Jumat, 30 Oktober 2026

Penemuan Tulang-tulang “Yesus” dan Kepercayaan Kristen tentang Kebangkitan Orang Mati

 

 

Penemuan Tulang-tulang “Yesus” dan Kepercayaan Kristen tentang Kebangkitan Orang Mati

 

 

Oleh: 

Rommi Matheos



 

Pendahuluan

            Pembahasan tentang pribadi Yesus dari Nazaret (yang menjadi tokoh sentral dalam keyakinan iman seluruh orang Kristen) memang selalu menarik untuk disimak. Berbagai pandangan mengenai Yesus telah dikemukakan oleh banyak orang, tidak hanya dari kalangan para ahli Perjanjian Baru, tetapi juga dari para akademisi dengan latar belakang disiplin keilmuan yang berbeda. Ada dua sisi dalam diri Yesus yang selalu menarik untuk diperbincangkan secara teologis-ilmiah, yaitu sisi keilahian dan kemanusiaan-Nya. Mereka yang cenderung hanya menekankan sisi kemanusiaan Yesus biasanya akan menolak peristiwa-peristiwa ajaib seperti yang tercatat dalam kitab-kitab Injil, misalnya peristiwa mujizat yang dilakukan Yesus dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati.                         

            Berbagai publikasi mengenai sisi kemanusiaan/kesejarahan Yesus banyak bermunculan akhir-akhir ini dan memicu kontroversi di kalangan masyarakat luas, misalnya penerbitan dan publikasi buku The Da Vinci Code karangan Dan Brown, The Jesus Dynasty karya James Tabor, dan The Jesus Family Tomb karya Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino[1]. Buku yang disebutkan belakangan ini cukup menarik untuk disimak karena kedua penulisnya mengemukakan suatu teori yang cukup menggemparkan, yaitu bahwa makam Yesus dari Nazaret dan anggota keluarga-Nya telah ditemukan di wilayah Talpiot, dekat Yerusalem. Jacobovici dan Pellegrino meyakini bahwa tulang-tulang Yesus dan anggota keluarga-Nya telah berhasil ditemukan di dalam osuari-osuari (kotak tempat penyimpanan tulang) yang terdapat dalam sebuah makam di Talpiot. Maksud/tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperlihatkan proses penemuan tulang-tulang “Yesus” itu dan pandangan kedua penulis mengenai makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus, serta mengkritisi penemuan ini dari sisi kepercayaan Kristen tentang kebangkitan orang mati.

 

Penemuan Tulang-tulang “Yesus”

            Kontroversi penemuan tulang-tulang “Yesus” yang disebutkan dalam buku Jacobovici dan Pellegrino serta yang terdapat dalam film dokumenter tersebut sebenarnya merupakan suatu bentuk penafsiran baru terhadap penemuan arkeologis yang sudah lama diketahui oleh para arkeolog. Osuari-osuari di Talpiot itu pada mulanya ditemukan oleh tim arkeologi yang dipimpin oleh Amos Kloner pada 1980. Amos Kloner dan rekan-rekannya menganggap bahwa penemuan benda-benda arkeologis ini merupakan hal yang biasa sebab di Yerusalem sendiri ditemukan ratusan osuari. Sama sekali tidak ada pemikiran yang terlintas dalam benak mereka bahwa penemuan itu memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh tertentu yang disebutkan dalam Alkitab (Handoko 2007, 1).                                                    

            Pada mulanya makam Talpiot ini ditemukan tanpa sengaja oleh keluarga Rivka Maoz pada 28 Maret 1980. Penemuan makam dan tulang-tulang ini merupakan akibat tidak langsung dari pekerjaan pembangunan gedung-gedung apartemen di perbukitan-perbukitan sekitar Yerusalem. Perusahaan-perusahaan konstruksi di Israel tanpa sengaja menemukan situs-situs arkeologis yang baru. Akibat dari penemuan ini, maka pekerjaan pembangunan mau tidak mau harus dihentikan untuk sementara waktu sampai proses pekerjaan para arkeolog selesai, yang biasanya membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 3-5). Di dalam makam Talpiot sendiri ditemukan sepuluh osuari (kotak tempat penyimpanan tulang). Enam dari sepuluh osuari itu memiliki inskripsi (tulisan), yaitu nama orang dan terdapat juga suatu pola ukiran tertentu.  Menurut Jacobovici dan Pellegrino, selain ditemukan enam osuari yang memiliki inskripsi, tercatat juga satu osuari yang telah hilang dari makam tersebut (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 15).                                                          

            Keenam osuari yang memiliki inskripsi itu adalah sbb: 1.) Osuari dengan nomor 80/505 memiliki inskripsi/tulisan Latin: “Maria” yang ditulis dengan huruf-huruf Ibrani. 2.) Osuari dengan nomor 80/503 memiliki inskripsi: “Yesus, anak Yusuf” (Yeshua bar Yosef). Tulisan “Yesus” ini agak sulit untuk dibaca. 3.) Osuari dengan nomor 80/502 memiliki inskripsi: “Matius” yang ditulis dalam bahasa Ibrani. 4.) Osuari dengan nomor 80/504 memiliki inskripsi: “Yosa” atau “Yose” (mungkin singkatan dari Yusuf). I. Y. Rahmani menduga ia adalah ayah dari Yesus. Namun, James Tabor berpendapat lain. Tabor menduga ia adalah saudara dari Yesus (lihat hlm. 61, 65). 5.) Osuari dengan nomor 80/501 memiliki hiasan mawar dan inskripsi: “Yudas, anak Yesus” (Yehuda bar Yeshua). 6.) Osuari dengan nomor 80/500 memiliki hiasan mawar dan inskripsi: “Mariamne” yang juga dikenal sebagai “Mara” (artinya: tuan). Inskripsi ini ditulis dalam bahasa Yunani. Adanya inskripsi, yaitu “Yesus, anak Yusuf” dan “Mariamne” atau “Mara” (yang diperkirakan sebagai Maria Magdalena) memunculkan dugaan yang bersifat spekulatif dari kedua penulis ini. Mereka berspekulasi bahwa kedua orang ini adalah pasangan suami-istri yang memiliki anak yang bernama Yudas (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 15-18, 61-62).                                              

            Meskipun Amos Kloner dan teman-temannya telah mengeluarkan pernyataan bahwa makam Talpiot tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tokoh Yesus dari Nazaret, hal ini tidak menyurutkan langkah Jacobovici dan Pellegrino dalam upaya mereka untuk “membuktikkan” keberadaan makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus dari Nazaret. Dalam buku The Jesus Family Tomb, kedua penulis menjelaskan bahwa pada masa Yesus orang Yahudi mempraktikkan proses penguburan orang mati sebanyak dua kali. Pada waktu seseorang meninggal dunia, maka tubuhnya akan diberi rempah-rempah dan minyak serta dibungkus dengan kain. Mayat tersebut akan diletakkan di bagian paling depan dari kubur, lalu ditutup dengan sebuah batu besar serta dibiarkan membusuk selama setahun. Pada tahap kedua, tulang-tulang dari orang yang meninggal itu akan dikumpulkan oleh keluarga dan dimasukkan ke dalam sebuah peti/kotak yang terbuat dari tanah liat. Kotak atau peti ini disebut osuari (osuarium). Biasanya nama orang yang meninggal itu akan diukir pada salah satu sisi dari osuari. Osuari itu kemudian dimasukkan lagi ke dalam ruangan yang paling dalam dari kubur itu yang disebut kokhim dalam bahasa Ibrani (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 1-2).                                                                                                                        

            Kedua penulis juga mencatat bahwa model penguburan dengan menggunakan osuari ini tidak dilakukan secara merata di kalangan orang-orang Yahudi. Praktik ini hanya dilakukan secara terbatas di kalangan mereka yang dianggap cukup berpengaruh dalam masyarakat Yahudi, seperti orang kaya dan para pemimpin agama/politik. Sayangnya praktik ini kemudian lenyap tidak lama sesudah kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Osuari-osuari ini banyak ditemukan di sekitar kota Yerusalem karena hal tersebut juga terkait dengan kepercayaan Yahudi mengenai kebangkitan orang mati pada akhir zaman. Terdapat kepercayaan yang kuat di kalangan orang Yahudi bahwa Mesias akan datang kembali untuk menyatakan dirinya di kota Yerusalem pada akhir zaman, dan ia akan menghidupkan kembali orang-orang mati yang telah dikubur di tempat itu (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 26-28).      Dalam pandangan para pengikut Yesus mula-mula (yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi), Yesus dilihat sebagai Mesias yang akan datang kembali pada akhir zaman untuk mempersatukan seluruh suku Israel, membangun kembali Bait Allah yang telah hancur dan membangkitkan kembali orang-orang yang sudah mati. Peristiwa kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70 Masehi diyakini sebagai tanda kedatangan Yesus itu. Karena adanya kepercayaan ini, maka banyak orang Kristen Yahudi yang ingin dimakamkan di Bukit Zaitun yang berdekatan dengan Bait Allah, sebab mereka meyakini bahwa kebangkitan orang mati akan terjadi di tempat tersebut. Kenyataan ini semakin diperkuat dengan ditemukannya situs arkeologis di sekitar wilayah tersebut pada 1953 oleh Bellarmino Bagatti, yang dikenal sebagai “Pekuburan Kristen Yahudi.” (Judeo-Christian  necropolis). Kompleks pekuburan ini terletak di bawah gereja Dominus Flevit, dan salah satu penemuan yang cukup penting di tempat itu adalah sebuah osuari dengan tulisan “Simon bar Jonah” yang diperkirakan merupakan osuari dari Simon Petrus, salah satu murid Yesus yang terkenal (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 39-42).                                                                                                                                 Berdasarkan keterangan mengenai sejarah praktik osuari itu, kedua penulis mencoba merekonstruksi suatu pemikiran teologis yang baru dalam rangka untuk menjelaskan fenomena cerita kubur kosong seperti yang tercatat dalam kitab-kitab Injil. Kedua penulis mengasumsikan bahwa penyebab kubur Yesus menjadi kosong bukanlah karena adanya peristiwa kebangkitan tubuh, melainkan karena tubuh/mayat Yesus telah diambil oleh para pengikut-Nya (bdk. Mat. 28:11-15). Menurut mereka, mayat Yesus dengan sengaja diambil dari kubur milik Yusuf dari Arimatea karena pihak keluarga/para murid bermaksud ingin menguburkannya secara permanen di dalam sebuah osuari. Untuk itu keluarga/para murid harus menunggu hingga tubuh Yesus hancur (yang diperkirakan membutuhkan waktu satu tahun), sehingga tulang-tulang-Nya dapat dikumpulkan dan disimpan di dalam osuari serta ditempatkan di dalam suatu makam keluarga (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 2-3).

 

I. Keberadaan Osuari Yakobus, anak Yusuf

            Di samping penemuan osuari-osuari dari makam Talpiot, kedua penulis juga mengangkat masalah keberadaan suatu osuari lain yang disebut osuari Yakobus, anak Yusuf. Kedua penulis menerima informasi dari Hershel Shanks yang menyatakan bahwa pada osuari itu terdapat inskripsi: “Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus.” Para arkeolog Israel telah melakukan penelitian terhadap osuari ini, dan mereka menyimpulkan bahwa tulisan “Yakobus, anak Yusuf” adalah asli/orisinil, tetapi tulisan “saudara Yesus” adalah palsu karena telah ditambahkan kemudian oleh seseorang. Pemilik osuari ini adalah Oded Golan, seorang kolektor barang antik (artefak) yang berasal dari Tel Aviv. Di waktu kemudian Oded Golan sendiri ditangkap oleh pihak kepolisian Israel dengan tuduhan telah melakukan pemalsuan (forgery) terhadap osuari Yakobus ini. Menurut pihak Otoritas Kepurbakalaan Israel atau IAA (Israel Antiquities Authority) Golan dengan sengaja telah menambahkan kalimat “saudara Yesus” pada osuari ini (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 25, 31, 53-54).             

