat. 2:1-18), namun Ia didukung oleh para murid yang dipanggil untuk menjadi “penjala manusia” (Mat. 4:18-22). Amanat Yesus ini merupakan kelanjutan dari amanat para nabi (Mat. 1:17), yang pada gilirannya menemukan kelanjutannya dalam diri para murid (Mat. 4:18-22) (Van der Watt 2005, 13–14).

Injil Markus menyampaikan pesan pengampunan dosa sebagai bagian dari kabar baik tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1). Ketika Markus menyatakan bahwa ia sedang menulis tentang “kabar baik”, ia meletakkannya tanpa kompromi tepat di awal bahwa topik utamanya adalah tentang keselamatan yang dikerjakan oleh Allah di dalam Kristus. Ia tidak menulis sebuah sejarah murni atau merangkai kumpulan cerita dan ucapan-ucapan tanpa makna dan tujuan. Ia mau menyatakan kepada manusia kabar baik tentang tindakan Allah dalam menangani atau mengatasi persoalan dosa mereka (Morris 1999, 16). Versi Markus tentang Yesus berbeda dari Injil-injil yang lain. Menurut Brenda D. Schildgen, Injil Markus dapat dilihat sebagai bentuk populer dan kontemporer dari narasi “sakral” menggunakan sumber sejarah, fiksi, sastra apokaliptik, dan biografi Ibrani. Markus menyelaraskan pilihan genrenya dengan tujuan ideologisnya. Dalam versinya tentang Yesus, ia menghadirkan seorang Guru pengembara yang luar biasa, yang melanggar kebiasaan dan perilaku sosial, agama, dan politik kontemporer, sampai kematian-Nya[3] ketika tatanan kehidupan dipulihkan (Schildgen 1998, 57). Tatanan kehidupan yang dipulihkan ini terkait dengan karya Allah dalam mengaruniakan pengampunan dosa melalui kematian Yesus di kayu salib (Mrk. 10:45; 14:24).

Injil Lukas memiliki beberapa contoh tentang kisah pertobatan, yang di dalamnya pengampunan secara eksplisit ditawarkan kepada individu tertentu. Misalnya, kisah wanita dari kota, yang menerima dari Yesus pengampunan atas dosa-dosanya (Luk. 7:48) dan janji kepada penjahat di kayu salib bahwa ia akan bersama Yesus di surga, yang tentu saja sama dengan pengampunan (Luk. 23:43). Kedua kisah ini memperlihatkan deskripsi pelayanan Yesus yang mengutamakan pengampunan. Lukas membuatnya jelas melalui sikap dan tindakan Yesus terhadap orang-orang yang Ia layani di mana pengampunan diberikan (bnd. Luk. 5:29; 7:47-49; 15:20,22-24; 19:5,7; 23:43) (Mendez-Moratalla 2001, 333). Seperti Injil lainnya, Lukas menekankan perlunya pertobatan. Dia mencatat seruan keras Yohanes Pembaptis (Luk. 3:3 dyb). Dia juga menyatakan kepada kita bahwa Yesus datang untuk memanggil orang-orang berdosa agar bertobat (Luk. 5:32). Dia berkata bahwa manusia adalah jahat (Luk.11:13); paling-paling mereka tidak lebih daripada “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk. 17:10). Tiada manusia sama sekali yang baik (Luk. 18:19). Tidak ada cara lain, selain bahwa manusia mesti bertobat (Luk. 13:3,5). Universalitas dosa dan bahaya serta dampak dosa menunjukkan bahwa pertobatan tidak boleh dihindari oleh manusia (Morris 1999, 67).

Pesan pengampunan dosa dalam Injil Lukas menyatu dengan kisah-kisahnya yang menekankan keselamatan[4] dan pertobatan orang berdosa. Leon Morris mengungkapkan bahwa dalam pasal 15 Lukas menceritakan kisah-kisah tentang Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang Hilang. Ketiga kisah ini memberikan gambaran yang tak terlupakan tentang kerahiman ilahi yang tak terbatas, yang melaluinya manusia diselamatkan. Tidak ada pemikiran bahwa Allah dalam kerinduan-Nya untuk membawa keselamatan kepada manusia benar-benar pergi untuk mencari mereka yang tersesat dan membawa mereka masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya (sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan tentang Domba yang Hilang). Kita begitu akrab dengan kisah ini sehingga mudah bagi kita untuk melewatkan catatan revolusioner yang diperkenalkan ke dalam pemahaman manusia tentang sifat Allah (Morris 1999, 77–78). Sifat Allah ini tercermin dalam tindakan-Nya terhadap umat manusia yang dipanggil untuk bertobat dan menerima pengampunan dosa.

Dalam kitab Kisah para Rasul pesan tentang pengampunan dosa menyatu dengan pemberitaan dari para rasul yang mengajak para pendengarnya untuk bertobat. Menurut Morris, dengan adanya penekanan pada pertobatan dalam ajaran Yesus (sebagaimana dinarasikan dalam kitab-kitab Injil), tidak mengherankan kalau sejak semula para pewarta Kristen dari jemaat mula-mula menuntut sikap yang sama. Sesudah khotbah Kristen yang pertama, Petrus berseru kepada para pendengarnya” “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu…” (Kis. 2:38). Namun pertobatan tidak boleh dipandang sebagai timbul dari sifat baik manusia, atau didorong oleh kemampuan manusia untuk kembali pulih. Dalam arti tertentu, pertobatan adalah karunia Allah. Allah meninggikan Kristus “supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis. 5:31). “Allahlah yang mengaruniakan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi “pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kis. 11:18) (Morris 2014, 252).

Pertobatan dan pengampunan dosa adalah dua unsur yang tak terpisahkan dalam pengalaman hidup orang Kristen sejak semula. Tanpa pertobatan yang sungguh-sungguh tidak mungkin pengampunan dosa dapat diberikan. Dalam Kisah para Rasul diperlihatkan juga bahwa pengampunan dosa diberikan berdasarkan iman kepada Kristus. Dalam Kisah para Rasul 10:43 dinyatakan: “…untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (bnd. Kis. 10:43; 13:38).

Dalam Injil Yohanes pemberitaan tentang pengampunan dosa[5] diungkapkan melalui berbagai narasi yang dipusatkan pada Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Misalnya, Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia ini” (Yoh. 1:29, 36). Hubungan antara dosa dan Anak Domba dalam ungkapan ini menyatakan pentingnya persembahan korban bagi penebusan dosa. Pernyataan Yohanes Pembaptis ini dibuat di tempat yang menonjol dalam Injil Yohanes dan mau menunjukkan bahwa Yohanes menyadari sepenuhnya tradisi pengorbanan, meskipun ia tidak mengembangkannya lebih lanjut dalam Injilnya. Jika seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi dengan dosa-dosa pribadi kita?” Yohanes bisa saja menjawab, “Kristus menebus kita melalui darah-Nya.” Pandangan ini dapat dibuktikan secara intertekstual dengan merujuk pada tradisi Yohanes yang lain, misalnya: 1 Yohanes 2:1-2 dan 4:9-10 (Van der Watt 2005, 116–17).

Di bagian lain dikisahkan bahwa Yesus, dalam pelayanan publik-Nya, memberi pengampunan dosa kepada seorang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh. 8:1 dyb). Menurut A. S. Hadiwiyata, pada garis besarnya, kisah ini mau mengingatkan pembaca supaya jangan terlalu mudah menghakimi orang lain yang kesalahannya tampak lebih besar daripada kesalahan sendiri. Dalam setting-nya yang asli, kisah ini merupakan suatu peringatan terhadap pelaksanaan hukum yang kaku dan menampilkan perlunya pengampunan, seperti yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Yesus yang historis (Hadiwiyata 2008, 118). Pengampunan yang Yesus tawarkan mendobrak sistem agama yang kaku dalam Yudaisme dan menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas otoritas para pemimpin Yahudi.

