Pengampunan Dosa dalam Perjanjian Baru
Pendahuluan
Orang Kristen meyakini bahwa Allah, dalam kasih-Nya yang tak
terbatas, senantiasa memberikan pengampunan bagi para pendosa yang ingin
bertobat. Dalam liturgi ibadah hari minggu, misalnya di GPIB, terdapat doa
pengakuan dosa yang disertai dengan berita pengampunan, bahkan dalam Pengakuan
Iman Rasuli kita mendengar pernyataan tentang pengampunan dosa di bagian
pengakuan tentang Roh Kudus (Aku percaya kepada Roh Kudus, gereja yang kudus
dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan daging,
dan hidup yang kekal). Ajaran tentang pengampunan dosa yang dihidupi oleh
gereja tentunya dirumuskan dengan berpedoman pada kesaksian Kitab Suci,
khususnya kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (PB).
Doktrin pengampunan dosa dalam kitab-kitab PB dapat dilihat
sebagai hasil permenungan terhadap peristiwa kematian Yesus di kayu salib yang
menebus. Baik kitab-kitab Injil, Kisah para Rasul maupun surat-surat (baik dari
Paulus maupun yang lainnya) dan kitab Wahyu, memberitakan pengampunan dosa
berdasarkan karya penebusan Kristus. Dalam sejarah penafsiran, para teolog
mengusung pandangan tradisional yang mengartikan kematian Kristus sebagai
sebuah penebusan. David Brondos, misalnya, mengutip pandangan Gregorius dari
Nyssa tentang Galatia 3:13 yang menunjuk pada doktrin penebusan fisik: Anak
Allah yang kekal menanggung kejatuhan manusia dan menghancurkan kuasa dosa dan
maut yang melekat dalam kodrat manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
Mereka yang berpartisipasi dalam kematian dan kebangkitan Kristus akan ditebus
dari kondisi mereka yang terkutuk. Brondos juga mengutip pandangan Yohanes
Calvin yang menyatakan bahwa Kristus sendiri memikul dan menderita hukuman
yang, berdasarkan penghakiman Allah yang adil, mengancam semua orang berdosa;
ketika Kristus tergantung di kayu salib, Ia menjadikan diri-Nya sasaran dari
kutukan itu (Brondos 2021, 3–4).
Makalah ini adalah sebuah kajian reflektif untuk memahami
pengertian tentang pengampunan dosa yang diajarkan dan diberitakan dalam PB,
baik dalam ke-4 kitab Injil, Kisah para Rasul, maupun surat-surat (dari Paulus
dan yang lainnya) dan kitab Wahyu. Hal pengampunan dosa tidak berdiri sendiri
karena ia terkait dengan rencana dan karya keselamatan Allah di dalam Kristus serta
dinamika pelayanan dan persekutuan umat Allah (Israel dan Gereja) yang diutus
untuk menyatakan pembaruan dalam kehidupan masyarakat dan seluruh ciptaan.
Pengampunan Dosa dalam Kitab-kitab Injil
Kitab-kitab Injil memberitakan pengampunan dosa bertitik tolak
dari karya keselamatan Allah yang paripurna di dalam Yesus Kristus. Menurut Jav
G. van der Watt, pesan tentang keselamatan menjadi hal yang pokok dari hampir semua kitab Perjanjian Baru, yang membentuk
dasar bagi definisi diri dan identitas orang Kristen mula-mula. Mereka
meninggalkan lingkungan mereka yang aman untuk melakukan perjalanan ke dunia
baru sebagai anak-anak dari Allah yang tak terlihat, yang menyatakan diri-Nya
melalui Yesus Kristus. Sebagai anggota umat Allah yang baru, mereka harus
mendefinisikan kembali identitas mereka sendiri dalam terang peristiwa salib, tetapi
harus mampu mengintegrasikan implikasi dari pesan keselamatan tersebut ke dalam
kehidupan sehari-hari mereka (Van der
Watt 2005, 1). Di dalam pesan keselamatan tersebut terdapat pengakuan
bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah datang untuk mendamaikan dunia dengan
diri-Nya sendiri melalui pengampunan yang Ia berikan.[1]
Pengertian terhadap pengampunan dosa dari setiap kitab Injil
berkorelasi dengan pandangan teologis masing-masing kitab Injil yang bersifat
unik. Injil Matius, misalnya, dipahami sebagai produk dari kegiatan penulisan
dalam konteks revitalisasi desa-desa sesudah penghancuran bait suci di Yerusalem.
Orang-orang Yahudi (termasuk komunitas para pengikut Yesus) berjuang untuk
berdamai dengan hilangnya bait suci dan Yerusalem. Ada konflik di antara dua
kelompok ahli Taurat: para pengikut Yesus, yang mengakui Dia sebagai Mesias dan
orang-orang Israel lainnya, yang mempertahankan pandangan tradisional tentang Mesias.
Konflik berpusat pada penafsiran atas Taurat: para pengikut Yesus melihat Dia
sebagai “Musa kedua” yang menggenapi Taurat atau pandangan Musa tradisional
sebagaimana diatur dalam kultus bait suci. Para ahli Taurat dengan pandangan
tradisionalnya menolak Yesus yang dianggap sebagai Anak Daud yang menyembuhkan.
Mereka tidak mau mengakui bahwa Dia adalah Musa “baru” Israel. Mereka tidak
memahami bahwa Yesus dapat “menggantikan bait suci” lama yang menekankan
peraturan kemurnian[2],
seperti yang ditunjukkan, misalnya, oleh tindakan penyembuhan yang dilakukan-Nya
pada hari Sabat (Mat. 12: l-32) (Van der Watt 2005, 8–9).
Pesan pengampunan dosa dalam Injil Matius muncul melalui alur
narasi yang memperlihatkan Yesus sebagai God-with-us (Mat. 1:23), di
mana Ia memulai misi keselamatan-Nya bagi Israel. Misi Yesus sebagai Allah
beserta kita memiliki tujuan “pengampunan dosa” bagi orang Israel dan orang
non-Israel (Mat. 1:21; 2:1-12; 4:12-17). Misi ini digenapi sesuai dengan
kehendak Bapa di surga, karena dalam tipologi Musa (Mat. 2:13-23) Yesus
diperkenalkan sebagai Anak Allah yang taat (Mat. 3:13-4:11) yang datang
“untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Ia ditentang oleh Iblis
(Mat. 4:1-11) dan penguasa Israel yang menghendaki kematian-Nya (Mat. 2:1-18),
namun Ia didukung oleh para murid yang dipanggil untuk menjadi “penjala manusia”
(Mat. 4:18-22). Amanat Yesus ini merupakan kelanjutan dari amanat para nabi
(Mat. 1:17), yang pada gilirannya menemukan kelanjutannya dalam diri para murid
(Mat. 4:18-22) (Van der Watt 2005, 13–14).
Injil Markus menyampaikan pesan pengampunan dosa sebagai bagian
dari kabar baik tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1). Ketika Markus
menyatakan bahwa ia sedang menulis tentang “kabar baik”, ia meletakkannya tanpa
kompromi tepat di awal bahwa topik utamanya adalah tentang keselamatan yang
dikerjakan oleh Allah di dalam Kristus. Ia tidak menulis sebuah sejarah murni
atau merangkai kumpulan cerita dan ucapan-ucapan tanpa makna dan tujuan. Ia mau
menyatakan kepada manusia kabar baik tentang tindakan Allah dalam menangani
atau mengatasi persoalan dosa mereka (Morris 1999, 16). Versi Markus tentang Yesus
berbeda dari Injil-injil yang lain. Menurut Brenda D. Schildgen, Injil Markus
dapat dilihat sebagai bentuk populer dan kontemporer dari narasi “sakral”
menggunakan sumber sejarah, fiksi, sastra apokaliptik, dan biografi Ibrani.
Markus menyelaraskan pilihan genrenya dengan tujuan ideologisnya. Dalam
versinya tentang Yesus, ia menghadirkan seorang Guru pengembara yang luar
biasa, yang melanggar kebiasaan dan perilaku sosial, agama, dan politik
kontemporer, sampai kematian-Nya[3] ketika tatanan kehidupan
dipulihkan (Schildgen 1998,
57).
Tatanan kehidupan yang dipulihkan ini terkait dengan karya Allah dalam
mengaruniakan pengampunan dosa melalui kematian Yesus di kayu salib (Mrk.
10:45; 14:24).
Injil Lukas memiliki beberapa contoh tentang kisah pertobatan,
yang di dalamnya pengampunan secara eksplisit ditawarkan kepada individu
tertentu. Misalnya, kisah wanita dari kota, yang menerima dari Yesus
pengampunan atas dosa-dosanya (Luk. 7:48) dan janji kepada penjahat di kayu
salib bahwa ia akan bersama Yesus di surga, yang tentu saja sama dengan
pengampunan (Luk. 23:43). Kedua kisah ini memperlihatkan deskripsi pelayanan
Yesus yang mengutamakan pengampunan. Lukas membuatnya jelas melalui sikap dan
tindakan Yesus terhadap orang-orang yang Ia layani di mana pengampunan
diberikan (bnd. Luk. 5:29; 7:47-49; 15:20,22-24; 19:5,7; 23:43) (Mendez-Moratalla
2001, 333).
Seperti Injil lainnya, Lukas menekankan perlunya pertobatan. Dia mencatat
seruan keras Yohanes Pembaptis (Luk. 3:3 dyb). Dia juga menyatakan kepada kita
bahwa Yesus datang untuk memanggil orang-orang berdosa agar bertobat (Luk.
