Selasa, 30 Juni 2020

Kebun Teh Sidamanik

Saya dan keluarga jalan2 ke kebun teh Sidamanik. Kebun teh ini terletak di kabupaten Simalungun, dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Di tempat ini kita bisa menikmati indahnya pemandangan dan menghirup udaranya yang masih fresh
(Jumat sore, 26 Juni 2020).







Sabtu, 29 Juni 2019

Pandangan Yahudi dan Yunani tentang Kebangkitan Yesus dan Orang Mati


Pendahuluan
            Isu kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati terkait erat dengan pandangan orang Yahudi dan Yunani pada zaman Perjanjian Baru. Bagaimana orang Yahudi dan Yunani memahami ajaran kebangkitan orang mati secara umum dan kebangkitan Yesus secara khusus? Tulisan ini berusaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggali dan menganalisis sumber-sumber yang tersedia.
Pandangan Yahudi
            Pandangan tentang kebangkitan orang mati sudah ada dalam kehidupan orang Yahudi jauh sebelum kekristenan muncul. Bagaimana pandangan seperti ini bisa muncul dalam pemikiran dan keyakinan orang-orang Yahudi pada masa itu?  Dan sejauh mana pandangan ini berpengaruh terhadap iman dan pemberitaan gereja mula-mula yang sungguh-sungguh meyakini bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dari kematian?                                                       
Diperkirakan pandangan Yahudi tentang kebangkitan orang mati muncul dalam era dan konteks sejarah tertentu, yaitu tepatnya pada periode akhir dari Yudaisme bait Allah kedua. Pandangan ini lahir dari suatu keadaan tertentu, yaitu ketika bangsa Yahudi mengalami penjajahan atau penindasan oleh kekuatan bangsa-bangsa asing (Yunani, Roma) selama berabad-abad. Sebagian rakyat mengharapkan bahwa Allah akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi dan memulihkan keadaan Israel. Berada di bawah himpitan penjajahan bangsa asing mendorong orang Yahudi untuk mengembangkan suatu bentuk kesalehan yang disebut “eskatologi pemulihan.” Eskatologi ini lahir dan berkembang selama masa pembuangan di Babel pada abad ke-6 sM maupun sesudah masa pembuangan. Dari pengalaman buruk itu, bangsa Yahudi belajar untuk percaya bahwa Allah tidak tinggal diam, melainkan akan memulihkan keadaan mereka. Pada akhirnya semua musuh Israel akan dikalahkan, pemerintahan Allah akan ditegakkan, bahkan orang-orang mati akan dibangkitkan dan diadili oleh Allah (bdk. Yes. 26:19 dan Dan. 12:2-3) (Madigan dan Levenson 2008, 4-6).                                   
            Ide tentang kebangkitan orang mati ini sangat berkaitan erat dengan kepercayaan orang-orang Yahudi sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci mereka, khususnya kepercayaan tentang Allah sebagai pencipta kehidupan dan sebagai pemenang atas kematian. Allah adalah pemilik kehidupan dan kematian merupakan musuh Allah (Setzer 2004, 10-11).  Claudia Setzer mengungkapkan lebih lanjut bahwa pada periode Helenisme berkembang ide tentang upah yang akan diberikan Allah kepada orang benar di masa yang akan datang. Ide ini tertanam secara kuat dalam kesadaran orang-orang Yahudi yang sedang mengalami penderitaan akibat penindasan bangsa asing pada masa itu. Yang dimaksudkan dengan upah di sini adalah suatu gambaran tentang kebangkitan secara fisik dan rohani. Gambaran ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab non kanonik (1 Henokh, Perjanjian Musa, 2 Barukh dll). Sebagai contoh adalah kitab 2 Makabe yang berasal dari abad ke-2 sM. Kitab ini hadir di tengah-tengah konteks penindasan bangsa Yahudi pada masa kekuasaan Antiokhus Epifanes. 2 Makabe 7:9 berbunyi sbb: “Ketika sudah hampir putus nyawanya berkatalah ia: "Memang benar kau, bangsat, dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya!" Dalam kitab ini, ide tentang kebangkitan fisik menjadi sangat jelas. Allahlah yang akan membangkitkan kembali tubuh orang benar yang telah binasa dengan kuat kuasa-Nya (Setzer 2004, 11-12).                                          
            Di samping membicarakan kebangkitan orang mati, kitab-kitab ini juga menggambarkan penghukuman Allah. Dalam konteks penghukuman di akhir zaman, Allah akan memisahkan orang baik dan orang jahat menurut perbuatan mereka masing-masing. Orang baik akan dibangkitkan dari kematian dan menikmati kehidupan abadi bersama Allah, sedangkan orang jahat/fasik akan dibangkitkan untuk menerima hukuman kekal dari Allah (Setzer 2004, 13). Tema kebangkitan sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Yahudi pada masa itu karena hal tersebut sangat berkaitan erat dengan fondasi iman/keyakinan mereka. Jantung iman Yahudi terletak pada keyakinan utama akan kebaikan, keadilan dan kekuasaan Allah Israel. Di sepanjang sejarah suci Israel, diceritakan bahwa Allah Israel adalah Allah yang turut campur tangan dan turut menentukan arah kehidupan umat-Nya. Ia senantiasa datang untuk menghadirkan zaman baru dan memberikan pemulihan kepada umat-Nya.  (Madigan dan Levenson 2008, 7).                                                                     
            Jadi berdasarkan pengharapan eskatologis tersebut, orang-orang Yahudi mengembangkan suatu ide bahwa orang-orang yang telah mati karena mempertahankan imannya (martir) akan dihidupkan kembali oleh Allah di akhir zaman. Sedangkan bangsa-bangsa lain yang telah menindas bangsa Yahudi dianggap sebagai orang-orang fasik yang akan mengalami kebinasaan oleh hukuman Allah yang dahsyat. John Drane menjelaskan lebih lanjut bahwa pengharapan apokaliptik ini menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Yahudi menjelang kedatangan Yesus. Pengharapan apokaliptik ini sangat nyata dan dapat dijumpai dalam berbagai tulisan pada masa itu. Pada intinya tulisan-tulisan yang mengandung semangat apokaliptik ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan krusial, seperti: mengapa kesetiaan terhadap agama tidak membawa kemakmuran? Mengapa orang baik dan setia harus menderita, bahkan mati? Mengapa Allah tidak menghentikan kuasa-kuasa kejahatan di dunia ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit ini, para penulis apokaliptik mengatakan bahwa kesulitan-kesulitan masa kini hanya bersifat sementara saja. Dalam terang kebaikan Allah, mereka meyakini bahwa pada akhirnya bukan kejahatan yang berjaya tetapi kebaikan dan keadilanlah yang akan menang (Drane 2011, 47-48). Dan karena itu, kebangkitan orang mati merupakan bukti yang nyata dari kebaikan dan keadilan Allah kepada manusia.                                                                    
            Ide tentang kebangkitan orang mati memang telah ada dalam kehidupan orang-orang Yahudi sebelum kelahiran Yesus. Namun dalam kenyataannya kita tahu bahwa tidak semua orang Yahudi menerima ide tersebut. Pada zaman Yesus kelompok Farisi menerima ide ini, tetapi kelompok Saduki menolaknya sama sekali (Mrk. 12:18; lihat juga Kis. 4:1-2). Alasan penolakan kelompok Saduki ini adalah karena doktrin kebangkitan tidak pernah diajarkan dalam kitab-kitab Taurat/Pentateukh. Para murid Yesus sendiri sempat ragu terhadap persoalan ini (lihat Mrk. 9:10) (Jansen 1980, 19-20). Drane mengatakan bahwa secara politik kelompok Saduki lebih konservatif, namun dalam soal agama mereka lebih reaksioner. Mereka menganggap bahwa kelima kitab Taurat Musa merupakan satu-satunya sumber pengajaran agama yang berwibawa dan menolak kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Pada intinya mereka tidak percaya bahwa Allah mempunyai tujuan di balik peristiwa-peristiwa sejarah, dan hal-hal seperti hidup kekal, kebangkitan orang mati, dan penghakiman terakhir menjadi tidak relevan bagi mereka (Drane 2011, 41-42).                                                        
            Penolakan kaum Saduki terhadap ide kebangkitan memang sangat beralasan, sebab dalam seluruh pentateukh tidak disebutkan sama sekali secara khusus tentang pengharapan akan kehidupan sesudah mati. Yang ada dalam pentateukh hanyalah ide tentang Syeol (dunia orang mati). Dalam Kejadian 37:35 Yakub mengungkapkan harapannya bahwa ia akan melihat Yusuf di Syeol, dan kelihatannya itulah tujuan akhir dari kehidupan sesudah mati seperti yang diharapkannya. Ide tentang kebangkitan orang mati baru muncul dan berkembang luas dalam pemikiran Israel bukan sebelum masa pembuangan tetapi pada masa pembuangan dan sesudahnya (Guthrie 1996, 427).                           Bagaimana dengan kaum Zelot dan Eseni? Karena kaum Zelot memiliki kepercayaan agama yang agak mirip dengan kaum Farisi (Drane 2011, 44), maka mungkin saja mereka juga percaya akan kebangkitan orang mati. Sikap mereka yang berani dan tidak takut mati dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Yahudi memberi petunjuk ke arah tersebut. Kaum Eseni yang berpusat di Qumran kemungkinan meyakini akan kebangkitan orang mati. Namun berdasarkan telaah atas Naskah-naskah Laut Mati para ahli menyimpulkan bahwa kaum Eseni berpegang hanya pada gagasan ketidakfanaan dan bukan pada gagasan kebangkitan tubuh. Beberapa pihak berasumsi bahwa pandangan persekutuan di Qumran tidak jelas, sebab beberapa perikop mengungkapkan tentang kepercayaan akan keberadaan yang akan datang, namun tidak dikaitkan dengan kepercayaan akan kebangkitan tubuh. Bisa saja pandangan kelompok Qumran ini masih dekat dengan pandangan Yahudi kuno tentang Syeol (dunia orang mati) (Guthrie 1996, 428-429).                    
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ide tentang kebangkitan orang mati baru muncul pada masa pembuangan dan sesudahnya dalam masyarakat Yahudi. Namun tidak semua golongan dalam masyarakat Yahudi meyakini dan menerima ide tersebut. Lalu bagaimana hubungan antara kebangkitan Yesus dengan pandangan umum orang Yahudi tentang kebangkitan orang mati? Apakah kebangkitan Yesus memiliki keunikan dibandingkan dengan pandangan umum orang Yahudi ataukah tidak ada sama sekali? Penjelasan C. Groenen di bawah ini mungkin sedikit membantu kita untuk melihat persamaan dan perbedaan di antara keduanya.                                                        