Sama seperti Injil-injil yang lain, pemberitaan tentang pengampunan dosa tidak bisa dipisahkan dari karya penebusan Kristus di kayu salib. Dalam Injil Yohanes Yesus seringkali memberitakan kematian-Nya yang menebus melalui beberapa pernyataan, misalnya “benih” yang harus mati agar menghasilkan banyak buah (Yoh. 12:24). Pernyataan Yesus ini menyiratkan bahwa kematian Yesus memiliki banyak keuntungan. Namun, makna mendalam tentang arti kematian Yesus tidak dikembangkan lebih lanjut dalam ayat-ayat ini, karena Yohanes mau menekankan perlunya para murid untuk mengikuti dan melayani Yesus dengan setia (Yoh. 12:25-26) (Van der Watt 2005, 117). Menurut saya, pernyataan Yesus ini memang bertujuan untuk menekankan pentingnya panggilan agar para murid bersedia mengikuti dan melayani Yesus. Namun panggilan ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari tujuan penulis Injil yang juga menganggap penting pengenalan terhadap pewahyuan identitas Kristus sebagai Anak Allah, yang diutus ke dalam dunia demi mengaruniakan pengampunan dan keselamatan bagi umat manusia.

Makna pengampunan dosa bagi keselamatan umat manusia diungkapkan oleh Yesus dalam peristiwa perjamuan terakhir dengan para murid. Kitab-kitab Injil Sinoptik mencatat peristiwa tersebut, dan hal ini disinggung juga oleh Paulus dalam 1 Korintus 11:23-29. Hal ini memberi bukti akan ketaatan yang meluas terhadap perjamuan Tuhan di Gereja mula-mula. Keempat Injil mencatat bahwa Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku.” Dalam Matius dan Markus Yesus mengucapkan berkat; dalam Lukas dan 1 Korintus Ia mengucap syukur. Matius memperluas perintah sederhana Markus, untuk “mengambil” roti, dengan menambahkan “makanlah”. Lukas dan Paulus tidak memiliki perintah untuk mengambil roti, dan sebaliknya mencatat Yesus berkata bahwa tubuh-Nya “diberikan untukmu” dan bahwa para murid harus melakukan ini sebagai cara untuk mengenang-Nya (Carter 2016, 191–92). Pengenangan ini begitu penting dalam pembentukan tradisi dan ajaran Kristen tentang pengampunan dosa yang dikaruniakan melalui kematian Yesus di kayu salib.

Yang menonjol dalam narasi tentang perjamuan antara Yesus dengan para murid adalah penekanan pada “darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28; bnd. Mrk. 14:24). Lukas dan Paulus menyebut cawan adalah perjanjian baru oleh darah Yesus, yang ditumpahkan bagi manusia (Luk. 22:20) dan harus diperbuat sebagai sebuah peringatan akan Yesus (1Kor. 11:25). Maksudnya orang Kristen wajib melaksanakan perjamuan untuk memperingati dan mengenang akan kematian Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya demi pengampunan dosa manusia. Menurut Carter, kiasan Lukas dan Paulus yang kaya secara teologis ini terkait dengan janji nabi Yeremia mengenai “perjanjian baru”, di mana Allah memulihkan umat-Nya sehingga semua orang akan mengenal-Nya dan Dia akan menjadi Allah mereka, dan bahwa Ia akan menuliskan hukum-Nya di dalam hati mereka, mengampuni dosa-dosa mereka dan tidak lagi mengingat-ingat kesalahan mereka (Yer. 31:31-34) (Carter 2016, 196).

 

Pengampunan Dosa dalam Surat-surat Paulus

Paulus[6] (sebagai orang Yahudi dari suku Benyamin; lihat Flp. 3:5) mewarisi tradisi pemikiran keagamaan yang bersumber dari Perjanjian Lama (PL), termasuk konsep tentang dosa dan pengampunan yang Allah sediakan bagi umat-Nya. Kitab-kitab PL memperlihatkan tindakan Allah yang, dalam kasih-Nya yang besar, melimpahkan pengampunan dosa kepada umat-Nya, Israel. Nabi Yesaya, misalnya, menyerukan panggilannya kepada orang jahat untuk berbalik kepada Tuhan Allah sebab Ia berbelas kasih dan dengan bebas akan memberi pengampunan-Nya (Yes. 55:7). Rujukan terakhir kepada pengampunan Allah dalam PL adalah sebuah janji dari Allah bahwa apabila umat-Nya merendahkan diri dan berdoa serta berbalik dari dosa mereka, maka Ia akan mendengar dari sorga, mengampuni mereka dan memulihkan negeri mereka (2Taw. 7:14) (Carter 2016, 24). Pengalaman umat Israel dalam relasi dengan Allah yang maha pengampun ini, tentu sangat memengaruhi pemikiran Paulus dan orang Kristen mula-mula, khususnya terkait dengan pengertian mereka tentang pengampunan dosa yang dinyatakan Allah di dalam Yesus Kristus.

Sebelum membahas arti pengampunan dosa, kita perlu memahami pandangan Paulus tentang dosa. Dalam 1 Timotius 2:14 terdapat pernyataan dari Paulus yang mengutip kisah Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Dari ungkapan Paulus tentang manusia pertama “jatuh ke dalam dosa” (1Tim. 2:14 parabasis; NJB “fell into sin”; KJV, NASB “transgression”; BIMK “melanggar perintah Allah”) berkembang ajaran gereja tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa (Ing. Fall; Jer. Sündenfall) (Karman 2021, 183). Ajaran tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa[7] memperlihatkan pemahaman gereja mengenai hakikat dosa, yang pada umumnya dipahami sebagai sebuah sikap pemberontakan manusia kepada otoritas Allah.

Menurut Leon Morris, ide Paulus tentang dosa tidaklah sederhana. Paulus memakai kata “dosa” (hamartia) sebanyak 64 kali. Di dalam kitab Roma kata ini muncul sebanyak 48 kali, di mana Paulus dengan panjang lebar banyak membahas soal dosa. Sementara di surat-surat yang lain kata “dosa” hanya muncul 14 kali. Paulus paling sering menggunakan kata itu dalam bentuk tunggalnya.[8] Artinya dosa bukan hanya sekedar kejahatan yang dilakukan manusia, melainkan suatu kekuatan yang membelenggu manusia. Paulus lebih dari sekali berbicara tentang kondisi manusia sebagai “hamba dosa” (Rm. 6:17, 20), bahkan dengan sebuah gambaran yang hidup ia melukiskan seluruh manusia sebagai yang “terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Sebagaimana seorang budak yang tidak berdaya dijual kepada seorang tuan/majikan, demikianlah umat manusia masuk ke dalam kuasa dosa (Morris 2014, 74). Keadaan manusia yang dilukiskan sebagai “hamba dosa” ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh penulis kitab Kejadian 6:5 bahwa segala kecenderungan hati manusia (sebagai “hamba dosa” itu) selalu membuahkan kejahatan semata-mata.

Terhadap dahsyatnya kuasa dosa itu, Paulus sebetulnya ingin mengatakan dua hal, sebagai berikut: (1) dosa tidak berhak menguasai diri kita (yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah); dan (2) biarpun demikian, dosa telah menguasai[9] diri kita. Paulus juga mengingatkan bahwa dosa itu bersifat universal. Ia berpendapat bahwa orang-orang berdosa tidak hanya dari bangsa-bangsa non-Yahudi, melainkan juga dari bangsa Yahudi. Hukum Taurat[10] yang dimiliki bangsa Yahudi justru mendatangkan pengenalan akan dosa (Rm. 3:20). Hakikat manusia sebagai makhluk berdosa menyatu dalam kodratnya, sehingga membuat manusia cenderung berbuat salah (suatu kenyataan yang dapat dibuktikkan dari pengalaman pribadi setiap orang). Paulus menekankan bahwa manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari kuasa dosa, termasuk berbagai akibat/dampak dari kejahatan yang ia lakukan (Morris 2014, 75–76). Jalan keluar yang ditawarkan Paulus terhadap masalah dosa adalah beriman kepada Kristus yang tersalib.[11] Dalam 1 Korintus 2:2 ia berkata: “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”

Persoalan dosa ini diletakkan oleh Paulus dalam skema pemikiran teologisnya yang berpusatkan pada salib Kristus. Dalam surat-suratnya Paulus banyak berbicara tentang arti salib Kristus. Dengan kata lain Paulus mempunyai pesan, pengertian, atau “suatu teologi salib” yang menuntun penafsirannya terhadap makna kematian Yesus. Salib Yesus yang diberitakan Paulus bukanlah tanpa makna bagi orang percaya. Orang percaya melihatnya sebagai sebuah kekuatan yang bersifat kritis, yang dinyatakan baik kepada dunia maupun individu, dan yang menentukan eksistensi secara keseluruhan, baik kehendak, pemikiran maupun perkataan setiap orang (Williams 2002, 20). Pengaruh pemberitaan salib jelas dialami oleh Paulus, baik dalam pemikiran maupun perilaku hidupnya sehati-hari. Gambar Kristus yang tersalib sangat memesona Paulus, sehingga dalam Galatia 6:14 ia menulis: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,...” Paulus juga mendorong orang-orang Kristen pada zamannya untuk menghayati karya salib Kristus dalam kehidupan dan panggilan mereka. Menurut Paulus, hanya melalui salib Kristus karya pendamaian Allah dengan seluruh ciptaan-Nya dapat diwujudkan dengan sempurna (Kol. 1:20).