5:32). Dia berkata bahwa manusia adalah jahat (Luk.11:13); paling-paling mereka
tidak lebih daripada “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk. 17:10). Tiada
manusia sama sekali yang baik (Luk. 18:19). Tidak ada cara lain, selain bahwa
manusia mesti bertobat (Luk. 13:3,5). Universalitas dosa dan bahaya serta
dampak dosa menunjukkan bahwa pertobatan tidak boleh dihindari oleh manusia (Morris 1999, 67).
Pesan pengampunan dosa dalam Injil Lukas menyatu dengan
kisah-kisahnya yang menekankan keselamatan[4] dan pertobatan orang
berdosa. Leon Morris mengungkapkan bahwa dalam pasal 15 Lukas menceritakan
kisah-kisah tentang Domba yang Hilang, Dirham yang Hilang, dan Anak yang
Hilang. Ketiga kisah ini memberikan gambaran yang tak terlupakan tentang
kerahiman ilahi yang tak terbatas, yang melaluinya manusia diselamatkan. Tidak
ada pemikiran bahwa Allah dalam kerinduan-Nya untuk membawa keselamatan kepada
manusia benar-benar pergi untuk mencari mereka yang tersesat dan membawa mereka
masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya (sebagaimana digambarkan dalam
perumpamaan tentang Domba yang Hilang). Kita begitu akrab dengan kisah ini
sehingga mudah bagi kita untuk melewatkan catatan revolusioner yang
diperkenalkan ke dalam pemahaman manusia tentang sifat Allah (Morris 1999, 77–78). Sifat Allah ini tercermin
dalam tindakan-Nya terhadap umat manusia yang dipanggil untuk bertobat dan
menerima pengampunan dosa.
Dalam kitab Kisah para Rasul pesan tentang pengampunan dosa
menyatu dengan pemberitaan dari para rasul yang mengajak para pendengarnya
untuk bertobat. Menurut Morris, dengan adanya penekanan pada pertobatan dalam
ajaran Yesus (sebagaimana dinarasikan dalam kitab-kitab Injil), tidak
mengherankan kalau sejak semula para pewarta Kristen dari jemaat mula-mula menuntut
sikap yang sama. Sesudah khotbah Kristen yang pertama, Petrus berseru kepada
para pendengarnya” “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu
dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu…” (Kis. 2:38). Namun
pertobatan tidak boleh dipandang sebagai timbul dari sifat baik manusia, atau
didorong oleh kemampuan manusia untuk kembali pulih. Dalam arti tertentu,
pertobatan adalah karunia Allah. Allah meninggikan Kristus “supaya Israel dapat
bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis. 5:31). “Allahlah yang
mengaruniakan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi “pertobatan yang memimpin
kepada hidup” (Kis. 11:18) (Morris 2014, 252).
Pertobatan dan pengampunan dosa adalah dua unsur yang tak
terpisahkan dalam pengalaman hidup orang Kristen sejak semula. Tanpa pertobatan
yang sungguh-sungguh tidak mungkin pengampunan dosa dapat diberikan. Dalam
Kisah para Rasul diperlihatkan juga bahwa pengampunan dosa diberikan
berdasarkan iman kepada Kristus. Dalam Kisah para Rasul 10:43 dinyatakan:
“…untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada
terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka
kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang
ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (bnd. Kis. 10:43; 13:38).
Dalam Injil Yohanes pemberitaan tentang pengampunan dosa[5] diungkapkan melalui
berbagai narasi yang dipusatkan pada Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia
(Yoh. 1:14). Misalnya, Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba
Allah, yang menghapus dosa dunia ini” (Yoh. 1:29, 36). Hubungan antara dosa dan
Anak Domba dalam ungkapan ini menyatakan pentingnya persembahan korban bagi
penebusan dosa. Pernyataan Yohanes Pembaptis ini dibuat di tempat yang menonjol
dalam Injil Yohanes dan mau menunjukkan bahwa Yohanes menyadari sepenuhnya
tradisi pengorbanan, meskipun ia tidak mengembangkannya lebih lanjut dalam
Injilnya. Jika seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi dengan dosa-dosa
pribadi kita?” Yohanes bisa saja menjawab, “Kristus menebus kita melalui
darah-Nya.” Pandangan ini dapat dibuktikan secara intertekstual dengan merujuk
pada tradisi Yohanes yang lain, misalnya: 1 Yohanes 2:1-2 dan 4:9-10 (Van der Watt 2005, 116–17).
Di bagian lain dikisahkan bahwa Yesus, dalam pelayanan
publik-Nya, memberi pengampunan dosa kepada seorang perempuan yang kedapatan
berzinah (Yoh. 8:1 dyb). Menurut A. S. Hadiwiyata, pada garis besarnya, kisah
ini mau mengingatkan pembaca supaya jangan terlalu mudah menghakimi orang lain
yang kesalahannya tampak lebih besar daripada kesalahan sendiri. Dalam setting-nya
yang asli, kisah ini merupakan suatu peringatan terhadap pelaksanaan hukum yang
kaku dan menampilkan perlunya pengampunan, seperti yang ditunjukkan oleh sikap
dan perilaku Yesus yang historis (Hadiwiyata 2008,
118).
Pengampunan yang Yesus tawarkan mendobrak sistem agama yang kaku dalam Yudaisme
dan menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas otoritas para pemimpin Yahudi.
Sama seperti Injil-injil yang lain, pemberitaan tentang
pengampunan dosa tidak bisa dipisahkan dari karya penebusan Kristus di kayu
salib. Dalam Injil Yohanes Yesus seringkali memberitakan kematian-Nya yang
menebus melalui beberapa pernyataan, misalnya “benih” yang harus mati agar
menghasilkan banyak buah (Yoh. 12:24). Pernyataan Yesus ini menyiratkan bahwa
kematian Yesus memiliki banyak keuntungan. Namun, makna mendalam tentang arti
kematian Yesus tidak dikembangkan lebih lanjut dalam ayat-ayat ini, karena
Yohanes mau menekankan perlunya para murid untuk mengikuti dan melayani Yesus
dengan setia (Yoh. 12:25-26) (Van der Watt
2005, 117).
Menurut saya, pernyataan Yesus ini memang bertujuan untuk menekankan pentingnya
panggilan agar para murid bersedia mengikuti dan melayani Yesus. Namun
panggilan ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari tujuan penulis Injil yang
juga menganggap penting pengenalan terhadap pewahyuan identitas Kristus sebagai
Anak Allah, yang diutus ke dalam dunia demi mengaruniakan pengampunan dan keselamatan
bagi umat manusia.
Makna pengampunan dosa bagi keselamatan umat manusia diungkapkan
oleh Yesus dalam peristiwa perjamuan terakhir dengan para murid. Kitab-kitab
Injil Sinoptik mencatat peristiwa tersebut, dan hal ini disinggung juga oleh
Paulus dalam 1 Korintus 11:23-29. Hal ini memberi bukti akan ketaatan yang
meluas terhadap perjamuan Tuhan di Gereja mula-mula. Keempat Injil mencatat
bahwa Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku.”
Dalam Matius dan Markus Yesus mengucapkan berkat; dalam Lukas dan 1 Korintus Ia
mengucap syukur. Matius memperluas perintah sederhana Markus, untuk “mengambil”
roti, dengan menambahkan “makanlah”. Lukas dan Paulus tidak memiliki perintah
untuk mengambil roti, dan sebaliknya mencatat Yesus berkata bahwa tubuh-Nya “diberikan
untukmu” dan bahwa para murid harus melakukan ini sebagai cara untuk mengenang-Nya
(Carter 2016, 191–92). Pengenangan ini begitu
penting dalam pembentukan tradisi dan ajaran Kristen tentang pengampunan dosa
yang dikaruniakan melalui kematian Yesus di kayu salib.
Yang menonjol dalam narasi tentang perjamuan antara Yesus dengan
para murid adalah penekanan pada “darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi
banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28; bnd. Mrk. 14:24). Lukas dan
Paulus menyebut cawan adalah perjanjian baru oleh darah Yesus, yang ditumpahkan
bagi manusia (Luk. 22:20) dan harus diperbuat sebagai sebuah peringatan akan
Yesus (1Kor. 11:25). Maksudnya orang Kristen wajib melaksanakan perjamuan untuk
memperingati dan mengenang akan kematian Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya
demi pengampunan dosa manusia. Menurut Carter, kiasan Lukas dan Paulus yang
kaya secara teologis ini terkait dengan janji nabi Yeremia mengenai “perjanjian
baru”, di mana Allah memulihkan umat-Nya sehingga semua orang akan mengenal-Nya
dan Dia akan menjadi Allah mereka, dan bahwa Ia akan menuliskan hukum-Nya di
dalam hati mereka, mengampuni dosa-dosa mereka dan tidak lagi mengingat-ingat
kesalahan mereka (Yer. 31:31-34) (Carter 2016, 196).
Pengampunan Dosa dalam Surat-surat Paulus
Paulus[6] (sebagai orang Yahudi dari
suku Benyamin; lihat Flp. 3:5) mewarisi tradisi pemikiran keagamaan yang
bersumber dari Perjanjian Lama (PL), termasuk konsep tentang dosa dan
pengampunan yang Allah sediakan bagi umat-Nya. Kitab-kitab PL memperlihatkan
tindakan Allah yang, dalam kasih-Nya yang besar, melimpahkan pengampunan dosa
kepada umat-Nya, Israel. Nabi Yesaya, misalnya, menyerukan panggilannya kepada
orang jahat untuk berbalik kepada Tuhan Allah sebab Ia berbelas kasih dan
dengan bebas akan memberi pengampunan-Nya (Yes. 55:7). Rujukan terakhir kepada
pengampunan Allah dalam PL adalah sebuah janji dari Allah bahwa apabila
umat-Nya merendahkan diri dan berdoa serta berbalik dari dosa mereka, maka Ia
akan mendengar dari sorga, mengampuni mereka dan memulihkan negeri mereka
(2Taw. 7:14) (Carter 2016, 24). Pengalaman umat Israel dalam
relasi dengan Allah yang maha pengampun ini, tentu sangat memengaruhi pemikiran
Paulus dan orang Kristen mula-mula, khususnya terkait dengan pengertian mereka
tentang pengampunan dosa yang dinyatakan Allah di dalam Yesus Kristus.