            Gagasan tentang kebangkitan orang mati pada zaman Yesus sudah cukup lazim di kalangan orang Yahudi (Dan. 12:1; 2Mak. 7:7-9). Gagasan ini dianut terutama oleh kalangan apokaliptis. Namun demikian ajaran ini belum juga menjadi ajaran yang umum dan sebuah dogma yang resmi. Misalnya: kaum Saduki tidak menerimanya (Mat. 22:23; Kis. 4:2). Kepercayaan Yahudi ini kemudian diambil alih baik oleh Yesus sendiri maupun umat Kristen (Mrk. 12:25; Luk. 14:14; Kis. 23:6; 24:25). Dengan demikian gagasan kebangkitan merupakan sebuah kategori pemikiran yang dipinjam oleh umat Kristen dari alam pemikiran Yahudi untuk menerangkan pengalaman yang umat alami bersama Yesus yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup. Jadi pengalaman unik ini ditangkap dan diungkapkan oleh umat dengan memakai suatu gagasan yang sudah sudah cukup tradisional pada masa itu. Meskipun demikian orang Kristen mula-mula tetap meyakini bahwa kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang unik yang tidak mungkin disamakan begitu saja dengan gagasan-gagasan apokaliptik Yahudi. Orang Yahudi memang percaya akan kebangkitan orang mati pada hari kiamat, tetapi kategori eskatologis ini tidak dapat diterapkan pada diri Yesus, sebab Ia sudah bangkit sebelum hari kiamat. Ada juga beberapa tokoh yang menurut keyakinan orang Yahudi hidup terus (Henokh, Elia dll), tetapi tokoh-tokoh ini tidak bangkit dari alam maut, melainkan diangkat ke sorga sebelum menemui ajalnya. Jadi agaknya kebangkitan Yesus harus dilihat sebagai sesuatu yang unik dan lain sama sekali. Kebangkitan Yesus dikatakan unik, sebab ia merupakan karya Allah semata-mata yang tidak dapat disamakan dengan unsur-unsur alam atau dunia (Groenen 1973, 17-18,25).   
            Oleh karena sebagian besar orang Kristen mula-mula adalah orang-orang Yahudi maka wajar saja apabila mereka memakai tradisi kitab suci PL, khususnya tradisi apokaliptik, untuk menggambarkan dan menerangkan iman mereka kepada Kristus yang bangkit. Dalam peristiwa kebangkitan tersebut, gereja mula-mula melihat bahwa tujuan dan penyempurnaan iman Israel kepada Allah telah digenapi di dalam diri Yesus. Allah yang diberitakan dalam PL adalah Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian (1Sam. 2:6), sebab itulah Yesus dibangkitan dan menjadi pemenang atas maut (Jansen 1980, 21-22).
Pandangan Yunani
            Pandangan Yunani tentang kebangkitan orang mati tidak dapat dipisahkan dari pandangan filsafat Yunani yang bersifat dualistik. Filsafat Yunani ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Yahudi tentang manusia. Ajaran Yahudi melihat manusia terdiri dari daging dan darah, tubuh dan jiwa. Namun kedua unsur ini tidak untuk dipisahkan dalam arti bahwa jiwa itu abadi dan tubuh itu tidak penting. Jiwa (nafas) adalah unsur yang memberi kehidupan pada tubuh. Allahlah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam tubuh yang mati (Kej. 2:7) (Marxsen 1979, 133). Sebaliknya pandangan Yunani sangat mempertentangkan secara tajam antara tubuh dan jiwa. Jiwa dianggap mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada tubuh. Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang jahat, tidak baik dan tidak bernilai, bahkan dilihat sebagai penjara bagi jiwa yang bersifat murni. Dalam beberapa hal filsafat Yunani yang bersifat dualistik ini sangat bertentangan dengan keyakinan Kristen, misalnya saja para penulis PB justru sangat menekankan sifat kemanusiaan Yesus Kristus. Injil Yohanes menekankan bahwa Firman Allah yang bersifat kekal itu telah menjelma/menjadi manusia (Yoh. 1:14). Dalam menceritakan kebangkitan Yesus pun, para penulis PB berupaya memperlihatkan sifat ragawi/fisik dari kebangkitan Yesus. Sebab itu terdapat cerita tentang kubur yang kosong, penampakan Yesus di hadapan para murid di mana mereka dapat menyentuh tubuh Yesus, dan Yesus yang makan bersama dengan murid-murid-Nya. Menurut Marxsen penggambaran kebangkitan Yesus yang bersifat fisik ini lebih condong pada ajaran Yahudi (Marxsen 1979, 135). Ide tentang kebangkitan tubuh/fisik tidak dikenal (asing) bagi pemikiran orang-orang Yunani. Yang justru diakui oleh mereka bukanlah  kebangkitan tubuh tetapi kekekalan/keabadian jiwa (Guthrie 1996, 429). Berita kebangkitan Yesus adalah inti dari iman dan kehidupan Kristen. Justru karena berita kebangkitan ini begitu penitng, sehingga para pemberita Kristen mula-mula tanpa rasa takut pergi untuk mewartakannya. Inti pewartaan mereka berpusat pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Bahwa Dia yang telah disalibkan oleh orang-orang Yahudi telah dibangkitkan dari antara orang mati (Kis. 2:24) dan bahwa Allah telah menjadikan Dia menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36) (Guthrie 1996, 430). Berita kebangkitan ini tidak  ditujukan kepada orang-orang Yahudi saja, tetapi juga kepada orang-orang non Yahudi (Yunani). Namun tidaklah mudah bagi orang-orang Yunani untuk mempercayai fakta kebangkitan Yesus karena adanya ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan tubuh. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa orang-orang Yunani hanya mempercayai keabadian jiwa, dan bukan kebangkitan tubuh. Kisah Para Rasul 17: 16 dst menceritakan bagaimana orang-orang Yunani menolak berita kebangkitan Yesus seperti yang disampaikan Rasul Paulus ketika ia berada di Athena. Kisah Para Rasul 17: 31-32 menceritakan sbb: “...Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati. Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.”             
            Walaupun Paulus merupakan seorang Yahudi Helenis, akan tetapi ia memahami makna kebangkitan Yesus bukan dari filsafat Yunani, tetapi dari sudut pandang agama Yahudi. Bagi Paulus kebangkitan Yesus menghasilkan keselamatan bagi manusia. Dalam perspektif yang holistik, ia melihat bahwa realitas keselamatan bukan suatu realitas asing yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, bukan suatu realitas yang hanya ada dalam diri seseorang (the inner life of a person). Keselamatan itu merangkul dan mencakup seluruh eksistensi (keberadaan) manusia. Prinsip inilah yang juga diterapkan Paulus ketika ia berbicara tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang mati. Bagi Paulus, kehidupan harus dilihat secara utuh dan melibatkan tidak hanya sebagian dari eksistensi manusia, tidak hanya roh atau jiwa, tetapi seluruh dirinya yang utuh, termasuk eksistensi tubuhnya. Berdasarkan alasan inilah, ia kemudian berbicara tentang kebangkitan tubuh (1Kor. 15) dan bukan keabadian jiwa/roh (Lampe 2002, 105).                                   
            Apa konsekuensi dari ajaran Paulus ini? Konsekuensi yang paling nyata adalah bahwa manusia perlu juga menghargai tubuh/hal-hal jasmani dan bukan hanya hal-hal yang rohani belaka. Berdasarkan argumentasi dalam surat-suratnya kita bisa melihat bahwa Paulus sangat menentang perlakuan yang buruk terhadap tubuh. Tubuh adalah bagian dari eksistensi manusia yang utuh, yang telah diciptakan Allah dengan baik. Umat dipanggil untuk mempersembahkan tubuhnya kepada Allah sebagai korban persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Dalam hal ini pandangan Kristen sangat menghargai tubuh, dan sangat bertolak belakang dengan pandangan filsafat Yunani yang justru menghina/melecehkan tubuh. Sikap amoral muncul dalam kehidupan orang-orang Yunani disebabkan karena mereka menganggap tubuh itu tidak penting, sehingga dapat diperlakukan dengan sesuka hati. Praktek percabulan dan perzinahan yang melibatkan tubuh dianggap sebagai hal yang biasa saja karena yang terpenting bagi mereka bukan tubuh melainkan roh/jiwa. Tubuh akan binasa sedangkan roh/jiwa akan selamat, demikianlah anggapan mereka. 1 Korintus 15 memperlihatkan pemikiran Paulus yang matang tentang arti kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati. Di situ Paulus membuat perbedaan yang jelas antara tubuh manusia saat ini dengan tubuh rohani di masa depan. Tubuh rohani itu akan dikenakan manusia melalui proses kebangkitan di akhir zaman. Kebangkitan itu tidak sama dengan peristiwa penghidupan kembali Lazarus oleh Yesus seperti yang diceritakan dalam Injil Yohanes (11:17-44). Lazarus dibangkitkan dari kematian tetapi ia akan meninggal lagi. Eksistensi tubuh rohani yang disampaikan Paulus ini sangat jauh berbeda dengan eksistensi tubuh kita yang sekarang. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “...daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.” (1Kor. 15:50). Jadi tubuh rohani di masa depan itu merupakan sesuatu yang amat berbeda, tidak alamiah, ia merupakan sesuatu yang melampaui ciptaan sekarang, dan ia akan menjadi bagian dari suatu ciptaan baru dengan kemungkinan-kemungkinan yang baru (Lampe 2002, 106).                  
            Dari pemaparan di atas, ada beberapa butir pemikiran yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang mati. Sebagian orang Yahudi mempercayai kebangkitan orang mati, terkecuali kaum Saduki. Walaupun demikian orang-orang Yahudi tidak dengan sendirinya mempercayai kebangkitan Yesus. Kaum Saduki menolak kebangkitan Yesus terutama didasarkan pada keyakinan mereka (Kis. 4:1-2), tetapi kaum Farisi mempunyai alasan yang lain dalam menolak kebangkitan Yesus. Jikalau penolakan orang Yahudi didasarkan pada berbagai alasan, tidak demikian halnya dengan orang Yunani. Penolakan orang Yunani terhadap kebangkitan Yesus (dan juga kebangkitan orang mati) didasarkan semata-mata pada faktor ajaran dalam filsafat Yunani yang bersifat dualistik.
Kesimpulan
            Gagasan tentang kebangkitan orang mati berasal dari hasil pemikiran keagamaan orang Yahudi. Gagasan ini muncul dan berkembang pada masa pembuangan dan sesudah pembuangan, khususnya dalam tradisi apokaliptik. Dalam gagasan ini terletak inti keyakinan orang Yahudi bahwa Allah Israel adalah penguasa/Tuhan atas kehidupan dan kematian. Kendati gagasan ini sangat penting dalam perkembangan tradisi Yudaisme, namun tidak seluruh orang Yahudi menerimanya. Kaum Saduki dengan tegas menolak gagasan ini, sedangkan para murid Yesus sempat meragukan arti/makna kebangkitan. Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Yesus, di mana para murid merasa takut dan ragu ketika mereka menyaksikan Yesus yang telah bangkit dari kematian.   Memang pada masa Yesus gagasan kebangkitan sudah cukup populer di kalangan masyarakat Yahudi. Namun demikian peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian jelas memiliki keunikan tersendiri. Kebangkitan Yesus tidak dapat disejajarkan dengan peristiwa kebangkitan Lazarus karena kebangkitan Yesus memiliki dimensi kekekalan. Lazarus memang dibangkitkan, namun ia akan meninggal kembali. Sebaliknya Yesus bangkit dalam suatu kehidupan/eksistensi yang baru, yaitu kehidupan kekal. Roma 6:9 menyatakan: “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.”                
            Pandangan Yunani justru menolak sama sekali ide tentang kebangkitan orang mati. Bagi orang Yunani tubuh yang akan binasa ini tidak memiliki nilai sama sekali, hanya roh/jiwa yang memiliki nilai utama dalam diri manusia. Sebab itu yang diperjuangkan adalah bagaimana agar roh/jiwa manusia dapat dilepaskan dari kungkungan tubuh. Yang terpenting bukanlah tubuh tetapi jiwa, karena jiwa bersifat abadi/kekal.                  