Pendamaian mengacu pada penghapusan dosa sebagai penghalang[12] yang merintangi hubungan Allah dan manusia serta yang berdampak pada hubungan dengan sesama. Bagaimana kita memahami karya penghapusan atau pengampunan dosa itu? Karya penghapusan atau pengampunan dosa di dalam surat-surat Paulus adalah bagian dari karya keselamatan Allah, yang di dalamnya umat dipanggil untuk menghayati pengharapan eskatologisnya sebagai ciptaan baru. Dalam 2 Korintus 5:17 Paulus berbicara tentang ciptaan baru, namun pengertian terhadap frasa ini bukan terbatas pada transformasi personal melalui pengalaman pertobatan. Bagi Paulus, kata ktisis (creation) menunjuk pada seluruh tatanan ciptaan (bnd. Rm. 8:18-25). Dia memproklamirkan pesan apokaliptik bahwa melalui salib Kristus Allah telah membatalkan dosa kosmos dan kematian serta mewujudkan kosmos baru. Zaman lama telah berlalu (1Kor. 7:31b) dan zaman baru telah muncul di dalam Kristus, dan gereja saat ini berdiri di persimpangan. Tetapi bagi Paulus ada juga peringatan yang harus diingat: sementara gereja berdiri pada saat ini, ia juga harus menantikan penyempurnaan harapannya. Keselamatan akan sepenuhnya dicapai hanya pada Parousia (kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam kemuliaan); kedatangan-Nya akan disertai dengan kebangkitan orang mati dan penghakiman terakhir (1Tes. 4:13–18; 1Kor. 15:20–23). Dengan demikian, Paulus menganggap masa sekarang sebagai interval anomali di mana “sudah” dan “belum” penebusan ada secara bersamaan dalam ketegangan dialektis (Hays 2013).

Dengan demikian karya penebusan[13] Kristus yang diberitakan oleh Paulus bukan sebatas pada pemberian pengampunan dosa pribadi, melainkan berbicara tentang pemulihan secara penuh dan bersifat universal. Menurut Richard B. Hays, sejauh ini gambaran yang dilukiskan di dalam Kitab Suci menunjuk pada penggenapan yang mulia, ketika komunitas orang percaya di dalam Kristus mengalami kebebasan dari kuasa daging, dan melalui kehadiran Roh Kudus, telah berpartisipasi bersama Kristus dalam warisan yang dijanjikan. Namun pemulihan ini bersyarat karena melibatkan panggilan orang Kristen untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Paulus menuliskan hal itu dalam Roma 8:17 bahwa orang Kristen adalah ahli waris (yang berhak menerima janji-janji Allah, dan yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus), yaitu “jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Hays 2013).

Dalam teologi yang berpusat pada salib Kristus Paulus menekankan bahwa semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, berada di bawah kuasa dosa. Di luar Kristus, tidak ada jalan keluar untuk luput dari kutukan Allah terhadap dosa (Rm. 1:18-3:20). Namun terbuka kemungkinan untuk menerima “kebenaran Allah”, yakni pembebasan dari vonis penghukuman Allah dan kuasa untuk mendapat bagian dalam kebaikan Allah sendiri. Ini sesuatu yang hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Kristus, dan bukan karena perbuatan baik (Rm. 3:21-4:25). Paulus menjelaskan tema ini dengan mengangkat contoh dari kehidupan iman Abraham (Rm. 4). Ia menjelaskan lebih lanjut hasil dari hubungan baru dengan Allah yang berdasarkan iman itu (Rm. 5-8): kebebasan dari murka Allah; kebebasan dari perhambaan dosa; kebebasan dari hukum Taurat; dan kebebasan dari kematian melalui pekerjaan Roh Allah di dalam Kristus. Namun pembebasan ini bukan berarti bahwa orang Kristen dapat berbuat sesuka hatinya, melainkan agar mereka “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm. 8:29) (Drane 1996, 370). Menjadi serupa dengan Kristus berarti mengambil bagian dalam penderitaan-Nya (Flp. 3:10).

Menurut Paulus, penderitaan yang dialami orang Kristen di masa kini tidak perlu sampai melemahkan pengharapan mereka, sebab kemenangan atas kuasa dosa dan maut telah diperoleh Kristus melalui kebangkitan-Nya dari kematian. Morris berpendapat bahwa nyanyian kemenangan Paulus dalam 1 Korintus 15 mau memperlihatkan keyakinannya terhadap akhir dari kematian, yang tidak lagi dilihat sebagai penguasa kejam yang harus ditakuti. Yang berlaku bagi orang percaya adalah kuasa Allah dalam Kristus, kuasa yang kita lihat terwujud secara cemerlang ketika Kristus mengalahkan kematian dan bangkit dengan penuh kemenangan. Paulus sependapat bahwa kematian adalah musuh terakhir, namun dia yakin bahwa musuh tersebut akan dihancurkan (1Kor. 15:26) (Morris 2014, 91–92). Pengampunan dosa dalam ajaran Kristen senantiasa berdimensi pengharapan sebab ia bukan hanya mengacu kepada penghapusan dosa manusia pada masa lalu dan masa kini, melainkan juga menunjuk pada kemenangan akhir Allah atas segala sesuatu di masa depan. Kemenangan itu dicapai melalui kebangkitan Kristus. Paulus berkata: “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1Kor. 15:57).

Paulus sering berbicara tentang kemenangan Allah atas para penguasa dunia, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dalam Kolose 1:13-14 Paulus menjelaskan bahwa Allah telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dan membawa kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang terkasih, yang oleh-Nya kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa. Allah di dalam Kristus telah mengampuni semua kesalahan kita, di mana catatan hutang yang mendakwa kita telah dibatalkan dengan dipaku di kayu salib. Ini berarti aib dan kekalahan bagi para para penguasa (Kol. 1:15). Dengan demikian penebusan itu diperoleh dengan merebut kendali dari para penguasa dunia, dan dikaitkan dengan pengampunan: seperti yang dikatakan Lohse, “Di mana ada pengampunan dosa, di situ ada kebebasan dari kekuasaan dan pemerintahan, di situ ada kehidupan dan keselamatan!” (Carter 2016, 189). Begitulah seharusnya kita memahami pengampunan sebagai karya Allah yang membebaskan manusia dari berbagai belenggu dan perhambaan yang memperbudak hidupnya.

 

Pengampunan Dosa dalam Surat-surat Am dan Kitab Wahyu

Surat Ibrani memperlihatkan gagasan tentang pengampunan dosa yang dihasilkan melalui kematian Yesus dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Misalnya, penulis surat Ibrani menyatakan bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (9:22). Ayat ini mengingatkan kita pada pencurahan darah korban penghapus dosa di bawah mezbah untuk melakukan karya pendamaian di bawah perjanjian lama. Gagasan penumpahan darah dalam perjanjian lama ini adalah kunci utama dalam mengartikan kematian Yesus sebagai sarana yang dengannya pengampunan dijamin dalam perjanjian baru. Sebagai imam besar yang dilantik oleh Allah menurut peraturan Melkisedek (7:1-28), Yesus meresmikan perjanjian baru yang dijanjikan oleh nabi Yeremia (8:1-13). Dalam penggenapan tipologis dari tindakan imam besar di Hari Raya Pendamaian, Kristus telah memasuki bait suci surgawi melalui darah-Nya sendiri dan dengan demikian telah menjamin penebusan kekal (9:11-12); sedangkan di bawah perjanjian lama, darah kambing dan lembu jantan hanya dapat menghasilkan pembersihan lahiriah, darah Kristus mampu memurnikan hati nurani (9:13-14),  dengan hasil bahwa orang-orang dibebaskan dari tindakan yang mengarah pada kematian sehingga mereka dapat melayani Allah yang hidup. Begitulah cara surat Ibrani menafsirkan bahasa penebusan sebagaimana hal itu diterapkan pada kematian Kristus (9:12, 15) (Carter 2016, 184–85).