            Sebelum disita oleh pihak IAA, osuari Yakobus ini sempat dipublikasikan melalui media massa (New York Times) dan dipamerkan secara terbuka di Royal Ontario Museum (ROM), Kanada. Bagi Jacobovici dan Pellegrino, osuari Yakobus ini dilihat sebagai salah satu kunci untuk membuka rahasia makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus. Dalam Injil-injil Sinoptik, Yesus disebutkan memiliki empat saudara laki-laki, yakni Yakobus, Simon, Yusuf dan Yudas (bdk. Gal. 1:19). Sedangkan menurut keterangan dari Josephus Flavius, seorang sejarawan Yahudi yang hidup pada abad pertama Masehi, Yakobus saudara Yesus ini dibunuh di kota Yerusalem. Menurut Jacobovici dan Pellegrino, keterangan Flavius ini sangat cocok dengan data arkeologis sebab osuari Yakobus sendiri ditemukan di Yerusalem (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 50, 29, 49). Jadi dengan memperhatikan data sejarah dan catatan Injil mengenai Yakobus sebagai saudara Yesus, kedua penulis kemudian berusaha untuk mencocok-cocokan hal tersebut dengan keberadaan osuari Yakobus, dan dengan gampangnya mereka mengklaim bahwa osuari tersebut adalah osuari Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Keyakinan kedua penulis terhadap makam Talpiot sebagai makam Yesus dari Nazaret semakin diperkuat karena adanya dukungan dari James Tabor dan Shimon Gibson yang juga meyakini bahwa osuari Yakobus memiliki keterkaitan dengan makam Talpiot. Dari informasi yang diberikan Tabor dan Gibson diketahui bahwa meski di atas makam Talpiot itu telah berdiri gedung-gedung apartemen, namun makam itu sendiri masih ada/belum hancur. Beberapa catatan diberikan oleh Jacobovici berkaitan dengan penemuan makam Talpiot: 1.) Pada 1980 makam Talpiot ditemukan secara tidak sengaja akibat adanya pembangunan kompleks apartemen. IAA lalu mengutus para arkeolog, yakni Gat, Kloner, Braun dan Gibson. Mereka memetakan makam itu dan memindahkan osuari-osuari ke gedung IAA serta mendaftarkannya.  2.) Makam itu memiliki simbol yang aneh, seperti simbol dari sebuah perkumpulan rahasia.  3.) Terdapat tiga buah tulang yang telah berpindah tempat.  4.) Kubur itu telah dibongkar sebelumnya. Benda-benda seperti lampu, botol minyak wangi, dan kendi dari tanah liat telah hilang.  5.) Terdapat sepuluh osuari. Enam osuari memiliki inskripsi, sedangkan yang empat tidak. Catatan mengenai kesepuluh osuari ini terdapat dalam katolog yang dibuat oleh I.Y. Rahmani (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 57-61).


II. Osuari dengan Inskripsi: “Mariamne” atau “Mara”

             Kedua penulis mencatat bahwa osuari dengan inskripsi: “Mariamne” yang juga dikenal sebagai “Mara” memiliki keterkaitan dengan sebuah dokumen apokrif yang ditemukan oleh Francois Bovon (guru besar dari Harvard School of Divinity) dan Bertrand Bouvier. Nama dokumen itu adalah “Kisah Filipus” (The Acts of Philip). Dokumen ini ditemukan di dalam perpustakaan milik Biara Xenophontos yang terletak di Gunung Athos, Yunani pada 1976. Pada 2002, Bovon dan Bouvier menerbitkan hasil penerjemahan dokumen ini ke dalam bahasa Perancis, dan mengidentifikasi Maria Magdalena sebagai “Mariamne,” saudara perempuan Rasul Filipus. Dalam dokumen tersebut dikisahkan bagaimana Maria Magdalena diperintahkankan oleh Yesus untuk memberi dorongan kepada Filipus yang ditugaskan untuk memberitakan Injil ke tanah Yunani (bersama dengan Bartolomeus). Dalam Kisah Filipus, Maria Magdalena digambarkan sebagai seorang perempuan yang kuat, setia dan dekat dengan Yesus (salah satu teks Gnostik, yaitu Injil Filipus yang ditemukan di Nag Hammadi bahkan menyebutkan bahwa Yesus mencintai Maria lebih dari rasul-rasul yang lain dan sering menciumnya). Maria juga disebut sebagai seorang rasul, yang artinya seorang yang diutus. Dengan demikian ada tiga orang yang diutus untuk memberitakan Injil ke tanah Yunani oleh Yesus, yaitu Filipus, Maria (Mariamne) dan Bartolomeus (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 76, 95-99).                                                                                                            Maria Magdalena merupakan figur utama dalam Kisah Filipus. Dalam dokumen tersebut, Maria Magdalena ditampilkan sebagai seorang pengkhotbah dan pembuat mujizat. Bahkan Filipus pernah mengambil air ludah Maria dan mengoleskannya ke mata orang yang buta yang membuatnya dapat melihat kembali. Di bagian akhir dari Kisah Filipus diceritakan mengenai Filipus yang mengalami mati syahid, sedangkan Bartolomeus dan Maria Magdalena tidak mengalami hal tersebut. Bartolomeus melanjutkan perjalanannya ke Asia Minor, tetapi Maria kembali ke tanah Israel dan menetap di lembah Yordan serta pada akhirnya meninggal di sana. Bovon juga mengatakan bahwa ditulisnya nama Maria Magdalena/Mariamne dalam bahasa Yunani di osuari tersebut sangat cocok dengan  kenyataan bahwa kota Yerusalem pada masa Yesus merupakan salah satu wilayah yang menjadi jalur perdagangan Internasional, sehingga berbagai bahasa dapat digunakan di wilayah tersebut. Itu sebabnya dalam makam Talpiot ditemukan berbagai macam bahasa, seperti bahasa Yunani, Ibrani, Aram dan Latin (Jacobovici dan Pellegrino 2007,  100-102).

 

III. Keristenan Perdana dan Ksatria Templar

Dari hasil pengamatan atas tulisan kedua penulis ini terlihat dengan jelas bahwa keduanya telah memanfaatkan data-data sejarah gereja dalam upaya mereka untuk membangun teori bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret. Selain memanfaatkan data-data dari PB dan teks-teks apokrif, keduanya juga mengutip pendapat para bapa gereja mengenai kekristenan mula-mula dan kehadiran para Ksatria Templar dalam catatan sejarah gereja. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya bahwa kedua penulis sangat menonjolkan fakta keyahudian Yesus dan orang Kristen mula-mula. Kekristenan mula-mula yang terbentuk di Yerusalem dilihat sebagai gerakan dari para pengikut Yesus yang keseluruhannya adalah orang-orang Yahudi. Mereka dikenal sebagai orang-orang Nasrani (Nazarenes), Ebionit, atau Kristen Yahudi. Kelompok ini, khususnya kelompok Ebionit, dianggap sebagai aliran sesat (bidat) oleh para bapa gereja. Salah seorang bapa gereja, yakni Eusibius bahkan pernah menyebutkan bahwa kelompok ini dapat menjadi jerat/perangkap bagi orang-orang Kristen sebab mereka hanya mengakui Yesus sebagai manusia biasa yang  lahir dari hasil hubungan seks antara Maria dan Yusuf, atau dengan kata lain kelompok ini menolak kelahiran Yesus secara ajaib dari perawan Maria. Selain itu, kelompok ini juga masih mempraktikkan beberapa peraturan dalam hukum Musa, seperti merayakan hari Sabat dan upacara seremonial Yahudi lainnya. Kata Ebionit sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki arti: “miskin.” Kata ini sebenarnya merupakan suatu bentuk ejekan yang diberikan kepada mereka. Bagi orang Kristen yang lain, kelompok Ebionit adalah orang-orang Kristen yang miskin atau bodoh, yaitu bodoh atau miskin  secara intelektual (Jacobovici dan Pellegrino 2007,  125-126).                                                                                                                    

Sebagai bentuk kekristenan yang bercorak Yahudi, kelompok Ebionit ini terdiri atas pengikut-pengikut Yesus yang disebut sebagai orang-orang Nasrani (Nazarenes). Kata Nasrani sendiri berasal dari kata Nazaret, yang menjadi kampung halaman Yesus (Mat. 2:23; bdk. Kis. 24:5, 14) atau kata itu juga menunjuk pada “Netzer”, salah satu ranting dari keluarga Raja Daud. Bagi orang-orang Yahudi, kelompok Nasrani ini dianggap sebagai sebuah sekte/aliran dalam Yudaisme. Dalam Kisah para Rasul 24:5,14 Paulus juga dianggap sebagai pengikut dari sekte Nasrani ini. Pada periode selanjutnya, khususnya pada masa sesudah kejatuhan Yerusalem (tahun 70 M), kelompok ini tetap eksis namun tidak mengalami perkembangan yang berarti jika dibandingkan dengan kelompok Kristen non Yahudi (gentiles) yang justru semakin bertumbuh dan berkembang dengan pesat. Kedua penulis memperkirakan kelompok Kristen Yahudi ini memiliki keterkaitan dengan simbol yang terpahat pada pintu masuk makam Talpiot. Simbol tersebut terdiri atas dua bentuk, yang pertama berbentuk “V” terbalik dan yang kedua berbentuk lingkaran bunga mawar (rosette). James Tabor menduga bahwa simbol tersebut, sama seperti simbol ikan (Ichthus), merupakan simbol rahasia yang biasa digunakan oleh para pengikut Yesus mula-mula. Dalam masa pergolakan yang disebabkan oleh tindakan penganiayaan, khususnya yang dilakukan oleh kaisar Nero hingga Vespasianus, simbol ini mungkin saja telah dijadikan sebagai tanda rahasia di antara orang-orang Kristen Yahudi. Jacobovici bahkan meyakini bahwa gambar “lingkaran yang berbentuk mawar (rosette)” yang terdapat pada simbol tersebut bukan hanya suatu ornamen atau hiasan biasa yang tidak memiliki arti apa-apa. Dalam Kidung Agung 2:1-2 terdapat ungkapan bunga mawar, bunga bakung dan duri-duri. Bunga mawar dari Saron merupakan simbol untuk Israel, dan Allah menyebut eksistensi Israel sebagai bunga yang ada di antara duri-duri. Artinya Israel sebagai umat Allah yang sejati, ada di antara bangsa-bangsa (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 126-129).                                                                                                       Selain memperhatikan makna simbol pada pintu masuk makam Talpiot, kedua penulis juga memperlihatkan peranan para ksatria Templar dalam sejarah gereja. Seperti sudah di ketahui bahwa para ksatria Templar adalah kelompok Kristen yang terlibat dalam Perang Salib di Yerusalem. Dalam sejarah gereja disebutkan bahwa kelompok ini semakin berkembang dan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan bergereja. Hal ini mungkin dilihat sebagai sebuah ancaman bagi keberadaan lembaga gereja pada masa itu. Pihak gereja kemudian sengaja menjatuhkan tuduhan yang keras terhadap mereka. Salah satu tuduhan yang cukup menarik adalah pernyataan dari pihak gereja bahwa kelompok ini telah sesat karena mereka melakukan praktik penyembahan terhadap tulang-tulang manusia. Pada waktu itu muncul dugaan bahwa yang menjadi obyek penyembahan mereka adalah tulang-tulang anggota keluarga Yesus. Mereka diduga melaksanakan suatu ritus rahasia, di mana calon anggota diwajibkan untuk berjalan di atas suatu segitiga dan lingkaran di sekitar tengkorak dan tulang manusia. Ada dugaan yang berkembang bahwa kelompok ksatria Templar ini memiliki hubungan khusus dengan kelompok Kristen Yahudi yang diperkirakan masih eksis pada masa itu. Baik para ksatria Templar maupun kelompok Kristen Yahudi sama-sama melakukan ibadah rahasia di sekitar atau makam yang diperkirakan sebagai makam keluarga Yesus. Kedua kelompok ini dianggap sebagai aliran sesat oleh pihak gereja sebab mereka tidak mengakui keilahian Yesus. Menurut Dokumen Chinon yang diterbitkan kemudian oleh Vatikan, para ksatria Templar dianggap sebagai aliran sesat yang sangat berbahaya karena mereka juga mempraktikkan ilmu sihir dan ilmu hitam (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 131-133).  