Daftar Pustaka:
Claudia, Setzer. The Resurrection of The Body in Early Judaism and Early Christianity. Doctrine, Community, and Self-Definition. Boston: Brill Academic Publishers, 2004.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Pengantar Historis Kritis. Terj. P.G. Katoppo. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Groenen, C. Kebangkitan. Ulasan-ulasan mengenai Pembangkitan Yesus Kristus dari Alam Maut serta Maknanya bagi Umat Manusia Seluruhnya. Ende: Nusa Indah, 1973.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 1. Allah, Manusia, Kristus. Terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Jansen, John Frederick. The Resurrection of Jesus Christ in New Testament Theology. Philadelphia: The Westminster Press, 1980.
Lampe, Peter. “Paul’s Concept of a Spiritual Body.” Dalam Resurrection. Theological and Scientific Assessments, peny. Ted Peters, Robert John Russell, Michael Welker, 103-114. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2002.         
Madigan, Kevin J, dan Jon D. Levenson. Resurrection. The Power of God for Christians and Jews. New Haven: Yale University Press, 2008.
Marxsen, Willi. The Resurrection of Jesus of Nazareth. Philadelphia: Fortress Press, 1979.

Sabtu, 11 Mei 2019

Khotbah Minggu/12 Mei 2019

Matius 6:19-24

Banyak pengajaran Yesus yang dapat kita baca dan renungkan dalam kotbah di bukit ini. Salah satu pengajaran itu adalah hal mengumpulkan harta. Dalam bacaan ini sebenarnya ada dua macam harta yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus, yaitu harta duniawi dan harta sorgawi. Dan Yesus memerintahkan kita untuk tidak mengumpulkan harta di dunia ini. Karena itu, pada ayat 19 kita membaca: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi: di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” Agaknya tidak sulit untuk menentukan harta mana yang dimaksudkan Yesus, yang harus kita utamakan, yaitu harta di sorga dan bukan harta di bumi. Harta yang kita kumpulkan di bumi ini tidaklah kekal dan abadi. Harta itu bisa rusak dan binasa. Misalnya: hilang atau lenyap karena bencana alam.
Kalau Yesus berkata: jangan kamu mengumpulkan harta di bumi ini, maka perkataan itu jangan disalahartikan, seakan-akan kita tidak boleh menyimpan uang atau menabung untuk hari esok (misal: ikut asuransi dlsb) atau seolah-olah Yesus mengharamkan kita untuk memiliki sesuatu. Kita juga perlu mempersiapkan masa depan kita dengan baik, merencanakan keuangan kita dengan baik (misalnya: kita perlu mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak kita). Karena itu, jangan hidup boros atau hidup bermewah-mewah. Firman Tuhan mengingatkan kita: cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
Jadi menyimpan uang atau kebutuhan hidup untuk hari esok bukanlah tindakan yang salah. Alkitab sendiri mengajarkan kita supaya belajar dari semut yang pada musim panas menyimpan makanannya untuk musim dingin (Amsal 6:6-8).
Jadi sebenarnya apa yang Yesus larang?
Yang Yesus larang di sini adalah sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Orang yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, sehingga tidak mau berbagi dengan orang lain. Yang hatinya telah membatu sehingga tidak punya kepekaan terhadap penderitaan/kesusahan orang lain (bnd. 1 Yohanes 3:17). Orang seperti ini biasanya mengandalkan harta/kekayaannya. Yesus pernah menceritakan orang kaya yang bodoh dalam Injil Lukas 12:13-dyb. Terhadap sifat tamak akan harta/kekayaan, Tuhan Yesus berkata agar kita berjaga-jaga dan waspada. Dalam Lukas 12: 15 Yesus bersabda: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Hidup kita hanya bergantung pada Tuhan, bukan pada kekayaan kita. Karena itu, hati kita harus senantiasa terarah kepada Tuhan (harta sorgawi itu), bukan terpikat pada harta duniawi (ay. 21). Jangan arahkan dan pertaruhkan hidup kita pada harta duniawi yang kita miliki (walaupun banyak dan berlimpah-limpah sampai cukup untuk 7 turunan), tetapi kepada Tuhan. Harta kita tidaklah abadi. Walaupun semua orang tahu bahwa harta itu tidak abadi, namun banyak org yang tetap saja bertengkar karena harta dan menjadikan harta itu segala-galanya. Misal: karena persoalan pembagian harta warisan orang tua, hubungan keluarga bisa menjadi retak. Jika harta dijadikan tujuan hidup, maka pandangan hidup manusia bisa jadi gelap, tidak ada terang lagi. Itu sebabnya ada istilah gelap mata. Kalau sudah gelap mata terhadap sesuatu yang kita kejar atau inginkan dalam hidup ini (ambisi terhadap kekuasaan, jabatan, termasuk harta kekayaan), orang tidak takut lagi untuk berbuat kejahatan. Gelap mata membuat kita buta (dibutakan oleh banyak hal, bukan hanya harta, tetapi juga ambisi, cinta terlarang dlsb) sehingga akan menjerumuskan kita kepada kehancuran dan penyesalan. Itu sebabnya di ayat 22-23 Yesus ingatkan agar mata kita harus terang/sehat, bukan gelap. Mata sebenarnya adalah kiasan untuk hati.
Firman Tuhan yang kita baca ini mengingatkan kita bahwa harta yang kita kumpulkan di dunia ini tidak abadi, harta itu akan dirusakkan oleh ngengat (sejenis binatang kecil) dan karat serta pencuri akan membongkar dan mengambilnya. Kalaupun kita mampu menjaga harta kita sampai di akhir hayat hidup kita, tokh kita tidak akan memasukannya ke dalam peti mati kita. Ayub pernah berkata: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku kembali ke dalamnya” (Ayub 1:21; bnd. 1 Timotius 6:7).
Untuk hidup yang sementara di dunia ini, kita seharusnya mengumpulkan harta di sorga, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perikop ini (ay. 20-21). Apa yang dimaksud dengan mengumpulkan harta di sorga? John Stott mengatakan: “...mengumpulkan harta di sorga, berarti ‘berbuat sesuatu’ di dunia yang fana ini, tetapi memiliki dampak yang abadi.”
Misalnya:
1) Dengan harta, kita dapat menolong orang yang berkesusahan. Namun, perbuatan menolong orang lain bukan sebagai jaminan/garansi agar bisa masuk sorga atau memperoleh hidup kekal, sebab perkara masuk sorga adalah anugerah Allah, bukan usaha manusia.
2) Kita dapat memakai harta kita untuk membantu dan memajukan pekerjaan Tuhan (Amsal 3:9-10). Karena itu, jangan pernah takut dan kuatir untuk memberi kepada Tuhan, sebab Ia yang menjamin dan memelihara hidup kita, bukan mamon. Itu sebabnya Yesus berkata agar kita hanya menyembah Allah dalam hidup ini, bukan mamon (mamon adalah kata Aram untuk uang/kepunyaan). Mari kita berikan yang terbaik kepada Tuhan sebab kita sudah terlebih dahulu menerima yang terbaik dari Dia. Apa hal terbaik yang sudah kita terima dari Tuhan? Banyak hal yang sudah kita terima dari Tuhan, misalnya: napas hidup, kesehatan dan waktu. Karena itu, waktu yang ada jangan hanya dihabiskan untuk mencari kekayaan yang sementara, lalu melupakan Tuhan. Pergunakanlah waktu yang ada untuk melayani Tuhan dan sesama. Itulah makna terdalam dari perintah Yesus untuk mengumpulkan harta di sorga. Yesus berfirman: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Kamis, 25 April 2019