Menurut surat Ibrani, darah memang dianggap penting untuk pengampunan, tetapi tidak ada interpretasi tunggal tentang bagaimana penumpahan darah menjamin pengampunan: darah Kristus membersihkan hati nurani (9:14), dan menjamin penebusan kekal dari pelanggaran yang dilakukan di bawah perjanjian pertama (9:12, 15); Perjanjian adalah seperti wasiat, yang menuntut kematian pewaris sebelum berlaku (9:16-17); sebagaimana perjanjian pertama dijamin oleh darah anak lembu dan kambing, perjanjian baru dijamin oleh darah Yesus (9:18-20). Darah-Nya adalah sarana yang melaluinya Ia memasuki bait suci surgawi (9:25; cf. 9:12) dan pengorbanan diri-Nya berfungsi untuk mengatasi dosa sekali dan untuk selama-lamanya (9:26). Surat Ibrani dengan demikian menawarkan berbagai interpretasi kreatif tentang bagaimana darah Kristus memengaruhi pengampunan, yang semuanya dapat dibaca sebagai ekspresi dari karya Kristus yang membawa penebusan kekal (9:12) (Carter 2016, 186).

Surat Yakobus mendukung gagasan yang telah kita lihat di seluruh PB bahwa perbuatan jahat manusia tidak boleh diabaikan sebagai sesuatu yang tidak ada konsekuensinya. Di seluruh suratnya ia menjelaskan bahwa dosa sama sekali tidak sesuai dengan panggilan Kristen dan menjadi sebuah penghalang untuk bersekutu dengan Allah. Yakobus menekankan tanggung jawab manusia dengan mengingatkan bahwa pencobaan muncul dari hawa nafsu/keinginan[14] sendiri: “…apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Ini merupakan suatu gambaran yang jelas tentang dosa sebagai sesuatu yang berkuasa. Dosa membutuhkan waktu untuk bertumbuh, namun ketika sudah matang ia “mengandung” dan keturunan yang dihasilkannya adalah kematian (Morris 1999, 310). Pernyataan Yakobus ini mengingatkan kita pada ungkapan Paulus dalam Roma 6:23 yang juga menekankan hasil akhir dari dosa, yaitu maut atau kematian (“Sebab upah dosa adalah maut…”).

Dalam surat 1 dan 2 Petrus kita menemukan pesan pengampunan dosa masih dalam hubungannya dengan kematian Yesus di kayu salib. Penulis 1 Petrus menghubungkan kematian Yesus dengan dosa manusia, misalnya melalui pernyataan bahwa “…Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah…” (1Pet. 3:18). Ungkapan ini menunjukkan tindakan Allah yang memberikan pengampunan agar manusia yang berdosa dimungkinkan untuk mendekat kepada Allah yang kudus. Jadi pengampunan dosa dimungkinkan melalui kematian Kristus di kayu salib. Menurut Robert George Staines, salib adalah poros penting di mana keselamatan hadir untuk membalikkan apa yang telah terjadi sebelumnya dan secara efektif menjembatani kesenjangan antara Allah dan manusia. Pekerjaan yang diselesaikan di kayu salib dari awal sampai akhir adalah pekerjaan Allah sang Pembebas, melalui perantaraan Allah-Manusia, yaitu Yesus Kristus (Staines 2008, 11).

Surat-surat Yohanes memberitakan penolakan yang jelas terhadap dosa dan mandat untuk hidup benar. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas dalam 1 Yohanes 3:4-10, yang menegaskan bahwa “…setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi…” (ay. 6). Namun maksud ayat tidak boleh disalahpami, sebab tanda yang membedakan dari komunitas orang percaya bukanlah ketidakberdosaan, melainkan kesediaan untuk membawa dosa-dosa mereka ke dalam terang, untuk mengakuinya dengan jujur, dan untuk menerima pengampunan dan penyucian oleh darah Yesus (1Yoh. 1: 5-9). Jika Yesus adalah “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29), maka gereja harus menjadi komunitas orang-orang yang mengenal diri mereka sebagai orang berdosa yang telah diampuni. Memang, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya tidak berdosa adalah pendusta (1Yoh. 1:10) (Hays 2013). Sama dengan surat-surat Yohanes, surat Yudas juga berisi penolakan terhadap dosa sebagai sikap tidak taat dan hidup menuruti hawa nafsu. Menurut Guthrie, Yudas mengutip suatu nubuat yang menyimpulkan bahwa guru-guru palsu adalah “pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka” (Yud. 18). Selain itu mereka disebut sebagai orang-orang duniawi yang “hidup tanpa Roh Kudus” (Yud. 19) (Guthrie 1991, 237).

Kitab Wahyu sebagai sastra apokaliptik membicarakan aspek-aspek ajaran Kristen yang dibutuhkan oleh orang-orang Kristen pada zamannya, termasuk ajaran tentang pengampunan dosa. Penulis kitab ini menegaskan bahwa keagungan Yesus membuat karya penyelamatan-Nya menjadi mungkin. Sudah dari permulaan kitab ini, kita membaca bagaimana Yesus Kristus “mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (1:5). Belakangan kita baca bahwa Dia dibunuh dan bahwa dengan darah-Nya Ia membeli bagi Allah umat manusia “dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (5:9) (Morris 2014, 407, 409). Dengan demikian pengampunan dosa merujuk pada tindakan Kristus yang rela mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tersembelih (13:8), sehingga penebusan-Nya itu adalah karya universal yang ditujukan bagi segenap umat manusia.

 

Pengampunan Dosa dan Pembaruan Sosial

Dalam kitab-kitab Injil berita tentang pengampunan dosa tampaknya terjalin erat dengan misi Yesus yang bermaksud ingin mengadakan pembaruan sosial dalam kehidupan orang-orang Yahudi. Penerimaan akan berita tentang pengampunan dosa tidaklah mudah ketika hal itu diperhadapkan dengan tatanan masyarakat Yahudi dengan umat Allah yang masih kuat berpegang pada nilai-nilai tradisional. Namun Yesus mendobrak tatanan tersebut dengan memperkenalkan visi Kerajaan Allah. Menurut Amos Yong, misi Kristen terlibat dalam praktik Kerajaan Allah dengan penekanan pada hospitalitas Allah yang eskatologis. Yang penting di sini bukan hanya ortodoksi dari pemberitaan Kristen, tetapi ortopraksis yang melaluinya Roh Allah menyempurnakan transformasi eskatologis atas dunia ini (Yong 2008, 140). Pada hakikatnya gereja melanjutkan misi Allah dengan dengan ortopraksisnya yang bersifat terbuka dan merangkul semua orang. Di sinilah makna pengampunan dosa itu diberlakukan melalui tindakan gereja yang menerima kehadiran semua orang dengan berbagai kebutuhannya.

Keempat kitab Injil menggambarkan pelayanan Yesus dengan pusat pemberitaan-Nya adalah Kerajaan Allah.[15] Pemberitaan ini memiliki beberapa unsur penting, yaitu gambar Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, dan proaktif mengampuni, panggilan untuk komunitas baru yang akan memulihkan Israel sebagai umat Allah yang kudus. Kerajaan adalah karunia cuma-cuma yang diberikan oleh Allah dan diwujudkan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya kepada orang-orang sezaman-Nya, misalnya melalui komunitas makan bersama, dalam kegiatan penyembuhan dan pengusiran setan, dalam penerimaan dan pengampunan-Nya secara umum. Kerajaan juga berbicara tentang hubungan baru antara Allah dan umat manusia, yang dimediasi dan diwujudkan oleh hubungan antara manusia. Oleh karena itu, kerajaan hanya dapat sepenuhnya terwujud dan bertahan ketika orang-orang meniru Yesus dalam perilaku mereka dengan sesama manusia. Kita ditantang untuk saling mengampuni, untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, bahkan mengasihi musuh, karena Allah melakukan hal yang sama, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa hujan diturunkan ke atas orang benar dan tidak adil dan matahari tetap bersinar baik ke atas orang berdosa maupun orang benar (Mat. 5:44-45) (Kirwan 2017, 97).

Menurut saya, pesan pengampunan yang terdapat dalam kitab-kitab Injil menyatu dengan proklamasi tentang Kerajaan Allah[16] yang disampaikan oleh Yesus, terutama unsur pemberitaan Kerajaan Allah yang menggambarkan Allah sebagai Bapa yang ramah dan penuh kasih. Di pusat pemberitaan tentang Kerajaan Allah yang berisi kabar baik itu terdapat panggilan bagi manusia untuk menanggapi pernyataan bahwa Allah adalah Sang Bapa yang penuh kasih. Menurut Morris, pada saat Yesus datang ke dalam dunia, itulah Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:14-15). Dan kedatangan Yesus itu mengharuskan manusia menanggapinya dengan bertobat dan percaya (Morris 2014, 145). Apa artinya bertobat dan percaya dalam kaitannya dengan masalah pengampunan?