Sebelum membahas arti pengampunan dosa, kita perlu memahami
pandangan Paulus tentang dosa. Dalam 1 Timotius 2:14 terdapat pernyataan dari
Paulus yang mengutip kisah Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3).
Dari ungkapan Paulus tentang manusia pertama “jatuh ke dalam dosa” (1Tim. 2:14 parabasis;
NJB “fell into sin”; KJV, NASB “transgression”; BIMK “melanggar perintah
Allah”) berkembang ajaran gereja tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa (Ing. Fall;
Jer. Sündenfall) (Karman 2021, 183). Ajaran tentang kejatuhan
manusia ke dalam dosa[7] memperlihatkan pemahaman
gereja mengenai hakikat dosa, yang pada umumnya dipahami sebagai sebuah sikap
pemberontakan manusia kepada otoritas Allah.
Menurut Leon Morris, ide Paulus tentang dosa tidaklah sederhana.
Paulus memakai kata “dosa” (hamartia) sebanyak 64 kali. Di dalam kitab
Roma kata ini muncul sebanyak 48 kali, di mana Paulus dengan panjang lebar
banyak membahas soal dosa. Sementara di surat-surat yang lain kata “dosa” hanya
muncul 14 kali. Paulus paling sering menggunakan kata itu dalam bentuk
tunggalnya.[8]
Artinya dosa bukan hanya sekedar kejahatan yang dilakukan manusia, melainkan
suatu kekuatan yang membelenggu manusia. Paulus lebih dari sekali berbicara
tentang kondisi manusia sebagai “hamba dosa” (Rm. 6:17, 20), bahkan dengan
sebuah gambaran yang hidup ia melukiskan seluruh manusia sebagai yang “terjual
di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Sebagaimana seorang budak yang tidak berdaya
dijual kepada seorang tuan/majikan, demikianlah umat manusia masuk ke dalam
kuasa dosa (Morris 2014, 74). Keadaan manusia yang
dilukiskan sebagai “hamba dosa” ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh
penulis kitab Kejadian 6:5 bahwa segala kecenderungan hati manusia (sebagai
“hamba dosa” itu) selalu membuahkan kejahatan semata-mata.
Terhadap dahsyatnya kuasa dosa itu, Paulus sebetulnya ingin mengatakan
dua hal, sebagai berikut: (1) dosa tidak berhak menguasai diri kita (yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah); dan (2) biarpun demikian, dosa telah
menguasai[9] diri kita. Paulus juga
mengingatkan bahwa dosa itu bersifat universal. Ia berpendapat bahwa
orang-orang berdosa tidak hanya dari bangsa-bangsa non-Yahudi, melainkan juga
dari bangsa Yahudi. Hukum Taurat[10] yang dimiliki bangsa
Yahudi justru mendatangkan pengenalan akan dosa (Rm. 3:20). Hakikat manusia
sebagai makhluk berdosa menyatu dalam kodratnya, sehingga membuat manusia
cenderung berbuat salah (suatu kenyataan yang dapat dibuktikkan dari pengalaman
pribadi setiap orang). Paulus menekankan bahwa manusia tidak mampu membebaskan
dirinya dari kuasa dosa, termasuk berbagai akibat/dampak dari kejahatan yang ia
lakukan (Morris 2014, 75–76). Jalan keluar yang ditawarkan
Paulus terhadap masalah dosa adalah beriman kepada Kristus yang tersalib.[11] Dalam 1 Korintus 2:2 ia
berkata: “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara
kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”
Persoalan dosa ini diletakkan oleh Paulus dalam skema pemikiran
teologisnya yang berpusatkan pada salib Kristus. Dalam surat-suratnya Paulus
banyak berbicara tentang arti salib Kristus. Dengan kata lain Paulus mempunyai
pesan, pengertian, atau “suatu teologi salib” yang menuntun penafsirannya
terhadap makna kematian Yesus. Salib Yesus yang diberitakan Paulus bukanlah
tanpa makna bagi orang percaya. Orang percaya melihatnya sebagai sebuah
kekuatan yang bersifat kritis, yang dinyatakan baik kepada dunia maupun
individu, dan yang menentukan eksistensi secara keseluruhan, baik kehendak,
pemikiran maupun perkataan setiap orang (Williams 2002,
20).
Pengaruh pemberitaan salib jelas dialami oleh Paulus, baik dalam pemikiran
maupun perilaku hidupnya sehati-hari. Gambar Kristus yang tersalib sangat
memesona Paulus, sehingga dalam Galatia 6:14 ia menulis: “Tetapi aku
sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus,...”
Paulus juga mendorong orang-orang Kristen pada zamannya untuk menghayati karya
salib Kristus dalam kehidupan dan panggilan mereka. Menurut Paulus, hanya melalui
salib Kristus karya pendamaian Allah dengan seluruh ciptaan-Nya dapat diwujudkan
dengan sempurna (Kol. 1:20).
Pendamaian mengacu pada penghapusan dosa sebagai penghalang[12] yang merintangi hubungan
Allah dan manusia serta yang berdampak pada hubungan dengan sesama. Bagaimana
kita memahami karya penghapusan atau pengampunan dosa itu? Karya penghapusan atau
pengampunan dosa di dalam surat-surat Paulus adalah bagian dari karya
keselamatan Allah, yang di dalamnya umat dipanggil untuk menghayati pengharapan
eskatologisnya sebagai ciptaan baru. Dalam 2 Korintus 5:17 Paulus berbicara
tentang ciptaan baru, namun pengertian terhadap frasa ini bukan terbatas pada
transformasi personal melalui pengalaman pertobatan. Bagi Paulus, kata ktisis
(creation) menunjuk pada seluruh tatanan ciptaan (bnd. Rm. 8:18-25).
Dia memproklamirkan pesan apokaliptik bahwa melalui salib Kristus Allah telah
membatalkan dosa kosmos dan kematian serta mewujudkan kosmos baru. Zaman lama
telah berlalu (1Kor. 7:31b) dan zaman baru telah muncul di dalam Kristus, dan gereja
saat ini berdiri di persimpangan. Tetapi bagi Paulus ada juga peringatan yang
harus diingat: sementara gereja berdiri pada saat ini, ia juga harus menantikan
penyempurnaan harapannya. Keselamatan akan sepenuhnya dicapai hanya pada Parousia
(kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam kemuliaan); kedatangan-Nya akan disertai
dengan kebangkitan orang mati dan penghakiman terakhir (1Tes. 4:13–18; 1Kor.
15:20–23). Dengan demikian, Paulus menganggap masa sekarang sebagai interval
anomali di mana “sudah” dan “belum” penebusan ada secara bersamaan dalam
ketegangan dialektis (Hays 2013).
Dengan demikian karya penebusan[13] Kristus yang diberitakan
oleh Paulus bukan sebatas pada pemberian pengampunan dosa pribadi, melainkan
berbicara tentang pemulihan secara penuh dan bersifat universal. Menurut
Richard B. Hays, sejauh ini gambaran yang dilukiskan di dalam Kitab Suci
menunjuk pada penggenapan yang mulia, ketika komunitas orang percaya di dalam
Kristus mengalami kebebasan dari kuasa daging, dan melalui kehadiran Roh Kudus,
telah berpartisipasi bersama Kristus dalam warisan yang dijanjikan. Namun
pemulihan ini bersyarat karena melibatkan panggilan orang Kristen untuk
mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Paulus menuliskan hal itu dalam
Roma 8:17 bahwa orang Kristen adalah ahli waris (yang berhak menerima
janji-janji Allah, dan yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus),
yaitu “jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga
dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Hays 2013).
Dalam teologi yang berpusat pada salib Kristus Paulus menekankan
bahwa semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, berada di bawah kuasa dosa.
Di luar Kristus, tidak ada jalan keluar untuk luput dari kutukan Allah terhadap
dosa (Rm. 1:18-3:20). Namun terbuka kemungkinan untuk menerima “kebenaran
Allah”, yakni pembebasan dari vonis penghukuman Allah dan kuasa untuk mendapat
bagian dalam kebaikan Allah sendiri. Ini sesuatu yang hanya dapat diperoleh
melalui iman kepada Kristus, dan bukan karena perbuatan baik (Rm. 3:21-4:25).
Paulus menjelaskan tema ini dengan mengangkat contoh dari kehidupan iman
Abraham (Rm. 4). Ia menjelaskan lebih lanjut hasil dari hubungan baru dengan
Allah yang berdasarkan iman itu (Rm. 5-8): kebebasan dari murka Allah;
kebebasan dari perhambaan dosa; kebebasan dari hukum Taurat; dan kebebasan dari
kematian melalui pekerjaan Roh Allah di dalam Kristus. Namun pembebasan ini
bukan berarti bahwa orang Kristen dapat berbuat sesuka hatinya, melainkan agar
mereka “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm. 8:29) (Drane 1996, 370). Menjadi serupa dengan
Kristus berarti mengambil bagian dalam penderitaan-Nya (Flp. 3:10).