IV. Uji DNA dan Analisis Statistik

Karena kedua penulis yakin bahwa makam Talpiot belumlah musnah, mereka pun melakukan penyelidikan kembali terhadap keberadaan makam itu. Di atas makam itu sendiri telah berdiri gedung-gedung apartemen yang megah. Dalam bukunya mereka menceritakan mengenai kronologi pencarian makam itu. Pada awalnya mereka sedikit mengalami kesulitan ketika hendak menentukan lokasi makam itu, namun dengan adanya bantuan berbagai alat yang canggih (seperti robot kamera dll) dan petunjuk dari seorang perempuan buta, maka lokasi makam Talpiot akhirnya dapat ditemukan kembali. Dalam proses penyelidikan makam Talpiot tersebut, mereka juga berhasil menemukan sebuah makam yang lain, yang di dalamnya masih tersimpan sejumlah osuari (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 135-152).        

Pada akhirnya mereka berhasil memasuki kompleks makam Talpiot yang telah ditutup sebelumnya. Di tempat itu ditemukan berbagai obyek, seperti tefillin yaitu tali sembahyang orang Yahudi  yang biasa dililitkan di tangan kiri dan di bagian dahi ketika kaum Yahudi hendak berdoa di pagi hari. Pada tali sembahyang itu terdapat kotak-kotak yang berisi ayat-ayat kitab suci. Selain tefillin, benda lain yang ditemukan adalah genizah, yaitu bilik untuk menyimpan atau mengubur teks-teks kitab suci. Ketika Jacobovici memeriksa lebih jauh ternyata di tempat penyimpanan teks kitab suci tersebut ditemukan gulungan kitab Yunus yang telah mengalami kerusakan. Tanpa disadari oleh mereka ternyata di luar makam sedang terjadi keributan akibat adanya protes yang dilakukan oleh beberapa penghuni apartemen yang tidak mengetahui kegiatan tersebut. Jacobovici kemudian menjelaskan bahwa ia telah mendapat izin untuk membongkar makam tersebut dari perempuan buta yang dulu pernah menempati daerah di sekitar makam itu. Pada akhirnya polisi datang dan keributan pun dapat diatasi, sehingga mereka dapat meneruskan penelitian mereka di dalam makam itu. Shimon Gibson yang dulu pernah memetakan makam tersebut tiba di lokasi setelah dihubungi oleh Jacobovici. Ia mengajak Shimon untuk masuk ke dalam makam tersebut dan mewawancarainya di sana. Menjelang malam penelitian mereka harus dihentikan karena kehadiran seorang petugas dari IAA yang melarang mereka untuk melanjutkan penelitian mereka. Namun mereka sedikit bersyukur karena ada beberapa hal yang dapat dilakukan di dalam makam tersebut, di antaranya mereka tidak hanya berhasil menemukan makam Talpiot, tetapi juga makam yang lain, yang mungkin saling terhubung satu sama lain. Mereka juga berhasil membuat rekaman film dan memetakan kedua makam tersebut (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 152-156).                                                 Langkah berikutnya yang dilakukan kedua penulis ini adalah melakukan penelitian terhadap osuari-osuari makam Talpiot yang pada waktu itu telah disimpan di gedung IAA (kecuali osuari Yudas yang disimpan di Museum Israel). Tujuan penelitian mereka adalah untuk mengumpulkan material-material organik yang masih ada atau masih tersisa di osuari-osuari tersebut. Melalui penyelidikan terhadap material organik atau lapisan mineral patina yang masih ada pada osuari-osuari itu, para ahli dapat menentukan/memperkirakan sejarah kimia dari osuari atau makam Talpiot tersebut (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 160-161). Penelitian terhadap lapisan patina ini dirasakan belum cukup sehingga dilanjutkan dengan penelitian terhadap human residue yang melekat pada osuari-osuari itu. Ionaes Rakhmat dalam bukunya yang berjudul Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam keluarga Yesus menjelaskan bahwa meskipun tulang-belulang dari semua osuari Talpiot telah diserahkan kepada otoritas Yahudi Ortodoks untuk dikuburkan kembali, penelitian/pemeriksaan DNA tetap bisa dilakukan. Sisa-sia endapan organik dari human residue yang menempel pada permukaan-permukaan dinding bagian dalam atau di bagian dasar osuari dapat dipakai untuk penelitian DNA (Rakhmat 2007, 3).                                                    

Jacobovici dan Pellegrino menjelaskan lebih lanjut bahwa penelitian DNA ini hanya dibatasi untuk dua osuari saja, yaitu osuari “Yesus, anak Yusuf” (80/503) dan osuari “Mariamne” (80/500). Tidak dijelaskan lebih jauh mengapa hanya dua osuari ini saja yang diteliti. Orang yang dipercayakan untuk melakukan penelitian DNA adalah Dr. Carney Matheson dari Laboratorium Paleo-DNA Universitas Lakehead di Ontario-Kanada. Dalam proses penelitian itu Matheson mengungkapkan bahwa sampel-sampel yang berhasil diambil sedikit mengalami kerusakan, sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menfokuskan penelitannya pada bagian mitochondrial DNA, yaitu DNA yang diturunkan dari pihak ibu (maternally) kepada anak. Dengan cara ini Matheson dan timnya dapat mengidentifikasi hubungan maternal dari sampel-sampel tersebut (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 167-170). Dan dari hasil penelitian/pemeriksaan mitochondrial DNA terhadap human residue dari osuari “Yesus, anak Yusuf” dan “Mariamne” disimpulkan bahwa kedua orang ini (maksudnya Yesus dan Mariamne) tidak memiliki hubungan persaudaraan maternal. Kedua orang ini bukanlah ibu dan anak, atau saudara sekandung, tetapi kemungkinan mereka adalah pasangan suami istri, demikian kesimpulan yang diambil Dr. Matheson. Ioanes Rakhmat juga mengutip kesimpulan yang sama. Ia mengatakan bahwa bisa jadi, karena ditemukan dalam satu makam keluarga, Mariamne (Maria Magdalena) dalam makam Talpiot ini adalah orang luar yang menjadi istri sah Yesus; dan bisa jadi “Yudas, anak Yesus” adalah anak Maria Magdalena juga (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 172; Rakhmat 2007, 3).                                                

Dengan bertitik tolak dari hasil penelitian mitochondrial DNA ini, Jacobovici dan Pellegrino semakin yakin bahwa keberadaan makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret. Untuk memperkuat teori bahwa Maria Magdalena adalah istri sah Yesus, mereka tidak hanya memanfaatkan hasil penelitian DNA, tetapi juga catatan-catatan yang terdapat dalam teks-teks apokrif. Dengan menggabungkan hasil tes DNA dengan data-data dari teks-teks apokrif itu, keduanya berargumen bahwa Mariamne yang disebutkan dalam makam Talpiot itu tidak lain adalah Maria Magdalena, seorang tokoh yang sangat dekat dengan Yesus dan sekaligus merupakan istri dari Yesus sendiri. Dalam Injil Maria Magdalena yang berciri Gnostik, dikisahkan bahwa sesudah penyaliban, Yesus menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena selama satu setengah tahun lamanya, serta mempercayakan wahyu-Nya yang terakhir kepada dia. Di situ Maria Magdalena digambarkan sebagai seorang perempuan yang sangat dekat dengan Yesus, dan Yesus “mengenal” dirinya dengan baik. Menurut kedua penulis ini, ungkapan “mengenal” menunjuk pada suatu hubungan intim antara suami-istri. Dalam Perjanjian Lama ungkapan ini dipakai untuk melukiskan hubungan intim, misalnya antara Adam dan Hawa atau antara Kain dengan istrinya (lihat Kej. 4:1, 17) (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 173).                                        

Dari hasil penelitian mitochondrial  DNA itu terungkap juga hal yang menarik mengenai rupa atau penampilan fisik dari “Yesus, anak Yusuf.” Berdasarkan hasil tes DNA, Dr. Matheson memperkirakan bahwa “Yesus” ini berasal dari keturunan bangsa Semit yang bertempat tinggal di daerah lembah Yordan. Ia mempunyai mata dan alis yang berwarna gelap, serta rambut-Nya diperkirakan berombak atau keriting (curly). Jelas gambaran ini sangat bertolak belakang dengan lukisan-lukisan mengenai Yesus yang kita kenal selama ini. Dalam lukisan-lukisan tersebut (yang diperkirakan berasal dari zaman Renaisans), Yesus ditampilkan sebagai seorang pria yang memiliki kulit putih dan terang, berambut lurus, dan memiliki mata berwarna biru. Tidak dapat disangkal bahwa gambaran Yesus yang khas, yang selama ini diwariskan kepada kita adalah gambaran Yesus yang kebarat-baratan (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 173-174).                                                       

Benarkah makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret? Apakah nama-nama, seperti Yesus, Maria, Yusuf dll, yang terdapat pada osuari-osuari itu dapat dijadikan sebagai bukti untuk mendukung teori Jacobovici dan Pellegrino? Berkaitan dengan nama-nama yang muncul pada osuari-osuari makam Talpiot itu, para arkeolog di Israel sudah lama menegaskan bahwa nama-nama itu merupakan nama-nama yang umum, yang banyak digunakan oleh orang Yahudi pada zaman Yesus. Amos Kloner, salah seorang yang ikut menggali makam Talpiot, juga menyatakan hal yang sama. Ia menegaskan bahwa nama-nama yang ditemukan pada osuari-osuari tersebut adalah nama-nama yang umum digunakan oleh orang Yahudi pada abad pertama Masehi (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 23, 33).      

Tetapi pendapat ini kemudian disanggah oleh Jacobovici dan Pellegrino. Ioanes Rakhmat sebagai yang ikut mendukung pendapat Jacobovici dan Pellegrino Simcha menyatakan bahwa sifatnya sebagai nama-nama yang umum inilah yang telah lama dijadikan alasan oleh banyak pakar Kristen untuk menolak pendapat bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret.  Dengan mengutip pendapat Jacobovici, Pellegrino dan Tabor, ia menyatakan bahwa terkumpulnya nama-nama anggota keluarga Yesus dalam makam Talpiot sebagai satu cluster, dilihat sebagai suatu hal yang unik yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam suatu penggalian situs arkeologis mana pun. Secara statistik, munculnya kumpulan (cluster) keempat nama saja (“Yesus, anak Yusuf”. “Maria”, “Mariamne/ Maria Magdalena” dan “Yoses”) dalam satu makam, dalam konteks kota Yerusalem pada periode Bait Allah Kedua akhir, merupakan suatu kejadian yang unik. Profesor Andrey Feuerverger, seorang ahli statistik dari Universitas Toronto, memperkirakan peluangnya 1:600. Maksudnya: dari 600 kasus, hanya ada 1 kemungkinan kasus seperti kasus makam Talpiot. Dan jika benar bahwa osuari Yakobus adalah salah satu dari osuari makam Talpiot yang telah hilang, maka, menurut Feuerverger, peluangnya akan berubah menjadi 1:30.000. Artinya: dari 30.000 kasus, hanya akan ada 1 peluang kasus yang sama seperti kasus makam Talpiot. Secara statistik angka-angka tersebut memperlihatkan betapa uniknya kasus makam Talpiot ini (Rakhmat 2007, 5).           