RENUNGAN MATIUS 11:25-30


            Ciri-ciri Injil Matius
Keunikan Injil Matius dibandingkan dengan Injil-injil yang lain terletak pada tiga hal. Yang pertama, Injil ini adalah Injil yang paling banyak digunakan dalam tulisan-tulisan Kristen awal, khususnya sejak akhir abad pertama. Yang kedua, jumlah pasal dalam Injil ini merupakan yang terbanyak dari semua Injil yang lain, yakni 28 pasal. Yang ketiga, Injil ini memiliki keteraturan dalam susunan bahannya (Suharyo 1993, 75). Keteraturan ini bisa dilihat, misalnya dalam pasal 5-7 (yang berisi Kotbah di Bukit), pasal 8-9 menceritakan penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus, pasal 13 menyajikan tujuh perumpamaan yang disampaikan Yesus, pasal 18 memuat bahan-bahan tentang “peraturan Gereja” (a.l. disiplin Gereja) dll (Heer 1999, 1).
 Pemakaian yang cukup populer terhadap Injil ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa Injil ini telah dianggap sebagai “Injil Gereja”[1], dan oleh sebab itulah maka Injil ini telah diletakkan pada tempat yang pertama dalam kanon Perjanjian Baru (Mack 1995, 162). Penempatan pada posisi yang pertama dalam kanon Perjanjian Baru memang cukup beralasan juga jika dilihat dari keteraturan isi, dan banyaknya pasal dalam Injil ini. Jika dibandingkan dengan Injil yang lain (Markus - Lukas) maka jelas terlihat adanya perbedaan. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh adanya kegiatan penyuntingan yang dilakukan dengan sengaja oleh pengarang, yang bergerak dari suatu titik tolak teologis tertentu. Menurut Marxsen, pengarang Injil Matius menggunakan Injil Markus, Q dan sebuah bahan khusus sebagai sumber acuan dalam penyusunan karya tulisnya (Marxsen 1996, 175). Bahan Q yang dipergunakan Matius ini mengandung pengajaran-pengajaran Yesus, sedangkan yang dimaksud dengan bahan khusus adalah bahan yang berasal dari pengarang Injil Matius sendiri; di antara bahan khusus itu terdapat cerita mengenai kelahiran Yesus, beberapa bagian dari Kotbah di Bukit (Mat 5 - 7), beberapa perumpamaan dan kisah-kisah penampakan Yesus yang bangkit (Mack 1995, 162).
Penyuntingan yang dilakukan pengarang Injil Matius ini telah mengakibatkan perubahan pada gambaran mengenai sosok Yesus. Yesus dalam Injil Matius digambarkan sebagai seorang guru dalam tradisi Musa dan Taurat, dan seorang public figure yang mengajarkan etika kesalehan pribadi kepada orang banyak (Mack 1995, 163). Dengan demikian, pengarang Injil Matius sangat mengutamakan pengajaran Yesus dalam karangannya. Yesus ditampilkan sebagai seorang guru/pengajar yang memiliki wibawa di antara orang banyak. Orang banyak terkesan bukan pertama-tama pada mujizat yang dibuat Yesus, melainkan pada pengajaran-Nya (Mat. 7:28-29).                                                                
Penulis, Waktu Penulisan dan Keadaan Jemaat Penerima
Drewes mengungkapkan bahwa kemungkinan besar kitab ini ditulis oleh seorang Kristen Yahudi[2] dari Siria dan dialamatkan kepada jemaat yang sebagian besar terdiri atas orang Kristen Yahudi pula.[3] Dalam Injil ini Yesus digambarkan sebagai sosok yang menggenapi nas-nas yang tertulis dalam Perjanjian Lama (Mat. 1:23; 4:15,16). Karena kitab ini sebagian besar ditujukan kepada orang Kristen Yahudi, maka pengarang tetap memakai istilah-istilah Yahudi (yang artinya tidak diterangkan lebih jauh karena menganggap pembaca sudah mengerti), seperti misalnya istilah raka (5:22, terj. LAI “kafir”),  Beelzebul (10: 25), korbanas (27:6; LAI “peti persembahan”).  Dalam kitab ini terdapat kesan yang kuat bahwa jemaat Kristen telah terlepas atau memisahkan diri dari sinagoge Yahudi. Misalnya dalam Matius 7:29; 9:35; 23:34 kita membaca tentang “ahli-ahli Taurat mereka”; “rumah-rumah ibadat mereka.” Walaupun sudah terlepas, namun masih ada upaya untuk menerangkan melalui Injil ini bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi seluruh rencana Allah Israel. Yesus ialah Mesias bagi Israel (Mat. 15:24) tetapi juga bagi seluruh umat manusia (Mat. 28: 18-20; 26:13) (Drewes 1999, 175).
Diperkirakan Injil Matius ditulis pada periode sesudah kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 M. Peristiwa kehancuran ini ditafsirkan Matius sebagai bentuk hukuman Allah kepada Israel, sebab undangan bagi perjamuan Kerajaan Allah yang ditawarkan Yesus tidak diterima dengan baik oleh para pemimpin Yahudi  (bdk. Mat. 22:7). Kemungkinan besar Injil ini disusun dalam periode antara Tahun 75-90 M (Drewes 1999, 176).
Menurut Suharyo, perkembangan gereja mula-mula sangatlah ditentukan oleh dua peristiwa penting. Dua peristiwa penting itu adalah kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M dan masuknya orang-orang non Yahudi (“kafir”) ke dalam Gereja. Pada tahun 70 M pasukan Roma menghancurkan Yerusalem dan bait sucinya. Dengan demikian pusat hidup religius, sosial dan ekonomi orang-orang Yahudi hancur. Para pemimpin yang dapat menyelamatkan diri dari bencana tersebut kemudian berhasil mendirikan pusat kehidupan nasional yang baru di Yamnia, yang ternyata sangat menentukan kelangsungan hidup mereka selanjutnya. Di sanalah berkembang Yudaisme yang sangat kental, kuat dan fanatik dengan cap Farisi, sementara kelompok Saduki yang terikat pada bait suci sudah hilang seiring dengan hancurnya bait suci (bdk. Mat. 23). Bersamaan dengan perkembangan ini hubungan antara jemaat Kristen dengan Yudaisme semakin renggang. Kekristenan semakin menampakkan coraknya sendiri. Jemaat Kristen memahami dirinya sebagai Israel sejati, umat yang diikat oleh Allah melalui perjanjian. Mereka membaca misteri Yesus Kristus dalam terang Perjanjian Lama, sehingga sampailah mereka pada keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah puncak dan pusat dari sejarah penyelamatan Allah. Selain itu, pada periode ini kekristenan juga sudah membuka diri terhadap dunia bangsa-bangsa. Meskipun Injil Matius masih memuat beberapa perkataan yang memberi kesan partikularistik (bdk. Mat. 10:5 dst; 15:24), namun secara keseluruhan Gereja sudah meninggalkan sikap itu (bdk. Mat. 28:16-20). Injil Matius adalah saksi dari sebuah proses di mana tradisi Yahudi-Kristen meninggalkan ciri partikularismenya. Semakin jelas disadari bahwa kabar keselamatan Yesus Kristus ditujukan juga bagi semua orang dan dengan itu Gereja mempunyai ciri universalnya (Suharyo 1993, 79).
Keterbukaan Gereja dalam menyambut kehadiran bangsa lain dalam persekutuan mereka dan semakin renggangnya hubungan mereka dengan komunitas Yahudi telah memunculkan gesekan dan ketegangan antara Gereja dengan komunitas Yahudi. Sebenarnya polemik dan ketegangan yang terlihat dalam beberapa bagian dalam Injil Matius (Mat. 12:1-13; 12:22-24) merupakan cerminan situasi konflik yang tengah terjadi antara komunitas Kristen dengan komunitas Yahudi pada masa Matius. Saldarini mengatakan bahwa kisah Yesus dalam Injil Matius mencerminkan pengalaman konkret komunitas Matius dan situasi sosialnya. Gambaran konflik antara para pemimpin komunitas Yahudi dengan Yesus dalam Injil Matius secara tidak langsung mencerminkan ketegangan hubungan antara komunitas Matius dengan komunitas Yahudi setempat di mana penulis tersebut hadir. Komunitas Matius merupakan sebuah kelompok Kristen Yahudi yang tetap memelihara seluruh hukum (Taurat), tetapi menafsirkannya melalui tradisi Yesus. Matius menganggap dirinya sebagai seorang Yahudi yang memiliki penafsiran yang benar atas Taurat dan  tetap setia pada kehendak Allah sebagaimana yang diwahyukan oleh Yesus Kristus, yang diberitakannya sebagai Mesias dan Anak Allah (Saldarini 1991, 39-41).
Dengan melihat semua penjelasan di atas, sekarang kita dapat mengerti mengapa ada gambaran negatif  yang diberikan penulis Injil ini kepada para pemimpin Yahudi, khususnya terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi. Dalam Injil Matius, mereka dilukiskan sebagai anak-anak (keturunan) dari nenek moyang yang selalu menolak para nabi dan sekarang mereka sendiri menolak Yesus (Mat. 21:38). Puncak dari seluruh polemik antara komunitas Matius dengan Yudaisme digambarkan dengan jelas dalam Matius 23, di mana seluruh borok ahli-ahli Taurat dan orang Farisi didaftarkan secara lengkap dan daftar kejelekan ini segera dapat dipergunakan untuk menghadapi setiap serangan mereka  (Suharyo 1993, 80). Dalam berpolemik dengan Yudaisme, penulis Injil Matius sangat menekankan keunggulan Yesus sebagai Mesias-Anak Daud (Mat. 1:1) yang datang untuk mengadakan pembaruan dalam kehidupan orang-orang Yahudi pada masa itu. Dengan menekankan keunggulan Yesus sebagai Mesias-Anak Daud, penulis Injil Matius juga bermaksud ingin memberikan pegangan kepada umat Kristen, sehingga mereka mampu untuk mempertanggungjawabkan keyakinan imannya di depan orang-orang Yahudi yang telah menyangkal dan menolak Yesus.