Menurut Paulus, penderitaan yang dialami orang Kristen di masa
kini tidak perlu sampai melemahkan pengharapan mereka, sebab kemenangan atas
kuasa dosa dan maut telah diperoleh Kristus melalui kebangkitan-Nya dari
kematian. Morris berpendapat bahwa nyanyian kemenangan Paulus dalam 1 Korintus
15 mau memperlihatkan keyakinannya terhadap akhir dari kematian, yang tidak
lagi dilihat sebagai penguasa kejam yang harus ditakuti. Yang berlaku bagi
orang percaya adalah kuasa Allah dalam Kristus, kuasa yang kita lihat terwujud
secara cemerlang ketika Kristus mengalahkan kematian dan bangkit dengan penuh
kemenangan. Paulus sependapat bahwa kematian adalah musuh terakhir, namun dia
yakin bahwa musuh tersebut akan dihancurkan (1Kor. 15:26) (Morris 2014, 91–92). Pengampunan dosa dalam
ajaran Kristen senantiasa berdimensi pengharapan sebab ia bukan hanya mengacu
kepada penghapusan dosa manusia pada masa lalu dan masa kini, melainkan juga menunjuk
pada kemenangan akhir Allah atas segala sesuatu di masa depan. Kemenangan itu
dicapai melalui kebangkitan Kristus. Paulus berkata: “Tetapi syukur kepada
Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan
kita” (1Kor. 15:57).
Paulus sering berbicara tentang kemenangan Allah atas para
penguasa dunia, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dalam Kolose
1:13-14 Paulus menjelaskan bahwa Allah telah menyelamatkan kita dari kuasa
kegelapan dan membawa kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang terkasih, yang oleh-Nya
kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa. Allah di dalam Kristus telah
mengampuni semua kesalahan kita, di mana catatan hutang yang mendakwa kita
telah dibatalkan dengan dipaku di kayu salib. Ini berarti aib dan kekalahan
bagi para para penguasa (Kol. 1:15). Dengan demikian penebusan itu diperoleh dengan
merebut kendali dari para penguasa dunia, dan dikaitkan dengan pengampunan:
seperti yang dikatakan Lohse, “Di mana ada pengampunan dosa, di situ ada
kebebasan dari kekuasaan dan pemerintahan, di situ ada kehidupan dan
keselamatan!” (Carter 2016, 189). Begitulah seharusnya kita
memahami pengampunan sebagai karya Allah yang membebaskan manusia dari berbagai
belenggu dan perhambaan yang memperbudak hidupnya.
Pengampunan Dosa dalam Surat-surat Am dan Kitab Wahyu
Surat Ibrani memperlihatkan gagasan tentang pengampunan dosa
yang dihasilkan melalui kematian Yesus dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu
salib. Misalnya, penulis surat Ibrani menyatakan bahwa “tanpa penumpahan darah
tidak ada pengampunan” (9:22). Ayat ini mengingatkan kita pada pencurahan darah
korban penghapus dosa di bawah mezbah untuk melakukan karya pendamaian di bawah
perjanjian lama. Gagasan penumpahan darah dalam perjanjian lama ini adalah
kunci utama dalam mengartikan kematian Yesus sebagai sarana yang dengannya
pengampunan dijamin dalam perjanjian baru. Sebagai imam besar yang dilantik
oleh Allah menurut peraturan Melkisedek (7:1-28), Yesus meresmikan perjanjian
baru yang dijanjikan oleh nabi Yeremia (8:1-13). Dalam penggenapan tipologis
dari tindakan imam besar di Hari Raya Pendamaian, Kristus telah memasuki bait
suci surgawi melalui darah-Nya sendiri dan dengan demikian telah menjamin
penebusan kekal (9:11-12); sedangkan di bawah perjanjian lama, darah kambing
dan lembu jantan hanya dapat menghasilkan pembersihan lahiriah, darah Kristus
mampu memurnikan hati nurani (9:13-14),
dengan hasil bahwa orang-orang dibebaskan dari tindakan yang mengarah
pada kematian sehingga mereka dapat melayani Allah yang hidup. Begitulah cara surat
Ibrani menafsirkan bahasa penebusan sebagaimana hal itu diterapkan pada
kematian Kristus (9:12, 15) (Carter 2016, 184–85).
Menurut surat Ibrani, darah memang dianggap penting untuk
pengampunan, tetapi tidak ada interpretasi tunggal tentang bagaimana penumpahan
darah menjamin pengampunan: darah Kristus membersihkan hati nurani (9:14), dan
menjamin penebusan kekal dari pelanggaran yang dilakukan di bawah perjanjian
pertama (9:12, 15); Perjanjian adalah seperti wasiat, yang menuntut kematian
pewaris sebelum berlaku (9:16-17); sebagaimana perjanjian pertama dijamin oleh
darah anak lembu dan kambing, perjanjian baru dijamin oleh darah Yesus
(9:18-20). Darah-Nya adalah sarana yang melaluinya Ia memasuki bait suci
surgawi (9:25; cf. 9:12) dan pengorbanan diri-Nya berfungsi untuk mengatasi
dosa sekali dan untuk selama-lamanya (9:26). Surat Ibrani dengan demikian
menawarkan berbagai interpretasi kreatif tentang bagaimana darah Kristus
memengaruhi pengampunan, yang semuanya dapat dibaca sebagai ekspresi dari karya
Kristus yang membawa penebusan kekal (9:12) (Carter 2016, 186).
Surat Yakobus mendukung gagasan yang telah kita lihat di seluruh
PB bahwa perbuatan jahat manusia tidak boleh diabaikan sebagai sesuatu yang
tidak ada konsekuensinya. Di seluruh suratnya ia menjelaskan bahwa dosa sama
sekali tidak sesuai dengan panggilan Kristen dan menjadi sebuah penghalang
untuk bersekutu dengan Allah. Yakobus menekankan tanggung jawab manusia dengan
mengingatkan bahwa pencobaan muncul dari hawa nafsu/keinginan[14] sendiri: “…apabila
keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah
matang, ia melahirkan maut.” Ini merupakan suatu gambaran yang jelas tentang
dosa sebagai sesuatu yang berkuasa. Dosa membutuhkan waktu untuk bertumbuh,
namun ketika sudah matang ia “mengandung” dan keturunan yang dihasilkannya
adalah kematian (Morris 1999, 310). Pernyataan Yakobus ini
mengingatkan kita pada ungkapan Paulus dalam Roma 6:23 yang juga menekankan
hasil akhir dari dosa, yaitu maut atau kematian (“Sebab upah dosa adalah
maut…”).
Dalam surat 1 dan 2 Petrus kita menemukan pesan pengampunan dosa
masih dalam hubungannya dengan kematian Yesus di kayu salib. Penulis 1 Petrus
menghubungkan kematian Yesus dengan dosa manusia, misalnya melalui pernyataan
bahwa “…Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk
orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah…” (1Pet.
3:18). Ungkapan ini menunjukkan tindakan Allah yang memberikan pengampunan agar
manusia yang berdosa dimungkinkan untuk mendekat kepada Allah yang kudus. Jadi
pengampunan dosa dimungkinkan melalui kematian Kristus di kayu salib. Menurut
Robert George Staines, salib adalah poros penting di mana keselamatan hadir
untuk membalikkan apa yang telah terjadi sebelumnya dan secara efektif
menjembatani kesenjangan antara Allah dan manusia. Pekerjaan yang diselesaikan
di kayu salib dari awal sampai akhir adalah pekerjaan Allah sang Pembebas,
melalui perantaraan Allah-Manusia, yaitu Yesus Kristus (Staines 2008, 11).
Surat-surat Yohanes memberitakan penolakan yang jelas terhadap
dosa dan mandat untuk hidup benar. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas dalam
1 Yohanes 3:4-10, yang menegaskan bahwa “…setiap orang yang tetap berada di
dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi…” (ay. 6). Namun maksud ayat tidak boleh
disalahpami, sebab tanda yang membedakan dari komunitas orang percaya bukanlah
ketidakberdosaan, melainkan kesediaan untuk membawa dosa-dosa mereka ke dalam
terang, untuk mengakuinya dengan jujur, dan untuk menerima pengampunan dan
penyucian oleh darah Yesus (1Yoh. 1: 5-9). Jika Yesus adalah “Anak Domba Allah
yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29), maka gereja harus menjadi komunitas
orang-orang yang mengenal diri mereka sebagai orang berdosa yang telah diampuni.
Memang, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya tidak berdosa adalah pendusta
(1Yoh. 1:10) (Hays 2013). Sama dengan surat-surat
Yohanes, surat Yudas juga berisi penolakan terhadap dosa sebagai sikap tidak
taat dan hidup menuruti hawa nafsu. Menurut Guthrie, Yudas mengutip suatu
nubuat yang menyimpulkan bahwa guru-guru palsu adalah “pengejek-pengejek yang hidup
menuruti hawa nafsu kefasikan mereka” (Yud. 18). Selain itu mereka disebut
sebagai orang-orang duniawi yang “hidup tanpa Roh Kudus” (Yud. 19) (Guthrie 1991,
237).
Kitab Wahyu sebagai sastra apokaliptik membicarakan aspek-aspek
ajaran Kristen yang dibutuhkan oleh orang-orang Kristen pada zamannya, termasuk
ajaran tentang pengampunan dosa. Penulis kitab ini menegaskan bahwa keagungan
Yesus membuat karya penyelamatan-Nya menjadi mungkin. Sudah dari permulaan
kitab ini, kita membaca bagaimana Yesus Kristus “mengasihi kita dan yang telah
melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (1:5). Belakangan kita baca
bahwa Dia dibunuh dan bahwa dengan darah-Nya Ia membeli bagi Allah umat manusia
“dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (5:9) (Morris 2014, 407,
409).