Panggilan untuk bertobat dan percaya berarti bersedia terlibat dalam usaha-usaha untuk mengatasi berbagai persoalan penderitaan yang dihadapi oleh umat manusia dewasa ini. Sebagai umat yang bertobat kita dipanggil untuk tetap setia memberitakan salib dan pengampunan. Menurut Babu Immanuel, di mana pun keadilan menjadi masalah dan di mana pun harkat dan martabat manusia dipertaruhkan, kita dapat mengatakan bahwa salib hadir mewartakan pesan pengampunan dan penebusan tanpa kekerasan. Diktum Christus Victor[17] benar, bukan secara politis, tetapi secara teologis. Salib Yesus adalah tindakan Allah yang menentukan untuk mempertanyakan legitimasi kekerasan, konflik dan ketidakadilan. Salib adalah suara kenabian melawan ketidakadilan, yang mengundang kita untuk hidup sebagaimana Dia hidup dan mengajar. Kita dapat menemukan di dalamnya kekuatan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, dan membantah klaim supremasi yang berkuasa, menguduskan penderitaan kita sendiri dan menempatkan kita dalam drama kosmik sebagai penyembuh yang terluka dan memberdayakan kita untuk terus mengampuni dan mencintai (Immanuel 2006, 28).

 

Pengampunan Dosa dan Pemulihan Seluruh Ciptaan

Apabila kitab-kitab Injil mengutamakan karya keselamatan yang berpusat pada misi Yesus untuk memperbarui tatanan masyarakat Yahudi dengan penekanan pada pengampunan yang dinyatakan dalam kehidupan komunitas dan individu, maka surat-surat Paulus dan yang lainnya mengangkat rencana keselamatan Allah yang bersifat kosmis dan universal. Tampaknya hal ini dilakukan oleh Paulus dan rasul-rasul yang lain karena misi yang dibawa mereka bergeser dari kehidupan masyarakat Yahudi Palestina ke masyarakat Yahudi diaspora[18] yang lebih majemuk dan kompleks. Menurut John Stambaugh dan David Balch, misi Paulus dan rasul-rasul lain menghasilkan suatu persekutuan Kristen yang mengalami sejumlah transisi setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan yang paling menonjol adalah dari suatu gerakan Yahudi menjadi gerakan bukan Yahudi dan dari lingkungan pedesaan ke lingkungan perkotaan. Paulus sendiri menunjukkan bahwa ia mengalamatkan misinya kepada orang-orang bukan Yahudi sejak permulaan dan bahwa ketegangan antara orang-orang Yudais dengan orang Helenis terus berlanjut dalam waktu yang lama (Gal. 2; bnd. Rm. 15) (Stambaugh and David Balch 1994, 52). Ketegangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Paulus dalam memperkenalkan misi Allah dalam Kristus yang bertujuan untuk merobohkan tembok-tembok pemisah atau sekat-sekat yang merintangi terwujudnya persekutuan seluruh umat Allah yang beragam itu.

Berita-berita Kristen telah dibawa ke kota-kota di Kekaisaran Romawi oleh orang-orang Yahudi biasa yang hadir pada hari Pentakosta dan oleh “para rasul”, yang meliputi para murid yang pertama serta Paulus dan orang-orang lain, mungkin termasuk kaum perempuan dan yang berkeliling berkhotbah dan mendirikan sel-sel Kristen, dengan mengaku bahwa mereka memilik kewibawaan kharismatis langsung dari Allah (Rm. 16:7; 1Kor. 15:5-9; Gal. 1:1, 17, 19). Seluruh pemimpin Kristen ini menekankan sifat misi mereka yang universal. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengaruh filsafat Stoa dalam masyarakat yang menekankan sifat umat manusia yang kosmopolitan, yang mengatasi batas-batas etnis. Berbagai kunjungan dan komunikasi tertulis mengikat berbagai sel ini bersama-sama. PB penuh dengan acuan pada interkomunikasi ini dan hal ini merupakan produk dari saling ketergantungan dan keramahtamahan (Stambaugh and David Balch 1994, 54, 56). Kita bisa melihat bahwa transisi dalam bermisi sangat dipengaruhi oleh pemberitaan Injil yang disampaikan para pemimpin Kristen mula-mula. Mereka berfokus pada rencana keselamatan Allah yang universal untuk memulihkan umat manusia dengan pokok berita tentang pengampunan dosa dan pembaruan hidup secara menyeluruh.

Bagaimana kita menjelaskan berita-berita Kristen yang dibawa oleh para rasul dan orang-orang Kristen? Terdapat keyakinan yang kuat bagi Paulus dan rasul lain bahwa Allah itu personal, dan menjadi personal adalah relasional. Allah yang demikian akan senantiasa mengulurkan tangan untuk menciptakan pribadi lain yang akan berelasi dengan-Nya. Ini bukan kebutuhan atau kekurangan Allah. Ini adalah limpahan kebaikan-Nya yang tak terbatas. Allah yang personal ini memberikan diri-Nya. Allah yang interpersonal ini ingin berbagi hidup dengan pihak lain, sehingga menghadirkan kita untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Ini adalah rencana agung Allah atas segala sesuatu (atas seluruh kosmos) yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Roma 8:29 menyatakan: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya...” (Campbell 2020, 78).

Paulus adalah wakil yang secara khusus dipilih Allah untuk menyingkapkan rencana rahasia Allah yang tersembunyi sejak dunia dijadikan, dan yang sekarang diwahyukan di dalam Yesus Kristus.[19] Allah tritunggal, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, secara murah hati dan mengasihi memilih untuk melimpahkan keselamatan-Nya di dalam Kristus Yesus kepada manusia. Orang yang menanggapi karunia yang murah hati ini diangkat dari keberadaan berdosa mereka yang ditakdirkan mati ke dalam kehidupan relasional baru (Campbell 2020, 111). Pesan pengampunan dosa, menurut Paulus, mempunyai makna yang mendalam karena memperlihatkan rencana keselamatan Allah bagi segenap umat manusia. Orang-orang yang diampuni dosanya adalah gambaran gereja yang telah memasuki suatu realitas[20] persekutuan yang baru dengan Allah. Persekutuan ini tidak akan mungkin terwujud tanpa pengorbanan Yesus melalui darah-Nya yang tertumpah. Darah yang tertumpah itu menunjuk pada peresmian perjanjian baru, di mana Allah memanggil semua orang untuk menjadi umat-Nya yang taat dan setia.

Paulus dalam teologi dan pemberitaannya sangat menekankan karya eskatologis Allah di dalam Kristus yang bertujuan untuk memulihkan segenap ciptaan-Nya. Misalnya, dalam Kolose 1:20 Paulus menunjuk pada keyakinannya yang kuat bahwa Allah dalam Kristus pada akhirnya akan memperdamaikan segala sesuatu[21] dengan diri-Nya. Yang dimaksud dengan segala sesuatu itu mencakup seluruh ciptaan, baik yang ada di sorga maupun yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa[22] (Kol. 1:16). Segala sesuatu diciptakan di dalam dan melalui Kristus (Sang Logos), dan pada akhirnya segala ciptaan-Nya itu dipulihkan melalui karya pendamaian oleh darah salib-Nya.

Dalam Kolose 1:15-20 Paulus menekankan keutamaan Kristus dalam karya penciptaan dan penebusan. Ia adalah yang terunggul dan terutama dalam segala sesuatu, bahkan dalam seluruh kepenuhan (ay. 18-19). Kehadiran Allah yang berkenan diam/tinggal dalam diri-Nya adalah untuk memulihkan segala sesuatu (ay. 20) hanya melalui Dia dan bagi Dia. Penggunaan kata “segala atau seluruh” oleh penulis dengan berulang kali hendak menekankan dimensi kosmis kuasa dan dampak penebusan Kristus. Pemulihan yang Ia hasilkan mendatangkan pendamaian[23] yang dilaksanakan dengan mencurahkan darah-Nya di salib. Pandangan ini adalah suatu pandangan kosmis, karena pemulihan berlaku secara menyeluruh, bagi segala sesuatu, baik di bumi maupun di sorga (Bergant and Robert J. Karris 2002, 364). Pandangan tentang penebusan yang dikemukakan oleh Paulus dalam bagian ini memperlihatkan makna penebusan dosa yang diberikan bukan hanya kepada manusia, melainkan kepada seluruh makhluk/ciptaan (yang mengalami dampak dari kejatuhan manusia ke dalam dosa).

Di dalam pemberitaan tentang pengampunan dosa ini kita melihat peragaan iman dan pengharapan Paulus, para penulis PB yang lain serta seluruh orang percaya. Iman dan pengharapan itu bertumpu pada karya keselamatan Allah di dalam Kristus, dan yang dikomunikasikan dengan berbagai gambaran dan perumpamaan yang hidup. Menurut van der Watt, ada berbagai gambaran, metafora dan istilah-istilah seperti anak-anak Allah, rekonsiliasi, penebusan, kelahiran dari atas, kehidupan kekal, dan masih banyak lagi, yang menjadi blok bangunan dalam membentuk dan memperteguh kehidupan gereja sebagai komunitas umat Allah[24] yang baru. Ada pesan apokaliptik yang membuka harapan akan masa depan, serta fokus yang kuat pada kehadiran dan kasih Allah, yang memberikan jaminan kepada keluarga Allah yang baru ini bahwa mereka berada di jalan yang benar (Van der Watt 2005, 1). Kehadiran Allah ini memberikan kepastian bagi umat Allah bahwa jalan yang benar akan menuntun mereka untuk tetap berada dan tinggal dalam persekutuan dengan Yesus, sehingga darah-Nya yang tertumpah memberikan jaminan pengampunan atas segala dosa mereka.

 

Kesimpulan

Ajaran tentang pengampunan dosa bertumpu pada karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Dalam kitab-kitab Injil pengampunan dosa diucapkan oleh Yesus dalam kaitan dengan pelaksanaan misi-Nya, yaitu untuk mendatangkan Kerajaan Allah. Seringkali Yesus mendobrak tatanan lama yang kaku dalam masyarakat dengan maksud untuk mendatangkan pemulihan. Hal ini membawa dampak bagi umat Israel, terutama dalam pengertian mereka tentang pengampunan dosa. Dengan otoritas-Nya Yesus memberi jaminan keselamatan dan pengampunan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, bahkan di saat harapan sudah pupus. Kisah penjahat yang bertobat dalam Injil Lukas (23:39-43) adalah salah satu contoh dari otoritas Yesus dalam memberikan jaminan pengampunan, bahkan kepastian untuk masuk ke dalam Firdaus.

Sedangkan dalam surat-surat (Paulus dan rasul-rasul lainnya) ajaran tentang pengampunan dosa berkaitan dengan berbagai macam pergumulan yang dihadapi gereja. Persekutuan yang baru ini hadir di tengah-tengah keragaman budaya dan kepercayaan di perkotaan, sehingga baik Paulus maupun rasul-rasul yang lain sangat menekankan signifikansi Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ajaran pengampunan dosa dihayati dan diberitakan dengan bertitik tolak pada iman di dalam Kristus. Pengampunan dosa menyangkut karya keselamatan universal dengan fokus pada pemulihan seluruh ciptaan Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Acuan

 

Armstrong, Karen. 2021. Santo Paulus. Rasul Yang Dicela Dan Dicintai. Terjemahan Alex Tri Kantjono W. dan Y. D. Anugrahbayu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Barth, Marie C., and B. A. Pareira. 1997. Kitab Mazmur 1-72. BPK Gunung Mulia.

Bergant, Dianne, and Robert J. Karris. 2002. Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Terjemahan A. S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius.

Borg, Marcus J. 1991. Jesus, a New Vision: Spirit, Culture, and the Life of Discipleship. 1st Harpercollins papercover ed. San Francisco: HarperSanFrancisco.

Brondos, David. 2021. “The Cross and the Curse: Galatians 3.13 and Paul’s Doctrine of Redemption.” Journal for the Study of the New Testament 23 (81): 3–32.

Campbell, Douglas A. 2020. Paulus. Perjalanan Seorang Rasul. Terjemahan N. Susilo Rahardjo. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Carter, Tim. 2016. The Forgiveness of Sins. Cambridge, United Kingdom: James Clarke & Co.

Drane, John William. 1996. Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis. Translated by P. G. Katoppo. Jakarta: Pt. PBK Gunung Mulia.

Engelsviken, Tormod. 2013. “Reconciliation with God - Its Meaning and It’s Significance for Mission.” In Mission as Ministry of Reconciliation, 79–89. London: Regnum Books International.

Evans, Ruth Agnes. 2017. “The Good Thief.” The Way 56 (3): 18–28.

Fee, Gordon D. 2004. Paulus, Roh Kudus Dan Umat Allah. Malang: Gandum Mas.

Green, Joel B., and Mark D. Baker. 2003. Recovering the Scandal of  the Cross: Atonement in New Testament and Contemporary Contexts. Carlisle: Paternoster Press.

Guthrie, Donald. 1991. Teologia Perjanjian Baru 1: Allah, manusia, Kristus. Terjemahan Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Hadiwiyata, A. S. 2008. Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.

Hays, Richard B. 2013. The Moral Vision of the New Testament: Community, Cross, New Creation: A Contemporary Introduction to New Testament Ethics. New York: HarperCollins.

Immanuel, Babu. 2006. “Jesus’ Cross, Conflicts and the New Testament.” Transformation 23 (1): 24–29.

Karman, Yonky. 2021. Yang Menjadikan Langit Dan Bumi. Sebuah Teologi Penciptaan Menurut Perjanjian Lama. Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Teologi.

Kirwan, Michael, ed. 2017. Mimesis and Atonement: René Girard and the Doctrine of Salvation. Violence, Desire, and the Sacred. New York: Bloomsbury Academic, an imprint of Bloomsbury Publishing Inc.

Mendez-Moratalla, Fernando. 2001. “A Paradigm of Conversion in Luke.” Disertasi Ph.D, Durham: Durham University.

Morlan, David S. 2013. “Conversion in Luke and Paul: An Exegetical and Theological Exploration.” Library of New Testament Studies 464. London New York: Bloomsbury.

Morris, Leon. 1999. The Cross in the New Testament. Grand Rapids: W.B. Eerdmans.

———. 2014. Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan H. Pidyarto. Malang: Gandum Mas.

Schildgen, Brenda Deen. 1998. Crisis and Continuity: Time in the Gospel of Mark. Journal for the Study of the New Testament 159. Sheffield, England: Sheffield Academic Press.

Sölle, Dorothee. 1990. Thinking about God: An Introduction to Theology. London : Philadelphia: SCM Press ; Trinity Press International.

Staines, Robert George. 2008. “The Soteriological Significance of the Cross of Jesus : Metaphor, Meaning and Salvation.” University of Glasgow.

Stambaugh, John, and David Balch. 1994. Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula. Terjemahan Stephen Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Van der Watt, J. G., peny. 2005. Salvation in the New Testament: Perspectives on Soteriology. Leiden: Brill.

Williams, Demetrius K. 2002. Enemies of the Cross of Christ: The Terminology of the Cross and Conflict in Philippians. Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 223. London: Sheffield Academic Press.

Yong, Amos. 2008. Hospitality and the Other: Pentecost, Christian Practices, and the Neighbor. Faith Meets Faith Series. Maryknoll, N.Y: Orbis Books.

 



[1]Pemberian pengampunan dari Allah ini sangat bergantung dari respons manusia. Dalam perumpamaan tentang pengampunan (Mat. 18:23-35) Yesus mengisahkan seorang raja yang penuh belas kasihan. Ia mau menghapus hutang seorang hamba yang memohonkan belas kasihan kepadanya karena tidak sanggup membayar/melunasi hutangnya. Raja ini menghendaki agar hamba (yang telah diampuni itu) berbuat hal yang sama dengan meniru perbuatannya. Namun hamba itu menolak, yang menyebabkan raja itu murka kepadanya karena ia tidak mau menghapus hutang (dosa atau kesalahan) sesamanya.

[2]Peraturan kemurnian ini adalah implikasi dari sistem kekudusan yang diterapkan oleh para pemimpin Yahudi di dalam kehidupan sosial orang Israel pada zaman Yesus. Marcus J. Borg dalam Jesus A New Vision berpendapat bahwa sistem kekudusan ini menjadi paradigma dalam hukum Taurat yang menekankan pemisahan antara orang Yahudi dengan bangsa lain. Ini merupakan pemisahan dari segala yang tidak murni dalam kehidupan umat Israel. Lebih lanjut Borg menulis: “Holiness became the Zeitgeist, the “spirit of the age,” shaping the development of the Jewish social world in the centuries leading up to the time of Jesus, providing the particular content of the Jewish ethos or way of life. Increasingly, the ethos of holiness became the politics of holiness” (Borg 1991, 87).