 

V. Lapisan Mineral Patina

Selain melakukan penelitian DNA, Jacobovici dan Pellegrino dan timnya juga memeriksa sidik jari mineral patina yang terdapat pada osuari Yakobus maupun osuari-osuari makam Talpiot. Hasil penelitian terhadap lapisan mineral patina pada osuari Yakobus itu kemudian diperbandingkan dengan lapisan patina dari osuari-osuari makam Talpiot dan dari makam-makam lain di sekitarnya, yang dipilih secara acak. Hasil perbandingan itu menunjukkan adanya kesamaan sidik jari mineral patina antara osuari Yakobus dengan sidik jari mineral patina dari osuari-osuari lainnya dari makam Talpiot. Hal ini memastikan bahwa osuari Yakobus berasal dari makam Talpiot (Rakhmat 2007, 4). Jacobovici dan Pellegrino mencatat bahwa pada waktu diteliti ternyata osuari Yakobus ini sempat dibersihkan dengan menggunakan semacam deterjen (tercatat deterjen ini hanya muncul di Israel sekitar tahun 1980 an), namun setelah sisa-sisa zat deterjen itu dihilangkan dari permukaan osuari, maka terbukti bahwa lapisan mineral patina dari osuari Yakobus tetap sama/identik dengan mineral patina yang terdapat pada makam Talpiot dan osuari Yesus, Mariamne dan Matius (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 184-185).                                                                                         

Ioanes Rakhmat menambahkan bahwa di dalam osuari Yakobus itu masih ditemukan sisa-sia tulang belulang manusia. Jika pengujian DNA diizinkan untuk dilakukan pada human residue Yakobus, maka sudah dapat dipastikan  bahwa makam keluarga di Talpiot itu adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret, yaitu Yesus yang memiliki saudara satu ayah, yang bernama Yakobus, sebagaiman dicatat baik oleh tradisi Kristen (Gal. 1:19; Mrk. 6:3) maupun oleh Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi. Bahkan menurut hasil penelitian Profesor Yuval Goren, seorang pakar Geologi dari Universitas Tel Aviv, disebutkan bahwa sedikitnya dua huruf dari nama Yeshua di osuari Yakobus tersebut mengandung lapisan mineral patina yang asli dan berusia tua. Dengan demikian, keseluruhan kalimat “saudara Yesus” pada osuari Yakobus itu harus dikatakan asli (Rakhmat 2007, 3-4). Dari seluruh hasil investigasi yang dilakukan oleh Jacobovici dan Pellegrino dan rekan-rekannya, mereka akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa osuari “Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus” dan osuari “Yesus, anak Yusuf” pernah berada di dalam satu makam yang sama selama beribu-ribu tahun. Secara statistik, menurut Jacobovici dan Pellegrino, bahwa dengan menambahkan osuari “Yakobus, anak Yusuf” ke dalam kelompok (cluster) makam Talpiot, maka hal itu dengan sendirinya dapat memberikan bukti yang semakin kuat bahwa makam Talpiot merupakan makam keluarga Yesus dari Nazaret (Jacobovici dan Pellegrino 2007, 189).


Kepercayaan Kristen tentang Kebangkitan Orang Mati

            Penemuan makam Talpiot dan tulang-tulang “Yesus” yang diklaim oleh Jacobovici dan Pellegrino sebagai makam dan tulang-tulang Yesus dari Nazaret telah menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat luas, terutama bagi sebagian besar orang Kristen yang tetap berpegang teguh pada kepercayaan mereka tentang kebangkitan Yesus. Apakah klaim makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus dari Nazaret dapat dianggap sebagai sebuah ancaman atau serangan terhadap iman Kristen ataukah tidak? Memang dalam tulisannya, baik Jacobovici maupun Pellegrino tidak menyatakan secara langsung penolakan terhadap kepercayaan tentang kebangkitan Yesus, namun dari seluruh uraian tulisan mereka tampak dengan jelas bahwa mereka sangat menolak kepercayaan tersebut. Dengan menyatakan bahwa tulang-tulang Yesus dari Nazaret telah ditemukan di dalam makam Talpiot, hal ini secara jelas memperlihatkan ketidakpercayaan mereka terhadap doktrin Kristen tentang kebangkitan tubuh Yesus. Kalaupun benar bahwa Yesus telah bangkit, maka bagi mereka kebangkitan itu harus dimengerti bukan secara fisik tetapi rohani. Kepercayaan tentang kebangkitan Yesus atau kebangkitan orang mati merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar dalam iman Kristen. Rasul Paulus menandaskan hal tersebut melalui suratnya kepada jemaat di Korintus. Dalam 1 Korintus 15:14, 17 ia mengatakan: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu...Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”  Bagi Paulus dan seluruh orang Kristen yang lain, kebenaran mengenai kebangkitan Yesus dari kematian sangatlah penting sebab hal itu terkait dengan iman, pengharapan dan tugas pemberitaan gereja. Tanpa adanya kebangkitan orang mati atau kebangkitan Yesus, maka seluruh perjuangan Paulus sebagai seorang pelayan Tuhan yang diutus untuk memberitakan Injil akan menjadi sia-sia, bahkan iman dan pengharapan yang muncul dari pemberitaan itu akan menjadi sia-sia juga alias tidak berguna.           

            Salah satu pakar Perjanjian Baru, yaitu A. M. Hunter menjelaskan dalam bukunya Introducing New Testament Theology bahwa terdapat tiga bukti bagi kebangkitan Yesus. Bukti pertama adalah adanya gereja Kristen (persekutuan orang percaya). Bagaimana mungkin para pengikut yang ketakutan, para pengikut seorang Rabbi yang telah disalibkan dapat menjadi inti dari suatu gereja yang militan, yang mampu bertahan hingga sembilan belas abad lamanya? Menurut kesaksian para penulis Perjanjian Baru, perubahan mengherankan yang terjadi pada diri pengikut-pengikut Yesus ini sesungguhnya berasal dari keyakinan mereka bahwa Allah sudah membangkitkan guru mereka dari kematian, dan bahwa mereka sudah melihat Dia hidup dan sudah berbicara dengan Dia. Selain adanya eksistensi gereja Kristen ini masih ada dua bukti lain lagi, yaitu penetapan hari kebangkitan Yesus (“hari Tuhan” ; lihat Why. 1:10; Kis. 20:7; 1Kor. 16:2) sebagai hari ibadah bagi orang Kristen dan adanya tulisan-tulisan Perjanjian Baru itu sendiri. Hunter menjelaskan bahwa karena adanya kebangkitanlah, maka orang-orang Kristen mula-mula (yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi) mengganti hari kudus mereka, dari hari sabtu (sabat) ke hari minggu. Mereka beribadah pada hari minggu karena mereka yakin bahwa pada hari minggu itulah Yesus telah dibangkitkan Allah dari kematian. Ia juga menandaskan bahwa tanpa adanya kebangkitan Yesus, maka tulisan-tulisan Perjanjian Baru tidak akan pernah ada/tidak akan pernah ditulis (Hunter 1957, 52-53).


I. Latar Belakang Munculnya Kepercayaan tentang Kebangkitan

Meskipun kepercayaan mengenai kebangkitan Yesus mempunyai tempat yang sentral dalam kehidupan orang Kristen, namun kepercayaan tentang kebangkitan orang mati itu sendiri bukanlah sesuatu hal yang baru sebab kepercayaan ini sudah dikenal secara luas di kalangan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus. Perjanjian Baru mencatat bahwa kelompok Farisi menerima dan mengakui kepercayaan ini, namun tidak demikian dengan kelompok Saduki (Mrk. 12:18; Kis. 4:1-2; 23:8). Alasan penolakan kelompok Saduki ini disebabkan karena dalam hukum Taurat (pentateukh) tidak ada pengajaran tentang kebangkitan orang mati (Jansen 1980, 19-20)[2]. Menurut pendapat John Drane, secara politik kelompok Saduki ini memang lebih konservatif, namun dalam soal-soal agama mereka lebih reaksioner. Mereka menganggap bahwa satu-satunya sumber pengajaran agama yang paling berwibawa hanyalah kelima kitab hukum Taurat yang diberikan oleh Musa. Karena adanya sikap/pendirian ini, maka mereka tidak begitu menaruh perhatian pada keberadaan kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain atau bahkan menolaknya sama sekali. Pada intinya apa yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam hukum Taurat ditolak secara tegas oleh mereka, seperti misalnya mereka tidak meyakini bahwa Allah mempunyai tujuan di balik peristiwa-peristiwa sejarah, dan karena itu ajaran-ajaran seperti hidup kekal, kebangkitan orang mati, dan penghakiman terakhir menjadi tidak relevan bagi mereka (Drane 2011, 41-42).                          

Memang dalam kelima kitab Taurat Musa belum ada gagasan tentang kebangkitan orang mati. Menurut Donald Guthrie, yang ada dalam kitab Taurat hanya gagasan mengenai Syeol[3], namun gagasan ini pun tidak begitu jelas. Misalnya: Yakub mengungkapkan keyakinannya bahwa ia akan melihat anaknya, Yusuf, di Syeol (“dunia orang mati”), dan tampaknya ia menganggap bahwa itu merupakan tujuan akhir dari kehidupan (Kej. 37:35). Dalam seluruh kitab pentateukh, pengharapan secara khusus akan kehidupan sesudah mati tidak diungkapkan secara jelas. Pengharapan mengenai kehidupan sesudah kematian, secara khusus gagasan mengenai kebangkitan orang mati, baru muncul dan berkembang di kemudian hari, yaitu pada masa pembuangan dan sesudahnya. Misalnya, dalam kitab Daniel 12:2 kita menemukan pernyataan yang lebih jelas mengenai pengharapan akan kebangkitan: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.” (Guthrie 1996, 427).                                                                                           

Menurut Madigan dan Levenson, gagasan mengenai kebangkitan orang mati ini muncul dari situasi pergumulan yang sulit ketika orang-orang Yahudi harus mengalami penindasan/penganiayaan dari bangsa-bangsa lain (Babel, Perisa, Yunani dan Romawi), baik pada masa pembuangan maupun sesudahnya (mulai abad ke-6 sM). Kepercayaan dan pengharapan akan kebangkitan ini adalah bagian dari bentuk kesalehan yang diciptakan oleh bangsa Yahudi, yang disebut sebagai “eskatologi pemulihan.” Dalam kerangka “eskatologi pemulihan” itulah mereka meyakini bahwa pada akhirnya Tuhan Allah yang akan mengalahkan seluruh musuh Israel dan mendirikan/menegakkan pemerintahan-Nya di bumi (Yes. 26:19; Dan. 12:2-3) (Madigan dan Levenson 2008, 4-6). Jadi pengharapan eskatologi ini tumbuh subur di kalangan bangsa Yahudi yang merindukan kehadiran Tuhan Allah. Kedatangan Tuhan Allah itu dilihat sebagai saat pemulihan yang akan dialami oleh seluruh umat-Nya.                                                                                                                         

Donald Guthrie mencatat bahwa pada masa antara PL dan PB terdapat pengharapan tentang kebangkitan yang diungkapkan secara lebih jelas, namun pengharapan ini lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Dalam kitab Kebijaksanaan 15:8; Jubilees 2:24; dan IV Makabe 13:16; 15:2; 17:5, 8 dinyatakan adanya perbedaan antara kematian tubuh dan kekekalan/keberadaan jiwa yang terus berlangsung (Guthrie 1996, 428). Selain gagasan tentang kekekalan jiwa, Claudia Setzer juga mencatat bahwa pada masa Helenisme ini berkembang gagasan mengenai upah yang akan diberikan Allah kepada orang benar di masa yang akan datang. Yang dimaksudkan dengan upah di sini adalah suatu gambaran mengenai kebangkitan secara fisik maupun rohani. Gambaran tentang kebangkitan ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab, seperti 1 Henokh, Perjanjian Musa, 2 Barukh dll. Sebagai contoh adalah kitab 2 Makabe yang berasal dari abad ke-2 sM. Kitab ini hadir di tengah-tengah konteks penindasan bangsa Yahudi pada masa kekuasaan Antiokhus Epifanes. 2 Makabe 7:9 berbunyi demikian: “Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: "Memang benar kau, bangsat, dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya!" Dalam kitab ini terlihat bahwa gambaran tentang kebangkitan orang mati itu dinyatakan dengan lebih jelas (Setzer 2004, 11-12).                                                                                                             

Menurut John Drane, pengharapan eskatologis ini begitu dominan dalam kehidupan bangsa Yahudi. Pengharapan ini dapat dijumpai secara khusus dalam tulisan-tulisan yang bercorak apokaliptik. Para penulis apokaliptik dipahami sebagai “orang-orang yang mampu mengungkapkan hal-hal yang rahasia/terselubung.” Jenis tulisan ini menjadi begitu populer pada masa menjelang kedatangan Yesus. Pada intinya tulisan-tulisan yang mengandung semangat apokaliptik ini muncul sebagai respons terhadap pertanyaan-pertanyaan krusial yang muncul dari keadaan sulit yang dihadapi umat Allah di sepanjang sejarah kehidupan mereka, seperti: mengapa kesetiaan terhadap agama tidak membawa kemakmuran? Mengapa orang baik dan setia harus menderita, bahkan mati? Mengapa Allah tidak menghentikan kuasa-kuasa kejahatan di dunia ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit ini, para penulis apokaliptik menekankan bahwa kesulitan-kesulitan masa kini hanya bersifat sementara saja. Dalam terang kebaikan Allah, mereka meyakini bahwa pada akhirnya bukan kejahatan yang berjaya, tetapi kebaikan dan keadilanlah yang akan menang (Drane 2011, 46-48).                  