Dengan demikian pengampunan dosa merujuk pada tindakan Kristus yang rela
mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tersembelih (13:8), sehingga
penebusan-Nya itu adalah karya universal yang ditujukan bagi segenap umat
manusia.
Pengampunan Dosa dan Pembaruan Sosial
Dalam kitab-kitab Injil berita tentang pengampunan dosa
tampaknya terjalin erat dengan misi Yesus yang bermaksud ingin mengadakan
pembaruan sosial dalam kehidupan orang-orang Yahudi. Penerimaan akan berita tentang
pengampunan dosa tidaklah mudah ketika hal itu diperhadapkan dengan tatanan
masyarakat Yahudi dengan umat Allah yang masih kuat berpegang pada nilai-nilai
tradisional. Namun Yesus mendobrak tatanan tersebut dengan memperkenalkan visi
Kerajaan Allah. Menurut Amos Yong, misi Kristen terlibat dalam praktik Kerajaan
Allah dengan penekanan pada hospitalitas Allah yang eskatologis. Yang penting
di sini bukan hanya ortodoksi dari pemberitaan Kristen, tetapi ortopraksis yang
melaluinya Roh Allah menyempurnakan transformasi eskatologis atas dunia ini (Yong 2008, 140). Pada hakikatnya gereja
melanjutkan misi Allah dengan dengan ortopraksisnya yang bersifat terbuka dan
merangkul semua orang. Di sinilah makna pengampunan dosa itu diberlakukan
melalui tindakan gereja yang menerima kehadiran semua orang dengan berbagai kebutuhannya.
Keempat kitab Injil menggambarkan pelayanan Yesus dengan pusat
pemberitaan-Nya adalah Kerajaan Allah.[15] Pemberitaan ini memiliki beberapa
unsur penting, yaitu gambar Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, dan proaktif
mengampuni, panggilan untuk komunitas baru yang akan memulihkan Israel sebagai
umat Allah yang kudus. Kerajaan adalah karunia cuma-cuma yang diberikan oleh
Allah dan diwujudkan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya kepada orang-orang
sezaman-Nya, misalnya melalui komunitas makan bersama, dalam kegiatan
penyembuhan dan pengusiran setan, dalam penerimaan dan pengampunan-Nya secara
umum. Kerajaan juga berbicara tentang hubungan baru antara Allah dan
umat manusia, yang dimediasi dan diwujudkan oleh hubungan antara manusia. Oleh
karena itu, kerajaan hanya dapat sepenuhnya terwujud dan bertahan ketika
orang-orang meniru Yesus dalam perilaku mereka dengan sesama manusia. Kita
ditantang untuk saling mengampuni, untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri,
bahkan mengasihi musuh, karena Allah melakukan hal yang sama, seperti yang
ditunjukkan oleh fakta bahwa hujan diturunkan ke atas orang benar dan tidak
adil dan matahari tetap bersinar baik ke atas orang berdosa maupun orang benar
(Mat. 5:44-45) (Kirwan 2017, 97).
Menurut saya, pesan pengampunan yang terdapat dalam kitab-kitab
Injil menyatu dengan proklamasi tentang Kerajaan Allah[16] yang disampaikan oleh
Yesus, terutama unsur pemberitaan Kerajaan Allah yang menggambarkan Allah
sebagai Bapa yang ramah dan penuh kasih. Di pusat pemberitaan tentang Kerajaan
Allah yang berisi kabar baik itu terdapat panggilan bagi manusia untuk
menanggapi pernyataan bahwa Allah adalah Sang Bapa yang penuh kasih. Menurut
Morris, pada saat Yesus datang ke dalam dunia, itulah Kerajaan Allah sudah
dekat (Mrk. 1:14-15). Dan kedatangan Yesus itu mengharuskan manusia
menanggapinya dengan bertobat dan percaya (Morris 2014, 145). Apa artinya bertobat dan
percaya dalam kaitannya dengan masalah pengampunan?
Panggilan untuk bertobat dan percaya berarti bersedia terlibat
dalam usaha-usaha untuk mengatasi berbagai persoalan penderitaan yang dihadapi
oleh umat manusia dewasa ini. Sebagai umat yang bertobat kita dipanggil untuk
tetap setia memberitakan salib dan pengampunan. Menurut Babu Immanuel, di mana
pun keadilan menjadi masalah dan di mana pun harkat dan martabat manusia
dipertaruhkan, kita dapat mengatakan bahwa salib hadir mewartakan pesan
pengampunan dan penebusan tanpa kekerasan. Diktum Christus Victor[17] benar, bukan secara
politis, tetapi secara teologis. Salib Yesus adalah tindakan Allah yang
menentukan untuk mempertanyakan legitimasi kekerasan, konflik dan
ketidakadilan. Salib adalah suara kenabian melawan ketidakadilan, yang
mengundang kita untuk hidup sebagaimana Dia hidup dan mengajar. Kita dapat
menemukan di dalamnya kekuatan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, dan
membantah klaim supremasi yang berkuasa, menguduskan penderitaan kita sendiri
dan menempatkan kita dalam drama kosmik sebagai penyembuh yang terluka dan
memberdayakan kita untuk terus mengampuni dan mencintai (Immanuel 2006,
28).
Pengampunan Dosa dan Pemulihan Seluruh Ciptaan
Apabila kitab-kitab Injil mengutamakan karya keselamatan yang
berpusat pada misi Yesus untuk memperbarui tatanan masyarakat Yahudi dengan
penekanan pada pengampunan yang dinyatakan dalam kehidupan komunitas dan
individu, maka surat-surat Paulus dan yang lainnya mengangkat rencana
keselamatan Allah yang bersifat kosmis dan universal. Tampaknya hal ini
dilakukan oleh Paulus dan rasul-rasul yang lain karena misi yang dibawa mereka
bergeser dari kehidupan masyarakat Yahudi Palestina ke masyarakat Yahudi
diaspora[18]
yang lebih majemuk dan kompleks. Menurut John Stambaugh dan David Balch, misi
Paulus dan rasul-rasul lain menghasilkan suatu persekutuan Kristen yang
mengalami sejumlah transisi setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan yang
paling menonjol adalah dari suatu gerakan Yahudi menjadi gerakan bukan Yahudi
dan dari lingkungan pedesaan ke lingkungan perkotaan. Paulus sendiri menunjukkan
bahwa ia mengalamatkan misinya kepada orang-orang bukan Yahudi sejak permulaan
dan bahwa ketegangan antara orang-orang Yudais dengan orang Helenis terus
berlanjut dalam waktu yang lama (Gal. 2; bnd. Rm. 15) (Stambaugh and
David Balch 1994, 52).
Ketegangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Paulus dalam memperkenalkan
misi Allah dalam Kristus yang bertujuan untuk merobohkan tembok-tembok pemisah
atau sekat-sekat yang merintangi terwujudnya persekutuan seluruh umat Allah
yang beragam itu.
Berita-berita Kristen telah dibawa ke kota-kota di Kekaisaran
Romawi oleh orang-orang Yahudi biasa yang hadir pada hari Pentakosta dan oleh
“para rasul”, yang meliputi para murid yang pertama serta Paulus dan
orang-orang lain, mungkin termasuk kaum perempuan dan yang berkeliling
berkhotbah dan mendirikan sel-sel Kristen, dengan mengaku bahwa mereka memilik
kewibawaan kharismatis langsung dari Allah (Rm. 16:7; 1Kor. 15:5-9; Gal. 1:1,
17, 19). Seluruh pemimpin Kristen ini menekankan sifat misi mereka yang
universal. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengaruh filsafat Stoa dalam
masyarakat yang menekankan sifat umat manusia yang kosmopolitan, yang mengatasi
batas-batas etnis. Berbagai kunjungan dan komunikasi tertulis mengikat berbagai
sel ini bersama-sama. PB penuh dengan acuan pada interkomunikasi ini dan hal
ini merupakan produk dari saling ketergantungan dan keramahtamahan (Stambaugh and
David Balch 1994, 54, 56).
Kita bisa melihat bahwa transisi dalam bermisi sangat dipengaruhi oleh
pemberitaan Injil yang disampaikan para pemimpin Kristen mula-mula. Mereka
berfokus pada rencana keselamatan Allah yang universal untuk memulihkan umat
manusia dengan pokok berita tentang pengampunan dosa dan pembaruan hidup secara
menyeluruh.
Bagaimana kita menjelaskan berita-berita Kristen yang dibawa
oleh para rasul dan orang-orang Kristen? Terdapat keyakinan yang kuat bagi
Paulus dan rasul lain bahwa Allah itu personal, dan menjadi personal adalah
relasional. Allah yang demikian akan senantiasa mengulurkan tangan untuk
menciptakan pribadi lain yang akan berelasi dengan-Nya. Ini bukan kebutuhan
atau kekurangan Allah. Ini adalah limpahan kebaikan-Nya yang tak terbatas.
Allah yang personal ini memberikan diri-Nya. Allah yang interpersonal ini ingin
berbagi hidup dengan pihak lain, sehingga menghadirkan kita untuk hidup dalam
persekutuan dengan-Nya. Ini adalah rencana agung Allah atas segala sesuatu
(atas seluruh kosmos) yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Roma 8:29
menyatakan: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga
ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya...” (Campbell 2020,
78).
Paulus adalah wakil yang secara khusus dipilih Allah untuk
menyingkapkan rencana rahasia Allah yang tersembunyi sejak dunia dijadikan, dan
yang sekarang diwahyukan di dalam Yesus Kristus.[19] Allah tritunggal, Bapa,
Putera, dan Roh Kudus, secara murah hati dan mengasihi memilih untuk
melimpahkan keselamatan-Nya di dalam Kristus Yesus kepada manusia. Orang yang
menanggapi karunia yang murah hati ini diangkat dari keberadaan berdosa mereka
yang ditakdirkan mati ke dalam kehidupan relasional baru (Campbell 2020,
111).