[3]Tiga nubuatan sengsara Yesus dalam Markus (8:31; 9:31; 10:32-34) dan perkataan Yesus sendiri (10:45) menggarisbawahi pentingnya salib bagi rencana keselamatan Allah, yaitu, tanpa salib, tidak ada penebusan (Immanuel 2006, 27).

 

[4]Tema keselamatan ini berpusat pada salib. Bagi Lukas salib adalah bagian dari rencana dan pengetahuan Allah yang pasti (hē boulē tou theou [Kis. 2:23]), namun salib bukanlah skandal. Lukas memakai kata dei (itu perlu) sebagai suatu keharusan ilahi untuk menekankan kematian Yesus. Dalam skema pemikiran Lukas, hal-hal tertentu harus mendahului kematian Yesus. Anak domba Paskah harus dikorbankan, saat Yesus dan murid-murid-Nya berkumpul untuk perjamuan terakhir (22:7). Anak Manusia atau Kristus harus menderita, disalibkan di Yerusalem, dan dibangkitkan (9:22; 13:33; 17:25; 24:7, 26; Kis. 17:3). Kitab suci harus digenapi karena Yesus harus terhitung di antara para pemberontak (Luk. 22:37; bnd. Yes. 53:12), dan peristiwa-peristiwa tertentu yang diramalkan tentang Kristus harus terjadi (Luk. 24:44), dan akhirnya, kejatuhan Yudas adalah suatu keharusan menurut Kisah Para Rasul l:16. Dengan demikian, salib bukanlah kecelakaan. Itu adalah bagian dari rencana dan pengetahuan Allah yang pasti (Kis. 2:23) (Immanuel 2006, 26).

 

[5]Injil keempat memperlihatkan pengertian tentang dosa yang diperkaya dengan berbagai pertentangan atau kontras, misalnya antara terang dan gelap, kebenaran dan kesalahan, dunia dan Allah, kehidupan dan kematian. Yohanes memahami dosa sebagai hal melawan Allah, suatu penolakan terhadap segala sesuatu yang terbaik bagi manusia. Dosa juga berhubungan erat dengan sikap tidak percaya (Yoh. 5:24) (Guthrie 1991, 208–9).

[6]Paulus adalah orang Farisi yang semula begitu membenci kekristenan, namun akan menjadi pembelanya yang terbesar. Walaupun Paulus sebelumnya membanggakan diri tentang hal-hal besar yang telah dicapainya dalam agama Yahudi, sejak pertobatannya maka seluruh hidupnya dikuasai oleh Kristus yang bangkit yang menampakkan diri kepadanya di jalan menuju ke Damsyik (Kis. 9), serta yang mengubah sama sekali cara hidup dan cara berpikirnya (Drane 1996, 308).

[7]Manusia itu dilahirkan dalam dunia yang penuh dosa. Seluruh hidup manusia itu ditandai oleh kecenderungan-kecenderungannya yang jahat, ya begitu dalam kecenderungan tersebut seperti sudah dibawa sejak lahir (Barth and B. A. Pareira 1997, 507). Bandingkan pernyataan Daud yang lain di dalam Mazmur 51:7 dan 58:4.

[8]Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Donald Guthrie. Ia menyatakan bahwa kata yang umum untuk dosa adalah hamartia, yang hampir selalu dipakai dalam bentuk tunggal, dan biasanya berarti keadaan berdosa dan bukan dosa-dosa secara pribadi (Guthrie 1991, 207). Menurut Dorothee Sölle, kita akan salah memahami konsep dosa jika kita menganggapnya hanya sebagai suatu konsep moral atau tindakan yang kita lakukan, misalnya berbohong, mencuri, membunuh, menipu. Dosa bukanlah soal tindakan, melainkan suatu keadaan (Sölle 1990, 54). Dosa itu merupakan bagian hakiki dari eksistensi manusia yang menyebabkan manusia cenderung melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang melanggar hukum dan ketertiban.

[9]Bagi Paulus, umat manusia berada “di bawah” dosa dan kuasanya. Seperti yang ia tegaskan dalam Roma 3:9: “Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa.” Dengan ayat ini Paulus mengasumsikan bahwa Allah telah menetapkan bahwa semua manusia bukan hanya orang berdosa, tetapi memang berada di bawah kuasanya. Kita melihat ide yang serupa dalam Galatia 3 ketika Paulus berbicara tentang Kitab Suci yang mengurung segala sesuatu “di bawah kekuasaan dosa” (hupo hamartian) supaya janji iman akan diberikan kepada mereka yang percaya (Gal. 3:22) (Morlan 2013, 157).

[10]Menarik untuk melihat hubungan antara hukum Taurat dengan panggilan untuk bertobat dalam PL. David Morlan berpendapat bahwa bagi Paulus pertobatan tidak lagi menjadi istilah yang berguna karena warisannya dalam Yudaisme, terutama mengingat hubungannya dengan hukum Taurat. Pertobatan, bagi beberapa orang Yahudi, adalah cara lain untuk memanggil orang Yahudi yang menyimpang untuk kembali kepada hukum Taurat: “…apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ul. 30:10). Daripada memalingkan para pendengarnya kepada hukum Taurat, Paulus ingin mereka berpaling kepada Kristus (Rm. 10:4) (Morlan 2013, 153). Bagi Paulus kedudukan Kristus lebih tinggi dari hukum Taurat, bahkan ia berkeyakinan bahwa hukum Taurat tidak berdaya dalam mengatasi persoalan dosa manusia. Persoalan dosa itu hanya dapat diselesaikan melalui karya pendamaian Kristus.

[11]Yang jauh lebih penting bagi Paulus adalah kematian dan kebangkitan Yesus, peristiwa kosmos yang telah membarui sejarah dan mengubah nasib semua orang, tanpa memandang kepercayaan atau suku mereka. Apabila mereka meniru kenosis Yesus dalam perilaku sehari-hari, mereka akan mengalami kebangkitan rohani yang menghadirkan suatu kebebasan baru. Mesias, ungkap Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Galatia, telah mengorbankan “diri-Nya sendiri demi dosa-dosa kita, menyelamatkan kita dari zaman jahat yang sekarang ini sesuai kehendak Allah dan Bapa kita” (1:3-4) (Armstrong 2021, 47).

[12]Penulis kitab Yesaya memiliki keyakinan bahwa dosa adalah penghalang dalam relasi manusia dengan Allah. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan,…tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (59:1-2).

[13]Dalam 1 Korintus 1:30 Paulus menyebut Kristus sebagai kebenaran dan kekudusan dan penebusan kita dan adalah mungkin bahwa pengetahuan tentang pemahaman tradisional tentang kematian Yesus yang ditetapkan dalam Roma 3:24-25 diasumsikan di sini. Jika demikian, penggunaan ἀπολύτρωσις oleh Paulus dan kitab Ibrani dapat menunjukkan bahwa kata benda itu digunakan sebagai cara yang sesuai untuk meringkas hasil penebusan dari kematian Yesus yang mengacu pada ritual Hari Pendamaian (Day of Atonement) (Carter 2016, 189).

 

[14]Surat Yakobus menekankan bahwa keinginan itu mempunyai peran yang penting ketika seseorang mengalami pencobaan. Yakobus juga memperlihatkan perbedaan antara Allah dan manusia, yaitu Allah tidak dapat dicobai melalui keinginan-keinginan yang salah. Dalam Yakobus 2:9 dosa dilihat dari segi hukum dan disebut pelanggaran. Menurut Yakobus 4:17 seseorang disebut berdosa jika ia tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya. Hubungan antara dosa dan penyakit dinyatakan secara tidak langsung dalam Yakobus 5:15, tetapi hal itu tidak dikembangkan lebih lanjut. Ada anjuran dalam surat ini agar para pembaca mengajak orang-orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, sehingga orang-orang yang berbuat demikian akan menutupi banyak dosa (5:20) (Guthrie 1991, 236).

[15]Kata Yunani basileia (seperti kata Ibrani malkuth atau kata Aram malku) lebih berarti suatu pemerintahan daripada suatu wilayah kekuasaan. Kata ini lebih banyak menunjuk pada Allah yang sedang bertindak dan bukan pada suatu daerah atau kelompok. Kata ini berarti Allah sedang bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Menurut Yesus, Kerajaan itu milik anak-anak (Mrk. 10:14-15). Hanya mereka yang menyambut Kerajaan itu seperti seorang anak kecillah yang akan masuk ke dalamnya. Anak-anak memiliki sifat tidak berdaya dan tidak berarti, termasuk sifat percaya secara mutlak dan sifat sederhana. Anak-anak kecil percaya dengan sepenuh hatinya. Demikian juga seharusnya orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Kerajaan Allah (Morris 2014, 145).

[16]Kepada penjahat yang bertobat di akhir hidupnya Yesus memberikan jaminan keselamatan yang pasti. Jaminan keselamatan itu terkait dengan penganugerahan Kerajaan Allah bagi penjahat tersebut. Dalam Lukas 23:42-43 penjahat itu memohon: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Dan Yesus pun menjawab: “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Dalam Terjemahan KJV tertulis: “…Lord, remember me when thou comest into thy kingdom.” Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus memiliki keyakinan yang kuat pada kedatangan Kerajaan Allah sebagai momen keselamatan yang telah tiba. Tampaknya penjahat tersebut memiliki pandangan dan harapan yang sama. Menurut Ruth Agnes Evans, penjahat, yang merasa dirinya tidak lebih berharga dari sebuah kenangan (“ingatlah akan Aku, ketika Engkau datang ke dalam kerajaan-Mu”), adalah satu-satunya orang yang memanggil Yesus dengan nama-Nya. Penjahat yang babak belur ini, yang tidak dapat menyebutkan kebaikan apa pun yang telah dia perbuat, adalah satu-satunya orang yang membela orang Nazaret yang sekarat di kayu salib (Evans 2017, 19). Dan yang terpenting adalah dialah satu-satunya orang yang memiliki kepastian keselamatan melalui pengampunan yang Yesus berikan, bukan berdasarkan perbuatan baiknya, melainkan berdasarkan anugerah Allah dan melalui respons imannya.

[17]Christus Victor (Kristus Sang Pemenang) adalah model penebusan yang diperkenalkan oleh Gustaf Aulen yang ia sampaikan dalam serangkaian kuliahnya di tahun 1930. Ada dua gambaran utama yang dikembangkan dalam model penebusan ini, yaitu dari Ireneus (Christus Victor as Recapitulation) dan Gregorius dari Nyssa (Christus Victor as Ransom) (Green and Mark D. Baker 2003, 118–19, 121).

[18]Kaum imigran Yahudi mungkin telah tiba sejak abad ke-6 sM di Sardis Asia Kecil sebelah barat, ketika Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar. Pada akhir abad ke-3 jelas sudah ada komunitas Yahudi yang permanen. Pada abad pertama sM, menurut ahli sejarah Yahudi, Josephus, gubernur Romawi di Asia Kecil menerbitkan sebuah dekrit yang mengukuhkan hak-hak orang Yahudi di Sardis untuk hidup dalam komunitas, merayakan perayaan-perayaannya, menyelesaikan tuntutan-tuntutan hukum di antara mereka dan membangun sinagoge untuk dipakai bersama (Josephus, Antiquitates, 14. 235, 259-261). Komunitas ini dibedakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka yang khas (Stambaugh and David Balch 1994, 43–44).

[19]Efesus 1:9-10.

[20]Keselamatan mempunyai kaitan dengan hal memasuki dan tinggal di dalam (Suatu realitas). Mendapat keselamatan berarti dipersatukan dengan umat Allah oleh Roh Kudus; dan diselamatkan berarti menjalani kehidupan sebagai orang yang selamat. Kita dibawa kepada kehidupan oleh Roh Kudus untuk menjalani kehidupan sorgawi di bumi, juga oleh Roh Kudus, berjalan di dalam Roh, dipimpin oleh Roh, menabur bagi Roh. Roh Kudus, yang menanamkan iman yang membuat kita percaya (2Kor. 4:13). Seluruh kehidupan di bawah perjanjian yang baru kini dijalani di dalam dan oleh Roh, termasuk ibadah, yaitu hubungan seseorang dengan Allah, dan kehidupan sehari-hari itu sendiri (Fee 2004, 136).

 

[22]“Para pemerintah dan penguasa” dengan jelas disebutkan sebagai ciptaan Kristus (Kol. 1:16), sehingga Kristus tentu saja menjadi kepala atas mereka (Kol. 2:10). Makhluk-makhluk ini tidak cukup berkuasa untuk memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus (Rm. 8:38-39), tetapi implikasi yang jelas dari ayat tersebut ialah bahwa mereka itu bersikap bermusuhan dengan kita dan akan berusaha untuk memisahkan kita dari kasih Allah. Inilah pandangan Paulus yang melihat kejahatan yang bersumber dari kekuatan-kekuatan para makhluk yang memusuhi Allah. Kita tidak dapat memahami konsepsi Paulus tentang arti karya penebusan Kristus kecuali jika kita mau memandang karya Kristus itu dengan latar belakang kejahatan dan kesia-siaan yang ada di dunia ini, suatu dunia yang dihuni baik oleh roh-roh jahat maupun manusia-manusia jahat (Morris 2014, 87–88).

[23]Pendamaian mengacu pada suatu keadaan baru dalam berbagai hubungan yang dihasilkan “oleh kematian Anak-Nya” (Rm. 5:10), dan oleh karena Allah tidak “memperhitungkan pelanggaran mereka” (2Kor. 5:19). Pendamaian terjadi “melalui salib” yang melenyapkan perseteruan (Ef. 2:16); perdamaian diadakan “oleh darah salib Kristus”, pendamaian terwujud “di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya” (Kol. 1:20, 22). Semua bagian Alkitab ini menunjuk pada dosa sebagai penyebab permusuhan, dan pada kematian Kristus sebagai penghapus dosa. Karena penyebab permusuhan sudah disingkirkan, maka terjadilah pendamaian (Morris 2014, 97). Pendamaian atau rekonsiliasi bersumber di dalam Allah. Artinya Allah Tritunggal adalah penggagas utama rekonsiliasi. Dokumen dari WCC, yaitu Mission as Ministry of Reconciliation (MMR) menyatakan bahwa “rekonsiliasi adalah pekerjaan Allah Tritunggal yang membawa penggenapan pada tujuan kekal Allah akan penciptaan dan keselamatan” (Kol. 1:19-20; 2:9). Bapa Gereja Ireneus berkata bahwa ketika Tritunggal berbalik ke arah dunia, Putra dan Roh Kudus menjadi dua tangan Allah yang dengannya umat manusia diciptakan dan dibawa ke dalam pelukan Allah. Melalui pekerjaan Putra yang berinkarnasi dan melalui perantaraan Roh Kudus, rekonsiliasi dengan Allah diwujudkan. Teks-teks Alkitab yang berbicara tentang rekonsiliasi ditemukan dalam surat-surat rasul Paulus, khususnya dalam 2 Korintus 5:17-20, Roma 5, Kolose 1 dan Efesus 2 (Bahasa Yunani: katallage, rekonsiliasi, disebutkan empat kali: Rm. 5:11; 11:15; 2Kor. 5:18,19;  katallasso, berdamai, disebutkan 6 kali: Rm. 5:10; 2Kor. 5:18-20;  apokatallasso, berdamai, disebutkan tiga kali: Ef. 2:16; Kol. 1:20,22) (Engelsviken 2013, 83).

[24]Bagi Paulus istilah “diselamatkan” berarti menjadi bagian dari umat Allah, yang dilahirkan menjadi keluarga Allah oleh Roh Kudus, dan karena itu dipersekutukan satu dengan yang lain sebagai satu tubuh, yang perhimpunan-perhimpunannya dalam Roh membuat mereka menjadi Bait Suci milik Allah. Allah tidak hanya menyelamatkan berbagai-bagai individu dan menyiapkan mereka untuk masuk sorga; melainkan Dia menciptakan suatu umat bagi nama-Nya, yang di tengah-tengahnya Ia dapat tinggal, sehingga umat itu dapat memancarkan kembali kehidupan dan sifat Allah dalam seluruh kesatuan dan kepelbagiannya (Fee 2004, 103–4).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)

  Tema Tahun Pelayanan GPIB 2026-2027   “Bertumbuh dalam Keselamatan” (1 Petrus 2:2)       “Sama seperti bayi yang baru lahir, h...