Semangat dan gagasan apokaliptik ini juga dikenal dengan baik oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Bahkan menurut Drane, banyak dari gambaran dan bahasa yang digunakan Yesus dalam pengajaran-Nya mengenai masa depan mirip dengan ajaran dalam kitab-kitab apokaliptik (misalnya Mrk. 13; Mat. 24-25; Luk. 21) (Drane 2011, 48). Ada kemungkinan gagasan tentang kebangkitan orang mati berasal dari pemikiran apokaliptik ini yang kemudian diambil-alih oleh Yesus dan orang Kristen mula-mula (Mrk. 12:25; Luk. 14:14; Kis. 23:6; 24:25). Gagasan ini diambil-alih oleh umat Kristen mula-mula untuk menerangkan pengalaman yang mereka alami bersama Yesus yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup. Jadi pengalaman unik ini ditangkap dan diungkapkan oleh umat dengan memakai suatu gagasan yang sudah cukup tradisional pada masa itu. Kendati demikian, orang Kristen mula-mula tetap meyakini bahwa kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang unik yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan gagasan-gagasan apokaliptik Yahudi. Orang Yahudi memang percaya akan kebangkitan orang mati pada hari kiamat, tetapi kategori eskatologis ini tidak dapat diterapkan pada diri Yesus, sebab Ia sudah bangkit sebelum hari kiamat. Ada juga beberapa tokoh yang diyakini oleh orang Yahudi hidup terus (Henokh, Elia dll), tetapi tokoh-tokoh ini tidak bangkit dari alam maut, melainkan diangkat ke sorga sebelum menemui ajalnya. Jadi tampaknya kebangkitan Yesus harus dilihat sebagai sesuatu yang unik dan lain sama sekali. Kebangkitan Yesus dikatakan unik sebab ia merupakan karya Allah semata-mata yang tidak dapat disamakan dengan unsur-unsur alam atau dunia (Groenen 1973, 17-18,25).         

Dari pemaparan di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa gagasan kebangkitan yang dianut oleh Yesus dan umat Kristen mula-mula itu memang bersifat unik, tetapi gagasan itu lebih mendekati pandangan Yahudi dari pada pandangan Yunani. Telah diketahui secara umum bahwa dalam alam pikiran Yunani tubuh dan roh/jiwa itu dipertentangkan secara tajam. Bagi orang Yunani, roh/jiwa dianggap lebih penting dan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada  tubuh. Bagi orang Yunani tubuh dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan tidak berguna, bahkan dilihat sebagai penjara bagi roh/jiwa. Roh/jiwa dianggap penting karena memiliki sifat abadi. Sebab itu, bagi orangYunani yang harus diutamakan bukanlah tubuh yang akan binasa ini, tetapi roh/jiwa yang bersifat abadi. Donald Guthrie menyatakan bahwa pandangan Yunani mengenai keabadian jiwa ini cukup berpengaruh dalam kehidupan umat Kristen mula-mula. Ia menduga bahwa beberapa orang telah menafsirkan kebangkitan Yesus dengan cara seperti ini, yaitu dengan menggunakan cara pandang Yunani tentang keabadian jiwa. Ia mengatakan lebih lanjut:

Seandainya bukti-bukti dalam PB dapat dimengerti dengan cara ini, maka rasanya lebih mudah untuk menyesuaikan kebangkitan itu dengan akal budi manusia. Tetapi sama sekali tidak ada bukti apa pun dalam PB mengenai gagasan kekekalan jiwa, yang dibedakan dari kebangkitan tubuh, karena itu tidak mungkin menerangkan bukti mengenai kebangkitan Kristus dengan cara ini (Guthrie 1996, 429).

           Willi marxsen juga mengungkapkan hal yang sama. Ia menegaskan bahwa dalam kisah-kisah Injil mengenai kebangkitan Kristus, para penulis Injil sangat menekankan sifat ragawi/fisik dari kebangkitan Yesus. Sebab itu, dalam Injil-injil kita dapat menemukan cerita tentang kubur yang kosong, dan penampakan Yesus di hadapan para murid yang mana mereka dapat menyentuh tubuh Yesus, dan cerita mengenai Yesus yang makan bersama dengan murid-murid-Nya. Menurut Marxsen penggambaran kebangkitan Yesus yang bersifat fisik ini lebih condong pada pemikiran Yahudi (Marxsen 1979, 135).

 

II. Pandangan Para Penulis PB tentang Kebangkitan Orang Mati

A. M. Hunter telah menjelaskan sebelumnya bahwa terdapat tiga bukti untuk kebangkitan Yesus. Salah satu bukti yang diajukannya adalah keberadaan tulisan-tulisan Perjanjian Baru sebagai dokumen kebangkitan. Ia mengatakan bahwa tanpa adanya kepercayaan tentang kebangkitan Yesus, maka tidak akan pernah ada juga tulisan-tulisan Perjanjian Baru (PB). Justru karena para penulis PB sangat meyakini bahwa Yesus telah bangkit dari alam maut, maka mereka menyatakan keyakinan tersebut dalam tulisan-tulisan mereka. Dalam PB sendiri kita bisa menemukan berbagai macam tradisi Paskah mengenai kebangkitan Yesus. Menurut Theissen dan Merz, setidaknya terdapat dua macam tradisi Paskah mengenai kebangkitan Yesus dalam PB. Pertama, tradisi yang berbentuk rumusan-rumusan pengakuan awal. Tradisi ini banyak ditemukan dalam surat-surat rasuli (misalnya: Rm. 1:3-4; 10:8-9; 1Kor. 15:3-5; Flp. 2:6-11) dan dalam inti pemberitaan (kerygma) para rasul (misalnya: Kis. 2:23-24; 3:14-15; 5:30-31). Kedua, tradisi yang menceritakan kubur kosong dan penampakan-penampakan (Theissen dan Merz 1998, 482). Jansen mengatakan bahwa acuan-acuan yang secara eksplisit menunjuk pada kebangkitan Yesus ditemukan hampir dalam seluruh tulisan Perjanjian Baru, kecuali 2 Tesalonika, Titus, Filemon, 2 Petrus, 3 Yohanes, dan Yudas (Jansen 1980, 13).                                             

Rumusan-rumusan pengakuan awal mengenai kebangkitan Yesus merupakan rumusan-rumusan pendek yang sangat penting karena rumusan-rumusan ini biasanya digunakan dalam pemberitaan, pengajaran dan ibadah dari komunitas-komunitas Kristen mula-mula. Rumusan-rumusan tersebut berpusatkan pada berita kebangkitan Yesus dari alam maut. Hal ini merupakan pokok utama yang ditekankan dalam pewartaan para rasul (Kis. 2:22-26). Dalam Roma 1:2-4, misalnya, Paulus mengutip suatu tradisi kuno, yang diperkirakan diterimanya dari umat Kristen di Palestina (sebab menyebut Kristus sebagai keturunan Daud). Dalam tradisi itu hanya disebutkan tentang kebangkitan Yesus, sedangkan sengsara atau penderitaan-Nya sama sekali tidak disinggung (bdk. Rm. 10:9). Jadi sejak awal perhatian umat lebih tertuju pada kebangkitan Yesus, sedangkan sengsara-Nya belum diberikan banyak perhatian (Groenen 1973, 11-13). Sedangkan tradisi paskah yang menceritakan mengenai kubur kosong dan penampakan-penampakan hanya dapat dijumpai dalam keempat kitab Injil. Tradisi ini telah digabungkan dengan kisah-kisah penderitaan dan kematian yang dianggap sebagai peristiwa-peristiwa yang menentukan dalam kehidupan Yesus. Baik peristiwa kematian maupun kebangkitan Yesus diceritakan sebagai penggenapan rencana Allah yang bertujuan menghadirkan keselamatan bagi seluruh umat manusia.                     

Dalam mengisahkan mengenai kebangkitan Yesus, para penulis kitab Injil sangat menekankan kesatuan antara peristiwa kebangkitan itu dengan peristiwa kematian. Bagi para penulis Injil, kedua peristiwa ini begitu erat menyatu, sehingga tidak mungkin dapat dipahami secara terpisah; selain itu kedua peristiwa ini juga telah dinubuatkan sebelumnya dalam kitab-kitab PL. Guthrie mencatat bahwa nubuat-nubuat mengenai penderitaan/kematian dalam kitab-kitab Injil Sinoptik dihubungkan dengan adanya jaminan/kepastian akan terjadinya kebangkitan (Mat. 16:21=Mrk. 8:31=Luk. 9:22; Mat. 17:22-23=Mrk. 9:31; Mat. 20:19=Mrk. 10:34=Luk. 18:33). Markus menuliskan frasa “setelah tiga hari”, sedangkan Matius dan Lukas menuliskan “pada hari yang ketiga”, tetapi ketiga penulis berkata dengan jelas bahwa kebangkitan akan segera berlangsung sesudah penderitaan dan kematian (Guthrie 1996, 431).           

Peristiwa kebangkitan Yesus yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil merupakan puncak dari seluruh pelayanan Yesus di muka bumi. Dari laporan-laporan yang terdapat dalam kitab-kitab Injil kita dapat menemukan dua bentuk cerita yang berkaitan dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati, yaitu cerita kubur kosong dan penampakan-penampakan. Para ahli PB telah menyelidiki dengan kritis kedua bentuk cerita ini, dan mereka menegaskan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan antara laporan Injil yang satu dengan Injil yang lain. Raymond E. Brown menjelaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan sebab masing-masing penginjil mempunyai penekanan teologis tersendiri dalam mengisahkan kebangkitan Yesus. Jika diamati dengan seksama, maka perbedaan-perbedaan yang muncul itu justru akan membentuk suatu gambaran yang utuh/menyeluruh dan mengesankan bagi para pembaca (Brown 1995, 6).               

Menurut Theissen dan Merz, tradisi cerita Injil mengenai kubur yang kosong[4] dan penampakan-penampakan pada mulanya merupakan untaian-untaian tradisi yang berdiri sendiri, namun kemudian digabungkan pada tahap akhir dalam pembentukan tradisi (Theissen dan Merz 1998, 484). Sebagai contoh adalah Injil Markus. Meskipun penulis Injil Markus mungkin mengetahui cerita tentang penampakan-penampakan, seperti penampakan kepada Petrus dan murid yang lain di Galilea, namun Markus sendiri sebagai Injil yang tertua tidak mau memuat cerita penampakan-penampakan itu (Fuller 1980, 2). Dalam perkembangan selanjutnya cerita penampakan-penampakan itu disatukan dengan cerita tentang penemuan kubur kosong oleh para perempuan. Penggabungan ini secara khusus dilakukan oleh para penulis Injil yang lain sebab mereka tidak hanya bergantung pada satu sumber saja.                                     Siapapun yang membandingkan cerita-cerita Paskah dalam keempat injil akan menemukan adanya perbedaan-perbedaan di dalamnya. Keempat injil memang menceritakan kubur kosong dan penampakan-penampakan, namun terdapat kesaksian yang tidak sama dari setiap penginjil. Misalnya: siapa saja yang pergi ke kubur? Keempat injil menyebut Maria Magdalena, tetapi Injil-injil Sinoptik menyebut sejumlah perempuan yang lain, sementara Lukas dan Yohanes menyebut juga kehadiran para murid laki-laki. Markus dan Lukas menyebutkan bahwa tujuan kedatangan para perempuan ke kubur adalah untuk mengurapi tubuh Yesus, tetapi Matius menyebutkan bahwa kubur itu telah dimeterai dan dijaga oleh para serdadu Romawi, sementara Yohanes berkata bahwa Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus sudah mengurapi tubuh Yesus di kubur itu. Lalu di mana, kapan dan berapa kali Yesus menampakkan diri di hadapan para pengikut-Nya? Dalam Matius dan Yohanes terdapat sebuah penampakan di kubur yang dialami para perempuan atau Maria seorang diri. Matius juga menambahkan penampakan yang dialami ke-11 murid, sementara Lukas menceritakan penampakan yang lain, yaitu penampakan di jalan ke Emaus, penampakan kepada para murid yang berkumpul dan suatu petunjuk tentang penampakan kepada Petrus. Yohanes menceritakan dua penampakan kepada para murid, dan bagian epilog dari injil itu menggambarkan pertemuan lebih lanjut antara Yesus dengan para murid-Nya. Penampakan-penampakan tersebut terjadi di Galilea (dalam Markus disebutkan secara implisit, dalam Matius dan Yohanes 21 secara eksplisit); sementara dalam Lukas dan Yohanes 20 penampakan hanya terjadi di Yerusalem dan sekitarnya (Jansen 1980, 18).                                         