Pesan pengampunan dosa, menurut Paulus, mempunyai makna yang mendalam karena
memperlihatkan rencana keselamatan Allah bagi segenap umat manusia. Orang-orang
yang diampuni dosanya adalah gambaran gereja yang telah memasuki suatu realitas[20] persekutuan yang baru
dengan Allah. Persekutuan ini tidak akan mungkin terwujud tanpa pengorbanan
Yesus melalui darah-Nya yang tertumpah. Darah yang tertumpah itu menunjuk pada
peresmian perjanjian baru, di mana Allah memanggil semua orang untuk menjadi
umat-Nya yang taat dan setia.
Paulus dalam teologi dan pemberitaannya sangat menekankan karya
eskatologis Allah di dalam Kristus yang bertujuan untuk memulihkan segenap
ciptaan-Nya. Misalnya, dalam Kolose 1:20 Paulus menunjuk pada keyakinannya yang
kuat bahwa Allah dalam Kristus pada akhirnya akan memperdamaikan segala sesuatu[21] dengan diri-Nya. Yang
dimaksud dengan segala sesuatu itu mencakup seluruh ciptaan, baik yang ada di
sorga maupun yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik
singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa[22] (Kol. 1:16). Segala
sesuatu diciptakan di dalam dan melalui Kristus (Sang Logos), dan pada akhirnya
segala ciptaan-Nya itu dipulihkan melalui karya pendamaian oleh darah salib-Nya.
Dalam Kolose 1:15-20 Paulus menekankan keutamaan Kristus dalam
karya penciptaan dan penebusan. Ia adalah yang terunggul dan terutama dalam
segala sesuatu, bahkan dalam seluruh kepenuhan (ay. 18-19). Kehadiran Allah
yang berkenan diam/tinggal dalam diri-Nya adalah untuk memulihkan segala
sesuatu (ay. 20) hanya melalui Dia dan bagi Dia. Penggunaan kata “segala atau
seluruh” oleh penulis dengan berulang kali hendak menekankan dimensi kosmis
kuasa dan dampak penebusan Kristus. Pemulihan yang Ia hasilkan mendatangkan
pendamaian[23]
yang dilaksanakan dengan mencurahkan darah-Nya di salib. Pandangan ini adalah
suatu pandangan kosmis, karena pemulihan berlaku secara menyeluruh, bagi segala
sesuatu, baik di bumi maupun di sorga (Bergant and
Robert J. Karris 2002, 364). Pandangan tentang penebusan yang dikemukakan
oleh Paulus dalam bagian ini memperlihatkan makna penebusan dosa yang diberikan
bukan hanya kepada manusia, melainkan kepada seluruh makhluk/ciptaan (yang
mengalami dampak dari kejatuhan manusia ke dalam dosa).
Di dalam pemberitaan tentang pengampunan dosa ini kita melihat
peragaan iman dan pengharapan Paulus, para penulis PB yang lain serta seluruh
orang percaya. Iman dan pengharapan itu bertumpu pada karya keselamatan Allah
di dalam Kristus, dan yang dikomunikasikan dengan berbagai gambaran dan
perumpamaan yang hidup. Menurut van der Watt, ada berbagai gambaran, metafora
dan istilah-istilah seperti anak-anak Allah, rekonsiliasi, penebusan, kelahiran
dari atas, kehidupan kekal, dan masih banyak lagi, yang menjadi blok bangunan
dalam membentuk dan memperteguh kehidupan gereja sebagai komunitas umat Allah[24] yang baru. Ada pesan
apokaliptik yang membuka harapan akan masa depan, serta fokus yang kuat pada
kehadiran dan kasih Allah, yang memberikan jaminan kepada keluarga Allah yang
baru ini bahwa mereka berada di jalan yang benar (Van der Watt
2005, 1).
Kehadiran Allah ini memberikan kepastian bagi umat Allah bahwa jalan yang benar
akan menuntun mereka untuk tetap berada dan tinggal dalam persekutuan dengan
Yesus, sehingga darah-Nya yang tertumpah memberikan jaminan pengampunan atas segala
dosa mereka.
Kesimpulan
Ajaran tentang pengampunan dosa bertumpu pada karya keselamatan
Allah di dalam Yesus Kristus. Dalam kitab-kitab Injil pengampunan dosa
diucapkan oleh Yesus dalam kaitan dengan pelaksanaan misi-Nya, yaitu untuk mendatangkan
Kerajaan Allah. Seringkali Yesus mendobrak tatanan lama yang kaku dalam
masyarakat dengan maksud untuk mendatangkan pemulihan. Hal ini membawa dampak
bagi umat Israel, terutama dalam pengertian mereka tentang pengampunan dosa.
Dengan otoritas-Nya Yesus memberi jaminan keselamatan dan pengampunan kepada
siapa saja yang dikehendaki-Nya, bahkan di saat harapan sudah pupus. Kisah
penjahat yang bertobat dalam Injil Lukas (23:39-43) adalah salah satu contoh
dari otoritas Yesus dalam memberikan jaminan pengampunan, bahkan kepastian
untuk masuk ke dalam Firdaus.
Sedangkan dalam surat-surat (Paulus dan rasul-rasul lainnya)
ajaran tentang pengampunan dosa berkaitan dengan berbagai macam pergumulan yang
dihadapi gereja. Persekutuan yang baru ini hadir di tengah-tengah keragaman
budaya dan kepercayaan di perkotaan, sehingga baik Paulus maupun rasul-rasul
yang lain sangat menekankan signifikansi Yesus melalui kematian dan
kebangkitan-Nya. Ajaran pengampunan dosa dihayati dan diberitakan dengan
bertitik tolak pada iman di dalam Kristus. Pengampunan dosa menyangkut karya
keselamatan universal dengan fokus pada pemulihan seluruh ciptaan Allah.
Daftar
Acuan
Armstrong, Karen. 2021. Santo Paulus. Rasul Yang
Dicela Dan Dicintai. Terjemahan Alex Tri Kantjono W. dan Y. D. Anugrahbayu.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Barth, Marie C., and B.
A. Pareira. 1997. Kitab Mazmur 1-72. BPK Gunung Mulia.
Bergant, Dianne, and
Robert J. Karris. 2002. Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru. Terjemahan A.
S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius.
Borg, Marcus J. 1991. Jesus,
a New Vision: Spirit, Culture, and the Life of Discipleship. 1st
Harpercollins papercover ed. San Francisco: HarperSanFrancisco.
Brondos, David. 2021.
“The Cross and the Curse: Galatians 3.13 and Paul’s Doctrine of Redemption.” Journal
for the Study of the New Testament 23 (81): 3–32.
Campbell, Douglas A.
2020. Paulus. Perjalanan Seorang Rasul. Terjemahan N. Susilo Rahardjo. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Carter, Tim. 2016. The
Forgiveness of Sins. Cambridge, United Kingdom: James Clarke & Co.
Drane, John William.
1996. Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis. Translated
by P. G. Katoppo. Jakarta: Pt. PBK Gunung Mulia.
Engelsviken, Tormod.
2013. “Reconciliation with God - Its Meaning and It’s Significance for
Mission.” In Mission as Ministry of Reconciliation, 79–89. London:
Regnum Books International.
Evans, Ruth Agnes. 2017.
“The Good Thief.” The Way 56 (3): 18–28.
Fee, Gordon D. 2004. Paulus,
Roh Kudus Dan Umat Allah. Malang: Gandum Mas.
Green, Joel B., and Mark
D. Baker. 2003. Recovering the Scandal of
the Cross: Atonement in New Testament and Contemporary Contexts.
Carlisle: Paternoster Press.
Guthrie, Donald. 1991. Teologia
Perjanjian Baru 1: Allah, manusia, Kristus. Terjemahan Lisda Tirtapraja
Gamadhi dkk. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Hadiwiyata, A. S. 2008. Tafsir
Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.
Hays, Richard B. 2013. The
Moral Vision of the New Testament: Community, Cross, New Creation: A
Contemporary Introduction to New Testament Ethics. New York: HarperCollins.
Immanuel, Babu. 2006.
“Jesus’ Cross, Conflicts and the New Testament.” Transformation 23 (1):
24–29.
Karman, Yonky. 2021. Yang
Menjadikan Langit Dan Bumi. Sebuah Teologi Penciptaan Menurut Perjanjian Lama.
Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Teologi.
Kirwan, Michael, ed.
2017. Mimesis and Atonement: René Girard and the Doctrine of Salvation.
Violence, Desire, and the Sacred. New York: Bloomsbury Academic, an imprint of
Bloomsbury Publishing Inc.
Mendez-Moratalla,
Fernando. 2001. “A Paradigm of Conversion in Luke.” Disertasi Ph.D, Durham:
Durham University.
Morlan, David S. 2013.
“Conversion in Luke and Paul: An Exegetical and Theological Exploration.”
Library of New Testament Studies 464. London New York: Bloomsbury.
Morris, Leon. 1999. The
Cross in the New Testament. Grand Rapids: W.B. Eerdmans.
———. 2014. Teologi
Perjanjian Baru. Terjemahan H. Pidyarto. Malang: Gandum Mas.
Schildgen, Brenda Deen.
1998. Crisis and Continuity: Time in the Gospel of Mark. Journal for the
Study of the New Testament 159. Sheffield, England: Sheffield Academic Press.
Sölle, Dorothee. 1990. Thinking
about God: An Introduction to Theology. London : Philadelphia: SCM Press ;
Trinity Press International.
Staines, Robert George.
2008. “The Soteriological Significance of the Cross of Jesus : Metaphor,
Meaning and Salvation.” University of Glasgow.