MATIUS 11:25-30
            Dalam perikop bacaan ini, kita mendengar bagaimana Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya di sorga (ay. 25).  Kata Aku “bersyukur” pada ayat 25 dalam bahasa Yunaninya adalah eksomologoumai yang dapat juga berarti “Aku mengakui (memuji).”
Jadi Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya. Siapakah Bapa ini? Dia adalah Allah yang Mahakuasa, Tuhan langit dan bumi. Artinya Dia adalah Tuhan atau Penguasa (Pemilik) langit dan bumi. Allah yang Mahakuasa itu menyatakan kehendak-Nya di dalam Yesus bukan kepada orang pandai atau orang bijak/berhikmat, tetapi kepada orang kecil. Yang dimaksud dengan orang pandai dan bijak/berhikmat pada zaman itu adalah para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka adalah kaum cerdik pandai (cendekiawan) yang setiap saat menyelidiki/menelaah dan mendiskusikan isi kitab suci. Karena merasa lebih pandai (tahu segala sesuatu dan punya pengetahuan yang luas tentang isi Alkitab), maka ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi ini tidak mau mendengarkan dan menerima segala pengajaran Yesus. Mengapa? Sebab Yesus dianggap lebih rendah oleh mereka atau tidak selevel dgn mereka.
Walaupun pengajaran Yesus ditolak oleh org Farisi dan ahli Taurat, namun tidak demikian dengan orang kecil. Orang kecil (Yun: nepios) yang dimaksudkan Injil Matius ini adalah rakyat biasa. Mereka dianggap tidak terpelajar atau orang yang bodoh oleh para ahli Taurat. Tetapi justru merekalah yang mau menerima ajaran Yesus (kata nepios sendiri dapat diterjemahkan “anak”. Jadi mereka seperti “anak kecil” yang bersedia untuk diajar). Kepada orang-orang seperti inilah Allah berkenan menyatakan kehendak-Nya. Dengan jelas Injil Matius menyatakan bahwa Allah menyembunyikan kehendak-Nya kepada orang-orang bijak, tetapi menyatakannya kepada orang kecil (artinya orang-orang yang dianggap bodoh atau tidak tahu apa-apa tentang firman Tuhan).
            Kehendak Allah yang Yesus ajarkan/nyatakan itu ditolak oleh orang Farisi. Pertanyaannya: mengapa ajaran Yesus ditolak oleh orang Farisi? Sebab mereka menganggap diri lebih pintar/pandai dari Yesus. Itulah kesombongan yang ada pada mereka. Karena merasa lebih pintar, makanya timbul rasa sombong. Kita sering menyombongkan diri dengan kepintaran, kepandaian, kemampuan dan kekayaan yang kita miliki. Kesombongan menjadi PENGHALANG untuk datang kepada Tuhan dan mengenal kehendak-Nya.
            Mereka seharusnya jangan menolak Yesus, tetapi hendaknya mau menerima-Nya. Mengapa? Sebab Yesus adalah Anak Allah yang telah datang ke dalam dunia ini untuk menyatakan kebenaran Allah bagi manusia. Ia bahkan bukan hanya menyatakan kehendak Allah, tapi juga memperkenalkan Allah itu kepada manusia. Yesus adalah kebenaran tertinggi itu. Yesus adalah Pengantara yang mutlak dalam hal penyataan Allah. Jika ingin mengenal Allah yang sesungguhnya, maka datanglah dan percayalah kepada Yesus, sebab Yesus dan Bapa adalah satu (jelas terdapat relasi/persekutuan yang erat antara Yesus dan Bapa di sorga, lihat ayat 27; bnd. Yoh. 14:9...Yesus berkata: “...Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”). Penyataan Yesus tentang Allah sudah lengkap dan sempurna. Hanya di dalam Yesus kita dapat mengenal Allah yang sejati itu, yaitu Bapa yang baik dan pengasih.
            Yesus bukan hanya datang untuk menyatakan Bapa kepada kita, tetapi Ia memanggil kita agar mengalami sukacita, damai dan kelegaan dalam hidup ini (sesungguhnya ketika kita menerima Yesus, kita akan mengalami semua itu). Itu sebabnya pada ayat 28 Ia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Dalam PL Yesus adalah penjelmaan Hikmat Allah yang berseru-seru memanggil manusia (Amsal 8:1; 9:5).
            Siapakah mereka yang letih lesu dan berbeban berat ini? Mereka adalah orang kecil atau rakyat biasa yang telah dibebani oleh berbagai peraturan hukum Taurat. Ahli-ahli Taurat pada zaman Yesus membuat peraturan-peraturan agama yang begitu banyak (sekitar 613 aturan), aturan-aturan agama itu telah menjadi beban bagi rakyat kecil. Beban yang membuat mereka bukan semakin dekat kepada Tuhan, tetapi justru semakin menjauh. Karena itu, Yesus datang untuk menawarkan sesuatu yang lain, yaitu kuk (sejenis beban juga). Kuk adalah alat (terbuat dari kayu) yang terpasang pada leher sapi, yaitu hewan yang biasa menarik bajak di sawah.
Istilah kuk (seperti salib) dipakai sebagai simbol penyerahan diri, penaklukkan diri dan ketaatan kepada Tuhan. Orang Yahudi pada zaman Yesus sering memakai istilah kuk ini sebagai lambang kesetiaan mereka kepada Tuhan (“menerima kuk Tuhan”). Namun kuk yang ditawarkan Yesus ini bukanlah beban yang akan melemahkan iman kita. Sebaliknya kuk yang dipasang itu merupakan “beban” yang akan membuat kita nyaman. Kita akan merasa enak dan ringan. Itu sebabnya di ayat 30 Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Itu artinya ketika kita memutuskan untuk mengikuti Yesus, hal itu jangan menjadi suatu beban yang memberatkan, melainkan “meringankan” kehidupan kita.
            Bagaimana kuk itu bisa menjadi ringan dan enak? Hal itu tergantung pada hati kita masing-masing. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati, maka kita tidak akan menganggap segala perintah/tuntutan Yesus itu sebagai beban yang berat. Kita akan melakukan segala yang diperintahkan-Nya dengan senang hati, dan bukan dengan berat hati atau terpaksa. Sebab kita tahu bahwa segala perintah-Nya itu indah, baik dan berguna bagi dunia ini, makanya kita tidak ragu-ragu untuk melakukannya. Sebuah pepatah mengatakan: “Kasih membuat setiap beban menjadi ringan.” Kasih adalah inti dari hukum atau perintah Tuhan Yesus.
Mari kita nyatakan kasih Yesus itu juga kepada orang lain. Karena itu, kita perlu belajar dari Yesus, yaitu belajar bagaimana mengasihi orang lain. Yesus adalah Pribadi yang baik hati, lemah lembut dan rendah hati/tidak sombong. Ia lembut dan baik hati kepada setiap orang, khususnya orang-orang yang hina dan berdosa, dan Ia adalah Pribadi yang rendah hati di hadapan Allah Bapa-Nya. Arti rendah hati adalah mau tunduk di hadapan Allah dan mau menaati-Nya. Kalau kita mau belajar dari Yesus dan mau melakukan segala perintah-Nya, maka kita akan menerima ketenangan, kelegaan dan penghiburan yang sejati dalam hidup ini.






[1] Sudah sejak lama Injil Matius dikenal sebagai Injil Gereja, dan hanya Injil ini yang menggunakan kata Gereja (ekklesia) untuk menggambarkan komunitas orang-orang percaya (Mat. 16:18; 18:17). Lihat M. Eugene Boring, “Dalam Matthew-Mark,” dalam The New Interpreter’s Bible.Vol. VIII, peny.. Leander E. Keck dkk (Nashville: Abingdon, 1995), 97.  Raymond E. Brown lebih lanjut mengatakan bahwa Injil Matius dianggap cocok untuk memenuhi aneka macam kebutuhan Gereja. Injil ini paling banyak digunakan dalam  liturgi dan paling sering digunakan untuk katekese. Lihat Raymond E. Brown, Gereja yang Apostolik (Yogyakarta: Kanisius, 1998), 138.
[2] Identitas penulis kitab ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Pencantuman nama Matius, pemungut cukai yang menjadi pengikut Yesus (Mat.  9:9-13; 10:6) sebagai penulis kitab ini sebenarnya berasal dari tradisi gereja.  Papias, seorang pujangga Gereja,  menulis sekitar tahun 110/120 M bahwa  Matius menyusun perkataan-perkataan Yesus dalam bahasa Ibrani (ialah bahasa Aram). Tradisi yang menyebutkan bahwa penulis Injil ini adalah Matius murid Yesus telah diragukan keabsahannya oleh sebagian besar ahli PB. Alasannya adalah Injil Matius yang ada sekarang tidak ditulis dalam bahasa Ibrani/Aram, tapi dalam bahasa Yunani  yang cukup baik. Selain itu kalau benar dugaan bahwa  Matius adalah saksi mata kehidupan dan pekerjaan Yesus, mengapa ia masih sangat bergantung pada bahan lain (yaitu Markus dan Q) untuk menyusun Injilnya. Lihat     C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1989), 86-87.
[3] Marxsen mengajukan sebuah kemungkinan bahwa kitab ini berasal dari Pela, yang terletak di sebelah timur Yordan. Pela menjadi tempat pertemuan yang baru bagi komunitas Kristen Yahudi setelah mereka melarikan diri dari Yerusalem tak lama sebelum kehancuran kota itu pada tahun 70 M. Lihat Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru (Jakarta: BPK GM, 1996), 184.

Senin, 11 Februari 2019

Catatan khotbah minggu/10 Feb 2019


Keluaran 33:1-6
(Disampaikan dalam ibadah minggu di GKPS Jemaat Peniel  P.Siantar)

Sesuai dengan namanya, maka kitab Keluaran ini adalah kitab yang menceritakan keluarnya (eksodusnya) bangsa Israel dari tempat perbudakan di tanah Mesir. Dan berapa lamakah mereka hidup sebagai budak di tanah Mesir? Menurut catatan dari kitab ini, khususnya Keluaran 12:40, mereka tinggal di tanah Mesir dan diperbudak oleh bangsa Mesir selama 430 tahun (bnd. Kej. 15:13).
Dan bangsa Israel itu berhasil keluar (bebas dari perbudakan) setelah Tuhan menghukum bangsa Mesir dengan berbagai tulah. Dan tulah terakhir yang memaksa Firaun untuk membiarkan bangsa itu pergi adalah tulah kematian anak sulung. Tanpa pertolongan Tuhan yang membebaskan, mereka jelas tidak mungkin dapat keluar dari tanah perbudakan itu. Tindakan Allah yang membebaskan itu bermakna bahwa Ia adalah Allah yang Maha kuasa. Ia berkuasa atas bangsa-bangsa di dunia ini, dan Ia telah memilih bangsa Israel sebagai umat kesayangan-Nya.
Setelah mereka berhasil keluar dari tanah Mesir, maka Tuhan terus menuntun umat-Nya itu dengan tiang awan dan tiang api menuju tanah perjanjian. Namun ketika berhadapan dengan berbagai kesukaran/kesulitan di sepanjang perjalanan, mereka mulai bersungut-sungut kepada Tuhan. Sekalipun demikian Tuhan tetap mengasihi mereka, dan mencukupkan segala kebutuhan hidup mereka, baik itu kebutuhan makan, minum maupun perlindungan dari musuh-musuh mereka.
Walaupun bangsa Israel harus menghadapi berbagai kesulitan di sepanjang perjalanan mereka, Tuhan menghendaki agar mereka tetap fokus pada tujuan mereka, yakni melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian. Itu sebabnya Tuhan berfirman kepada Musa di ayat 1: “Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kau pimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu.”
Tuhan telah berjanji akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, dan janji itu pasti akan tergenapi, namun Tuhan juga meminta agar mereka jangan takut. Yang harus mereka lakukan adalah terus berjalan dan melangkah, sebab Tuhan berjanji bahwa Ia akan senantiasa menyertai umat-Nya. Apa bukti bahwa Ia menyertai mereka? Malaikat-Nya akan diutus untuk berjalan di depan mereka, sehingga segala halangan/rintangan tidak akan mampu menghambat perjalanan mereka. Segala bangsa yang akan menghalangi perjalanan mereka akan dihalau oleh Tuhan (ay. 2).
Tuhan telah menunjukkan kasih dan kebaikan-Nya kepada umat Israel, lalu bagaimana dengan sikap mereka? Mereka seharusnya taat kepada Tuhan dan mendengarkan segala firman-Nya. Memang disebutkan dalam perikop ini bahwa mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk (keras kepala) sehingga Tuhan murka terhadap mereka, bahkan karena begitu kecewanya Tuhan sehingga dikatakan Ia tidak lagi mau berjalan di tengah-tengah mereka, tetapi apakah untuk selamanya mereka harus terus-menerus menjadi orang yang tidak setia kepada Tuhan? Tentunya tidak!
Tuhan menyelamatkan mereka dan memanggil mereka agar menjadi umat-Nya yang setia dan taat. Mereka harus menjadi umat yang kudus sebab Tuhan Allah yang memanggil mereka adalah Tuhan yang kudus. Dalam 1 Petrus  1:14-16 firman Tuhan berkata: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Jadi ketaatan sebagai umat yang kudus, itulah yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya. Ketaatan itu bukan hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikkan dalam sikap hidup sehari-hari. Ketaatan itu juga diperlihatkan oleh bangsa Israel ketika Tuhan menyuruh mereka untuk menanggalkan perhiasan mereka (ay. 5c-6). Mengapa Tuhan menyuruh mereka menanggalkan perhiasan mereka? Sebab mereka telah memakai perhiasan itu untuk mendirikan berhala patung lembu emas (Kel. 32:3-4). Berkat yang ada pada mereka bukan digunakan untuk memuliakan Tuhan, tetapi dipakai untuk berbuat dosa sehingga membangkitkan murka Tuhan.
Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menjadi umat-Nya yang taat dan setia, dengan bersedia mendengarkan dan melakukan segala perintah-Nya. Ketika Tuhan sudah memberkati kehidupan kita, ingatlah selalu akan kebaikan-Nya. Ingatlah selalu untuk mengucap syukur kepada-Nya. Semua berkat yang kita terima dan nikmati adalah pemberian-Nya, bukan kita peroleh oleh karena kekuatan kita (bnd. Ul. 8:17-18). Karena itu, mari kita gunakan segala berkat yang ada pada kita untuk mempermuliakan nama-Nya, dan bukan digunakan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Untuk tetap taat kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah, untuk mengikuti Tuhan bukanlah perkara yang gampang, namun ketika kita menghadapi berbagai tantangan ingatlah Tuhan selalu ada untuk kita, Ia tidak akan tinggal diam. Dia akan menyertai dan menolong kita. Musa juga menyadari akan hal itu, sehingga ia berkata di ayat 15: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Ini mau menunjukkan bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa (kita lemah dan tidak berdaya). Hanya Tuhan sebagai sumber kekuatan, sumber anugerah, yang dapat menolong kita di sepanjang perjalanan kita menuju masa depan yang cerah.











Sabtu, 08 Desember 2018

Catatan Khotbah untuk Ibadah Minggu Advent II (9-12-2018)


Matius 24: 3-14
“Bertahan Sampai Pada Kesudahannya”


Saat ini kita telah memasuki minggu Advent ke-2 dan minggu Advent dirayakan oleh umat Kristen selama 4 minggu sebelum hari Natal. Arti Advent sendiri adalah kedatangan (Latin: adventus; Yun: parousia). Jadi minggu Advent adalah masa persiapan atau penantian akan kedatangan Yesus kembali. Gereja merayakannya untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali, sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab, khususnya dari pembacaan hari ini.
Para murid dalam bacaan ini bertanya kepada Yesus tentang tanda-tanda kedatangan-Nya kembali. “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ay. 3). Pertanyaan para murid ini tidak terlepas dari keyakinan umum yang ada di kalangan orang Yahudi pada masa itu, yang meyakini bahwa Mesias akan datang untuk membawa zaman keemasan atau zaman yang penuh kemuliaan bagi mereka, tetapi zaman itu akan didahului oleh masa yang penuh dengan kesengsaraan. Akan ada peralihan/transisi dari zaman ini ke zaman yang akan datang itu, namun peralihan ini berlangsung bukan tanpa goncangan.
Karena itu, menjelang kedatangan Yesus kembali (yang diyakini sebagai Sang Mesias oleh umat Kristen) akan terjadi banyak goncangan (seperti yang dikatakan dalam perikop ini): akan terjadi peperangan atau konflik antar bangsa, bencana alam/gempa bumi, kelaparan, penyesatan dll. Lalu bagaimana sikap orang Kristen dalam menghadapi keadaan seperti ini? Orang Kristen tidak perlu takut dan gelisah. Dalam perikop ini Yesus berkata: “...jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi” ( ay. 6). Kata “harus” (Yun: dei) bermakna bahwa semua peristiwa itu memang harus terjadi sesuai dengan rencana Allah, namun kemenangan akhir ada di tangan Allah.
Memang menjelang kedatangan Yesus ada banyak hal/peristiwa yang akan terjadi dan dialami juga oleh orang Kristen, di antaranya mereka akan dianiaya dan disiksa oleh karena nama Yesus. “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku” (ay. 9). Sama seperti Yesus yang “diserahkan” untuk disiksa dan mati di kayu salib, maka hal tersebut juga akan terjadi pada diri orang Kristen. Mereka akan mengalami penderitaan atau kesengsaraan seperti yang pernah dialami oleh Yesus.
Ketika diperhadapkan dengan penderitaan dan siksaan tersebut, perikop bacaan ini mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang akan murtad. Ayat 10 berkata: “... dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.” Ini menggambarkan bahwa menjadi orang Kristen itu tidak mudah, ikut Yesus itu tidak gampang. Karena itu, dalam keadaan apapun, kita dipanggil untuk siap menderita dan setia dalam memikul salib.
Mengapa banyak yang murtad? Karena mereka tidak sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan. Memang banyak yang ingin ikut Tuhan, tetapi mereka ikut Tuhan dengan motivasi yang tidak benar (ikut Tuhan dengan harapan ingin mendapat kesenangan/hidup enak saja, tetapi bagaimana jika harus menghadapi kesulitan, penderitaan dan tantangan? Akankah kita tetap setia atau justru menjadi kecewa, lalu mundur dari panggilan hidup sebagai orang Kristen?). Padahal semua penderitaan yang mesti kita alami itu merupakan kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan sesungguhnya ingin menguji/melatih iman kita dan mendewasakan kita melalui berbagai penderitaan yang kita alami (1Pet. 1: 6-7). Ingatlah akan kisah Ayub dalam Perjanjian Lama yang menderita sebagai orang benar. Walaupun ia menderita, ia tetap bertekun dalam imannya. Jadi meskipun kita harus menderita sebagai orang Kristen, kita diingatkan untuk tetap setia dan bertahan (Yun: hupomonein; artinya: bertekun di tengah cobaan, tabah) sampai pada kesudahannya, sebab barangsiapa yang bertahan sampai pada kesudahannya (Yun: eis telos) akan selamat (ay. 13).
Hidup sebagai orang Kristen bukanlah hidup yang mudah. Kita akan menghadapi tantangan iman yang berasal dari dunia ini (akan ada penyesatan, nabi-nabi palsu, kedurhakaan, bahkan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin), tetapi Yesus berpesan agar kita jangan takut, gelisah dan bimbang. Kemenangan akhir ada di tangan Allah, dan orang-orang yang setia kepada-Nya tidak akan pernah dikecewakan. Yang harus kita lakukan adalah tetap setia melaksanakan tugas panggilan kita, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah sebagai suatu kesaksian bagi segala bangsa (ay. 14). Injil itu kita beritakan dan nyatakan melalui sikap hidup yang tabah dan setia di tengah-tengah berbagai tantangan/penderitaan yang harus kita hadapi.
Seseorang pernah berkata: “Hidup ini memang BERAT”, tapi bila ditambahkan huruf “K” di tengah kata “BERAT” itu, akan menjadi “BERKAT”.  “K” itu adalah KRISTUS...hidup seberat apapun, bila selalu ada KRISTUS di tengahnya, maka akan menjadi “BERKAT”. Karena itu, jalanilah hidup dengan selalu mengandalkan KRISTUS, bukan yang lain.


Sabtu, 20 Oktober 2018


Pengaruh Agama Babel Kuno terhadap Kepercayaan Yahudi

Orang-orang Yahudi telah mendapat banyak pengaruh dari  filsafat timur ketika mereka berada di Babel, dan sudut pandang teologi mereka telah mengalami banyak perubahan besar karena integrasi kebudayaan ini. Kita menemukan mitologi dalam kitab Pengkhotbah (12:2-6), Amsal, dan beberapa nabi sesudahnya, suatu filsafat yang tadinya tidak diketahui orang Yahudi sebelum penawanan di Babel, yang berasal dari berbagai bangsa di belahan bumi timur. Dari filsafat timur itu mereka menyerap banyak ide, misalnya ide tentang Tuhan yang digambarkan sebagai sosok terang dan setan yang digambarkan sebagai sosok kegelapan, ide tentang neraka dan firdaus (sorga) yang memiliki banyak tingkatan. Orang-orang Yahudi menerima ide-ide asing ini tidak hanya dari kebudayaan Babel, namun juga dari kebudayaan Yunani. Selama kekuasaan Yunani di Mesir orang-orang Yahudi bergaul erat dengan orang-orang kafir, khususnya di Aleksandria, dan menambahkan mitologi Mesir-Yunani ke dalam sistem kepercayaan mereka. Percampuran berbagai filsafat asing ke dalam kepercayaan orang Yahudi memunculkan perbedaan aliran keagamaan di kemudian hari. Sebab itu pada masa Yesus aliran keagamaan sudah terbagi ke dalam beberapa sekte, yaitu: Farisi, Saduki, dan Eseni.[1]                        
Dalam pembuangan di Babel orang Yahudi mendengar berbagai ide keagamaan, dan mereka banyak menyerap ide-ide tersebut. Loraine Boettner menyatakan bahwa agama Babel dan Asiria kuno mengandung banyak himne, seperti mazmur-mazmur. Beberapa himne ini merupakan epik keagamaan, seperti cerita tentang Ishtar yang turun ke dunia orang mati (Hades), dan epik Gilgames, yang memperlihatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda di dunia bawah/neraka. Dari epik-epik ini terungkap adanya keyakinan orang kafir tentang suatu kehidupan di masa depan.[2]  
Secara khusus epik Gilgames dari Babel kuno menceritakan pengembaraan seorang anak raja dari kerajaan Uruk, bernama Gilgames yang memiliki wujud 1/3 manusia dan 2/3 dewa. Kisah Gilgames ini ditulis pada 12 tablet yang ditemukan oleh para arkeolog. Kisahnya terbagi ke dalam dua bagian, yaitu pengembaraan Gilgames dan Enkidu (sahabat Gilgames) dan bagian kedua menceritakan pengembaraan Gilgames dalam misi untuk mencari rahasia hidup kekal selepas mengalami kemurungan akibat kematian Enkidu.[3] Dalam misi untuk mencari rahasia hidup kekal ia berjumpa dengan Utnapishtim dan istrinya, yang berhasil selamat dari banjir yang sangat dahsyat dan diberikan keabadian oleh para dewata. Utnapishtim menceritakan kepada Gilgames tentang sebuah tanaman yang terdapat di dasar laut dan bahwa bila ia memperolehnya dan memakannya, ia akan menjadi muda kembali. Gilgames memperoleh tanaman itu, namun kemudian dicuri oleh seekor ular. Pada akhirnya Gilgames kembali ke Uruk, dan ketika ia melihat dindingnya yang begitu besar dan kuat, ia memuji karya abadi manusia yang fana. Gilgames menyadari bahwa cara mahluk fana untuk mencapai keabadian adalah melalui karya peradaban dan kebudayaan yang kekal.[4]                     
Dari apa yang dipaparkan di atas, beberapa hal dapat disimpulkan. Yang pertama, epik Gilgames memiliki kemiripan dengan kisah-kisah dalam Perjanjian Lama, seperti cerita Air Bah/banjir besar. Yang kedua, tokoh Gilgames memahami keabadian sebagai hasil karya manusia yang mampu menghasilkan kebudayaan dan peradaban yang hebat. Ini mungkin yang melatar belakangi alasan Tuhan mengacau balaukan bahasa manusia seperti yang dicatat dalam kisah Menara Babel di kitab Kejadian 11. Yang ketiga, keabadian dalam epik Gilgames tidak berkaitan sama sekali dengan kejadian di akhir zaman (eskatologis) sebab epik ini justru mau mengungkapkan asal-usul hubungan antara manusia dengan para dewata dalam bentuk mitos atau legenda. Jadi kerinduan akan hidup kekal sudah muncul dalam diri Gilgames, namun ia gagal untuk memperolehnya karena tanaman yang akan memberinya hidup kekal itu telah dicuri oleh ular (mirip dengan Iblis yang disimbolkan sebagai ular di Taman Eden).
Perbedaan Keabadian Jiwa dan Tubuh Rohani Menurut Pandangan Yunani
Filsuf Plato mengajarkan tentang keabadian jiwa. Ia berargumen bahwa tubuh manusia merupakan pakaian luar yang dipergunakan selama manusia menjalani hidup di dunia ini. Namun tubuh itu telah menjadi penghambat bagi jiwa manusia yang ingin bebas. Jiwa yang terkurung/terpenjara dalam tubuh sesungguhnya berasal dari dunia yang kekal. Karena itu, kematian menjadi jalan terbesar bagi pembebasan jiwa dari tubuh. Bagi  Plato kematian bukanlah musuh tetapi teman bagi jiwa manusia.[5] Hal ini justru sangat bertentangan dengan keyakinan Kristen yang melihat kematian bukan sebagai teman tetapi musuh yang telah dikalahkan oleh Yesus melalui kebangkkitan-Nya dari antara orang mati (1Kor. 15:26). Dalam filsafat Yunani tubuh tidak memiliki arti sama sekali karena ia berasal dari dunia materi. Dunia materi dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan tidak berguna. Sebab itu tidak pernah terbayangkan dalam pikiran orang Yunani bahwa tubuh yang fana ini akan mengalami perubahan/transformasi di kemudian hari. Karena bersifat jasmani, maka tubuh harus binasa/hancur.                              
Tubuh rohani sangat berbeda dengan keabadian jiwa. Bagi orang Yahudi tubuh bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Sama seperti jiwa, tubuh merupakan pemberian dari Allah, Sang Pencipta. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (termasuk tubuh yang fana ini). Pandangan Yunani tentang keabadian jiwa dan pengharapan Kristen tentang kebangkitan sangat bertolak belakang karena hal tersebut berkaitan dengan konsep penciptaan. Penafsiran Yahudi dan Kristen mengenai penciptaan meniadakan dikotomi antara tubuh dan jiwa. Tubuh bukan merupakan penjara bagi jiwa, tetapi sebagai bait Roh Kudus/bait Allah (1Kor. 6:19). Tubuh dan jiwa tidak saling bertentangan dan berlawanan sebagai musuh, sebab semua yang diciptakan Allah adalah baik adanya (lihat Kejadian 1 dan 2).[6] Meskipun unsur tubuh akan tetap ada (eksis) pada waktu kebangkitan orang mati, namun sifat tubuh itu berbeda dari tubuh manusia saat ini. Willi Marxsen mengungkapkan bahwa eksistensi tubuh rohani sangat bertolak belakang dengan eksistensi tubuh manusia masa kini.[7]                                                 
Mengapa pandangan Yunani sangat menekankan keabadian jiwa? Pada awalnya, dalam tradisi puisi Yunani digambarkan adanya perbedaan yang tajam antara manusia dan para dewata. Manusia disebut sebagai mahluk yang fana (mortal), sedangkan para dewata bersifat abadi (immortal). Homer menggambarkan jiwa (psukhe) orang mati merupakan hantu/bayangan tanpa kesadaran hidup atau aktifitas mental. Jiwa akan meninggalkan tubuh pada saat hembusan nafas terakhir. Tubuh akan binasa, tetapi eksistensi tubuh yang telah binasa itu akan terus dikenang melalui nama dan karya orang tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani berkenalan dengan konsep keagamaan dari agama-agama misteri dan agama Orphik yang sangat menekankan bahwa jiwa manusia itu berasal dari dunia ilahi dan bersifat abadi.[8] Konsep pemikiran inilah yang kemudian sangat mendominasi cara berpikir orang-orang Yunani. Jiwa tidak lain adalah percikan api ilahi yang terkurung dalam tubuh yang jahat dan akan dibebaskan melalui kematian. Di kemudian hari ide keabadian jiwa ini diambil juga oleh orang-orang Yahudi, khususnya oleh orang-orang yang terpelajar. Sebagai contoh adalah Philo, Josephus dan juga kaum Farisi. Ide ini lalu diintegrasikan dengan ide kebangkitan tubuh yang sudah ada dalam agama Yahudi.[9]                                            
Karena orang Yunani menolak sama sekali nilai tubuh manusia, maka ide tentang tubuh rohani, sebagaimana yang diungkapkan Paulus dalam 1 Korintus 15, sangatlah sukar untuk dipahami atau diterima oleh orang Yunani. Kalaupun ide ini diterima dengan terpaksa, maka akan muncul penyimpangan-penyimpangan ajaran sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah gereja. Ajaran Gnostik atau Doketis yang menyimpang dari ortodoksi Kristen dapat dilihat sebagai suatu reaksi penolakan golongan Kristen Yunani terhadap ide tubuh rohani yang diperkenalkan Paulus pada zamannya.
Kesimpulan
Epik Gilgames belum memperlihatkan ide kebangkitan orang mati di akhir zaman, namun ada harapan dari tokoh Gilgames untuk memperoleh hidup kekal sesudah mati. Namun pengertian hidup kekal yang dipahami Gilgames masih sebatas kehidupan di dunia ini, yaitu menjadi muda kembali. Dalam filsafat Yunani terdapat pandangan tentang keabadian jiwa, di mana jiwa dianggap berasal dari dunia ilahi. Dalam perkembangan selanjutnya ide keabadian jiwa ini diambil dan dipadukan dengan ide kebangkitan tubuh oleh orang-orang Yahudi. Paulus memiliki gagasan unik dalam memandang perpaduan antara keabadian jiwa dan kebangkitan tubuh, yaitu tubuh rohani. Beberapa orang Yunani Kristen memahami gagasan ini secara berbeda, sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang justru bertentangan dengan ortodoksi Kristen. Mungkin ajaran Gnostik dan Doketis termasuk ke dalam bentuk pemahaman seperti ini, di mana tubuh kebangkitan Yesus dipahami secara semu atau tidak nyata oleh penganut ajaran-ajaran ini.


Daftar Pustaka:

Boettner, Loraine. Immortality. Philadelphia: The Presbyterian and Reformed Publishing, 1969.

Cullmann, Oscar. “Immortality of The Soul or Resurrection of The Dead?” Dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl, 13-14. New York: The Macmillan Company, 1965.

Jaeger, Werner. “The Greek Ideas of Immortality.” Dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl, 97-103. New York: The Macmillan Company, 1965.


Marxsen, Willi. The Resurrection of Jesus of Nazareth. Philadelphia: Fortress Press, 1979.

Segal, Alan F. “Life after Death: The Social Sources.” Dalam The Resurrection. An Interdisciplinary Symposium on The Resurrection of Jesus, peny. Stephen T. Davis, Daniel Kendall dan Gerald O’Collins, 102. New York: Oxford University Press, 1997.          

www.dianweb.org/Manusia/neraka4.htm (diakses 10 Maret 2014).


www.wikipedia.org/wiki/Epos_Gilgames (diakses 10 Maret 2014).
                                   



[1] www.dianweb.org/Manusia/neraka4.htm (diakses 10 Maret 2014).
[2] Loraine Boettner, Immortality (Philadelphia: The Presbyterian and Reformed Publishing, 1969), 61.
[4] www.wikipedia.org/wiki/Epos_Gilgames (diakses 10 Maret 2014).
[5] Oscar Cullmann, “Immortality of The Soul or Resurrection of The Dead,?” dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl (New York: The Macmillan Company, 1965), 13-14.
[6] Ibid., 21-22.
[7] Willi Marxsen, The Resurrection of Jesus of Nazareth (Philadelphia: Fortress Press, 1979), 69-70.
[8] Werner Jaeger, “The Greek Ideas of Immortality,” dalam Immortality and Resurrection, peny. Krister Stendahl (New York: The Macmillan Company, 1965), 97-103.
[9] Alan F. Segal, “Life after Death: The Social Sources,” dalam The Resurrection. An Interdisciplinary Symposium on The Resurrection of Jesus, peny. Stephen T. Davis, Daniel Kendall dan Gerald O’Collins (New York: Oxford University Press, 1997), 102.

  Mengoptimalkan Sinergi Intergenerasional GPIB dengan Mengembangkan Kepemimpinan Misioner dalam Konteks Budaya Digital (Efesus 4:11-16)   O...