Perbedaan-perbedaan ini memperlihatkan bahwa setiap penulis Injil mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda dalam menceritakan kebangkitan Yesus. Walalupun perbedaan-perbedaan tidak dapat dihindari, namun semua yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil tersebut hendak menekankan dua fakta utama, yaitu: kubur Yesus ditemukan dalam keadaan kosong dan Yesus yang telah mati itu dilihat dalam keadaan hidup oleh para pengikut-Nya di waktu yang berbeda-beda. Memang fakta kubur yang kosong sebenarnya tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa mayat Yesus tidak ada di situ. Dan tanpa kubur yang kosong, penampakan-penampakan juga tidak membuktikan sesuatu yang obyektif, walau mungkin dapat memberi keterangan yang lain mengenai keadaan jiwa para murid. Tetapi gabungan kedua fakta tersebut, kalau kedua-duanya memang benar, merupakan bahan bukti kuat yang dapat mendukung pernyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh telah bangkit dan hidup (Drane 2011, 114).                                                                                                                     

Perbedaan-perbedaan dalam cerita kubur kosong dan penampakan-penampakan mengindikasikan bahwa para penulis Injil sengaja melakukan perubahan secara selektif terhadap sumber-sumber penulisan yang tersedia. Sebagai contoh adalah perbedaan dalam kisah kubur kosong antara Markus 16:1-8 dan Lukas 24:1-12. Kemungkinan besar Lukas 24:1-12 memakai Markus 16:1-8 sebagai bahan penulisannya (Fuller 1980, 95), namun ia kemudian melakukan penyuntingan, sehingga terjadilah perubahan-perubahan sebagai berikut: Pertama, nubuat seorang malaikat tentang suatu penampakan di Galilea (Mrk. 16:7) dihilangkan dan diganti dengan suatu perintah dari dua malaikat agar para perempuan mengingat kembali nubuat yang pernah diucapkan Yesus ketika masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus menderita, disalibkan dan bangkit pada hari yang ketiga. Kedua, perempuan-perempuan yang dalam Markus “tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut” (Mrk. 16:8) segera melaporkan pengalaman mereka itu kepada para murid. Ketiga, daftar nama perempuan-perempuan yang mengunjungi kubur disebutkan pada akhir Lukas 24 (yaitu pada ayat 10) dan bukan pada awal perikop Markus 16.                                           

Meskipun kitab-kitab Injil menyatakan dengan jelas bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dari kematian dan kuburnya sudah kosong, namun beberapa pihak menolak klaim yang dikatakan oleh kitab suci ini. Berbagai teori yang menyangkal kebangkitan Yesus pun bermuculan, seperti  teori yang mengatakan bahwa mayat Yesus telah dicuri oleh para murid. Atau teori yang mengatakan bahwa para perempuan telah pergi ke kubur yang salah atau Yesus tidak sungguh-sungguh mati, melainkan hanya pingsan saja, dll. Para ahli yang meyakini akan kebangkitan menyatakan bahwa  para murid tidak mungkin berani mencuri mayat Yesus, sebab para pemimpin Yahudi telah menempatkan serdadu-serdadu untuk menjaga kubur Yesus itu (Mat. 27:62-66). Bagaimana mungkin mereka memiliki keberanian seperti itu karena fakta telah menunjukan hal yang sebaliknya, yaitu bahwa pada saat penangkapan Yesus, mereka justru melarikan diri dan meninggalkan Yesus seorang diri. Mereka juga tidak mungkin pergi ke kubur yang salah, sebab jika itu yang terjadi, maka para pemimpin Yahudi tidak akan sulit untuk menunjuk lokasi kubur yang sebenarnya dan memperlihatkan mayat Yesus kepada orang banyak, dan klaim yang dibuat mengenai kebangkitan Yesus pun akan gugur dengan sendirinya.   

Penolakan terhadap kebangkitan Yesus mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa  tidak ada seorang pun yang menyaksikan secara langsung bagaimana Yesus dibangkitkan dari kematian. Memang dalam kitab-kitab Injil tidak digambarkan bagaimana caranya Yesus dibangkitkan dari kematian dan keluar dari kubur. Sebagai peristiwa yang sudah terjadi di masa lampau (past event), kebangkitan merupakan peristiwa yang tersembunyi bagi para murid. Tidak ada seorang pun yang menyaksikan bagaimana Yesus bangkit dari kematian. Bahkan dalam injil Matius sendiri, dengan semua gambaran apokaliptisnya tentang gempa bumi, malaikat yang turun dari sorga dan batu penutup kubur yang terguling, serta para penjaga yang menjadi seperti orang mati, di situ tidak ditemukan gambaran tentang kebangkitan (Mat. 28:2-4). Gambaran tentang kebangkitan itu justru ditemukan di dalam dokumen ekstra-kanonik, yaitu dalam Injil Petrus.[5]                                                                            

Jadi kebangkitan itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang tersembunyi bagi para murid. Dapat dikatakan bahwa para murid hanya mengalami peristiwa-peristiwa pasca kebangkitan, yaitu kubur kosong dan penampakan-penampakan. Walau tidak ada satu orang murid pun yang melihat bagaimana kebangkitan itu terjadi, namun mereka mengklaim bahwa mereka telah melihat Yesus hidup kembali (dalam 1 Korintus 15:5-8, misalnya, Paulus menyatakan bahwa Yesus yang bangkit itu telah menampakkan diri di hadapan orang banyak). Lalu bagaimana pengalaman mereka ini harus dijelaskan? Dalam hal ini menarik untuk menyimak apa yang dikatakan oleh Rudolf Bultmann. Bultmann  menafsirkan kebangkitan sebagai suatu tindakan Allah (wahyu) yang dinyatakan secara terbatas kepada para murid Yesus, sehingga mereka dimampukan untuk memahami makna salib Kristus melalui mata iman. Karl Barth mempunyai pandangan yang hampir sama dengan Bultmann. Ia juga melihat kebangkitan bukan sebagai suatu peristiwa sejarah, tetapi suatu wahyu (revelation) dari Allah. Melalui kebangkitan Allah menyingkapkan/menyatakan siapa Yesus di hadapan para murid, yaitu Yesus sebagai Kristus (Jansen 1980, 30-31).                                                

Menurut C. Groenen, pengalaman perjumpaan antara para murid dengan Yesus yang bangkit itu dapat ditelusuri dari penggunaan suatu istilah dalam bahasa Yunani, yaitu ωφθη (aorist pasif dari kata kerja οραω) yang dapat diterjemahkan dengan: (dahulu pernah) dilihat, diperlihatkan, disingkapkan, atau memperlihatkan diri, menjadi kelihatan bagi. Menurutnya, istilah ini dipakai oleh umat Kristen mula-mula untuk menggambarkan pengalaman perjumpaan mereka dengan Yesus yang dulu pernah mati, tetapi ternyata sekarang hidup. Jadi dengan istilah itu hendak dikatakan bahwa Kristus yang bangkit itu disingkapkan kepada sejumlah orang dengan sangat hidup, sehingga melahirkan pengakuan mereka: “Tuhan telah bangkit” (Groenen 1973, 20-21; bdk. Jansen 1980, 34). Dengan demikian kebangkitan Yesus dapat dipahami sebagai suatu tindakan penyingkapan dari Allah kepada para murid yang melahirkan pengakuan iman bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dari kematian. Injil-injil menceritakan reaksi para murid ketika mereka mengalami penyingkapan dari Allah ini. Pada mulanya para murid sangat terkejut ketika melihat penampakan Yesus yang sudah mati itu, secara tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mereka mengira bahwa yang dilihat mereka itu adalah roh atau hantu, dan bukanYesus (Luk. 24:37). Keyakinan mereka terhadap kebangkitan Yesus itu baru muncul sesudah Yesus sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada mereka. Yesus yang bangkit itu menunjukkan berbagai tanda di hadapan para murid (misalnya Ia memperlihatkan bekas lubang paku di tangan-Nya dan makan bersama dengan mereka). Kisah Para Rasul 1:3 menyebutkan bahwa selama 40 hari Yesus berulang kali menampakkan diri di hadapan para murid. Selama 40 hari itulah Ia hadir di tengah-tengah para pengikut-Nya, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan kepada mereka bahwa Ia sungguh hidup.                                                                                                       

Dalam pandangan para murid yang telah mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit, kebangkitan itu diimani sebagai suatu peralihan/perpindahan dari hidup ini masuk ke dalam kemuliaan Bapa. Maksud kebangkitan Yesus bukanlah untuk kembali ke dalam kehidupan di dunia ini, tetapi pergi keluar dari dunia historis[6] ini, sehingga tidak dapat lagi diobservasi oleh manusia. Kebangkitan yang dialami Yesus bukanlah suatu peristiwa historis yang dapat diamati atau diselidiki dengan menggunakan metode ilmu sejarah. Yang dapat diselidiki secara histotis bukanlah peristiwa kebangkitan itu, tetapi pengalaman para murid (Jacobs 1999, 248). Dari pengalaman para murid itulah kita menjadi yakin bahwa Yesus sungguh-sungguh telah bangkit dari antara orang mati. Dari penuturan para penulis Injil kita dapat menyaksikan bagaimana kehidupan para murid itu mengalami perubahan yang berarti sesudah mereka berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Keberanian dan kesungguhan mereka dalam memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus di hadapan orang banyak merupakan bukti betapa besarnya keyakinan mereka terhadap kuasa kemenangan Kristus atas maut.                                                                                                                                          Bagaimana dengan pandangan Paulus mengenai kebangkitan Yesus?  Bagi Paulus, kebangkitan (bersama dengan kematian) Yesus merupakan pusat/inti dari pemberitaan Injilnya. Walaupun Paulus menerima Injil itu secara khusus dari Tuhan Yesus (Gal. 1:11-12), namun inti Injil yang diterima Paulus itu tidaklah bertentangan dengan tradisi jemaat mula-mula. Dalam 1 Korintus 15:3-4 ia berkata: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Paulus di sini berbicara mengenai tradisi rasuli yang ia dan para rasul lain letakkan sebagai dasar bagi seluruh pengajaran mereka, dan  yang disampaikan kepada seluruh jemaat sebagai suatu pengajaran yang harus diterima dan dipelihara secara terus menerus. Tradisi yang disampaikan dan diteruskan oleh para rasul itu berpusat pada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati (Ridderbos 2013, 46).                                                                            

Pemikiran Paulus tentang kebangkitan Yesus dapat dijumpai dalam hampir seluruh tulisannya. Pemikiran itu muncul sebagai respons atas berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh jemaat-jemaat yang pernah dilayaninya. Salah satu pertanyaan yang sangat penting adalah mengenai jenis tubuh[7] yang akan dikenakan pada saat terjadinya kebangkitan di akhir zaman, dan Paulus memberikan jawabannya dalam 1 Korintus 15 dan 2 Korintus 5. Seluruh argumentasi Paulus mengenai kebangkitan Yesus itu selalu bertumpu pada keyakinannya bahwa kebangkitan itu merupakan suatu peristiwa tindakan Allah yang sudah terjadi di masa lampau. Dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat, Paulus menunjuk pada peristiwa kebangkitan Yesus sebagai suatu tindakan Allah di masa lampau; karena itu Paulus mengajak seluruh umat untuk menaruh iman dan pengharapannya pada tindakan atau karya Allah tersebut (Marxsen 1990, 86-88).                                                           

Namun demikian, kebangkitan Yesus yang terjadi di masa lampau itu memiliki dampak yang juga mencakupi masa kini dan masa depan. Ridderbos mengungkapkan bahwa melalui kebangkitan, waktu keselamatan yang dijanjikan, ciptaan baru, turun secara luar biasa, sebagai transisi yang menentukan dari dunia lama menuju dunia baru (2Kor. 5:17). Kitab Suci seringkali menyebut Kristus yang bangkit sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Kor. 15:20; bdk. Rm. 8:29; Kol. 1:18). Hal ini bermakna bahwa Kristus yang telah bangkit adalah pendahulu yang kini membuka jalan bagi umat manusia dan mengaitkan masa depan umat manusia dengan masa depan-Nya. Dalam Dia, kebangkitan orang mati telah terjadi, dan kebangkitan-Nya mewakili permulaan dunia baru milik Allah. Jadi melalui peristiwa kebangkitan Kristus, Allah menghadirkan pengharapan bagi orang percaya yang terarah ke masa depan. Selain 1 Korintus 15 yang biasa disebut sebagai pasal kebangkitan, nas-nas lain juga menghadirkan kebangkitan orang percaya sebagai peristiwa penebusan masa depan yang agung. Hal ini diungkapkan secara jelas dalam realitas kebangkitan Kristus, pusat proklamasi Paulus (Rm. 8:11; 1Kor. 6:14; 2Kor. 4:14). Umat Kristus telah tercakup dalam kebangkitan-Nya, dan baptisan adalah penyatuan sakramental ke dalam peristiwa penebusan ini (Rm. 6:4 dst; Kol. 2:12; 3:1). Pembaruan aktual dari hidup mereka adalah keserupaan dengan kebangkitan Kristus (Rm. 6:5); dalam hidup mereka, kebangkitan Kristus sesungguhnya telah bekerja (Rm. 6:8; 2Kor. 4:10 dst), dan akan terus bekerja dengan makin berlimpah hingga parousia Kristus (2Kor. 3:18) (Ridderbos 2013, 47-48, 568).                                                                                                                                      

Dalam keyakinan Kristen,  porousia Kristus itu dilihat sebagai saat terjadinya transformasi menyeluruh atas seluruh ciptaan, termasuk di dalamnya eksistensi manusia. Dalam 1 Korintus 15 Paulus memperlihatkan secara gamblang gambaran transformasi yang dimaksud. Di situ diperlihatkan secara jelas perbedaan antara tubuh manusia sekarang ini dengan tubuh rohaniah (soma pneumatikon) di masa depan. Tubuh rohaniah itu akan dikenakan manusia melalui peristiwa kebangkitan yang akan terjadi di akhir zaman. Eksistensi tubuh rohaniah yang disampaikan Paulus ini sangat berbeda dengan eksistensi tubuh kita yang sekarang. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “...daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.” (1Kor. 15:50)[8]. Jadi tubuh rohaniah di masa depan itu merupakan sesuatu yang amat berbeda, tidak alamiah, ia merupakan sesuatu yang melampaui ciptaan sekarang, dan ia akan menjadi bagian dari suatu ciptaan baru dengan kemungkinan-kemungkinan yang baru (Lampe 2002, 106).


Kesimpulan

Munculnya pendapat yang mengatakan bahwa tulang-tulang “Yesus” dari Nazaret dan makam keluarga-Nya telah ditemukan di Talpiot mau tidak mau telah memancing perdebatan di kalangan para ahli dan orang-orang Kristen. Banyak ahli yang sudah berusaha untuk membuktikkan bahwa pendapat tersebut tidaklah benar dan mengandung banyak kelemahan. Beberapa point yang disangkal adalah sbb:                                                                           

Osuari dengan inskripsi “Mariamne” bukanlah osuari Maria Magdalena. Salah seorang yang menolak pendapat ini adalah Stephen Pfann. Pfann adalah seorang epigrafer dari University of the Holy Land.  Dari hasil kajiannya ia menyimpulkan bahwa makan Talpiot merupakan makam keluarga Yahudi pada umumnya. Pfann berpendapat bahwa telah terjadi kesalahan pembacaan terhadap inskripsi “Mariamne.” Inskripsi itu seharusnya dibaca “Mariamne kai Mara” (Maria dan Marta). Dari hasil pembacaan itu disimpulkan bahwa dalam osuari itu tersimpan tulang-tulang dari dua orang yang berbeda, yaitu Maria dan Marta, dan bukan hanya dari satu orang saja, yang selama ini diperkirakan sebagai Maria magdalena oleh Jacobovici dan Pellegrino rekan-rekannya. Ia menambahkan bahwa oleh karena satu osuari biasanya dipakai untuk beberapa orang, maka ada kemungkinan osuari ini telah dipakai oleh lebih dari dua orang. Jumlah nama pada suatu osuari tidak harus sama/identik dengan jumlah orang yang pernah dimakamkan di dalam osuari tersebut (Sutama 2012, 203-204).                                                        Pfann juga berpendapat bahwa osuari Yesus, anak Yusuf  tidak ada hubungannya dengan tokoh Yesus dari Nazaret. Ia sangat yakin akan hal itu karena inskripsi “Yesus” yang ada pada osuari itu sebenarnya sangat sulit untuk dibaca. Tulisan “Yesus” yang terdapat pada osuari itu sebenarnya merupakan hasil interpretasi yang belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Para ahli juga telah menemukan fakta bahwa makam-makam keluarga Yahudi di sekitar abad pertama itu adalah makam dari “keluarga besar” (extended family) yang berasal dari beberapa generasi. Dengan demikian, orang-orang yang dimakamkan bersama di dalam makam keluarga itu bukan hanya anggota keluarga terdekat (“keluarga inti”) dari satu atau dua generasi. Hal ini telah membuka kemungkinan yang lain bahwa makam Talpiot bisa jadi merupakan makam keluarga besar dari beberapa generasi (Sutama 2012, 207-209).                   

Kritik lain yang juga diajukan adalah menyangkut frekuensi penggunaan nama-nama yang terdapat pada osuari-osuari makam Talpiot. Amos Kloner yang ikut melakukan penggalian makam Talpiot pada 1980 telah menegaskan bahwa nama-nama di makam itu adalah nama-nama yang lazim digunakan orang Yahudi pada abad pertama Masehi. Pendapat yang sama juga ditegaskan oleh sejumlah pakar lainnya seperti David Mevorah, Joe Zilas, Tal Ilan, Frank More Cross dan Jodi Magness. Mereka dengan tegas menolak kesimpulan bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret. Berkaitan dengan penggunaan nama-nama, ada fakta lain yang menyebutkan bahwa umumnya pada masa itu makam Yahudi dibedakan menjadi dua, yaitu makam orang Yudea dan orang non-Yudea. Pada makam Yudea, nama di osuari ditulis berdasarkan rujukan ke pihak ayah. Namun pada makam orang non-Yudea, nama di osuari ditulis berdasarkan rujukan ke tempat asalnya (di luar Yudea). Jadi apabila makam Talpiot merupakan makam keluarga Yesus, maka inskripsi di osuari-osuari itu seharusnya tertulis “Yesus dari Nazaret”, atau “Maria dari Magdala”, dan seterusnya. Dalam kenyataannya, inskripsi yang terdapat pada osuari di Talpiot tidak tertulis demikian (Sutama 2012, 210).                        

Mengenai hasil uji forensik DNA yang menyimpulkan bahwa Yesus dan Mariamne (Maria Magdalena) adalah sepasang suami istri, Bock dan Wallace mempertanyakan mengapa uji DNA itu hanya diterapkan pada osuari Yesus dan Mariamne saja. Mengapa tidak dilakukan uji juga bagi Yudas anak Yesus untuk melihat apakah ada hubungan darah atau tidak? Bagaimana jika Mariamne dengan laki-laki lain dalam makam itu juga tidak memiliki hubungan darah? Apakah ini juga dapat dijadikan bukti bahwa dia menikah dengan mereka? Seorang ahli forensik pernah berkata bahwa “DNA tidak dapat membuktikkan siapa pun adalah suami istri.” Mengenai osuari Yakobus[9] yang dianggap sebagai osuari ke-10 dari makam Talpiot yang telah hilang, Amos Kloner telah menyatakan bahwa osuari ke-10 itu sesungguhnya tidak pernah hilang. Ia bahkan menambahkan bahwa osuari ke-10 itu polos dan tidak ada pahatan nama serta memiliki ukuran yang berbeda sama sekali dari osuari Yakobus (Bock dan Wallace 2009, 248-251; bdk. Sutama 2012, 218-219, 225).                            

Dari berbagai pendapat para ahli di atas kami dapat menarik kesimpulan bahwa klaim yang dibuat oleh Jacobovici dan Pellegrino mengenai makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Menurut kami, penjelasan yang diberikan oleh Sutama, Bock dan Wallace juga cukup memadai untuk membuktikkan bahwa makam Talpiot bukanlah makam keluarga Yesus dari Nazaret. Kami sependapat dengan mereka bahwa nama-nama yang terdapat di osuari-osuari tersebut adalah nama-nama yang lazim digunakan pada zaman Yesus. Penggunaa nama-nama dan hasil uji DNA banyak mengandung kelemahan, sehingga kedua hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk membuktikkan bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazaret.                                                                        Dari sudut pandang orang Kristen pada umumnya buku ini dapat dianggap sebagai sebuah bentuk serangan terhadap inti iman seluruh orang Kristen yang meyakini bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. Di satu sisi, Jacobovici dan Pellegrino memang tidak bermaksud untuk menolak konsep kebangkitan Yesus secara rohani, karena  yang ditolak mereka sebenarnya adalah konsep kebangkitan tubuh/fisik. Namun di sisi yang lain, bagi sebagian besar orang Kristen kebangkitan Yesus tidak dapat dipahami selain dalam pengertian sebagai kebangkitan tubuh. Yang menjadi persoalannya adalah sampai sejauh mana pengertian kebangkitan tubuh itu dipahami oleh orang Kristen selama ini. Jika ditilik dari kesaksian Alkitab kita dapat menemukan pengertian bahwa kebangkitan tubuh itu tidak berkaitan sama sekali dengan eksistensi tubuh manusia di dunia ini. Tubuh manusia yang sekarang ini akan binasa melalui peristiwa kematian yang terjadi secara alamiah. Alkitab juga memberi kesaksian bahwa ketika Yesus dibangkitkan Allah dari kematian, Ia bangkit dengan mengenakan tubuh yang baru, yaitu tubuh kemuliaan. Tubuh itu tidak dapat lagi ditaklukkan oleh kematian (Rm. 6:9). Kalau ini yang sungguh-sungguh dipahami sebagai makna kebangkitan  oleh orang Kristen, maka isu makam Talpiot sebagai makam Yesus dari Nazaret tidak perlu dilihat lagi sebagai hal yang dapat mengancam fondasi iman orang percaya. Memang benar bahwa di satu sisi tubuh kebangkitan Yesus sudah tidak ada hubungannya lagi dengan tubuh fisikal fana yang dimiliki-Nya sebelum kebangkitan (Rakhmat 2007, 11), namun tubuh kebangkitan Yesus itu bukanlah tubuh yang asing yang tidak dapat dikenali lagi oleh para murid. Kalaupun Yesus harus meninggalkan “tubuh yang lama” itu di dalam kubur, tubuh yang baru itu pasti tetap memiliki keterkaitan dengan tubuh yang lama. Hal ini dapat diterangkan dari dunia tumbuh-tumbuhan. Misalnya: dalam hakikat sebuah pohon mangga yang tumbuh/berasal dari sebuah biji mangga pastilah masih tersimpan hakikat dari biji mangga itu meskipun secara lahiriah bentuk keduanya (maksudnya pohon dan biji magga itu) tidak lagi dapat disamakan.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Bock, Darrell L, dan Daniel B. Wallace. Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya: Upaya Mutakhir untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja mengenai Yesus Kristus. Terj. Helda Siahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Brown, Raymond E. Kristus yang Bangkit pada Masa Paskah. Ulasan tentang Kisah-kisah Injil mengenai Kebangkitan. Terj. Herman Hambut dan Martin Harun. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

de Jonge, H. J. “Terjadinya dan Berkembangnya Kepercayaan pada Kebangkitan Yesus.” Dalam Ternyata Ia Sudah Bangkit, peny. F. O. van Gennep, R. Zuurmond dkk, 29-52. Terj. Suparto Purbojuwono. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Pengantar Historis Kritis. Terj. P.G. Katoppo. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.

Fuller, Reginald H. The Formation of The Resurrection Narratives. Philadelhia: Fortress Press, 1980.

Groenen, C. Kebangkitan. Ulasan-ulasan mengenai Pembangkitan Yesus Kristus dari Alam Maut serta Maknanya bagi Umat Manusia Seluruhnya. Ende: Nusa Indah, 1973.

Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 1. Allah, Manusia, Kristus. Terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Handoko, Yakub Tri, “Kontroversi Seputar Penemuan Tulang-tulang di Talpiot.” Ceramah untuk Kelas Intensif Pemuda, GKI Sulung, 14 dan 21 Juli 2007.

Hunter, A. M. Introducing New Testament Theology. London: SCM, 1957.

Jacobovici, Simcha dan Charles Pellegrino. The Jesus Family Tomb: the Discovery, the Investigation, and the Evidence that Could Change History. San Fransisco: Harper, 2007.

Jacobs, Tom. Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Jansen, John Frederick. The Resurrection of Jesus Christ in New Testament Theology. Philadelphia: The Westminster Press, 1980.

Lampe, Peter. “Paul’s Concept of a Spiritual Body.” Dalam Resurrection. Theological and Scientific Assessments, peny. Ted Peters, Robert John Russell, Michael Welker, 103-114. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2002.         

Madigan, Kevin J, dan Jon D. Levenson. Resurrection. The Power of God for Christians and Jews. New Haven: Yale University Press, 2008.

Marxsen, Willi. The Resurrection of Jesus of Nazareth. Philadelphia: Fortress Press, 1979.

Marxsen, Willi. Jesus and Easter. Did God Raise the Historical Jesus from the Dead? Nashville, Tennessee: Abingdon Press, 1990.

Rakhmat, Ioanes. Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga. Tangerang: Sirao Credentia Center, 2007.

Ridderbos, Herman. Paulus: Pemikiran Utama Theologinya. Terj. Hendry Ongkowidjojo. Surabaya: Penerbit Momentum, 2013.

Setzer, Claudia. The Resurrection of The Body in Early Judaism and Early Christianity. Doctrine, Community, and Self-Definition. Boston: Brill Academic Publishers, 2004.

Sutama, Adji A. Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.

Theissen, Gerd, dan Annette Merz. The Historical Jesus: A Comprehensive Guide. London:SCM, 1998.

 

 

 

 

 

 

 

 

           

                       

                                   

 



[1]Selain menerbitkan buku ini, Simcha Jacobovici juga terlibat sebagai sutradara dalam pembuatan film dokumenter mengenai penemuan makam Talpiot ini. Film yang dimaksud berjudul The Lost Tomb of Jesus. Film ini ditayangkan oleh Discovery Channel pada 4 Maret 2007. Yang bertindak sebagai produser pelaksananya adalah James Cameron, seorang produser film-film Hollywood yang terkenal. Film-filmnya yang terkenal, di antaranya Titanic dan The Terminator. Lihat  Wikipedia, “Makam Talpiot,” http://www.id.wikipedia.org/wiki/Makam_Talpiot (diakses 19 Mei 2014).

[2]Mengenai latar belakang penolakan kelompok Saduki ini, Willi Marxsen menyatakannya sbb: The Sadducees denied it (Acts 23:8); and they denied it for interesting reasons.  They represented a consistent orthodoxy. The doctrine of the resurrection of the dead was not a genuine Jewish teaching found in the Old Testament; it had penetrated Judaism through outside influence. Lihat Willi Marxsen, The Resurrection of Jesus of Nazareth (Philadelphia: Fortress Press, 1979), 134.

 

[3]Beberapa ahli menduga kelompok Eseni dari Qumran masih berpegang pada pandangan mengenai syeol ini yang dilihat sebagai pandangan Yahudi kuno mengenai keberadaan sesudah mati. Lihat Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1  terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996),  429. Jika kelompok Farisi menerima kebangkitan, dan kelompok Saduki justru menolaknya, lalu bagaimana dengan kelompok Zelot? Apakah mereka juga menerima kepercayaan mengenai kebangkitan? John Drane mencatat bahwa kelompok ini termasuk ke dalam golongan garis keras yang sering terlibat dalam tindakan langsung melawan pihak penjajah Roma. Kepercayaan mereka nampaknya mirip dengan kepercayaan Farisi. Lihat John Drane, Memahami Perjanjian Baru terj. P. G. Katoppo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 44. Menurut pendapat kami: karena kepercayaan agama kelompok Zelot ini mirip dengan kelompok Farisi, maka mungkin saja mereka juga menerima kepercayaan tentang kebangkitan orang mati. Keberanian mereka yang tidak kenal takut mati  dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Yahudi memberi petunjuk ke arah itu.

[4]Diperkirakan tradisi kubur kosong ini berakar dari ibadah yang dilakukan di sekitar sebuah kubur kosong dekat Yerusalem, yang diduga sebagai kubur Yesus. Tradisi asli ini kemudian dipungut oleh keempat Injil dan disadur seperlunya supaya sesuai dengan pandangan teologis masing-masing penginjil. Cerita yang paling dekat dengan tradisi asli ini adalah Markus 16:1-8 yang menjadi dasar untuk Matius dan Lukas, sedangkan Yohanes mungkin mempunyai dasar yang lain. Lihat C. Groenen,  Kebangkitan. Ulasan-ulasan mengenai Pembangkitan Yesus Kristus dari Alam Maut serta Maknanya bagi Umat Manusia Seluruhnya ( Ende: Nusa Indah, 1973), 37.

[5]Dalam Injil Petrus kebangkitan Yesus dilukiskan sbb: “Terdengar suara yang keras dari sorga,dan para penjaga melihat langit terbuka dan dua orang malaikat turun dari sorga, dengan pakaian yang berkilau-kilauan, datang ke kubur Yesus. Dan batu penutup itu dengan sendirinya terguling dari depan pintunya. Setelah kedua malaikat itu masuk, maka penjaga-penjaga itu membangunkan opsir dari tidurnya, begitu juga pemimpin-pemimpin Yahudi yang ikut menjaga kubur itu. Kemudian mereka sekalian melihat tiga orang lelaki keluar dari kubur itu. Yang Seorang dipapah oleh kedua orang lainnya, dan sebuah salib mengikuti mereka. Kepala kedua orang yang memapah itu mencapai langit, tetapi kepala yang Seorang itu melewati segala langit.” Lihat  C. Groenen, Kebangkitan. Ulasan-ulasan mengenai Pembangkitan Yesus Kristus dari Alam Maut serta Maknanya bagi Umat Manusia Seluruhnya (Ende: Nusa Indah, 1973), 19. Bdk. John Frederick Jansen, The Resurrection of Jesus Christ in New Testament Theology (Philadelphia: The Westminster Press, 1980), 29, 158; G.C. van Niftrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masakini (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967), 210-211. Tanggapan kami: kisah kebangkitan Yesus dalam Injil Petrus ini terdengar aneh dan fantastis. Sulit membayangkan bagaimana kepala malaikat dan Yesus bisa melebar sampai ke atas. Oleh sebab itu wajar jika gereja menolak Injil ini karena sifatnya yang berlebih-lebihan dalam melukiskan Yesus yang bangkit dari kubur.

[6]Kebangkitan Yesus tidak dapat disamakan begitu saja dengan kebangkitan yang lain, seperti kebangkitan pemuda dari Nain (Luk. 7:11-17) atau Lazarus (Yoh. 11:1-44). Kedua orang itu memang telah dibangkitkan oleh Yesus, tetapi suatu saat mereka akan meninggal kembali. Hal ini tidak berlaku bagi Yesus, sebab tujuan kebangkitan-Nya bukan lagi untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini, melainkan untuk memasuki kehidupan yang kekal (memasuki kemuliaan sorgawi). Rasul Paulus menegaskan hal tersebut dalam Roma 6:9 : “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.”                                                           

[7]Kita dapat menemukan pandangan Paulus yang komprehensif mengenai jenis tubuh kebangkitan itu dalam perikop 1 Korintus 15:35-38. Di dalam perikop itu ia mengangkat metafora mengenai tumbuh-tumbuhan sebagai analogi ketika ia menguraikan apa dan bagaimana jenis tubuh kebangkitan itu . Ia berbicara mengenai biji yang ditanam/ditabur. Biji itu harus mati terlebih dahulu (ay. 36), supaya darinya keluar tubuh tumbuhan yang baru, yang secara fisikal berbeda dari biji. Meskipun secara fisikal tumbuhan yang baru itu berbeda dari biji tetapi, menurut Ioanes Rakhmat, tumbuhan itu tetap memperlihatkan kesinambungan dengan biji tersebut (ia mengatakan bahwa tidak mungkin dari biji mangga akan tumbuh pohon zaitun dst) . Menurutnya, kesinambungan itu tidak akan mungkin ditemukan pada yang fisikal tetapi yang non fisikal. Karena adanya kesinambungan inilah maka kita dapat memahami mengapa Yesus yang sudah bangkit itu masih dapat dikenali oleh para murid-Nya.  Meskipun tubuh kebangkitan Yesus itu memang berbeda secara radikal dari tubuh fisikal yang dimiliki sebelum kematian-Nya, tetapi sisi kepribadian (personalitas) Yesus tidak mengalami perubahan (Rakhmat 2007, 8-10).                                                                                                             

[8]Menarik untuk diperhatikan pendapat de Jong mengenai keberadaan tubuh manusia yang akan binasa/mati ini. Ia mengatakan sbb: dihubungkan dengan gambaran tentang martir Yahudi orang Kristen mula-mula menganggap bahwa tubuh alamiah Yesus telah dikubur dan lebur dalam kubur, tetapi bahwa Ia dengan tubuh yang diperbaharui, dimuliakan segera setelah mati dan telah bangkit ke sorga. Bahwa kebangkitan langsung menyusul kematian, adalah gagasan yang masih tersimpan dengan baik dalam ucapan-ucapan di kayu salib: “Hari ini engkau akan bersama Aku di Firdaus.” (Luk. 23:43). Pada zaman Paulus terdapat gagasan-gagasan yang cukup umum tentang kebangkitan orang mati. Kemungkinan Paulus sangat dipengaruhi oleh gagasan mengenai kebangkitan para martir Yahudi ini. Menurut 2 Makabe 7, sisa-sisa alami dari para martir tetap tinggal dalam tanah, tetapi di dalam sorga mereka mendapat tubuh baru dengan lengan dan kaki baru, lidah, tangan dan rambut yang baru (7:11; 15:2). Lihat H. J. de Jonge “Terjadinya dan Berkembangnya Kepercayaan pada Kebangkitan Yesus,” dalam Ternyata Ia Sudah Bangkit, peny. F. O. van Gennep, R. Zuurmond dkk, 29-52. Terj. Suparto Purbojuwono (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 39. Kami setuju dengan pendapat ini sebab baik dalam Injil-injil maupun tulisan Paulus digambarkan bahwa Yesus bangkit dengan tubuh yang baru. Kalaupun tubuh yang lama itu tertinggal di dalam kubur, maka tubuh itu akan segera hancur.

[9]Sang pemilik osuari Yakobus, yaitu Oded Golan berkali-kali menegaskan bahwa ia sudah memiliki osuari itu sebelum tahun 1978. Kesaksian Golan ini dengan sendirinya mampu menggugurkan pendapat yang mengatakan bahwa osuari Yakobus adalah salah satu osuari dari makam Talpiot yang telah hilang. Osuari Yakobus tidak mungkin berasal dari makam Talpiot sebab makam itu baru ditemukan pada tahun 1980. Lihat Yakub Tri Handoko, “Kontroversi Seputar Penemuan Tulang-tulang di Talpiot” (ceramah untuk Kelas Intensif Pemuda, GKI Sulung, 14 dan 21 Juli 2007), 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penemuan Tulang-tulang “Yesus” dan Kepercayaan Kristen tentang Kebangkitan Orang Mati

    Penemuan Tulang-t ulang “ Yesus ” dan Kepercayaan Kristen tentang Kebangkitan Orang Mati     Oleh:  Rommi Matheos   Pendahul...