Stambaugh, John, and
David Balch. 1994. Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula. Terjemahan
Stephen Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Van der Watt, J. G.,
peny. 2005. Salvation in the New Testament: Perspectives on Soteriology.
Leiden: Brill.
Williams, Demetrius K.
2002. Enemies of the Cross of Christ: The Terminology of the Cross and
Conflict in Philippians. Journal for the Study of the New Testament
Supplement Series 223. London: Sheffield Academic Press.
Yong, Amos. 2008. Hospitality
and the Other: Pentecost, Christian Practices, and the Neighbor. Faith
Meets Faith Series. Maryknoll, N.Y: Orbis Books.
[1]Pemberian
pengampunan dari Allah ini sangat bergantung dari respons manusia. Dalam
perumpamaan tentang pengampunan (Mat. 18:23-35) Yesus mengisahkan seorang raja
yang penuh belas kasihan. Ia mau menghapus hutang seorang hamba yang memohonkan
belas kasihan kepadanya karena tidak sanggup membayar/melunasi hutangnya. Raja
ini menghendaki agar hamba (yang telah diampuni itu) berbuat hal yang sama
dengan meniru perbuatannya. Namun hamba itu menolak, yang menyebabkan raja itu
murka kepadanya karena ia tidak mau menghapus hutang (dosa atau kesalahan)
sesamanya.
[2]Peraturan
kemurnian ini adalah implikasi dari sistem kekudusan yang diterapkan oleh para
pemimpin Yahudi di dalam kehidupan sosial orang Israel pada zaman Yesus. Marcus
J. Borg dalam Jesus A New Vision berpendapat bahwa sistem kekudusan ini
menjadi paradigma dalam hukum Taurat yang menekankan pemisahan antara orang
Yahudi dengan bangsa lain. Ini merupakan pemisahan dari segala yang tidak murni
dalam kehidupan umat Israel. Lebih lanjut Borg menulis: “Holiness became the Zeitgeist,
the “spirit of the age,” shaping the development of the Jewish social world in
the centuries leading up to the time of Jesus, providing the particular content
of the Jewish ethos or way of life. Increasingly, the ethos of holiness became
the politics of holiness” (Borg 1991, 87).
[3]Tiga
nubuatan sengsara Yesus dalam Markus (8:31; 9:31; 10:32-34) dan perkataan Yesus
sendiri (10:45) menggarisbawahi pentingnya salib bagi rencana keselamatan
Allah, yaitu, tanpa salib, tidak ada penebusan (Immanuel 2006,
27).
[4]Tema
keselamatan ini berpusat pada salib. Bagi Lukas salib adalah bagian dari
rencana dan pengetahuan Allah yang pasti (hē boulē tou theou [Kis.
2:23]), namun salib bukanlah skandal. Lukas memakai kata dei (itu perlu)
sebagai suatu keharusan ilahi untuk menekankan kematian Yesus. Dalam skema
pemikiran Lukas, hal-hal tertentu harus mendahului kematian Yesus. Anak domba
Paskah harus dikorbankan, saat Yesus dan murid-murid-Nya berkumpul untuk
perjamuan terakhir (22:7). Anak Manusia atau Kristus harus menderita,
disalibkan di Yerusalem, dan dibangkitkan (9:22; 13:33; 17:25; 24:7, 26; Kis.
17:3). Kitab suci harus digenapi karena Yesus harus terhitung di antara para
pemberontak (Luk. 22:37; bnd. Yes. 53:12), dan peristiwa-peristiwa tertentu
yang diramalkan tentang Kristus harus terjadi (Luk. 24:44), dan akhirnya,
kejatuhan Yudas adalah suatu keharusan menurut Kisah Para Rasul l:16. Dengan
demikian, salib bukanlah kecelakaan. Itu adalah bagian dari rencana dan
pengetahuan Allah yang pasti (Kis. 2:23) (Immanuel 2006,
26).
[5]Injil
keempat memperlihatkan pengertian tentang dosa yang diperkaya dengan berbagai
pertentangan atau kontras, misalnya antara terang dan gelap, kebenaran dan
kesalahan, dunia dan Allah, kehidupan dan kematian. Yohanes memahami dosa
sebagai hal melawan Allah, suatu penolakan terhadap segala sesuatu yang terbaik
bagi manusia. Dosa juga berhubungan erat dengan sikap tidak percaya (Yoh. 5:24)
(Guthrie 1991, 208–9).
[6]Paulus
adalah orang Farisi yang semula begitu membenci kekristenan, namun akan menjadi
pembelanya yang terbesar. Walaupun Paulus sebelumnya membanggakan diri tentang
hal-hal besar yang telah dicapainya dalam agama Yahudi, sejak pertobatannya
maka seluruh hidupnya dikuasai oleh Kristus yang bangkit yang menampakkan diri
kepadanya di jalan menuju ke Damsyik (Kis. 9), serta yang mengubah sama sekali
cara hidup dan cara berpikirnya (Drane 1996, 308).
[7]Manusia
itu dilahirkan dalam dunia yang penuh dosa. Seluruh hidup manusia itu ditandai
oleh kecenderungan-kecenderungannya yang jahat, ya begitu dalam kecenderungan
tersebut seperti sudah dibawa sejak lahir (Barth and B. A.
Pareira 1997, 507).
Bandingkan pernyataan Daud yang lain di dalam Mazmur 51:7 dan 58:4.
[8]Pernyataan
yang sama juga disampaikan oleh Donald Guthrie. Ia menyatakan bahwa kata yang
umum untuk dosa adalah hamartia, yang hampir selalu dipakai dalam bentuk
tunggal, dan biasanya berarti keadaan berdosa dan bukan dosa-dosa secara
pribadi (Guthrie 1991,
207).
Menurut Dorothee Sölle, kita akan salah memahami konsep dosa jika kita
menganggapnya hanya sebagai suatu konsep moral atau tindakan yang kita lakukan,
misalnya berbohong, mencuri, membunuh, menipu. Dosa bukanlah soal tindakan,
melainkan suatu keadaan (Sölle 1990, 54). Dosa itu merupakan bagian
hakiki dari eksistensi manusia yang menyebabkan manusia cenderung melakukan
perbuatan-perbuatan jahat yang melanggar hukum dan ketertiban.
[9]Bagi
Paulus, umat manusia berada “di bawah” dosa dan kuasanya. Seperti yang ia
tegaskan dalam Roma 3:9: “Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada
orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang
Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa.”
Dengan ayat ini Paulus mengasumsikan bahwa Allah telah menetapkan bahwa semua
manusia bukan hanya orang berdosa, tetapi memang berada di bawah kuasanya. Kita
melihat ide yang serupa dalam Galatia 3 ketika Paulus berbicara tentang Kitab
Suci yang mengurung segala sesuatu “di bawah kekuasaan dosa” (hupo hamartian)
supaya janji iman akan diberikan kepada mereka yang percaya (Gal. 3:22) (Morlan 2013, 157).
[10]Menarik
untuk melihat hubungan antara hukum Taurat dengan panggilan untuk bertobat
dalam PL. David Morlan berpendapat bahwa bagi Paulus pertobatan tidak lagi
menjadi istilah yang berguna karena warisannya dalam Yudaisme, terutama
mengingat hubungannya dengan hukum Taurat. Pertobatan, bagi beberapa orang
Yahudi, adalah cara lain untuk memanggil orang Yahudi yang menyimpang untuk
kembali kepada hukum Taurat: “…apabila
engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan
ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik
kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ul.
30:10). Daripada memalingkan para pendengarnya kepada hukum Taurat,
Paulus ingin mereka berpaling kepada Kristus (Rm. 10:4) (Morlan 2013, 153). Bagi Paulus kedudukan
Kristus lebih tinggi dari hukum Taurat, bahkan ia berkeyakinan bahwa hukum
Taurat tidak berdaya dalam mengatasi persoalan dosa manusia. Persoalan dosa itu
hanya dapat diselesaikan melalui karya pendamaian Kristus.
[11]Yang
jauh lebih penting bagi Paulus adalah kematian dan kebangkitan Yesus, peristiwa
kosmos yang telah membarui sejarah dan mengubah nasib semua orang, tanpa
memandang kepercayaan atau suku mereka. Apabila mereka meniru kenosis
Yesus dalam perilaku sehari-hari, mereka akan mengalami kebangkitan rohani yang
menghadirkan suatu kebebasan baru. Mesias, ungkap Paulus di dalam suratnya
kepada jemaat Galatia, telah mengorbankan “diri-Nya sendiri demi dosa-dosa
kita, menyelamatkan kita dari zaman jahat yang sekarang ini sesuai kehendak
Allah dan Bapa kita” (1:3-4) (Armstrong 2021,
47).
[12]Penulis
kitab Yesaya memiliki keyakinan bahwa dosa adalah penghalang dalam relasi
manusia dengan Allah. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk
menyelamatkan,…tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah
segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu,
sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (59:1-2).
[13]Dalam
1 Korintus 1:30 Paulus menyebut Kristus sebagai kebenaran dan kekudusan dan
penebusan kita dan adalah mungkin bahwa pengetahuan tentang pemahaman
tradisional tentang kematian Yesus yang ditetapkan dalam Roma 3:24-25
diasumsikan di sini. Jika demikian, penggunaan ἀπολύτρωσις oleh Paulus dan kitab
Ibrani dapat menunjukkan bahwa kata benda itu digunakan sebagai cara yang
sesuai untuk meringkas hasil penebusan dari kematian Yesus yang mengacu pada
ritual Hari Pendamaian (Day of Atonement) (Carter 2016, 189).
