Senin, 11 Februari 2019

Catatan khotbah minggu/10 Feb 2019


Keluaran 33:1-6
(Disampaikan dalam ibadah minggu di GKPS Jemaat Peniel  P.Siantar)

Sesuai dengan namanya, maka kitab Keluaran ini adalah kitab yang menceritakan keluarnya (eksodusnya) bangsa Israel dari tempat perbudakan di tanah Mesir. Dan berapa lamakah mereka hidup sebagai budak di tanah Mesir? Menurut catatan dari kitab ini, khususnya Keluaran 12:40, mereka tinggal di tanah Mesir dan diperbudak oleh bangsa Mesir selama 430 tahun (bnd. Kej. 15:13).
Dan bangsa Israel itu berhasil keluar (bebas dari perbudakan) setelah Tuhan menghukum bangsa Mesir dengan berbagai tulah. Dan tulah terakhir yang memaksa Firaun untuk membiarkan bangsa itu pergi adalah tulah kematian anak sulung. Tanpa pertolongan Tuhan yang membebaskan, mereka jelas tidak mungkin dapat keluar dari tanah perbudakan itu. Tindakan Allah yang membebaskan itu bermakna bahwa Ia adalah Allah yang Maha kuasa. Ia berkuasa atas bangsa-bangsa di dunia ini, dan Ia telah memilih bangsa Israel sebagai umat kesayangan-Nya.
Setelah mereka berhasil keluar dari tanah Mesir, maka Tuhan terus menuntun umat-Nya itu dengan tiang awan dan tiang api menuju tanah perjanjian. Namun ketika berhadapan dengan berbagai kesukaran/kesulitan di sepanjang perjalanan, mereka mulai bersungut-sungut kepada Tuhan. Sekalipun demikian Tuhan tetap mengasihi mereka, dan mencukupkan segala kebutuhan hidup mereka, baik itu kebutuhan makan, minum maupun perlindungan dari musuh-musuh mereka.
Walaupun bangsa Israel harus menghadapi berbagai kesulitan di sepanjang perjalanan mereka, Tuhan menghendaki agar mereka tetap fokus pada tujuan mereka, yakni melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian. Itu sebabnya Tuhan berfirman kepada Musa di ayat 1: “Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kau pimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu.”
Tuhan telah berjanji akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, dan janji itu pasti akan tergenapi, namun Tuhan juga meminta agar mereka jangan takut. Yang harus mereka lakukan adalah terus berjalan dan melangkah, sebab Tuhan berjanji bahwa Ia akan senantiasa menyertai umat-Nya. Apa bukti bahwa Ia menyertai mereka? Malaikat-Nya akan diutus untuk berjalan di depan mereka, sehingga segala halangan/rintangan tidak akan mampu menghambat perjalanan mereka. Segala bangsa yang akan menghalangi perjalanan mereka akan dihalau oleh Tuhan (ay. 2).
Tuhan telah menunjukkan kasih dan kebaikan-Nya kepada umat Israel, lalu bagaimana dengan sikap mereka? Mereka seharusnya taat kepada Tuhan dan mendengarkan segala firman-Nya. Memang disebutkan dalam perikop ini bahwa mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk (keras kepala) sehingga Tuhan murka terhadap mereka, bahkan karena begitu kecewanya Tuhan sehingga dikatakan Ia tidak lagi mau berjalan di tengah-tengah mereka, tetapi apakah untuk selamanya mereka harus terus-menerus menjadi orang yang tidak setia kepada Tuhan? Tentunya tidak!
Tuhan menyelamatkan mereka dan memanggil mereka agar menjadi umat-Nya yang setia dan taat. Mereka harus menjadi umat yang kudus sebab Tuhan Allah yang memanggil mereka adalah Tuhan yang kudus. Dalam 1 Petrus  1:14-16 firman Tuhan berkata: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Jadi ketaatan sebagai umat yang kudus, itulah yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya. Ketaatan itu bukan hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikkan dalam sikap hidup sehari-hari. Ketaatan itu juga diperlihatkan oleh bangsa Israel ketika Tuhan menyuruh mereka untuk menanggalkan perhiasan mereka (ay. 5c-6). Mengapa Tuhan menyuruh mereka menanggalkan perhiasan mereka? Sebab mereka telah memakai perhiasan itu untuk mendirikan berhala patung lembu emas (Kel. 32:3-4). Berkat yang ada pada mereka bukan digunakan untuk memuliakan Tuhan, tetapi dipakai untuk berbuat dosa sehingga membangkitkan murka Tuhan.
Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menjadi umat-Nya yang taat dan setia, dengan bersedia mendengarkan dan melakukan segala perintah-Nya. Ketika Tuhan sudah memberkati kehidupan kita, ingatlah selalu akan kebaikan-Nya. Ingatlah selalu untuk mengucap syukur kepada-Nya. Semua berkat yang kita terima dan nikmati adalah pemberian-Nya, bukan kita peroleh oleh karena kekuatan kita (bnd. Ul. 8:17-18). Karena itu, mari kita gunakan segala berkat yang ada pada kita untuk mempermuliakan nama-Nya, dan bukan digunakan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Untuk tetap taat kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah, untuk mengikuti Tuhan bukanlah perkara yang gampang, namun ketika kita menghadapi berbagai tantangan ingatlah Tuhan selalu ada untuk kita, Ia tidak akan tinggal diam. Dia akan menyertai dan menolong kita. Musa juga menyadari akan hal itu, sehingga ia berkata di ayat 15: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Ini mau menunjukkan bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa (kita lemah dan tidak berdaya). Hanya Tuhan sebagai sumber kekuatan, sumber anugerah, yang dapat menolong kita di sepanjang perjalanan kita menuju masa depan yang cerah.











Sabtu, 08 Desember 2018

Catatan Khotbah untuk Ibadah Minggu Advent II (9-12-2018)


Matius 24: 3-14
“Bertahan Sampai Pada Kesudahannya”


Saat ini kita telah memasuki minggu Advent ke-2 dan minggu Advent dirayakan oleh umat Kristen selama 4 minggu sebelum hari Natal. Arti Advent sendiri adalah kedatangan (Latin: adventus; Yun: parousia). Jadi minggu Advent adalah masa persiapan atau penantian akan kedatangan Yesus kembali. Gereja merayakannya untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali, sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab, khususnya dari pembacaan hari ini.
Para murid dalam bacaan ini bertanya kepada Yesus tentang tanda-tanda kedatangan-Nya kembali. “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ay. 3). Pertanyaan para murid ini tidak terlepas dari keyakinan umum yang ada di kalangan orang Yahudi pada masa itu, yang meyakini bahwa Mesias akan datang untuk membawa zaman keemasan atau zaman yang penuh kemuliaan bagi mereka, tetapi zaman itu akan didahului oleh masa yang penuh dengan kesengsaraan. Akan ada peralihan/transisi dari zaman ini ke zaman yang akan datang itu, namun peralihan ini berlangsung bukan tanpa goncangan.
Karena itu, menjelang kedatangan Yesus kembali (yang diyakini sebagai Sang Mesias oleh umat Kristen) akan terjadi banyak goncangan (seperti yang dikatakan dalam perikop ini): akan terjadi peperangan atau konflik antar bangsa, bencana alam/gempa bumi, kelaparan, penyesatan dll. Lalu bagaimana sikap orang Kristen dalam menghadapi keadaan seperti ini? Orang Kristen tidak perlu takut dan gelisah. Dalam perikop ini Yesus berkata: “...jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi” ( ay. 6). Kata “harus” (Yun: dei) bermakna bahwa semua peristiwa itu memang harus terjadi sesuai dengan rencana Allah, namun kemenangan akhir ada di tangan Allah.
Memang menjelang kedatangan Yesus ada banyak hal/peristiwa yang akan terjadi dan dialami juga oleh orang Kristen, di antaranya mereka akan dianiaya dan disiksa oleh karena nama Yesus. “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku” (ay. 9). Sama seperti Yesus yang “diserahkan” untuk disiksa dan mati di kayu salib, maka hal tersebut juga akan terjadi pada diri orang Kristen. Mereka akan mengalami penderitaan atau kesengsaraan seperti yang pernah dialami oleh Yesus.
Ketika diperhadapkan dengan penderitaan dan siksaan tersebut, perikop bacaan ini mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang akan murtad. Ayat 10 berkata: “... dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.” Ini menggambarkan bahwa menjadi orang Kristen itu tidak mudah, ikut Yesus itu tidak gampang. Karena itu, dalam keadaan apapun, kita dipanggil untuk siap menderita dan setia dalam memikul salib.
Mengapa banyak yang murtad? Karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan. Memang banyak yang ingin ikut Tuhan, tetapi mereka ikut Tuhan dengan motivasi yang tidak benar (ikut Tuhan dengan harapan ingin mendapat kesenangan/hidup enak saja, tetapi bagaimana jika harus menghadapi kesulitan, penderitaan dan tantangan? Akankah kita tetap setia atau justru menjadi kecewa, lalu mundur dari panggilan hidup sebagai orang Kristen?). Padahal semua penderitaan yang mesti kita alami itu merupakan kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan sesungguhnya ingin menguji/melatih iman kita dan mendewasakan kita melalui berbagai penderitaan yang kita alami (1Pet. 1: 6-7). Ingatlah akan kisah Ayub dalam Perjanjian Lama yang menderita sebagai orang benar. Walaupun ia menderita, ia tetap bertekun dalam imannya. Jadi meskipun kita harus menderita sebagai orang Kristen, kita diingatkan untuk tetap setia dan bertahan (Yun: hupomonein; artinya: bertekun di tengah cobaan, tabah) sampai pada kesudahannya, sebab barangsiapa yang bertahan sampai pada kesudahannya (Yun: eis telos) akan selamat (ay. 13).
Hidup sebagai orang Kristen bukanlah hidup yang mudah. Kita akan menghadapi tantangan iman yang berasal dari dunia ini (akan ada penyesatan, nabi-nabi palsu, kedurhakaan, bahkan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin), tetapi Yesus berpesan agar kita jangan takut, gelisah dan bimbang. Kemenangan akhir ada di tangan Allah, dan orang-orang yang setia kepada-Nya tidak akan pernah dikecewakan. Yang harus kita lakukan adalah tetap setia melaksanakan tugas panggilan kita, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah sebagai suatu kesaksian bagi segala bangsa (ay. 14). Injil itu kita beritakan dan nyatakan melalui sikap hidup yang tabah dan setia di tengah-tengah berbagai tantangan/penderitaan yang harus kita hadapi.
Seseorang pernah berkata: “Hidup ini memang BERAT”, tapi bila ditambahkan huruf “K” di tengah kata “BERAT” itu, akan menjadi “BERKAT”.  “K” itu adalah KRISTUS...hidup seberat apapun, bila selalu ada KRISTUS di tengahnya, maka akan menjadi “BERKAT”. Karena itu, jalanilah hidup dengan selalu mengandalkan KRISTUS, bukan yang lain.


Sabtu, 20 Oktober 2018


Pengaruh Agama Babel Kuno terhadap Kepercayaan Yahudi

Orang-orang Yahudi telah mendapat banyak pengaruh dari  filsafat timur ketika mereka berada di Babel, dan sudut pandang teologi mereka telah mengalami banyak perubahan besar karena integrasi kebudayaan ini. Kita menemukan mitologi dalam kitab Pengkhotbah (12:2-6), Amsal, dan beberapa nabi sesudahnya, suatu filsafat yang tadinya tidak diketahui orang Yahudi sebelum penawanan di Babel, yang berasal dari berbagai bangsa di belahan bumi timur. Dari filsafat timur itu mereka menyerap banyak ide, misalnya ide tentang Tuhan yang digambarkan sebagai sosok terang dan setan yang digambarkan sebagai sosok kegelapan, ide tentang neraka dan firdaus (sorga) yang memiliki banyak tingkatan. Orang-orang Yahudi menerima ide-ide asing ini tidak hanya dari kebudayaan Babel, namun juga dari kebudayaan Yunani. Selama kekuasaan Yunani di Mesir orang-orang Yahudi bergaul erat dengan orang-orang kafir, khususnya di Aleksandria, dan menambahkan mitologi Mesir-Yunani ke dalam sistem kepercayaan mereka. Percampuran berbagai filsafat asing ke dalam kepercayaan orang Yahudi memunculkan perbedaan aliran keagamaan di kemudian hari. Sebab itu pada masa Yesus aliran keagamaan sudah terbagi ke dalam beberapa sekte, yaitu: Farisi, Saduki, dan Eseni.[1]                        
Dalam pembuangan di Babel orang Yahudi mendengar berbagai ide keagamaan, dan mereka banyak menyerap ide-ide tersebut. Loraine Boettner menyatakan bahwa agama Babel dan Asiria kuno mengandung banyak himne, seperti mazmur-mazmur. Beberapa himne ini merupakan epik keagamaan, seperti cerita tentang Ishtar yang turun ke dunia orang mati (Hades), dan epik Gilgames, yang memperlihatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda di dunia bawah/neraka. Dari epik-epik ini terungkap adanya keyakinan orang kafir tentang suatu kehidupan di masa depan.[2]  
Secara khusus epik Gilgames dari Babel kuno menceritakan pengembaraan seorang anak raja dari kerajaan Uruk, bernama Gilgames yang memiliki wujud 1/3 manusia dan 2/3 dewa. Kisah Gilgames ini ditulis pada 12 tablet yang ditemukan oleh para arkeolog. Kisahnya terbagi ke dalam dua bagian, yaitu pengembaraan Gilgames dan Enkidu (sahabat Gilgames) dan bagian kedua menceritakan pengembaraan Gilgames dalam misi untuk mencari rahasia hidup kekal selepas mengalami kemurungan akibat kematian Enkidu.[3] Dalam misi untuk mencari rahasia hidup kekal ia berjumpa dengan Utnapishtim dan istrinya, yang berhasil selamat dari banjir yang sangat dahsyat dan diberikan keabadian oleh para dewata. Utnapishtim menceritakan kepada Gilgames tentang sebuah tanaman yang terdapat di dasar laut dan bahwa bila ia memperolehnya dan memakannya, ia akan menjadi muda kembali. Gilgames memperoleh tanaman itu, namun kemudian dicuri oleh seekor ular. Pada akhirnya Gilgames kembali ke Uruk, dan ketika ia melihat dindingnya yang begitu besar dan kuat, ia memuji karya abadi manusia yang fana. Gilgames menyadari bahwa cara mahluk fana untuk mencapai keabadian adalah melalui karya peradaban dan kebudayaan yang kekal.[4]                     
Dari apa yang dipaparkan di atas, beberapa hal dapat disimpulkan. Yang pertama, epik Gilgames memiliki kemiripan dengan kisah-kisah dalam Perjanjian Lama, seperti cerita Air Bah/banjir besar. Yang kedua, tokoh Gilgames memahami keabadian sebagai hasil karya manusia yang mampu menghasilkan kebudayaan dan peradaban yang hebat. Ini mungkin yang melatar belakangi alasan Tuhan mengacau balaukan bahasa manusia seperti yang dicatat dalam kisah Menara Babel di kitab Kejadian 11. Yang ketiga, keabadian dalam epik Gilgames tidak berkaitan sama sekali dengan kejadian di akhir zaman (eskatologis) sebab epik ini justru mau mengungkapkan asal-usul hubungan antara manusia dengan para dewata dalam bentuk mitos atau legenda. Jadi kerinduan akan hidup kekal sudah muncul dalam diri Gilgames, namun ia gagal untuk memperolehnya karena tanaman yang akan memberinya hidup kekal itu telah dicuri oleh ular (mirip dengan Iblis yang disimbolkan sebagai ular di Taman Eden).
Perbedaan Keabadian Jiwa dan Tubuh Rohani Menurut Pandangan Yunani
Filsuf Plato mengajarkan tentang keabadian jiwa. Ia berargumen bahwa tubuh manusia merupakan pakaian luar yang dipergunakan selama manusia menjalani hidup di dunia ini. Namun tubuh itu telah menjadi penghambat bagi jiwa manusia yang ingin bebas. Jiwa yang terkurung/terpenjara dalam tubuh sesungguhnya berasal dari dunia yang kekal. Karena itu, kematian menjadi jalan terbesar bagi pembebasan jiwa dari tubuh. Bagi  Plato kematian bukanlah musuh tetapi teman bagi jiwa manusia.[5] Hal ini justru sangat bertentangan dengan keyakinan Kristen yang melihat kematian bukan sebagai teman tetapi musuh yang telah dikalahkan oleh Yesus melalui kebangkkitan-Nya dari antara orang mati (1Kor. 15:26). Dalam filsafat Yunani tubuh tidak memiliki arti sama sekali karena ia berasal dari dunia materi. Dunia materi dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan tidak berguna. Sebab itu tidak pernah terbayangkan dalam pikiran orang Yunani bahwa tubuh yang fana ini akan mengalami perubahan/transformasi di kemudian hari. Karena bersifat jasmani, maka tubuh harus binasa/hancur.                              
Tubuh rohani sangat berbeda dengan keabadian jiwa. Bagi orang Yahudi tubuh bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Sama seperti jiwa, tubuh merupakan pemberian dari Allah, Sang Pencipta. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (termasuk tubuh yang fana ini). Pandangan Yunani tentang keabadian jiwa dan pengharapan Kristen tentang kebangkitan sangat bertolak belakang karena hal tersebut berkaitan dengan konsep penciptaan. Penafsiran Yahudi dan Kristen mengenai penciptaan meniadakan dikotomi antara tubuh dan jiwa. Tubuh bukan merupakan penjara bagi jiwa, tetapi sebagai bait Roh Kudus/bait Allah (1Kor. 6:19). Tubuh dan jiwa tidak saling bertentangan dan berlawanan sebagai musuh, sebab semua yang diciptakan Allah adalah baik adanya (lihat Kejadian 1 dan 2).[6] Meskipun unsur tubuh akan tetap ada (eksis) pada waktu kebangkitan orang mati, namun sifat tubuh itu berbeda dari tubuh manusia saat ini. Willi Marxsen mengungkapkan bahwa eksistensi tubuh rohani sangat bertolak belakang dengan eksistensi tubuh manusia masa kini.[7]                                                 
Mengapa pandangan Yunani sangat menekankan keabadian jiwa? Pada awalnya, dalam tradisi puisi Yunani digambarkan adanya perbedaan yang tajam antara manusia dan para dewata. Manusia disebut sebagai mahluk yang fana (mortal), sedangkan para dewata bersifat abadi (immortal). Homer menggambarkan jiwa (psukhe) orang mati merupakan hantu/bayangan tanpa kesadaran hidup atau aktifitas mental. Jiwa akan meninggalkan tubuh pada saat hembusan nafas terakhir. Tubuh akan binasa, tetapi eksistensi tubuh yang telah binasa itu akan terus dikenang melalui nama dan karya orang tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani berkenalan dengan konsep keagamaan dari agama-agama misteri dan agama Orphik yang sangat menekankan bahwa jiwa manusia itu berasal dari dunia ilahi dan bersifat abadi.[8] Konsep pemikiran inilah yang kemudian sangat mendominasi cara berpikir orang-orang Yunani. Jiwa tidak lain adalah percikan api ilahi yang terkurung dalam tubuh yang jahat dan akan dibebaskan melalui kematian. Di kemudian hari ide keabadian jiwa ini diambil juga oleh orang-orang Yahudi, khususnya oleh orang-orang yang terpelajar. Sebagai contoh adalah Philo, Josephus dan juga kaum Farisi. Ide ini lalu diintegrasikan dengan ide kebangkitan tubuh yang sudah ada dalam agama Yahudi.[9]                                            
Karena orang Yunani menolak sama sekali nilai tubuh manusia, maka ide tentang tubuh rohani, sebagaimana yang diungkapkan Paulus dalam 1 Korintus 15, sangatlah sukar untuk dipahami atau diterima oleh orang Yunani. Kalaupun ide ini diterima dengan terpaksa, maka akan muncul penyimpangan-penyimpangan ajaran sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah gereja. Ajaran Gnostik atau Doketis yang menyimpang dari ortodoksi Kristen dapat dilihat sebagai suatu reaksi penolakan golongan Kristen Yunani terhadap ide tubuh rohani yang diperkenalkan Paulus pada zamannya.
Kesimpulan
Epik Gilgames belum memperlihatkan ide kebangkitan orang mati di akhir zaman, namun ada harapan dari tokoh Gilgames untuk memperoleh hidup kekal sesudah mati. Namun pengertian hidup kekal yang dipahami Gilgames masih sebatas kehidupan di dunia ini, yaitu menjadi muda kembali. Dalam filsafat Yunani terdapat pandangan tentang keabadian jiwa, di mana jiwa dianggap berasal dari dunia ilahi. Dalam perkembangan selanjutnya ide keabadian jiwa ini diambil dan dipadukan dengan ide kebangkitan tubuh oleh orang-orang Yahudi. Paulus memiliki gagasan unik dalam memandang perpaduan antara keabadian jiwa dan kebangkitan tubuh, yaitu tubuh rohani. Beberapa orang Yunani Kristen memahami gagasan ini secara berbeda, sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang justru bertentangan dengan ortodoksi Kristen. Mungkin ajaran Gnostik dan Doketis termasuk ke dalam bentuk pemahaman seperti ini, di mana tubuh kebangkitan Yesus dipahami secara semu atau tidak nyata oleh penganut ajaran-ajaran ini.


Daftar Pustaka:

Boettner, Loraine. Immortality. Philadelphia: The Presbyterian and Reformed Publishing, 1969.

Cullmann, Oscar. “Immortality of The Soul or Resurrection of The Dead?” Dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl, 13-14. New York: The Macmillan Company, 1965.

Jaeger, Werner. “The Greek Ideas of Immortality.” Dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl, 97-103. New York: The Macmillan Company, 1965.


Marxsen, Willi. The Resurrection of Jesus of Nazareth. Philadelphia: Fortress Press, 1979.

Segal, Alan F. “Life after Death: The Social Sources.” Dalam The Resurrection. An Interdisciplinary Symposium on The Resurrection of Jesus, peny. Stephen T. Davis, Daniel Kendall dan Gerald O’Collins, 102. New York: Oxford University Press, 1997.          

www.dianweb.org/Manusia/neraka4.htm (diakses 10 Maret 2014).


www.wikipedia.org/wiki/Epos_Gilgames (diakses 10 Maret 2014).
                                   



[1] www.dianweb.org/Manusia/neraka4.htm (diakses 10 Maret 2014).
[2] Loraine Boettner, Immortality (Philadelphia: The Presbyterian and Reformed Publishing, 1969), 61.
[4] www.wikipedia.org/wiki/Epos_Gilgames (diakses 10 Maret 2014).
[5] Oscar Cullmann, “Immortality of The Soul or Resurrection of The Dead,?” dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl (New York: The Macmillan Company, 1965), 13-14.
[6] Ibid., 21-22.
[7] Willi Marxsen, The Resurrection of Jesus of Nazareth (Philadelphia: Fortress Press, 1979), 69-70.
[8] Werner Jaeger, “The Greek Ideas of Immortality,” dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl (New York: The Macmillan Company, 1965), 97-103.
[9] Alan F. Segal, “Life after Death: The Social Sources,” dalam The Resurrection. An Interdisciplinary Symposium on The Resurrection of Jesus, peny. Stephen T. Davis, Daniel Kendall dan Gerald O’Collins (New York: Oxford University Press, 1997), 102.

  Mengoptimalkan Sinergi Intergenerasional GPIB dengan Mengembangkan Kepemimpinan Misioner dalam Konteks Budaya Digital (Efesus 4:11-16)   O...