[14]Surat
Yakobus menekankan bahwa keinginan itu mempunyai peran yang penting ketika
seseorang mengalami pencobaan. Yakobus juga memperlihatkan perbedaan antara
Allah dan manusia, yaitu Allah tidak dapat dicobai melalui keinginan-keinginan
yang salah. Dalam Yakobus 2:9 dosa dilihat dari segi hukum dan disebut
pelanggaran. Menurut Yakobus 4:17 seseorang disebut berdosa jika ia tahu
bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya. Hubungan antara
dosa dan penyakit dinyatakan secara tidak langsung dalam Yakobus 5:15, tetapi
hal itu tidak dikembangkan lebih lanjut. Ada anjuran dalam surat ini agar para
pembaca mengajak orang-orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat,
sehingga orang-orang yang berbuat demikian akan menutupi banyak dosa (5:20) (Guthrie 1991,
236).
[15]Kata
Yunani basileia (seperti kata Ibrani malkuth atau kata Aram malku)
lebih berarti suatu pemerintahan daripada suatu wilayah kekuasaan. Kata ini
lebih banyak menunjuk pada Allah yang sedang bertindak dan bukan pada suatu
daerah atau kelompok. Kata ini berarti Allah sedang bekerja di tengah-tengah
umat-Nya. Menurut Yesus, Kerajaan itu milik anak-anak (Mrk. 10:14-15). Hanya
mereka yang menyambut Kerajaan itu seperti seorang anak kecillah yang akan
masuk ke dalamnya. Anak-anak memiliki sifat tidak berdaya dan tidak berarti,
termasuk sifat percaya secara mutlak dan sifat sederhana. Anak-anak kecil
percaya dengan sepenuh hatinya. Demikian juga seharusnya orang-orang yang
menyerahkan dirinya kepada Kerajaan Allah (Morris 2014, 145).
[16]Kepada
penjahat yang bertobat di akhir hidupnya Yesus memberikan jaminan keselamatan
yang pasti. Jaminan keselamatan itu terkait dengan penganugerahan Kerajaan
Allah bagi penjahat tersebut. Dalam Lukas 23:42-43 penjahat itu memohon:
“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Dan Yesus pun
menjawab: “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku
di dalam Firdaus.” Dalam Terjemahan KJV tertulis: “…Lord, remember me when thou
comest into thy kingdom.” Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus memiliki
keyakinan yang kuat pada kedatangan Kerajaan Allah sebagai momen keselamatan
yang telah tiba. Tampaknya penjahat tersebut memiliki pandangan dan harapan
yang sama. Menurut Ruth Agnes Evans, penjahat, yang merasa dirinya tidak lebih
berharga dari sebuah kenangan (“ingatlah akan Aku, ketika Engkau datang ke
dalam kerajaan-Mu”), adalah satu-satunya orang yang memanggil Yesus dengan nama-Nya.
Penjahat yang babak belur ini, yang tidak dapat menyebutkan kebaikan apa pun
yang telah dia perbuat, adalah satu-satunya orang yang membela orang Nazaret
yang sekarat di kayu salib (Evans 2017, 19). Dan yang terpenting adalah
dialah satu-satunya orang yang memiliki kepastian keselamatan melalui
pengampunan yang Yesus berikan, bukan berdasarkan perbuatan baiknya, melainkan
berdasarkan anugerah Allah dan melalui respons imannya.
[17]Christus
Victor (Kristus Sang Pemenang) adalah model penebusan yang diperkenalkan
oleh Gustaf Aulen yang ia sampaikan dalam serangkaian kuliahnya di tahun 1930.
Ada dua gambaran utama yang dikembangkan dalam model penebusan ini, yaitu dari
Ireneus (Christus Victor as Recapitulation) dan Gregorius dari Nyssa (Christus
Victor as Ransom) (Green and Mark D. Baker
2003, 118–19, 121).
[18]Kaum
imigran Yahudi mungkin telah tiba sejak abad ke-6 sM di Sardis Asia Kecil
sebelah barat, ketika Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar. Pada akhir abad
ke-3 jelas sudah ada komunitas Yahudi yang permanen. Pada abad pertama sM,
menurut ahli sejarah Yahudi, Josephus, gubernur Romawi di Asia Kecil
menerbitkan sebuah dekrit yang mengukuhkan hak-hak orang Yahudi di Sardis untuk
hidup dalam komunitas, merayakan perayaan-perayaannya, menyelesaikan tuntutan-tuntutan
hukum di antara mereka dan membangun sinagoge untuk dipakai bersama (Josephus, Antiquitates,
14. 235, 259-261). Komunitas ini dibedakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka yang
khas (Stambaugh and David
Balch 1994, 43–44).
[19]Efesus
1:9-10.
[20]Keselamatan
mempunyai kaitan dengan hal memasuki dan tinggal di dalam (Suatu realitas).
Mendapat keselamatan berarti dipersatukan dengan umat Allah oleh Roh Kudus; dan
diselamatkan berarti menjalani kehidupan sebagai orang yang selamat. Kita
dibawa kepada kehidupan oleh Roh Kudus untuk menjalani kehidupan sorgawi di
bumi, juga oleh Roh Kudus, berjalan di dalam Roh, dipimpin oleh Roh, menabur
bagi Roh. Roh Kudus, yang menanamkan iman yang membuat kita percaya (2Kor.
4:13). Seluruh kehidupan di bawah perjanjian yang baru kini dijalani di dalam
dan oleh Roh, termasuk ibadah, yaitu hubungan seseorang dengan Allah, dan
kehidupan sehari-hari itu sendiri (Fee 2004, 136).
[22]“Para
pemerintah dan penguasa” dengan jelas disebutkan sebagai ciptaan Kristus (Kol.
1:16), sehingga Kristus tentu saja menjadi kepala atas mereka (Kol. 2:10).
Makhluk-makhluk ini tidak cukup berkuasa untuk memisahkan kita dari kasih Allah
di dalam Kristus (Rm. 8:38-39), tetapi implikasi yang jelas dari ayat tersebut
ialah bahwa mereka itu bersikap bermusuhan dengan kita dan akan berusaha untuk memisahkan
kita dari kasih Allah. Inilah pandangan Paulus yang melihat kejahatan yang bersumber
dari kekuatan-kekuatan para makhluk yang memusuhi Allah. Kita tidak dapat
memahami konsepsi Paulus tentang arti karya penebusan Kristus kecuali jika kita
mau memandang karya Kristus itu dengan latar belakang kejahatan dan kesia-siaan
yang ada di dunia ini, suatu dunia yang dihuni baik oleh roh-roh jahat maupun
manusia-manusia jahat (Morris 2014, 87–88).
[23]Pendamaian
mengacu pada suatu keadaan baru dalam berbagai hubungan yang dihasilkan “oleh
kematian Anak-Nya” (Rm. 5:10), dan oleh karena Allah tidak “memperhitungkan
pelanggaran mereka” (2Kor. 5:19). Pendamaian terjadi “melalui salib” yang
melenyapkan perseteruan (Ef. 2:16); perdamaian diadakan “oleh darah salib
Kristus”, pendamaian terwujud “di dalam tubuh jasmani Kristus oleh
kematian-Nya” (Kol. 1:20, 22). Semua bagian Alkitab ini menunjuk pada dosa
sebagai penyebab permusuhan, dan pada kematian Kristus sebagai penghapus dosa.
Karena penyebab permusuhan sudah disingkirkan, maka terjadilah pendamaian (Morris 2014, 97). Pendamaian atau rekonsiliasi bersumber di dalam Allah. Artinya Allah Tritunggal adalah penggagas utama rekonsiliasi. Dokumen dari WCC, yaitu Mission as Ministry of Reconciliation (MMR) menyatakan bahwa “rekonsiliasi adalah pekerjaan
Allah Tritunggal yang membawa penggenapan pada tujuan kekal Allah akan penciptaan dan keselamatan” (Kol. 1:19-20; 2:9). Bapa Gereja Ireneus berkata bahwa ketika
Tritunggal berbalik ke arah dunia, Putra dan Roh Kudus menjadi dua tangan Allah yang dengannya umat manusia diciptakan dan dibawa ke dalam pelukan
Allah. Melalui pekerjaan Putra yang berinkarnasi dan melalui
perantaraan Roh Kudus, rekonsiliasi dengan Allah
diwujudkan. Teks-teks Alkitab
yang berbicara tentang rekonsiliasi ditemukan
dalam surat-surat rasul Paulus, khususnya dalam 2 Korintus 5:17-20, Roma 5, Kolose 1 dan Efesus 2 (Bahasa Yunani: katallage,
rekonsiliasi,
disebutkan empat kali: Rm. 5:11; 11:15; 2Kor. 5:18,19; katallasso, berdamai, disebutkan 6 kali: Rm. 5:10; 2Kor.
5:18-20; apokatallasso,
berdamai,
disebutkan tiga kali: Ef. 2:16; Kol. 1:20,22) (Engelsviken 2013, 83).
[24]Bagi
Paulus istilah “diselamatkan” berarti menjadi bagian dari umat Allah, yang
dilahirkan menjadi keluarga Allah oleh Roh Kudus, dan karena itu dipersekutukan
satu dengan yang lain sebagai satu tubuh, yang perhimpunan-perhimpunannya dalam
Roh membuat mereka menjadi Bait Suci milik Allah. Allah tidak hanya
menyelamatkan berbagai-bagai individu dan menyiapkan mereka untuk masuk sorga;
melainkan Dia menciptakan suatu umat bagi nama-Nya, yang di tengah-tengahnya Ia
dapat tinggal, sehingga umat itu dapat memancarkan kembali kehidupan dan sifat
Allah dalam seluruh kesatuan dan kepelbagiannya (Fee 2004, 103–4).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar